Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH TEKNIK REBOZO SHAKE THE APPLE (RSTA) TERHADAP INTENSITAS NYERI PERSALINAN KALA I FASE AKTIF PADA IBU PRIMIGRAVIDA Nurpratiwi, Yulidian; Armi, Armi; Setiawati, Yuyun; Azizah, Nisa Nurul
Jurnal Medika Malahayati Vol 8, No 1 (2024): Volume 8 Nomor 1
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v8i1.13128

Abstract

Abstrak: Pengaruh Teknik Rebozo Shake The Apple (RSTA) Terhadap Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu Primigravida. Nyeri persalinan merupakan nyeri fisiologis bagi setiap ibu yang melahirkan, karena adanya kontraksi, peregangan segmen bawah rahim dan serviks. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efek Tehnik Rebozo Shake The Apples (RSTA) terhadap intensitas nyeri kala I fase aktif pada ibu primigravida. Desain penelitian ini adalah quasy eksperiment dengan rancangan one group pre dan post design. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara Total Sampling yang berjumlah 35 responden dari jumlah populasi. Hasil penelitian ini menggunakan uji analisis uji Wilcoxon didapatkan (p-value = 0,000) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tehnik Rebozo RSTA terhadap intensitas nyeri persalinan kala I fase aktif pada ibu primigravida Intensitas Nyeri Persalinan Kala I Fase Aktif Pada Ibu Primigravida Di Rumah Bersalin Cikarang Kabupaten Bekasi. Kesimpulannya pemberian Tehnik RSTA dapat mengurangi intensitas nyeri persalinan kala I Fase Aktif Pada Ibu Primigravida Di Rumah Bersalin Cikarang Kabupaten Bekasi. Dengan adanya penelitian ini diharapkan perawat maternitas dapat menerapkan terapi non farmakologi dengan menggunakan tehnik RSTA dalam mengurangi nyeri persalinan.
AYO MENYUSUN MENU MAKANAN SEIMBANG BAGI PERTUMBUHAN REMAJA YANG OPTIMAL Elizabeth, Beatrix; Nurpratiwi, Yulidian; Giyaningtyas, Ika Juita
Jurnal Salingka Abdimas Vol 4, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jsam.v4i1.4891

Abstract

Pubertas adalah masa perubahan antara masa anak-anak dengan remaja, ditandai dengan perubahan jasmani yang dinamis sehingga menyebabkan perubahan fisik,psikologis dan perilaku. Pubertas dini lebih mudah terlihat pada anak perempuan.Pubertas dini pada perempuan ditandai dengan mengalami menstruasi sebelum waktunya. Menarche dini meningkatkan risiko kanker seperti kanker payudara, kanker ovarium, obesitas, serta dapat menyebabkan penurunan fungsi kerja paru-paru dan nyeri selama menstruasi karena sistem reproduksi mereka belum berfungsi dengan benar Negara Indonesia menempati urutan ke 15 dari 67 Negara dengan penurunan usia menarche atau terjadinya menarche dini pada anak remaja perempuan. Asupan makanan mempengaruhi terjadinya usia terjadinya menarche pada anak remaja putri Melihat hal ini Tim Pengabdian merasa pentingnya meningkatkan pengetahuan masyarakat khusunya ibu yang biasanya mengatur makanan dikonsumsi oleh anak remaja. Tim memilih SDN Cikarang Kota 1 sebagai mitra pengabdian Mayarakat. Tim pengabdian mengunakan metode kualitatif dengan menggunakan teknik penyuluhan atau edukasi kesehatan kepada orang tua khusunya ibu,tanya jawab dan demonstrasi. Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan Para ibu agar bisa menyiapkan dan Menyusun menu yang seimbang untuk mencegah terjadinya pubertas dini pada remaja. Hasil evaluasi para Ibu yang sudah mengikuti PkM ada peningkatan pengetahuan dalam membuat menu makanan. Hasil pre test pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang kurang sebanyak 9 atau 45%, pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang cukup sebanyak 6 atau 30%  dan pengetahuan ibu tentang gizi seimbang yang baik sebanyak 5 atau 25% sedangkan total skor jawaban post test dengan kategori kurang sebanyak 2 atau 10%, cukup sebanyak 5 atau 25% dan baik sebanyak  13 atau 65%.
Teknik Rebozo terhadap Intensitas Nyeri Kala I Fase Aktif dan Lamanya Persalinan pada Ibu Multigravida Yulidian Nurpratiwi; Muhammad Hadi; Idriani Idriani
Jurnal Keperawatan Silampari Vol 4 No 1 (2020): Jurnal Keperawatan Silampari
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (699.597 KB) | DOI: 10.31539/jks.v4i1.1627

Abstract

This study aims to determine Rebozo Shake The Apples (RSTA) effectiveness and Rebozo Sifting While Lying Down (RSWLD) on the intensity of pain during the first stage of the active phase and the duration of labor in multigravida mothers. This research method is a quasi-experiment with two group pre and post design. This study indicates that there is a difference in the mean intensity of pain in the first stage of active labor in multigravida mothers before and after giving RSTA & RSWLD (p-value = 0.007). Whereas in the length of work, there was no significant difference in the average size of labor between the RSTA and RSWLD technique interventions (p-value = 0.351), and the effectiveness of the two Rebozo techniques had the same variant, meaning they were equally effective in diverting labor pain during the active phase and duration of delivery (p-value = 0.118). In conclusion, they are giving RSTA, and RSWLD can delay labor pain intensity during the first stage of the active phase and the duration of labor in multigravida mothers. Keywords: Pain intensity, duration of labor, Multigravida, Rebozo technique
HUBUNGAN KONSUMSI FAST FOOD DAN INDEKS MASSA TUBUH (IMT) DENGAN KEJADIAN DISMENORE PADA MAHASISWI Nurpratiwi, Yulidian; Sahid, Siti Maulidya; Ramadhan, Fahrian
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.38957

Abstract

Dismenore merupakan nyeri yang dialami saat menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Prevalensi dismenore di Indonesia masih cukup tinggi, yaitu lebih dari 50%. Salah satu faktor yang diduga berkontribusi terhadap kejadian dismenore adalah pola konsumsi makanan, terutama fast food, serta indeks massa tubuh (IMT). Fast food memiliki kandungan tinggi lemak trans dan natrium yang dapat meningkatkan produksi prostaglandin, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan nyeri haid. Selain itu, IMT yang tidak normal, baik underweight maupun overweight, dapat memengaruhi keseimbangan hormonal dan meningkatkan risiko dismenore. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara konsumsi fast food dan IMT dengan kejadian dismenore pada mahasiswi S1 Keperawatan Universitas Medika Suherman. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 121 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai kejadian dismenore dan konsumsi fast food, serta pengukuran IMT. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dengan kejadian dismenore (p = 0,016; p < 0,05) dan antara IMT dengan kejadian dismenore (p = 0,038; p < 0,05). Berdasarkan hasil tersebut, maka konsumsi fast food dan IMT berhubungan dengan kejadian dismenore. Oleh karena itu, pola makan sehat dan pengelolaan berat badan yang baik dapat menjadi strategi pencegahan untuk mengurangi risiko dismenore pada mahasiswi.
FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI POLYCSTIC OVARIUM SYNDROM (PCOS) DI RS SENTRA MEDIKA CIKARANG Nurpratiwi, Yulidian; Faturohman, Cahya; Rizkitawati, Friska
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.38973

Abstract

Polycystic Ovarium Syndrome (PCOS) adalah gangguan endokrin yang mempengaruhi 5–10% wanitausia subur dan berhubungan dengan hiperandrogenisme, resistensi insulin, serta gangguan metaboliklainnya. PCOS dapat menyebabkan gangguan menstruasi, obesitas, dan meningkatkan risiko diabetesmelitus tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadapkejadian PCOS, yaitu gangguan menstruasi, obesitas, riwayat diabetes melitus, dan aktivitas fisik diRS Sentra Medika Cikarang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain crosssectional. Sampel penelitian sebanyak 92 wanita usia subur yang dipilih menggunakan teknikpurposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner terkait pola menstruasi, riwayat diabetes,aktivitas fisik menggunakan Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ), serta pengukuranindeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitianmenunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara gangguan menstruasi dan PCOS (p =0,001), riwayat diabetes melitus dan PCOS (p = 0,036), aktivitas fisik dan PCOS (p = 0,000), sertaobesitas dan PCOS (p = 0,005). Odds ratio menunjukkan bahwa gangguan menstruasi meningkatkanrisiko PCOS sebesar 12,4 kali, obesitas 7,96 kali, riwayat diabetes 4,47 kali, dan kurangnya aktivitasfisik 21,75 kali. Kesimpulannya, gangguan menstruasi, obesitas, riwayat diabetes melitus, danaktivitas fisik memiliki pengaruh signifikan terhadap kejadian PCOS. Oleh karena itu, pencegahan
HUBUNGAN TINGKAT STRES DAN POLA MAKAN TERHADAP KEJADIAN GASTRITIS PADA MAHASISWA STIE EKADHARMA INDONESIA Nurpratiwi, Yulidian; Widjaja, Ananda Alifian; Nuraini, Junita Patria
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i1.40729

Abstract

Gastritis adalah kondisi inflamasi yang menyerang lapisan mukosa lambung dan dapat menyebabkan gejala seperti nyeri ulu hati, mual, serta gangguan pencernaan lainnya. Prevalensi gastritis di Indonesia cukup tinggi dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pola makan yang buruk dan tingkat stres yang tinggi. Stres dapat memicu peningkatan produksi asam lambung, sementara pola makan yang tidak sehat, seperti konsumsi makanan tinggi asam, pedas, serta makanan cepat saji, dapat memperburuk kondisi lambung. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat stres dan pola makan dengan kejadian gastritis pada mahasiswa STIE Ekadharma Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Populasi penelitian adalah mahasiswa program studi Sarjana Manajemen di STIE Ekadharma Indonesia, dengan 81 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner PSS-10 untuk mengukur tingkat stres dan Food Frequency Questionnaire (FFQ) untuk menilai pola makan. Analisis data dilakukan menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara tingkat stres dan kejadian gastritis (p = 0,063; p < 0,1) serta antara pola makan dan kejadian gastritis (p = 0,017; p < 0,1). Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa tingkat stres dan pola makan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian gastritis. Oleh karena itu, mahasiswa disarankan untuk menerapkan pola makan yang sehat dan mengelola stres dengan baik guna mencegah terjadinya gastritis.
ScreeningKejadian VertigoPada Lansia di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi Sartika, Mila; Sartika, Aprilina; Tahanora, Risti Tamara; Nurpratiwi, Yulidian; Rahayu, Previarsi
Connection : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5 No 2 (2025): Juli - Desember
Publisher : Prodi Bimbingan dan Konseling Islam IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/connection.v5i2.12154

Abstract

Vertigo merupakan gejala akibat gangguan sistem keseimbangan, dengan keluhan pusing berputar-putar bisa disertai mual, muntah, hingga resiko jatuh.Banyaknya kasus vertigo pada kalangan usia produktif bahkan usia lanjut (lansia), yang berdampak pada masalah kesehatan lansia. Gangguan keseimbangan merupakan salah satu penyebab utama jatuh pada lansia, yang berdampak pada kecacatan, menurunnya kualitas hidup, terhentinya aktivitas sehari- hari bahkan dapat menyebabkan kematian. Untuk meningkatkan kualitas kesehatan lansia, perlunya dilakukan pemeriksaan screening vertigo secara berkala dengan Test Romberg. Test Romberg merupakan metode screening sederhana dan efektif untuk menilai keseimbangan. PkM ini bertujuan untuk mengidentifikasi kasus vertigo pada lansia, dan dapat di jadikan dasar untuk melakukan tindak lanjut, memberikan intervensi seperti senam vertigo, latihan fisik brandt daroff , pelatihan deteksi dini atau bisa memberikan maafaat yang lebih luas dengan melakukan pemeriksaan atau screening massal sebagaikontribusi khususnya pada aspek preventif dan promotif. Hasil PkM screening vertigo dengan Test Romberg pada 53 lansia di Sentra Terpadu Pangudi Luhur Kota Bekasi, diperoleh hasil, terdapat 33 (62,26%) lansia mengalamivertigo, 20 (37,74%) tidak teridentifikasi vertigo, 17 (51,52%) berjenis kelamin perempuan dan 16 (48,48%) berjenis kelamin laki-laki. Kesimpulan dari PkM ini diperoleh data mayoritas lansia mengalami vertigo. Temuan ini memperkuat pentingnya deteksi dini vertigo sebagai upaya meningkatkan kualitas kesehatan lansia dan mencegah risiko cedera. Pelaksanaan screening mendorong kesadaran lansia untuk menjaga keseimbangan tubuh, serta pentingnya deteksi dini kejadian vertigo dengan pemeriksaan sederhana seperti Tes Romberg yang dapat diterapkan secara efektif di tingkat komunitas. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan pengabdian untuk mendeteksi dini vertigo dan meningkatkan kewaspadaan lansia telah tercapai
Hubungan Kepatuhan Tranfusi Darah terhadap Peningkatan Feritin Pada Pasien Thalasemia Mayor di Unit Thalasemia RS Sentra Medika Cikarang Supriadi, Supriadi; Bastian, Dian; Nurpratiwi, Yulidian; Putri, Riska Subhianti
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Thalasemia mayor adalah penyakit kronis yang mempunyai kelainan perkembangan sel darah merah yang menyebabkan usia sel darah merah kurang dari 120 hari. Penderita thalasemia mayor harus melakukan tranfusi darah secara rutin namun akan berakibat meningkatnya zat besi dalam tubuh di tandai dengan hasil pemeriksaan feritin yang tinggi. Kadar feritin kurang dari 1000 ng/ml tidak beresiko dibanding kadar feritin lebih dari 1000 ng/ml yang beresiko terjadinya siderosis pada hati. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan rancangan cross sectional yang dilakukan di Unit Thalasemia RS Sentra Medika Cikarang pada 16 Desember 2024 sampai 15 Januari 2025 dengan populasi penelitian ini terhadap anak dan remaja sebanyak 64 responden dengan  tekhnik total sampling. Menggunakan lembar observasi data rekam medis hasil pemeriksaan feritin dan kunjungan tranfusi darah. Menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square didapatkan bahwa terdapat hubungan antara kepatuhan tranfusi darah terhadap peningkatan feritin pada pasien thalasemia mayor didapat p-value = 0,039 ( < nilai α = 0,05 ). Hasil penelitian menunjukkan  hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan tranfusi darah terhadap peningkatan feritin pada pasien thalasemia mayor di unit thalassemia RS Sentra Medika Cikarang.
Hubungan Gula Darah Dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap Kejadian Gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi: Hubungan Gula Darah Dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Terhadap Kejadian Gangguan Siklus Menstruasi Pada Mahasiswi Nurpratiwi, Yulidian; Sartika, Mila; Setiawati, Yuyun; Masnan, Trismayani
Citra Delima Scientific journal of Citra Internasional Institute Vol. 8 No. 1 (2024): Citra Delima Scientific journal of Citra Internasional Institute
Publisher : Institut Citra Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33862/citradelima.v8i1.397

Abstract

Increased blood sugar and BMI are factors that can affect the incidence of menstrual cycle disorders. The purpose of this study was to determine the relationship between blood sugar levels and BMI on the incidence of menstrual cycle disorders in nursing students of FIKes-UMS. This research design is quantitative analytic with cross sectional design. The population in this study were all nursing students of UMS as many as 66 respondents, with total sampling technique. Data collection with a questionnaire contains the value of Timed Blood Glucose and BMI. Chi-Square statistical analysis test obtained p-value <0.05 which means there is a significant relationship between blood sugar levels and BMI on the incidence of menstrual cycle disorders. The conclusion is that there is a relationship between blood sugar and BMI on the incidence of menstrual cycle disorders in female FIKes-UMS students. Suggestions are expected that research can be developed again for further researchers by adding variables, the number of respondents and research methods.
Comparative Effectiveness of Pamphlet and Video Media in Enhancing Breast Self-Examination Knowledge Among High School Students Widyaswara, Anggie; Putri, Melani; Sartika, Mila; Nurpratiwi, Yulidian
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 11 No. 4 (2025): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33755/jkk.v11i4.963

Abstract

Background: Adolescence represents a critical developmental stage during which health-related knowledge and preventive behaviours begin to form. Limited awareness of breast health and breast self-examination (BSE) among adolescent girls may reduce opportunities for early detection of breast abnormalities. Educational interventions delivered through accessible media may play an important role in improving adolescents’ understanding of BSE. Objective: This study aimed to evaluate the effectiveness of health education delivered through pamphlets and video media on the level of knowledge regarding breast self-examination among female adolescents. Methods: A quantitative study with a quasi-experimental design using a two-group pretest–posttest approach was conducted at SMAN 3 Tambun Selatan. The study population comprised 598 female students, of whom 592 participated using a total sampling technique. Knowledge of breast self-examination was assessed using a structured questionnaire administered before and after the educational intervention. Data were analysed using the Wilcoxon nonparametric test. Results: The findings demonstrated a statistically significant improvement in adolescents’ knowledge of breast self-examination following education delivered through pamphlets and video media (p < 0.001). Prior to the intervention, most participants showed limited concern for breast health. Post-intervention results indicated increased awareness and understanding of the importance of regular breast self-examination. Conclusion: Health education using pamphlets and video media is effective in enhancing adolescents’ knowledge of breast self-examination. Integrating structured and media-based educational strategies within school health programmes may strengthen preventive health behaviours and promote early breast health awareness among adolescents.