Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Promosi Kesehatan tentang Demam Berdarah Dengue (DBD) pada Siswa di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 3 Lombok Tengah Sofyandi, Arif; Kardi, Kardi; Una; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/5y6k1y43

Abstract

Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi virus yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, ditandai dengan demam tinggi, nyeri sendi dan otot hebat, serta ruam.  Pada Tahun 2024 kasus Demam Berdarah Dangue di Lombok Tengah terjadi peningkatan dari tahun-tahun sebelumnya, ialah sebanyak 238 kasus. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan siswi tentan pencegahan Deman Berdarah. Metode kegiatan ini meliputi beberapa tahap pelaksanaan, yaitu : a. Tahap Persiapan Tahap ini seluruh warga mengisi daftar hadir. b. Pembukaan kegiatan Pengabdian Masyarakat Pembukaan kegiatan, dilanjutkan dengan pre test/tes awal secara verbal bagi peserta untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan peserta tentang diare dan cara penanganannya sebelum diberikan penyuluhan, c. Penyampaian materi oleh Narasumber. Materi yang disampaikan adalah mengenai pengertian, penularan, gejala, fase penyakit, derajat keparahan, pencegahan 3M dan 3M Plus dan Penanganan. Penyampaian materi dilakukan dengan metode ceramah, tanya jawab. d. Kegiatan diakhiri dengan pemberian tes akhir menggunakan metode statistik analisis uji t pre-test dan post-test. Hasil dari kegiatan pengabdian ini adalah terjadi peningkatan pegetahuan siswa(i) dengan nilai rata-rata pengetahuan siswa/siswi sebelum diberikan penyuluhan adalah 40.22 namun setelah diberikan penyuluhan tentang tentang DBD, rata-rata pengetahuan siswa/siswi meningkat menjadi 59.78 sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat selisih atau perbedaan nilai pre-test dan post test dengan selisih 19.56 dengan nilai P Value 0.000 (P<0.005). Improving Knowledge of Dengue Fever Prevention at State Elementary School 3, Central Lombok Abstract Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is a viral infectious disease transmitted through the bite of the Aedes aegypti mosquito, characterized by high fever, severe joint and muscle pain, and rashes. In 2024, cases of Dengue Hemorrhagic Fever in Central Lombok increased from previous years, amounting to 238 cases. The purpose of this community service is to increase the knowledge of male and female students about preventing Dengue Fever. The method of this activity includes several stages of implementation, namely: a. Preparation Stage This stage all residents fill out the attendance list. b. Opening of Community Service Activities The opening of the activity, followed by a verbal pre-test/initial test for participants to determine the extent of participants' knowledge about diarrhea and how to handle it before being given counseling, c. Delivery of material by the resource person. Delivery of material is carried out using the lecture method, the material present is about definitions, transmission, symptoms, disease stages, severty levels, 3M and 3M plus prevention and treatment. The material delivery is done through lecture and question and answer methods. d. The end of the activity ends with a final test. The result of this community service activity is an increase in student knowledge (i) with the average value of student knowledge before being given counseling is 40.22 but after being given counseling about dengue fever, the average knowledge of students increased to 59.78 so it can be concluded that there is a difference or difference in pre-test and post-test values with a difference of 19.56 with a P Value of 0.000 (P <0.005).
Implementasi Kebijakan Kesehatan tentang Rumah Sehat di Wilayah Pesisir Sofyandi, Arif; Kardi, Kardi; Fariani, Aulia Ali; Ningsih, Murtiana
Empiricism Journal Vol. 6 No. 4: December 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/4nepn352

Abstract

Rumah  sehat  adalah  proporsi  rumah  yang  memenuhi  kriteria  sehat  minimum komponen rumah dan sarana sanitasi dari 3 komponen (rumah, sarana sanitasi dan perilaku). Penelitian ini dilakukan bahwa beberapa warga bagek kembar masih banyak warga yang tidak mengetahui cara pengolahan air seperti salah satunya pengolahan air minum. Hampir semua warga tidak mengolah air PDAM atau air sumur sebelum dikonsumsi atau kata lainnya mereka lebih sering mengkonsumsi air mentah. Selain itu, kebiasaan masyarakat yang tidak menutup sumur yang mereka gunakan sebagai sumber air minumnya sehingga dapat mengakibatkan pencemaran air sumur yang diakibatkan oleh polusi, bakteri,dan bahan kimia lainnya. Hal tersebut dapat mengakibatkan sering terjadi penyakit seperti penyakit diare, typus, dan penyakit lainnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah rumah warga di Wilayah Pesisir, Kelurahan Tanjung Permai memenuhi kriteria rumah sehat atau tidak. Sesuai dengan Kebijakan Kesehatan tentang persyaratan rumah sehat. Penelitian ini adalah penelitian observasional dengan analisis dekskriptif, untuk mendapatkan gambarang tentang sanitasi rumah dan perilaku hidup bersih dan sehat Lingkungan Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Sekarbela, Mataram. Instrumen dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan form persyaratan rumah sehat. Checklist, wawancara, survei formulir penilaian rumah sehat yang didasarkan pada Peraturan Kementerian Kesehatan No.829/Menkes/SK/VII/1999 tentang Persyaratan Kesehatan Permukiman. Sampel dalam penelitian ini adalah 15 orang warga di Lingkungan Bagek Kembar, Kelurahan Tanjung Karang Permai, Sekarbela, Mataram. Hasil dari penelitian ini adalah dari 15 rumah warga tersebut tidak ada yang memenuhi syarat rumah sehat karena memilki standar nilai di bawah dari nilai rumah kategori sehat adalah dengan nilai 1068-1200. Implementation of Health Policy on Healthy Homes in Coastal Areas Abstract A healthy home is the proportion of homes that meet the minimum healthy criteria for home components and sanitation facilities from 3 components (home, sanitation facilities, and behavior). This study was conducted, several residents of Bagek Kembar still have many residents who do not know how to treat water, such as drinking water treatment. Almost all residents do not treat PDAM water or well water before consumption, or in other words, they often consume raw water. In addition, people's habit of not covering the wells they use as a source of drinking water can result in well water contamination caused by pollution, bacteria, and other chemicals. This can lead to frequent diseases such as diarrhea, typhoid, and other diseases. The purpose of this study is to determine whether residents' homes in the Coastal Area, Tanjung Permai Village meet the criteria for a healthy home or not. In accordance with the Health Policy on the requirements for healthy homes. This study is an observational study with descriptive analysis, to obtain an overview of home sanitation and clean and healthy living behavior in the Bagek Kembar neighborhood, Tanjung Karang Permai Village, Sekarbela, Mataram. The instruments in this study were using a healthy home requirements form. Checklist, interviews, surveys, healthy home assessment forms based on the Ministry of Health Regulation No. 829 / Menkes / SK / VII / 1999 concerning Residential Health Requirements. The sample in this study was 15 residents in the Bagek Kembar neighborhood, Tanjung Karang Permai Village, Sekarbela, Mataram. The results of this study were that none of the 15 residents' houses met the requirements for a healthy home because they had a standard value below the healthy home category value, which is 1068-1200.
EDUKASI KESEHATAN DAN PEMBUATAN PUDING DAUN KELOR UNTUK PENCEGAHAN ANEMIA PADA IBU HAMIL DI DUSUN DASAN LEKONG KAB. LOMBOK TENGAH Ningsih, Murtiana; Rayani, Dewi; Ali, Nurain Abdurrahman; Kardi, Kardi; Astawan, Wanda Januar; Angelica, Zona; Hairunisa, Hairunisa
COMMUNITY : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/community.v6i1.8851

Abstract

ABSTRACT Anemia during pregnancy, particularly iron deficiency anemia, remains a public health problem that has serious impacts on maternal and fetal conditions, especially in rural areas with limited access to nutritional information and low utilization of local food sources rich in iron, such as moringa leaves. This condition is also found in Dusun Dasan Lekong, Selebung Village, Batu Keliang District, West Nusa Tenggara Province, indicating the need for contextual and locally based educational efforts to improve pregnant women’s knowledge as a preventive measure against anemia. This study aimed to improve pregnant women’s knowledge about anemia and the utilization of moringa leaf pudding as an effort to prevent anemia. The method used was a quantitative pre experimental approach with a one group pretest posttest design involving 15 pregnant women, conducted on July 12, 2025. The intervention consisted of educational activities through lectures, banners, visual PowerPoint media, and a healthy kitchen class on making moringa leaf pudding. Pretest results showed that most respondents had a moderate level of knowledge (86.7 percent) and a poor level of knowledge (6.7 percent). After the intervention, there was an increase in knowledge, with 93.3 percent of respondents categorized as having very good knowledge and no respondents remaining in the poor category. The mean score increased from 58.0 to 84.6 with a p value less than 0.01, indicating a very significant difference. This educational intervention was effective in improving pregnant women’s knowledge and is expected to serve as an effort to prevent anemia in the community. ABSTRAK Anemia pada kehamilan, khususnya anemia defisiensi besi, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berdampak serius terhadap kondisi ibu dan janin, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses informasi gizi dan rendahnya pemanfaatan sumber pangan lokal kaya zat besi seperti daun kelor. Kondisi ini juga ditemukan di Dusun Dasan Lekong, Desa Selebung, Kecamatan Batu Keliang, Provinsi Nusa Tenggara Barat, sehingga diperlukan upaya edukatif yang kontekstual dan berbasis potensi lokal untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil sebagai langkah pencegahan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang anemia serta pemanfaatan puding daun kelor sebagai upaya pencegahan anemia. Metode yang digunakan adalah kuantitatif pre-eksperimental dengan desain one group pretest–posttest pada 15 ibu hamil yang dilaksanakan pada 12 Juli 2025. Intervensi berupa edukasi melalui ceramah, banner, media visual power point, serta kelas dapur sehat pembuatan puding daun kelor. Hasil pretest menunjukkan sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan cukup (86,7%) dan kurang baik (6,7%). Setelah intervensi, terjadi peningkatan pengetahuan dengan 93,3% responden berada pada kategori sangat baik dan tidak ditemukan lagi kategori kurang baik. Rata-rata nilai meningkat dari 58,0 menjadi 84,6 dengan nilai p < 0,01, menunjukkan perbedaan yang sangat signifikan. Intervensi edukasi ini efektif dalam meningkatkan pengetahuan ibu hamil dan diharapkan dapat menjadi upaya pencegahan anemia di masyarakat.
Hubungan antara Jumlah Anggota Keluarga Ibu Paritas Grandemultipara dengan Kejadian Stunting Pada Balita Ali, Nur Aini Abdurrahman; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan, Februari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/dikkesh.v2i1.1439

Abstract

Stunting masih merupakan masalah utama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kasus stunting tertinggi terdapat di Kabupaten Lombok Utara yaitu sebesar 35,3%. Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang masih tinggi kasus stunting adalah di Kecamatan Tanjung. Penyebab stunting adalah karena jumlah asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh terutama dalam 1000 hari pertama pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control. Jumlah sampel sebanyak 64 yang terdiri dari 32 balita stunting dan 32 balita tidak stunting dari keluarga dengan ibu grandemultipara. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan SPSS. Hasil uji menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p value=0,001 dan nilai OR=21,211.
Hubungan antara Jumlah Anggota Keluarga Ibu Paritas Grandemultipara dengan Kejadian Stunting Pada Balita Ali, Nur Aini Abdurrahman; Ningsih, Murtiana; Desimal, Iwan
DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2026): DIKKESH : Jurnal Penelitian Pendidikan dan Kesehatan, Februari 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/dikkesh.v2i1.1439

Abstract

Stunting masih merupakan masalah utama di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Kasus stunting tertinggi terdapat di Kabupaten Lombok Utara yaitu sebesar 35,3%. Salah satu Kecamatan yang ada di Kabupaten Lombok Utara yang masih tinggi kasus stunting adalah di Kecamatan Tanjung. Penyebab stunting adalah karena jumlah asupan makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh terutama dalam 1000 hari pertama pertumbuhannya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita di wilayah Kerja Puskesmas Tanjung. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain case control. Jumlah sampel sebanyak 64 yang terdiri dari 32 balita stunting dan 32 balita tidak stunting dari keluarga dengan ibu grandemultipara. Analisis data menggunakan uji Chi Square dengan SPSS. Hasil uji menunjukan bahwa terdapat hubungan antara jumlah anggota keluarga dengan kejadian stunting pada balita dengan nilai p value=0,001 dan nilai OR=21,211.
Teacher Support And Peer Influence As Determinants Of Reproductive Hygiene Practices Among Islamic Boarding School Students In West Lombok, Indonesia Karjono, M; Ningsih, Murtiana; Mulyaningsih, Misroh
JURNAL KESEHATAN REPRODUKSI Vol 12, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkr.112069

Abstract

Background: Maintaining reproductive hygiene, particularly external reproductive organ cleanliness among female students in Islamic boarding schools, is a crucial aspect of personal hygiene that requires special attention in daily life.Objective: This study aimed to analyze the relationship between information sources, teacher support, and peer influence with reproductive hygiene practices among female students at al Ishlahuddiny Islamic Boarding School, West Lombok, Indonesia.Method: This study employed an analytical observational design with a cross-sectional approach. The study population consisted of 186 female students, and a total of 65 respondents were selected using a systematic random sampling technique. Independent variables included information sources, teacher support, and peer influence, while the dependent variable was reproductive hygiene practices. Data were analyzed through univariate and bivariate analyses using computer-assisted statistical software.Results: More than half of the respondents had access to information sources (53.8%), received teacher support (56.9%), and experienced peer influence (61%), while 63.1% demonstrated good reproductive hygiene practices. There was a significant relationship between teacher support (p=0.016; r=0.76) and peer influence (p=0.003; r=0.82) with reproductive hygiene practices. However, information sources (p=0.113) showed there was not any significant relationship.Conclusion: Teacher support and peer influence were significantly relationship with reproductive hygiene practices among female students in Islamic boarding schools. Strengthening the role of teachers as mentors, along with improving students’ knowledge and skills in maintaining reproductive hygiene, is recommended to promote better reproductive health outcomes.
Peningkatan Pengetahuan Masyarakat tentang Asam Urat melalui Program Edukasi dan Aktivitas Fisik ‘ASIK’ di Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur Mardiana, Laila; Rohmatillah, Laila Mardiana; Ningsih, Murtiana; Rakhmawati, Baiq Fathin Ayu; Rayani, Dewi; Ali, Nur Aini Abdurrahman; Alifariani, Aulia; Astawan, Wanda Januar; Herawati, Yunita; Sahrun, Lia; Mayani, Evi; Sinar, Wahyuni; Nuari, Iin Erlisa
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 4 (2025): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/a1dh5c94

Abstract

Penyakit Asam Urat (Gout) adalah salah satu penyakit tidak menular yang terus mengalami kenaikan setiap tahun. Data Puskesmas Mujur menunjukkan peningkatan kasus sebesar 304 dari tahun sebelumnya, hal ini dipicu oleh pola makan tinggi purin dan rendahnya pengetahuan masyarakat. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat di Desa Mujur terhadap pencegahan dan penanganan asam urat melalui intervensi terintegrasi. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Pendem, Desa Mujur, Kecamatan Praya Timur, Lombok Tengah, dengan melibatkan 10 orang sasaran. Intervensi dilakukan melalui program ASIK (Asam Urat Sehat dengan Olahraga dan Informasi Kesehatan) yang meliputi penyuluhan kesehatan, aktivitas fisik berupa senam bersama, dan demonstrasi pembuatan jus sehat berbahan nanas, timun, dan jahe. Evaluasi dilakukan secara kuantitatif menggunakan instrumen berbentuk kuesioner berupa pre-test dan post-test yang berisi 10 butir pertanyaan untuk mengukur tingkat pengetahuan sasaran. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan sasaran setelah intervensi, ditandai dengan pergeseran kategori pengetahuan dari dominan kurang pada saat sebelum intervensi menjadi cukup dan baik pada saat setelah dilakukan intervensi. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan yang disertai praktik langsung efektif dalam meningkatkan pemahaman masyarakat khususnya terkait penyakit asam urat. Model intervensi yang mengintegrasikan edukasi, aktivitas fisik, dan promosi diet sehat merupakan pendekatan yang efektif dan direkomendasikan untuk mendukung program promotif-preventif di tingkat komunitas. Enhancing Community Knowledge of Gout through Integrated Education and Physical Activity in Mujur Village Abstract Gout is a non-communicable disease that continues to rise every year. Data from the Mujur Health Center shows an increase of 304 cases compared to the previous year, triggered by a high purine diet and low public awareness. This community service activity aims to increase knowledge and awareness among the people of Mujur Village about the prevention and management of gout through integrated interventions. The activity was held in Pendem Hamlet, Mujur Village, East Praya District, Central Lombok, involving 10 participants. The intervention was carried out through the ASIK program (Healthy Gout with Exercise and Health Information), which included health counseling, physical activities such as group exercise, and a demonstration of making healthy juice with pineapple, cucumber, and ginger. Evaluation was conducted quantitatively using a pre-test and post-test questionnaire containing 10 questions to measure the participants' level of knowledge. The results showed an increase in knowledge after the intervention, indicated by a shift in knowledge categories from predominantly low before the intervention to sufficient and good after the intervention. These findings suggest that health education, accompanied by direct practice, is effective in improving public understanding, particularly regarding gout. The intervention model that integrates education, physical activity, and the promotion of a healthy diet is an effective approach and is recommended to support promotive-preventive programs at the community level.