Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

UTILIZATION OF MIGRANT WORKERS' REVENUES (REMITTANCE) FOR THE FAMILY ECONOMY Habib, Muhammad Alhada Fuadilah; Anggraeni, Unsiyah; Nisa, Kanita Khoirun
Journal of Urban Sociology Volume 4 No 1 Tahun 2021
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jus.v4i1.1484

Abstract

It is undeniable that the high unemployment caused by the imbalance between the number of employment and labor force encourages people to work as migrant workers. In 2016, East Java province was the third largest supplier of migrants in Indonesia and Tulungagung contributed 4,962 inhabitants. This phenomenon is interesting to analyze the utilization of income sent to families in their country. The data used was a primary data conducted by the survey method to 100 respondents. The selection of research sites (sub-district and village) was carried out by simple random sampling while the respondent selection was done by systematic random sampling technique. To deepen the findings of data conducted indepth interviews with 10 informants.  Moreover, the results revealed that remittances were used by the family for daily consumption needs, investment in children’s education, religious ceremonies, home reparation, production activities and others. The authors recommend establishing a "migrant family community" comprising: (1). Rehabilitation of the social culture of migrant workers' families and the provision of "business motivation training", (2). Entrepreneurship training, (3). Development of business networks.Keywords: Migrant Workers, Remittances Use, Welfare 
THE CONSTRUCTION OF THE IDEAL MALE BODY MASCULINITY IN THE MISTER INTERNATIONAL PAGEANT Habib, Muhammad Alhada Fuadilah; Ratnaningsih, Asik Putri Ayusari; Nisa, Kanita Khoirun
Journal of Urban Sociology Volume 2 No 2 Tahun 2019
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/jus.v2i2.993

Abstract

As Michael Foucault had said that the human body is not really free; the concept of the body as well as the concept of the human sexuality in fact are ruled by and obey the great power behind them. A great narrative about the body and also the sexuality that has been agreed by societies, consciously or unconsciously has successfully dictated societies’ point of view in placing their body and sexuality. The concept of a male body that has been characterized by its perfunctory appearance, in the sense of not necessary to primp, actually is a great narrative that is considered as a true necessity. This topic is unique and interesting to study because Mister International pageant as the representation of world’s male masculinity offers the different great narrative masculinity concept that has been shackling the traditional masculinity concept of Indonesian society. This study will analyze the signs of masculinity shown in Mister International pageant as the ideal men’s quest in the world. The result of this study indicates that the ideal male masculinity constructed in Mister International pageant if viewed from the concept of traditional sexuality is a combination between the concept of femininity and the concept of masculinity that then brought out to a new terminology about the concept of masculinity called as metrosexual. The concept of masculinity constructed by this ideal men’s quest in the world, if examined by Herbert Marcuse’s point of view, actually is a concept uniformity of the world's ideal male body in one dimension. Furthermore, the great narrative behind this uniformed ideal male construction is a world’s major capitalists’ project to expand their market share, especially male cosmetics and clothes products.Keywords: Construction, Masculinity, Ideal Male Body, One-Dimensional Man.
Sinkretisasi Nilai Islam dan Jawa Dalam Laku Ritual Peziarah Di Makam Syekh Jambu Karang Nisa, Kanita Khoirun; Alimi, Moh Yasir; Luthfi, Asma
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 9 No 1 (2020): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sinkretisasi nilai Islam dan Jawa yang dilakukan dalam laku ritual peziarah di Makam Syekh Jambu Karang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk-bentuk sinkretisasi yang dilakukan oleh peziarah meliputi 3 hal yaitu pertama, sinkretisasi persiapan. Disini meliputi tradisi slametan, nyadran, ruwat bumi. Kedua, sinkretisasi dalam pelaksanaan meliputi bakar kemenyan, tabur bunga dan tahlilan. Ketiga, sinkretisasi dalam tuturan doa meliputi doa secara arab dan Jawa.
Sinkretisasi Nilai Islam dan Jawa Dalam Laku Ritual Peziarah Di Makam Syekh Jambu Karang Nisa, Kanita Khoirun; Alimi, Moh Yasir; Luthfi, Asma
Solidarity: Journal of Education, Society and Culture Vol 9 No 1 (2020): SOLIDARITY
Publisher : Solidarity: Journal of Education, Society and Culture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan sinkretisasi nilai Islam dan Jawa yang dilakukan dalam laku ritual peziarah di Makam Syekh Jambu Karang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk-bentuk sinkretisasi yang dilakukan oleh peziarah meliputi 3 hal yaitu pertama, sinkretisasi persiapan. Disini meliputi tradisi slametan, nyadran, ruwat bumi. Kedua, sinkretisasi dalam pelaksanaan meliputi bakar kemenyan, tabur bunga dan tahlilan. Ketiga, sinkretisasi dalam tuturan doa meliputi doa secara arab dan Jawa.
PERAN DINAS EKONOMI KREATIF DAN UKM DALAM PEMBERDAYAAN UMKM PEREMPUAN DI KABUPATEN SLEMAN YOGYAKARTA Nisa, Kanita Khoirun; Wahyuni, Titi; Budita, Ayla Karina
Journal of Islamic Tourism Halal Food Islamic Traveling and Creative Economy Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam - Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/ar-rehla.v4i1.9095

Abstract

Abstrak: Aplikasi ekonomi kreatif telah menjadi trendsetter di banyak negara di dunia. Konsep creative economy menjadi terobosan bisnis baru yang memadukan unsur kreativitas dan pembaruan dalam pembangunan ekonomi. Peneliti terdahulu telah banyak yang melakukan penelitian di sektor UMKM dengan memperhatikan fenomena sektor ekonomi kreatif, namun kajian mendalam tentang UMKM masih kurang. Kajian ini bermaksud untuk menggali fungsi dari Dinas Ekonomi Kreatif dalam Pemberdayaan UMKM perempuan di Kabupaten Sleman. Penelitian menggunakan deskriptif kualitatif, data dikumpulkan secara observasi, wawancara, dan dokumentasi telah digunakan pada studi ini. Hasil studi menginformasikan telah ada dan terus berlanjut upaya pemberdayaan yang dilakukan oleh dinas ekonomi kepada para pelaku UMKM di Kabupaten Sleman. Bentuk pemberdayaan yang dilakukan di antaranya pendampingan dan sosialisasi. Kata Kunci: Pemberdayaan; UMKM; Pendampingan Abstract: The application of the creative economy has become trendsetters in many countries around the world. The creative economy concept is a new business breakthrough that combines elements of creativity and innovation in economic development. Many previous researchers have conducted research on the MSME sector by paying attention to the phenomenon of the creative economy sector, but in-depth studies on MSMEs are still lacking. This study intends to explore the function of the Creative Economy Service in empowering women's MSMEs in Sleman Regency. This research used descriptive research, data was collected through observation, interviews, and documentation. The study results indicate that there have been and are continuing empowerment carried out by the economic service for MSME actors in the Sleman Regency. Forms of empowerment carried out include mentoring and socialization. Keyword: Empowerment; MSMEs; Mentoring
Potret Resiprositas Tradisi Hajatan Pada Masyarakat Desa Pagubugan Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap Nisa, Kanita Khoirun; Sejati, Karisma Wulan
Jurnal Humanitaria Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 1 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/hum.v1i2.2558

Abstract

Masyarakat di pedesaan mempunyai karakteristik hidup bersama dengan menjunjung tinggi nilai gotong royong dan guyub rukun. Masyarakat menjalani kehidupan sosial secara berkelompok. Adanya kehidupan sosial tersebut memunculkan hubungan yang selaras dan harmonis diantara anggota masyarakat. Dalam masyarakat di pedesaan tersebut terdapat hubungan timbal balik yang biasa disebut oleh masyarakat yaitu resiprositas. Resiprositas yang terjadi di desa Pagubugan yaitu resiprositas dalam hajatan, atau budaya sumbang-menyumbang.  Penelitian ini bertujuan untuk melihat potret resiprositas pada masyarakat di desa Pagubugan Kecamatan Binangun Kabupaten Cilacap. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukan bahwa potret resiprositas di Desa Pagubugan merupakan suatu tradisi yang sudah melekat sejak jaman nenek moyang. Tidak hanya resiprositas dalam tradisi hajatan yang ada di Desa Pagubugan, namun ada budaya kematian, mitoni dan budaya saat tilik bayi. Dengan adanya sistem resiprositas yang diterapkan di Desa Pagubugan tersebut, menumbuhkan jiwa dan kepedulian sosial yang tinggi sehingga menjadikan masyarakat dapat hidup secara kekeluargaan.Kata Kunci: Resiprositas, Hajatan, Adat Istiadat
URGENSI MENGEMBANGKAN LABORATORIUM SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENINGKATAN PRAKTIK RISET MAHASISWA PRODI SOSIOLOGI Nisa, Kanita Khoirun; Muryanti; Ria, Tri Isnaeni Ades; Ardiansyah, Muhammad
Jurnal Humanitaria Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 2 (2023)
Publisher : Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/hum.v2i3.3618

Abstract

Laboratorium sosiologi memiliki peranan sebagai wadah untuk mewujudkan perubahan sosial. Terutama untuk mewujudkan semua kegiatan dan aktivitas Tridharma Perguruan Tinggi, mencakup pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya laboratorium dalam mewadahi kegiatan penelitian bersama antara dosen dan mahasiswa. Teori yang digunakan untuk menganalisis yaitu pemberdayaan. Metode penelitian kualitatif untuk mencari data di lapangan dan untuk menganalisis temuan di lapangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa laboratorium memiliki peranan yang penting dalam mewadahi praktik riset mahasiswa sosiologi. Proses kegiatan di laboratorium merupakan bagian dari pemberdayaan dengan aktornya dosen dan mahasiswa. Beberapa proses kegiatan pemberdayaan yang dilakukan dalam proses penelitian yaitu : mendiskusikan dan menyusun proposal penelitian, penyusunan instrumen penelitian, pengambilan data penelitian, penyusunan tulisan, publikasi jurnal. Pemberdayaan bisa berkelanjutan dengan adanya partisipasi aktif dari aktor yang terlibat, dosen dan mahasiswa. Dengan adanya keaktifan dosen dan mahasiswa dalam penelitian dan publikasi, pemberdayaan bisa berkelanjutan.
EKSPLOITASI PEKERJA PADA INDUSTRI BATIK RUMAHAN Habib, Muhammad Alhada Fuadilah; Usrah, Cut Rizka Al; Fatkhullah, Mukhammad; Nisa, Kanita Khoirun; Budita, Ayla Karina
EMPATI: Jurnal Ilmu Kesejahteraan Sosial Vol. 10 No. 2 (2021): Empati Edisi Desember 2021
Publisher : Social Welfare Study Program

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/empati.v10i2.23541

Abstract

Abstract. Batik industry is one of the leading industries in Indonesia. Since UNESCO declared batik as one of the cultural treasures and identity of the Indonesian nation, batik production has increased in line with increasing market demand. One of the rapidly growing batik industries in Indonesia is the batik industry located in Lawean Village, Solo, Central Java. The industry uses a putting out system where batik workers do their work in their respective house production. Through this system, business owners no longer need to compile an environmental impact analysis, provide social security for workers, pay overtime, work space, and work equipment. However, this putting out system creates many problems, from environmental pollution, deprivation of social rights for workers, to exploitation of workers by business owners. This study aims to reveal forms of injustice to workers in the home batik industry, Lawean, Solo, Central Java through a constructivism (critical) approach. Primary data obtained through in-depth interviews on 14 research subjects and also supported by secondary data from previous studies. Determination of informants is done by using the snowball technique. The theory used in this study is the theory of power relations by Michael Foucault. The dominance of power that leads to injustice (exploitation), cannot be separated from the presence of persuasive power (the owner of the batik business who controls the workers) in the midst of the Lawean Batik Industry. This dominance of power occurs because of the inequality of intelligence and mastery of information technology between batik business owners and workers. Batik business owners have access/network to sell batik products both domestically and abroad, while workers do not have access/network to sell batik they produce directly. On the other hand, the "ewuh-pakewuh" culture that is embraced by the Lewean community further exacerbates this domination.Keywords: batik, home industry, exploitation, power relationAbstrak. Industri batik menjadi salah satu industri unggulan dalam perekonomian Indonesia. Sejak diakuinya batik sebagai salah satu kekayaan budaya dan identitas Bangsa Indonesia oleh UNESCO, produksi batik terus mengalami peningkatan seiring dengan semakin meningkatnya permintaan batik. Salah satu industri batik yang berkembang pesat di Indonesia adalah industri batik yang berada di Desa Lawean, Solo, Jawa Tengah. Industri batik di lokasi tersebut, secara umum menggunakan sistem putting out di mana para pekerja batik mengerjakan pekerjaannya di rumah masing-masing. Dengan penerapan sistem ini, para pengusaha batik tidak perlu lagi menyiapkan amdal, jaminan sosial bagi para pekerja, uang lembur, ruang untuk bekerja, serta peralatan untuk bekerja. Penerapan sistem putting out ini, ternyata menimbulkan banyak sekali masalah, mulai dari pencemaran lingkungan, terampasnya hak-hak sosial bagi para pekerja sampai pada eksploitasi para pekerja oleh pengusaha batik.Studi ini merupakan studi konstruktivisme (kritis) untuk mengungkap bentuk-bentuk ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja di industri batik rumahan, Lawean, Solo, Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh melalui hasil wawancara mendalam (indepth interview) terhadap 14 orang subyek penelitian dan didukung pula oleh data skunder dari penelitian terdahulu. Teknik penentuan informan menggunakan teknik snowball. Adapun teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori relasi kekuasaan dari Michael Foucault. Terjadinya prakter dominasi kekuasaan yang berujung pada terjadinya ketidakadilan (eksploitasi), tidak terlepas dari hadirnya kekuasaan yang bersifat persuatif (juragan batik menguasai pembatik) di tengah-tengah Industri Batik Lawean. Praktek dominasi kekuasaan ini terjadi karena adanya ketimpangan intelegensi (kecerdasan) dan ketimpangan penguasaan teknologi informasi antara juragan batik dengan pembatik. Juragan batik memiliki akses/jaringan untuk menjual produk batik ke konsumen dalam negeri maupun luar negeri, sedangkan para pekerja pembatik merasa tidak mampu menjual barang hasil produksi ke pasar. Budaya sungkan/ewuh-pakewuh yang dianut oleh masyarakat Lewean semakin memperparah praktek dominasi kekuasaan ini.Kata Kunci: Batik, Industri Rumahan, Eksploitasi, Relasi Kuasa
PEMAKNAAN TRADISI ZIARAH MAKAM WALI SUNAN PANDANARAN KECAMATAN BAYAT KABUPATEN KLATEN Moeliono, Pramudito Tunggal; Nisa, Kanita Khoirun
SOSEBI: Jurnal Penelitian Mahasiswa Ilmu Sosial Ekonomi dan Bisnis Islam Vol 4 No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/sosebi.v4i1.8616

Abstract

Abstrak: Proses pemaknaan terhadap ziarah oleh kelompok tertentu terjadi akibat pengaruh konstruksi sosial dan budaya yang berbeda-beda. Hal ini menghasilkan kerangka kerja atau cetak biru kebudayaan yang tersusun dari simbol-simbol keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana para peziarah memaknai ziarah dalam hidup mereka, termasuk bagi mereka yang menganggapnya sebagai ibadah. Penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang dipakai untuk memahami makna ziarah adalah Agama Sebagai Sistem Budaya oleh Clifford Geertz, yang menekankan bahwa agama bukan hanya tentang teks, tetapi juga ritual dan perilaku sehari-hari yang memiliki makna dan membentuk budaya. Hasil penelitian ini adalah kegiatan ziarah makam wali sudah menjadi tradisi bagi masyarakat NU. Ziarah ini memiliki beberapa makna, yaitu: 1) Bertawassul: meminta perantara kepada para wali untuk menyampaikan doa kepada Allah. 2) Dampak ekonomi: ziarah memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar makam. 3) Mendoakan para wali: ziarah dilakukan untuk mendoakan para wali tanpa menomorsatukan wasilah. Makna ini lebih personal dan menunjukkan penghormatan kepada para wali. Tidak hanya wasilah sebagai dasar untuk melakukan ziarah, melainkan ada pemaknaan yang lebih intim, yaitu mendo’akan sang tokoh tanpa menomorsatukan wasilah dari para wali yang diziarahi. Adapun pada realitanya masih ada peziarah yang memiliki niat buruk seperti mencari pesugihan dan lain-lain. Pengelola makam mengecam kegiatan tersebut dan memberikan edukasi kepada para peziarah agar tidak muncul pandangan buruk terhadap makam terkait. Kata Kunci: Makam Wali; Ziarah; Tafsir Kebudayaan; Kearifan Lokal; Sunan Pandanaran Abstract: The process of interpreting pilgrimage varies among different groups due to the influence of diverse socio-cultural constructs. This results in a cultural framework or blueprint composed of religious symbols. This research aims to comprehend how pilgrims perceive pilgrimage in their lives, including those who consider it an act of worship. The study employs qualitative data collected through observation, interviews, and documentation. The theoretical framework utilized to understand the meaning of pilgrimage is Clifford Geertz's concept of "Religion as a Cultural System," which emphasizes that religion encompasses not only texts but also daily rituals and behaviors that hold meaning and shape culture. The result of this research is that pilgrimage to wali tombs has become a deeply embedded tradition among NU communities. This practice holds multiple layers of significance for the pilgrims, encompassing: 1) Tawassul (intercession): seeking the intercession of the wali to convey prayers and supplications to Allah. 2) Economic impact: pilgrimage to these sacred sites generates economic benefits for the communities residing in the vicinity of the tombs. 3) Praying for the Wali: pilgrims undertake the journey to pray for the well-being of the revered wali, transcending the mere act of seeking intercession. In reality, there are still pilgrims who have ill intentions, such as seeking supernatural powers (pesugihan) or other personal gains. These activities are often associated with black magic or superstitious beliefs that deviate from the true purpose of pilgrimage. Tomb caretakers actively condemn such practices and educate pilgrims to prevent negative perceptions of the tombs and the pilgrimage tradition itself. They emphasize the importance of respecting the sacredness of the sites and approaching pilgrimage with a pure heart and sincere intentions. Keywords: Tomb of a Guardian; Pilgrimage; Cultural Interpretation; Local Wisdom; Sunan Pandanaran
The Politics of Legitimacy: The Accounts of Pakubuwana IX and Kiai Abdul Qohhar on Kidung Sesingir Minardi, Minardi; Nisa, Kanita Khoirun
Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan Vol. 17 No. 1 (2022): Al-Adabiya: Jurnal Kebudayaan dan Keagamaan
Publisher : LP2M Institut Agama Islam Sunan Giri (INSURI) Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/adabiya.v17i1.1283

Abstract

This study aims to determine the relationship of Kiai Abdul Qohhar Ngruweng and Pakubuwana IX in Javanese poem, Kidung Sesingir. Using the literature study method and field interviews, it was found that the relationship of ulama and political ruler in Java always had ups and downs from the time before the emergence of Islam until the establishment of Republic of Indonesia. There are many factors in the background, but legitimacy is the dominant one. Several stanzas in Kidung Sesingir show the importance of Kiai Abdul Qohhar Ngruweng to Pakubuwana IX, particularly regarding political legitimacy. Even though the existence of the ulama is fading, Pakubuwana IX still uses the existence of the ulama as a form of legality. The legitimacy is in the form of a sentence that Kiai Abdul Qohhar Ngruweng knows the history of the genealogy of the Prophet Muhammad until Pakubuwana IX. For a Muslim Mataram king in Java, it is essential to show that the king is also a descendant of the Prophet Muhammad. Meanwhile, Kiai Abdul Qohhar Ngruweng is a descendant of Tembayat network from Sunan Pandanaran, who, together with Sunan Kajoran, were then the counter-elite for the Mataram dynasty.