Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PERANCANGAN GELANGGANG REMAJA DI DENPASAR I Putu Ariana Putra; Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 12 No 2 (2020): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v12i2.463

Abstract

Pembinaan dan pengembangan generasi muda menjadi salah satu usaha yang utama dalam mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik. Kurangnya fasilitas untuk kegiatan remaja merupakan masalah umum yang dihadapi oleh berbagai wilayah di Indonesia. Bali dan khususnya Denpasar merupakan tempat yang sering digunakan dalam menyelenggarakan kejuaraan dengan skala nasional maupun internasional. Menurut Menteri Pendidikan dan Olahraga dalam satu kota atau kabupaten di Bali idealnya terdapat minimal dua bangunan gelanggang remaja aktif, dengan standar fasilitas yang baik (Menpora, 2018). Di kota Denpasar, fasilitas yang telah tersedia dari segi jumlah bangunan telah memenuhi persyaratan yang ada, namun dilihat dari kondisi fasilitas yang ada hampir semua bangunan GOR yang ada terlihat kurang terawat dan kurang aktif. Dengan kondisi tersebut maka dirasa perlu untuk dibuatkan rancangan Gelanggang Remaja di Denpasar, dengan menerapkan fasilitas dan manajemen yang lebih baik. Tujuan dalam perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah menentukan Konsep Dasar dan Tema Perancangan, Program Ruang dan Tapak, serta Konsep Perancangan Gelanggang Remaja di Denpasar dengan klasifikasi B dan memiliki ruang lingkup kota madya. Konsep dasar pada Gelanggang Remaja di Denpasar ini adalah “Edukatif dan Rekreatif”. Prinsipnya untuk menciptakan suasana pendidikan dengan kesenangan yang memberikan kenyamanan terhadap remaja, sedangkan rekreatif disini maksudnya adalah cara menanamkan fungsi pendidikannya (studi sekaligus kesenangan, bukan dengan cara pendidikan formal), sehingga menciptakan rasa ketertarikan dan menghilangkan rasa jenuh kepada remaja. Dengan didukung tema Neo Vernakular sebagai upaya dalam mewujudkan dan mempertahankan ciri khas bangunan setempat sebagai perwujudan bangunan yang memiliki unsur budaya kearifan lokal dan dipadukan dengan konsep modern. Terdapat empat kelompok ruang pada Gelanggang Remaja ini yaitu Area Pengelola, Area Komunitas Remaja, Area Penunjang serta Area Service. Site Gelanggang Remaja terletak di Jalan Drupadi, Desa Sumerta Kelod, Denpasar dengan luas sebesar 30.039 m2. Karakteristik site secara umum memiliki tingkat kebisingan sedang, beriklim tropis, berkontur relatif datar dengan Build Up Area sebesar 27.900 m2. Melalui program ruang dan program tapak kemudian ditentukan konsep perancangan, konsep Perancangan terdiri dari Konsep Site, Konsep Bangunan, Konsep Struktur dan Konsep Utilitas. Lalu dari keseluruhan konsep yang ada ditransformasikan ke dalam sebuah desain.
PERPADUAN DESAIN BIOFILIK DAN METAFORA DALAM PERANCANGAN PERPUSTAKAAN UMUM DI KABUPATEN GIANYAR, PROVINSI BALI Ida Bagus Idedhyana; NPN Nityasa; I Gusti Ngurah Made Dananjaya
Jurnal Teknik Gradien Vol 14 No 1 (2022): Jurnal Teknik Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknikgradien.v14i1.838

Abstract

Perpustakaan umum memiliki peranan strategis dalam mendukung mencerdaskan generasi bangsa. Namun kondisi fasilitas literasi di Kabupaten Gianyar jauh dari standar SNI 7495 tahun 2009. Citra Kabupaten Gianyar sebagai daerah pariwisata yang menuntut adanya pelayanan publik yang baik, menyebabkan kondisi tersebut berbanding terbalik dengan minat baca dan potensi pemustaka masyarakatnya yang semakin meningkat tiap tahunnya. Dengan demikian perlunya pengadaan perpustakaan umum di Kabupaten Gianyar untuk dapat memfasilitasi potensi positif yang ada. Perancangan ini bertujuan untuk merancang fasilitas perpustakaan umum di Kabupaten Gianyar dengan menerapkan tema perancangan perpaduan desain biofilik dan metafora dalam mewujudkan bangunan perpustakaan umum yang peduli terhadap lingkungan sekaligus menarik tampilannya. Konsep dasar yang digunakan adalah edukatif, komunikatif dan rekreatif. Metode perancangannya menggunakan teknik pengumpulan data studi kepustakaan dan observasi, metode pengolahan data berupa analisa, sintesa dan transformasi. Temuan yang didapatkan yaitu diperlukan perancangan perpustakaan umum di Kabupaten Gianyar yang sesuai dengan standar serta memfokuskan pada penyelesaian tiga kriteria desain, yaitu: bangunan yang dapat memberikan pelayanan publik yang lebih baik kepada masyarakat di Kabupaten Gianyar; sebagai wadah yang dapat menghilangkan kesan membosankan perpustakaan umum; sebagai wadah yang dapat mengembalikan hubungan serasi antara manusia dengan alam serta dapat menjadi identitas literasi bagi Kabupaten Gianyar.
ARSITEKTUR BIOMORFIK PADA PERANCANGAN TAMAN FLORIKULTURA DI KOTA DENPASAR I Kadek Mahardika; Ida Bagus Idedhyana; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Teknik Gradien Vol 15 No 01 (2023): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik gradien.v15i01.1015

Abstract

The floriculture garden plays an important role in the preservation of plants, especially ornamental plants and also plays a role in overcoming the problem of global warming and contributes to the provision of urban green open spaces. The unwise exploitation of the existing biodiversity is one of the reasons for increasing greenhouse gas emissions in Indonesia. In addition, there is also a phenomenon of reduced open space in urban areas due to land conversion due to the high population growth in Indonesia. This is in accordance with the current condition of the city of Denpasar which has become an urban city with the most populous population in the province of Bali. This phenomenon makes the area of ​​Denpasar City Public green open space less than the ideal standard. On the other hand, there are still many types of ornamental plants in Indonesia that have not been conserved. Thus, it is necessary to procure a Floriculture Park in Denpasar City to overcome the problem of the number of ornamental plants that have not been conserved, global warming that occurs, and the reduction of green open space in urban areas. This design also aims as a recreational and educational facility. The basic concepts used are recreational, conservation and educational. While the chosen design theme is a biomorphic architectural theme with sustainable forms, structures and materials. The design method used is data collection techniques in the form of library research, observation and comparative studies, as well as data processing methods, namely analysis, synthesis and transformation methods. The results of the design of the Floriculture Park in Denpasar City are explained into three principles of biomorphic architecture. The first principle is the principle of form, namely the form of mass based on ecology and metaphor of natural forms. The second principle is the principle of structure and material, its application is the use of structures with organic shapes, while in terms of materials the application is by selecting natural (local) materials and materials that support a curvilinear shape. The third principle is the principle of sustainability, the application of which is to maximize the use of natural energy into buildings.
Pengembangan Ekowisata Spiritual di Dusun Brahmana Bukit Kabupaten Bangli Ida Bagus Idedhyana; Nyoman Diah Utari Dewi; I Wayan Meryawan; I Gusti Bagus Wirya Gupta; I Made Sudarma; Putu Chandra Kinandana Kayuan
Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS Vol. 9 No. 1 (2023): Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v9i1.42-50

Abstract

Ekowisata spiritual merupakan jenis wisata yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan, terhubung dengan potensi sumberdaya alam, budaya, serta religi masyarakat setempat. Jenis wisata ini termasuk wisata minat khusus yang peminatnya terus meningkat. Dusun Brahmana Bukit terletak di Desa Cempaga Kabupaten Bangli, memiliki beberapa objek alam yang menarik namun belum dikembangkan. Nuansa alami ini perlu digali dan dikembangkan sebagai objek wisata, agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Potensi Dusun Brahmana Bukit memenuhi kriteria untuk dikembangkan sebagai ekowisata spiritual. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah merancang masterplan sebagai pedoman dalam penataan lingkungan, membantu mempromosikan serta memasarkan di media massa, memberikan pembinaan keberlangsungan sumber daya manusia. Metode observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan pada tahap penggalian data. Dilanjutkan dengan analisis, sintesa, dan transformasi gagasan pada tahap perancangan. Sosialisasi dan pendampingan digital marketing serta focus group discussion diterapkan dalam rangka pemasaran, pembinaan, dan pengembangan keberlangsungan sumber daya. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini berupa gambar masterplan, gambar tiga dimensi dilengkapi dengan animasi, dihasilkan website “Toya Nyali Water Fall,” dan dapat dibentuknya Pokdarwis (kelompok sadar wisata) di Desa Brahmana Bukit dengan tugas mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Dengan terjalinnya hubungan berkelanjutan dengan Dinas Pariwisata Bangli, objek wisata ini dapat dimonitor, dibina dan dievaluasi, untuk pengembangan yang lebih terarah dan berkesinambungan.
PERANCANGAN RUMAH SAKIT PARU DI DENPASAR I Gede Indra Kamiana Putra; Ida Bagus Idedhyana; Ayu Putu Utari Parthami Lestari
Jurnal Teknik Gradien Vol 15 No 02 (2023): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik_gradien.v15i02.1097

Abstract

Pulmonary Special Hospital is a hospital that provides health services based on pulmonary special disciplines and special medical treatment for pulmonary organs with disabilities, sleep disorders, and allergies. The number of lung disease sufferers in Bali Province has increased after Covid-19. Currently, the Province of Bali does not yet have special treatment and healing facilities for lung diseases. Handling of lung disease is still handled by public hospitals, both government and private, operating in Bali. Lung disease patients need adequate facilities and infrastructure and good building circulation. Thus, it is necessary to procure large-scale public health facilities in the form of a Lung Hospital, a class A special hospital that accommodates patients with lung disease in the Province of Bali. The design method used is the data collection technique in the form of literature studies, observation, and comparative studies, as well as data processing methods namely methods of analysis, synthesis, and transformation. The results of the design of the Lung Hospital in Denpasar refer to the basic concept of Healing Architecture with an architectural theme, namely Green Architecture. Green Architecture is applied to the use of parks and lung hospital technology.
PERANCANGAN TAMAN BUDAYA DI JEMBRANA I Kadek Rezki Setia Andika; Ida Bagus Idedhyana; Ngakan Ngurah Putu Nityasa
Jurnal Teknik Gradien Vol 15 No 02 (2023): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik_gradien.v15i02.1099

Abstract

Jembrana Regency is a district in Bali Province that is famous for having arts that are unique and different from other districts, such as the arts of jegogan, jogged tubung, kendang berbarung, bungbung gebyog, cag-cag weaving, embroidery textile painting, and so on. In Jembrana Regency there is an arts building called the Ir Arts Building. Soekarno, but this building can only stage performing arts and its facilities are relatively limited. To complement the lack of facilities, a building is needed on a larger scale and can be used to preserve and develop arts and culture in Jembrana, namely in the form of a Cultural Park in Jembrana. Judging from its function, the design of the Cultural Park in Jembrana uses the basic concepts of Conservative, Educational, and Recreational using the Neo Vernacular theme, which means returning traditional building forms combined with modern building forms.
Konsep Reconnecting With Nature pada Desain Hospitality Banyan Tree Escape Primadewi , Siluh Putu Natha; Idedhyana, Ida Bagus; Rijasa, Made Mariada
Nature : National Academic Journal of Architecture Vol 11 No 1 (2024): June
Publisher : Department of Architecture, Faculty of Science and Technology, Alauddin State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nature.v11i1a5

Abstract

Banyan Tree Escape is located in Payangan Gianyar Bali and has a unique design concept "no wall, no door" which is rarely found in other hospitality properties. This hospitality accommodation is designed to establish a harmonious relationship between the owner and guests and re-establish the relationship between humans and the natural environment, resulting in friendly service and a pleasant atmosphere. The hospitality industry requires the presence of nature, repeated and continuous engagement with nature is very important, creating an atmosphere of relaxation that can reduce stress and provide a new sense of healthy wellness. Incorporating nature and culture into property design in the hospitality industry also aims to achieve the Sustainable Development Goals. This research aims to examine concepts that can be applied to achieve a connection with nature and sustainability goals in hospitality design. The descriptive qualitative method of case study is used in this research, guided by the concept of Reconnecting with Nature for Sustainability, followed by Biodiversity Inclusive Design analysis, Nature Climate analysis, and Vernacular Lifestyle analysis. The results show that the concept of the Biodiversity Inclusive Design approach is carried out by maintaining the condition of biodiversity, imitating the characteristics of the original/local habitat (the original habitat of Buahan Village), and the application of biophilic architecture. The concept of natural climate is applied with a combination of tropical architecture and local architecture. The Vernacular Lifestyle concept is carried out by adopting the cultural context and traditional Balinese architecture in responding to routine and boredom into relaxation.
TIPOLOGI BANGUNAN SUCI PADMA DI PURA LUHUR ANDAKASA IDEDHYANA, IDA BAGUS
Jurnal Teknik Gradien Vol 8 No 1 (2016): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pura Luhur Andakasa memiliki status sebagai kahyangan jagat, terangkum secara filosofis sebagai padmabhuana, berkedudukan di selatan, warnanya merah, aksaranya “Bang”, sebagai stana Tuhan dalam perwujudan Beliau sebagai Dewa Brahma. Pura ini memiliki banyak tipologi padma, kaya dengan ragam hiasnya, semua padma dihiasi dengan Bedawang Nala (kura-kura raksasa berapi) pada bagian bawah padma. Bangunan suci padma satu dengan padma yang lain sangat mirip dalam penggunaan ragam hiasnya, sehingga sulit memaknai fungsinya. Secara umum ada tiga tipologi padma, yaitu padma capah, padmasari dan padmasana. Padma capah memakai 2 tingkat (palih) tanpa Bedawang Nala. Padmasari memakai 3 tingkat (palih) dan 1 rong (ruang kosong pada puncak padma) tanpa Bedawang Nala. Padmasana memakai 5, 7, sampai 9 tingkat (palih), dengan menggunakan 1, 2, dan 3 rong, serta dilengkapi dengan Bedawang Nala. Dengan memakai Bedawang Nala pada seluruh padma pada pura ini, membuat setiap padma terlihat memiliki fungsi yang sama, oleh karena itu perlu dilihat jumlah tingkatnya, kelengkapan ragam hiasnya serta pedagingannya (upacara yadnya untuk memfungsikan bangunan). Pada Pura Luhur Andakasa terdapat tiga tipologi padma, yaitu padma capah sebagai stana Hyang Anantabhoga, naga tertua yang berada di sapta petala (7 lapis di bawah bhurloka). Selanjutnya padma sari sebagai stana Hyang Tugu/Dewa Brahma. Terakhir adalah padmasana dengan 5 palih dan satu rong, sebagai stana Siwa Aditya. Terletak di sisi timur laut menghadap ke barat daya. Apabila dilhat tipologi berdasarkan lokasinya maka padmasana ini adalah padmasana saji.
ASHRAM MEDITASI KUNDALINI DI BADUNG Suita, I Ketut; Nityasa, Ngakan Putu Ngurah; Idedhyana, Ida Bagus
Jurnal Teknik Gradien Vol 8 No 1 (2016): Gradien
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan dunia spiritual di Bali khususnya meditasi kundalini membawa perubahan dalam aspek–aspek kehidupan masyarakat, metode baru dalam pembangkitan kundalini secara singkat yang dikenal dengan metode inisiasi berdampak pada tingginya minat masyarakat untuk mempelajari dan mendalami kundalini melalui meditasi.Sampai saat ini, di Kabupaten Badung belum terdapat tempat atau wadah yang menampung minat masyarakat untuk mempelajari dan mendalami meditasi kundalini secara intensif yang bersifat pendidikan non formal berbasis spiritual.Dalam perancangan Ashram Meditasi Kundalini di Badung ini menggunakan metode pengumpulan data yaitu observasi, studi literatur, wawancara maupun melalui media internet. Data-data yang telah diperoleh akan diproses melalui kompilasi, análisis, dan sintesis, dari proses tersebut dihasilkan spesifikasi umum dan spesifikasi khusus. Ashram Meditasi Kundalini di Badung merupakan tempat tinggal para guru dan murid yang mendalami kegiatan spiritual. Untuk belajar kegiatan spiritual diperlukan tempat yang layak dan memenuhi syarat ketenangan. Dalam perancangan ashram ini data yang dikumpulkan di lapangan kemudian dibandingkan dengan teori yang memiliki relevansi dengan studi pengadaan ashram. Hasil dari perbandingan ini kemudian memunculkan masalah yaitu kurangnya tempat yang representatif untuk proses pembelajaran meditasi dan pemberian informasi yang benar mengenai meditasi kundalini. Berdasarkan lokasi yang potensial mendekati atau memenuhi kriteria yang telah ditentukan maka lokasi terpilih berada di Jl. Rajawali, Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung mengingat keberadaannya pada poros Bali, dekat dengan perkotaan dan mempertimbangkan aksesibilitas dan memiliki jarak capai merata dari tiap–tiap kabupaten di Bali Konsep dasar dalam perancangan ashram ini adalah edukatif spiritual, komunikatif, dan interaktif.Dari pendekatan konsep dasar maka ditentukan tema rancangan untuk pengadaan Ashram Meditasi Kundalini di Badung ini adalah arsitektur Neo Vernakular. Dalam hal ini mengacu terhadap konsep arsitektur tradisional Bali yang memiliki konsep dasar dalam menyusun tata ruangnya seperti orientasi kosmologi atau dikenal dengan Sanga Mandala, keseimbangan/kesesuaian kosmologi dengan istilah manik ring cecupu, hirarki ruang yang terdiri dari tri loka dan tri angga dan dimensi tradisional Bali yang didasarkan pada proporsi dan skala manusia. Konsep Perancangan dipilih pola massa jamak dengan komposisi cluster yang menyebar namun tetap mempertimbangkan kesatuan (unity) dan keseimbangan (balance). Pola sirkulasi linier diterapkan untuk memperkuat kegiatan yang terjadi secara berkelanjutan di dalam fasilitas tersebut dan sesuai dengan konsep dasar dan tema. Untuk mendapatkan tampilan bangunan yang sesuai dengan konsep dasar dan tema maka diterapkan bentuk arsitektur tradisional Bali dengan konsep tri angga yang diperkuat denga ragam hias dan menggunakan bahan-bahan lokal dari alam. Konsep struktur, dan konsep utilitas juga dibahas secara menyeluruh. Rangkaian dari seluruh proses inilah sebagai dasar dalam perancangan “Ashram Meditasi Kundalini di Badung”
PERANCANGAN GELANGGANG OLAHRAGA DI KABUPATEN BANGLI Andika, I Komang Agus; Idedhyana, Ida Bagus; Witari, Made Ratna
Jurnal Teknik Gradien Vol 17 No 02 (2025): JURNAL TEKNIK GRADIEN
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Ngurah Rai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47329/teknik_gradien.v17i02.1613

Abstract

Kabupaten Bangli merupakan satu-satunya kabupaten di Bali yang belum memiliki gelanggang olahraga berstandar nasional, sehingga pembinaan atlet, penyelenggaraan event, dan partisipasi masyarakat dalam olahraga masih belum maksimal. Kondisi ini melatarbelakangi perancangan Gelanggang Olahraga di Kabupaten Bangli sebagai fasilitas terpadu yang mampu mewadahi olahraga prestasi, dan rekreasi. Konsep dasar yang digunakan adalah Dynamic connectivity yang menekankan keterhubungan antara aktivitas fisik, sosial, dan lingkungan secara harmonis, sedangkan tema perancangan mengacu pada pendekatan arsitektur metafora untuk menghadirkan identitas bangunan yang ikonik, ekspresif, dan mudah dikenali. Metode perancangan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan instansi terkait, studi literatur, analisis data, sintesa, hingga transformasi konsep menjadi rancangan. Hasil rancangan meliputi program ruang yang mencakup gelanggang indoor, stadion dengan lintasan atletik, lapangan outdoor, serta fasilitas penunjang seperti gym, retail, foodcourt, playground, dan area rekreasi dengan total kebutuhan luas tapak 17,5 Ha. Gubahan massa berbentuk oval dipilih untuk menampilkan kesan dinamis dan harmonis, dengan penerapan struktur space frame, pemanfaatan pencahayaan alami, serta elemen ruang luar yang mengombinasikan hardscape, softscape, dan fitur pendukung. Dengan rancangan ini, Gelanggang Olahraga Bangli diharapkan menjadi pusat pembinaan atlet, meningkatkan partisipasi olahraga masyarakat, dan meningkatkan prestasi keolahragaan di Kabupaten Bangli.