Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Interpretation of the Bedawang Nala ornament located on the base of Pura Pabean in Buleleng Regency Indonesia Ida Bagus Idedhyana; Made Mariada Rijasa
ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur Vol 7 No 2 (2022): ARTEKS : Jurnal Teknik Arsitektur | Mei 2022 ~ Agustus 2022
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Katolik Widya Mandira

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30822/arteks.v7i2.1721

Abstract

Pura (temple) is a sacred place for the Hindus in Bali, such as Pura Pabean, which is included in pura kahyangan jagat (temple for all people). Pura Pabean is located on the northern part of the main Singaraja-Gilimanuk road, Banyupoh Village, Gerokgak Sub-district, Buleleng Regency, Indonesia. The area also extends into the ocean and is positioned on steep rocky terrain. Unlike other Pura in Bali, this temple stands on the base of an ornament, as a Bedawang Nala (cosmic tortoise) with two dragons (serpents) wrapped around the body. The embodiments of the tortoise and the two dragons are the essential parts of the temple, with their heads overlooking the ocean. Therefore, this study aims to examine the interpretation of Bedawang Nala, as the Hindu icon located on the base of Pura Pabean. In this analysis, Capon's theory was developed and combined with the stages of the hermeneutic method. The analyzed Bedawang Nala was also a combination of Akupara (tortoise) with Vedava-nala (cosmic fire/fire of the apocalypse). This indicated that the body was similar to that of a tortoise, with the head being observed as a cosmic fire resembling the figure of a mare. The results showed that Bedawang functioned as an aesthetic and symbolic ornament, which depicted the bhu mandala (earth or region) in the middle of the ocean. This was a description of God's position in His manifestation, as the ruler of ports, trade, and water flow. These results are expected to develop the traditional Balinese architecture in the present and future activities and performances.
Pengembangan Ekowisata Spiritual di Dusun Brahmana Bukit Kabupaten Bangli Ida Bagus Idedhyana; Nyoman Diah Utari Dewi; I Wayan Meryawan; I Gusti Bagus Wirya Gupta; I Made Sudarma; Putu Chandra Kinandana Kayuan
Bhakti Persada Vol. 9 No. 1 (2023): Bhakti Persada Jurnal Aplikasi IPTEKS
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah, P3M, Politeknik Negeri Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31940/bp.v9i1.42-50

Abstract

Ekowisata spiritual merupakan jenis wisata yang dapat meminimalisir kerusakan lingkungan, terhubung dengan potensi sumberdaya alam, budaya, serta religi masyarakat setempat. Jenis wisata ini termasuk wisata minat khusus yang peminatnya terus meningkat. Dusun Brahmana Bukit terletak di Desa Cempaga Kabupaten Bangli, memiliki beberapa objek alam yang menarik namun belum dikembangkan. Nuansa alami ini perlu digali dan dikembangkan sebagai objek wisata, agar dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Potensi Dusun Brahmana Bukit memenuhi kriteria untuk dikembangkan sebagai ekowisata spiritual. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah merancang masterplan sebagai pedoman dalam penataan lingkungan, membantu mempromosikan serta memasarkan di media massa, memberikan pembinaan keberlangsungan sumber daya manusia. Metode observasi, wawancara, dan dokumentasi digunakan pada tahap penggalian data. Dilanjutkan dengan analisis, sintesa, dan transformasi gagasan pada tahap perancangan. Sosialisasi dan pendampingan digital marketing serta focus group discussion diterapkan dalam rangka pemasaran, pembinaan, dan pengembangan keberlangsungan sumber daya. Hasil pengabdian kepada masyarakat ini berupa gambar masterplan, gambar tiga dimensi dilengkapi dengan animasi, dihasilkan website “Toya Nyali Water Fall,” dan dapat dibentuknya Pokdarwis (kelompok sadar wisata) di Desa Brahmana Bukit dengan tugas mengembangkan potensi sumber daya manusia dan sumber daya alam. Dengan terjalinnya hubungan berkelanjutan dengan Dinas Pariwisata Bangli, objek wisata ini dapat dimonitor, dibina dan dievaluasi, untuk pengembangan yang lebih terarah dan berkesinambungan.