Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Faktor Risiko yang Mempengaruhi Gangguan Jiwa Kirana, Wahyu; Anggreini, Yunita Dwi; Litaqia, Wulida
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 4 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v4i0.177

Abstract

Latar Belakang: Masalah kesehatan jiwa merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius dan terbesar selain beberapa penyakit generatif karena jumlahnya yang terus mengalami peningkatan dan membutuhkan proses penyembuhan yang panjang seperti penyakit kronis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko yang memengaruhi gangguan jiwa. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian dengan rancangan deskriptif analitik dengan metode case control. Sampel penelitian sebanyak 36 orang yang terdiri dari 18 ODGJ pada kelompok case dan 18 orang bukan gangguan jiwa yang berobat ke UPT Puskesmas Tanjung Hulu yang dipilih secara accidental sampling. Instrumen penelitian yang digunakan terdiri dari kuesioner data demografi dan kuesioner faktor risiko gangguan jiwa, data selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji chi-square. Hasil: Hasil penelitian didapatkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian gangguan jiwa adalah faktor genetik (p=0,036, OR=10,818),trauma masa kecil (p=0,022, OR=5,500), stres (p=0,041, OR=5,000) dan pola asuh (p=0,022, OR=0,182), sedangkan faktor risiko yang tidak berhubungan dengan kejadian gangguan jiwa adalah cacat kongenital (p=0,729, OR=1,273), cedera (p=0,427, OR=0,520), jasmaniah (p=0,554, OR=0,471), penyalahgunaan obat (p=0,701, OR=1,346), penyakit kronis (p=0,554, OR=2,125), hubungan keluarga (p=0,735, OR=0,739), struktur keluarga (p=0,311, OR=0,284), sistem nilai (p=0,503, OR=0,636), kepincangan antara keinginan dan kenyataan (p=0,701, OR=0,743), sosial ekonomi (p=0,632, OR=1,600) dan perpindahan keluarga (p=0,675, OR=1,429) tidak bermakna sebagai faktor risiko gangguan jiwa. Kesimpulan: Faktor risiko gangguan jiwa terdiri dari faktor biologis, psikologis dan sosiokultural. Beberapa faktor risiko yang mempengaruhi gangguan jiwa dapat dimodifikasi untuk meminimalkan terjadinya gangguan jiwa.
Hubungan Spiritual Self-Care dengan Kecemasan Ibu Hamil Trimester III Yousriatin, Fajar; Anggreini, Yunita Dwi; Kirana, Wahyu
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 4 No. 2 (2022): July 2022
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v4i0.178

Abstract

Latar Belakang: Perubahan yang terjadi selama proses kehamilan menimbulkan kecemasan pada ibu hamil. Apabila tidak ditangani, maka akan berdampak terhadap kondisi ibu dan janin. Kecemasan dapat diatasi apabila ibu hamil memiliki mekanisme koping yang baik dengan cara meningkatkan spiritual self-care. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi hubungan spiritual self-care dengan kecemasan ibu hamil trimester III. Metode: Desain penelitian menggunakan studi cross-sectional. Penelitian dilakukan di UPT Puskesmas Kampung Dalam. Sebanyak 40 sampel ibu hamil trimester III dipilih secara purposive dengan kriteria inklusi penelitian ini yaitu ibu hamil trimester III yang berkunjung ke UPT Puskesmas Kampung Dalam Pontianak Timur, ibu hamil trimester III yang mengalami kecemasan. Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian yang terdiri dari kuesioner spiritual self-care practice dan kuesioner Zung self-rating anxiety scale yang telah dialih bahasa oleh peneliti sebelumnya. Hasil: Hasil uji statistik dengan korelasi Kendall’s tau-b menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara spiritual self-care dengan kecemasan ibu hamil trimester III dengan nilai p = 0,038 (p Kurang dari 0,05). Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara spiritual self-care dengan kecemasan ibu hamil trimester III. 
Pemberdayaan Keluarga melalui Pendekatan Komunikasi Terapeutik di Desa Temajuk Kabupaten Sambas Priyatnanto, Hendra; Yousriatin, Fajar; Anggreini, Yunita Dwi; Nurannisa, Nurannisa
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 7 (2024): Volume 7 No 7 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i7.15631

Abstract

ABSTRAK Komunikasi terapeutik merupakan komunikasi yang bertujuan untuk mempercepat proses penyembuhan. Melalui komunikasi yang baik, diharapkan segala informasi dan kebutuhan pasien dapat terpenuhi sehingga membantu dalam proses penyembuhan. Keluarga tentunya memiliki peran penting dalam merawat atau mendampingi anggota keluarga yang sakit, namun dilapangan menggambarkan banyak diantaranya keluarga dengan anggota keluarga yang sakit kurang mengetahui proses pengobatan dan perawatan yang dibutuhkan. Tujuan: pemberdayaan keluarga yaitu meningkatkan pengetahuan dan kemandirian keluarga dalam melakukan pencegahan maupun perawatan dengan cara optimalkan kemampuan komunikasi terapeutik antar anggota keluarga sebagai pilar kesehatan dalam keluarga. Metode: Pelaksanaan Kegiatan PKM dilakukan dengan metode edukasi selama 45 menit yang diikuti oleh 30 peserta. Untuk mengukur tingkat pengetahuan maka dilakukan pre dan post test. Hasil: hasil pengukuran sebelum edukasi dilakukan, pengetahuan peserta sebagian besar rendah (53,33%), kemudian diberikan edukasi tentang komunikasi terapeutik dan melakukan praktik cara melakukan komunikasi terapeutik, didapatkan hasil pengukuran pengetahuan sebagian besar tinggi yaitu 73,33%. Kesimpulan: Pemberian edukasi yang disertai dengan praktik atau simulasi dapat meningkatkan pengetahuan yang signifikan pada peserta. Kata Kunci: Komunikasi Terapeutik, Keluarga, Pemberdayaan  ABSTRACT Therapeutic communication is communication that aims to speed up the healing process. Through good communication, it is hoped that all information and patient needs can be met, thereby helping in the healing process. The family certainly has an important role in caring for or accompanying sick family members, but in field it is clear that many families with sick family members do not know the treatment and care process needed. Family empowerment, namely increasing family knowledge and independence in carrying out prevention and treatment by optimizing therapeutic communication skills between family members as a pillar of health in the family. Implementation of community service activities was carried out using an educational method for 45 minutes, attended by 30 participants. To measure the level of knowledge, pre and post tests were carried out. The results of the measurements before the education was carried out, the knowledge of the participants was mostly low (53.33%), then they were given education about therapeutic communication and practicing how to carry out therapeutic communication, the knowledge measurement results were mostly high, namely 73.33%. Providing education accompanied by practice or simulation can significantly increase participants' knowledge.  Keywords: Therapeutic Communication, Family, Empowerment
Latihan Hipnosis Lima Jari untuk Mengurangi Kecemasan Pada Penderita Hipertensi Kirana, Wahyu; Anggreini, Yunita Dwi; Safitri, Dewin
Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2024): September 2024
Publisher : Menara Science Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70109/jupenkes.v1i2.17

Abstract

Pasien dengan hipertensi tidak hanya mengalami gangguan secara fisiologis, tetapi juga mengalami gangguan psikologis yang disebabkan oleh berbagai faktor diantaranya pengobatan jangka panjang dan komplikasi dari penyakit hipertensi. Masalah psikologis yang seringkali dialami oleh pasien dengan hipertensi dan harus segera diatasi guna mencegah dampak yang lebih serius pada penderita hipertensi adalah ansietas. Kecemasan yang dialami penderita hipertensi dipicu oleh perasaan cemas dan khawatir dengan kondisi penyakitnya. Gejala kecemasan diantaranya mudah gelisah, susah tidur dan perasaan berdebar-debar. Salah satu upaya yang sudah terbukti dapat mengontrol kecemasan adalah dengan melakukan latihan hipnosis lima jari. Hipnosis lima jari bermanfaat dalam mengurangi tingkat kecemasan karena dengan bantuan imajinasi maka pasien akan membentuk bayangan yang akan diterima sebagai rangsangan oleh berbagai indra, sehingga dapat membuat pasien tidak fokus merasakan kecemasan. ketegangan otot dan ketidaknyamanan akan dikeluarkan dan menyebabkan tubuh menjadi rileks dan nyaman. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan kemampuan pasien hipertensi untuk mengatasi kecemasan dengan melakukan hypnosis lima jari. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini adalah edukasi dan latihan hipnosis lima jari. Terdapat perubahan tingkat kecemasan peserta setelah dilakukan latihan hipnosis lima jari. Sebelum dilakukan latihan hipnosis lima jari, sebagian besar peserta mengalami kecemasan sedang sebanyak 14 orang (70%). Setelah dilakukan latihan hipnosis lima jari Sebagian besar responden mengalami kecemasan ringan sebanyak 13 orang (65%) dan tidak ada yang mengalami kecemasan berat. Hipnosis lima jari merupakan salah satu teknik distraksi dengan cara menghipnosis diri sendiri yang bertujuan untuk mengurangi kecemasan