Satiawan, Putu Rudy
Departemen Peencanaan Wilayah Dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 11 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Faktor-Fakor yang Mempengaruhi Kognisi Spasial Masyarakat Kampung Merak terhadap Bentuk Permukimannya Rizki Arum Ramadhanita; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.49182

Abstract

Kawasan permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan, yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan. Salah satu kawasan permukiman yang menarik untuk diteliti dalam pola spasial adalah kawasan permukiman Kampung Merak di Kecamatan Banyuputih, Situbondo. Letak kampung merak yang didalam hutan Taman Nasional Baluran menyebabkan akesibilitas menuju kampung tersebut sulit diakses. Sehingga kampung tersebut hanya bisa diakses dengan kendaraan roda dua melalui jalur darat dan perahu melalui jalur laut. Selain wilayah Kampung Merak yang terletak di dalam dalam hutan, permukiman tersebut memiliki pola aktivitas masyarakat yang bermata pencaharian utama sebagai pengembala sapi. Dengan adanya aktivitas sosial masyarakat dan pola ruang fisik di Kampung Merak, sehingga dapat diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi pola spasial permukiman Kampung Merak. Penelitian ini menggunakan metode content analysis. Dari penelitian ini didapatkan faktor-faktor-faktor yang mempengaruhi kognisi spasial yaitu kondisi tanah, vegetasi, sosial masyarakat, kegiatan keagaaman, tradisi, mata pencaharian, jaringan jalan, tata letak, arah hadap bangunan, lintasan hewan ternak, dan batas territorial.
Kajian Keterkaitan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Madiun Abim Nurhuda Yaqin Prakosa; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.49256

Abstract

Ruang terbuka hijau penting untuk menciptakan suasana nyaman di perkotaan, terutama di Kota Madiun yang terus berkembang. RTH yang ada belum mencapai 30% sesuai ketentuan, terutama RTH publiknya yang hanya 8,82% dari luas kota sehingga perlu adanya penambahan RTH publik. Dalam penyediaaan RTH perkotaan terdapat faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi yaitu perkembangan lahan. Penggunaan lahan di Kota Madiun selalu bertambah/berkembang tiap tahunnya sedangkan RTH publik yang ada di Kota Madiun justru mengalami penurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keterkaitan antara faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan RTH di Kota Madiun. Peneitian ini terbagi ke dalam dua tahap, yaitu : (1) Mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan RTH di Kota Madiun, (2) Merumuskan keterkaitan amtara faktor-faktor yang mempengaruhi ketersediaan RTH di Kota Madiun. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa faktor-faktor seperti industri, fasilitas umum, perkantoran, dan tanah milik pemerintah memiliki keterkaitan dengan ketersediaan RTH di Kota Madiun.
Konfigurasi Spasial Kawasan Permukiman Kampung Maspati Havisa Putri Novira; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56102

Abstract

Kampung Maspati merupakan salah satu kawasan permukiman yang dimana masih menganut budaya kearifan lokal yang selalu diterapkan pada permukiman tersebut. Kampung Maspati ini dikelilingi bangunan modern dan sudah banyak transformasi fisik bangunan namun pada beberapa titik di kampung Maspati budaya, kearifan lokal dan tradisi-tradisi kampung tetap terjaga. Potensi-potensi fisik dan non fisik pada Kampung Maspati dimanfaatkan oleh masyarakat Kampung Maspati untuk aktivitas sehari-hari mereka. Sehingga, dalam kampung ini tercipta konfigurasi spasial yang membuatnya berbeda dengan kampung-kampung lainnya, terutama dengan kampung-kampung di sekitarnya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk menemukan bentuk konfigurasi spasial yang terbentuk pada permukiman Kampung Maspati yang dimana dapat menjadi masukan untuk pembangunan kawasan tersebut. Melalui metode content analysis, diinterpretasikan pendapat responden mengenai faktor ruang yang mempengaruhi konfigurasi spasial Kampung Maspati hingga menemukan konfigurasi spasial masyarakat terhadap bentuk permukimannya. Dari penelitian ini didapatkan faktor-faktor ruang yang berpengaruh yaitu identitas, sosial masyarakat, kepercayaan, tradisi, mata pencaharian, estetika, tata letak, jaringan jalan dan sirkulasi dan di dapatkan bentuk konfigurasi permukiman kampung Maspati terbagi menjadi 2 cluster dengan pola linier mengikuti jalan dengan pola jaringan grid yang terbagi menjadi ruang sakral-profan.
Penentuan Tipologi Permukiman di Kawasan Pinggiran Jakarta (Studi Kasus: Kota Tangerang Selatan) Diandra Artianti; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.56252

Abstract

Seiring dengan bertambahnya penduduk dan berkembangnya suatu wilayah, kebutuhan akan permukiman juga akan meningkat. Namun, harga lahan yang tinggi di pusat kota besar membuat jumlah lahan permukiman di pusat kota menjadi tebatas. Akibatnya, penduduk yang bekerja di kota besar akan mencari lokasi tempat tinggal di pinggiran kota, tidak terkecuali Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Ciputat Timur sebagai wilayah Kota Tangerang Selatan yang berbatasan langsung dengan Provinsi DKI Jakarta. Terbaginya tipologi permukiman ke dalam beberapa kelompok dapat dijadikan pertimbangan untuk mengambangkan sarana dan prasarana yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan penduduk di suatu kawasan. Unit analisis dari penelitian ini adalah 28 klaster permukiman yang terletak di Kecamatan Pondok Aren dan Kecamatan Ciputat Timur. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah content analysis untuk menentukan faktor-faktor yang menjadi dasar penentuan tipologi permukiman, dan hierarchial cluster analysis untuk merumuskan tipologi permukiman di kawasan pinggiran Jakarta, di Kota Tangerang Selatan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat enam faktor yang menjadi dasar pembentukan tipologi permukiman di kawasan pinggiran kota di Kota Tangerang Selatan, yakni ketersediaan infrastruktur transportasi, jenis kawasan, pendapatan, tingkat pendidikan, jarak dengan pusat kegiatan, dan pola bangunan. Kemudian berdasarkan enam faktor tersebut, terbentuklah empat tipe permukiman yang memiliki karakteristik fisik dan sosial yang berbeda-beda.
Penentuan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Lokasi Coworking Space di Kota Surabaya Haninggar Satria Putri; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (123.362 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.48271

Abstract

Perkembangan teknologi memicu munculnya revolusi industri keempat atau Industrial Revolution 4.0 yang ditandai dengan bersatunya beberapa teknologi atau yang dikenal sebagai fenomena disruptive innovation. Merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi untuk rencana Coworking Space di  Kota Surabaya merupakan salah satu strategi awal yang tepat untuk meningkatkan tingkat produktifitas dan keaktifan masyarakat dalam pengembangan kreativitas serta kegiatan literasi, belajar, dan diskusi. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan faktor-faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi Coworking Space di Kota Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling pada pengelola dan pengguna Coworking Space di Kota Surabaya, reduksi variabel dengan Content Analysis menggunakan software Nvivo 10. Hasil dari penelitian ini didapatkan 14 faktor yang mempengaruhi penentuan lokasi Coworking Space di Kota Surabaya, yaitu Keaktifan dan daya hidup yang tinggi, Lingkungan masyarakat kosmopolitan, Tata ruang dinamis, Komunitas Kreatif di Sekitar Lokasi Coworking Space, Fungsi jalan pada lokasi Coworking Space, Tingkat Keamanan sekitar lokasi Coworking Space, Tingkat Kenyamanan sekitar lokasi Coworking Space, Jarak Coworking Space dengan permukiman, Jarak Coworking Space dengan pusat pertumbuhan ekonomi (perdagangan dan jasa), Jarak Coworking Space dengan sarana pendidikan, Kondisi estetika lingkungan, Ketersediaan jaringan listrik, Ketersediaan jaringan telekomunikasi, dan Ketersediaan lahan parkir.
Kajian Konsep Alun-alun Surabaya Berdasarkan Persepsi Stakeholder Ni Luh Putri Widyarini Leira Kristina; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65265

Abstract

Alun-alun dalam konsep tata ruang kota Jawa Alun-alun merupakan lapangan rumput luas berbentuk persegi, dan di tengahnya terdapat pohon beringin yang dapat ditemukan hampir di setiap kediman penguasa daerah di kota Jawa, Alun-alun juga merupakan salah satu identitas bagi kota-kota di Pulau Jawa. Alun-alun juga di maknai sebagai pusat kemasyarakatan atau civic centre. Alun-alun merupakan ruang terbuka publik yang bersifat sakral yang dapat terlihat dari pemanfaatan, unsur fisik dan non fisik yang membentuk Alun-alun. Alun-alun Surabaya sendiri memiliki karateristik fisik dan prinsip-prinsip pengaturan ruang yang berbeda dengan Alun-alun Tradisonal atau Alun-alun pada umumnya, sehingga perlu diteliti mengenai pengaturan ruang serta karateristik fisik terhadap Alun-alun Surabaya, yang akan berdampak pada makna dan nilai kesakralan dari Alun-alun Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode content analysis yang bertujuan untuk mengetahui unsur fisik dan non fisik yang membentuk Alun-alun Surabaya. Dari penelitian ini didapatkan faktor-faktor yang membentuk konsep Alun-alun Surabaya yaitu aktivitas, ruang terbuka, elemen fisik (makro), elemen fisik (mikro), persepsi, sirkulasi, dan orientasi ruang. Faktor-faktor ini kemudian membentuk tema Alun-alun Surabaya yaitu sebagai Gathering Space, lalu pola ruang berdasarkan fungsi ruang yaitu terbentuk zona pemerintahan, zona ibadah, zona multifungsi, zona perdagangan dan jasa, dan zona ruang terbuka dan fungsi-fungsi ruang tersebut dimaknai dalam beberapa ruang antara lain ruang politik, ruang spritiual, ruang sosial, dan ruang ekonomi, serta zonasi kepemilikkan ruang di Alun-alun Surabaya ditemukan mayoritas merupakan ruang publik. Berdasarkan hasil tersebut memperlihatkan bahwa Alun-alun Surabaya mengalami pergeseran fungsi dan makna dari Alun-alun Tradisional.
Konfigurasi Spasial Ruang Publik Tugu Pahlawan Kota Surabaya Muhammad Arfiansyah Husein; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.65237

Abstract

Tugu Pahlawan Kota Surabaya merupakan representasi dari sejarah yang terjadi di Kota Surabaya. Terdapat bangunan yang bersifat simbolik di dalam areal Tugu Pahlawan Kota Surabaya. Dari simbol tersebut dapat menimbulkan pemaknaan berbeda dari berbagai perspektif dan masih belum banyaknya literasi yang membahas Tugu Pahlawan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan konfigurasi spasial ruang publik Tugu Pahlawan Kota Surabaya dan dua sasaran yang dapat menentukan zona-zona secara fisik maupun non fisik. Penelitian ini menggunakan metode content analysis dan analisis deskriptif kualitatif berdasarkan data survei menggunakan metode wawancara in-depth interview terhadap 8 responden. Responden berasal 3 stakeholder (pengelola, ahli, dan masyarakat). Lalu menginterpretasikan pendapat responden mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi konfigurasi spasial. Penelitian ini didapatkan faktor-faktor yang mempengaruhi terbentuknya konfigurasi spasial, yaitu: organisasi keruangan, tata letak, sirkulasi, orientasi, penanda, persepsi, perilaku masyarakat, nilai ekonomi, pemanfaatan ruang, nilai ruang dan zonasi ruang. Temuan bentuk konfigurasi spasial yang berupa penggambaran peta mental yang dimaknai sebagai zonasi non fisik. Pembagian zonasi berupa ruang kontemplatif, ruang ceremonial, ruang sosial, dan ruang sarana pendukung. Temuan ini berkontribusi untuk mengkonseptualisasikan dan memahami hubungan struktur spasial pada konteks kawasan lingkungan. Konfigurasi spasial digunakan untuk menjadi pedoman untuk pengembangan lingkungan yang terstruktur.
Penentuan Lokasi Alternatif TPA (Tempat Pembuangan Akhir) Sampah di Kabupaten Klungkung Dewa Made Satria Wijayakusuma; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.697 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.47426

Abstract

Produksi sampah di Kabupaten Klungkung terus meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, TPA Sente yang sudah beroperasi sejak tahun 1990-an mengalami overload pada tahun 2017 lalu mengalami penutupan dan tidak difungsikan sebagai TPA sejak tahun 2018 sehingga tidak ada lagi TPA skala kabupaten yang melayani wilayah Klungkung daratan. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Bali nomor 5 tahun 2011, pada pasal 22 menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten/Kota wajib melakukan pengolahan sampah skala kawasan dan/atau skala kota secara aman bagi kesehatan dan lingkungan, sehingga perlu diadakan suatu penelitian guna mencari alternative-alternatif lokasi TPA pengganti untuk melayani wilayah Klungkung Daratan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan lokasi-lokasi alternative TPA sampah di Kabupaten Klungkung. Tahapan penelitian yang dilakukan guna mencapai tujuan penelitian tersebut adalah yang pertama menentukan faktor-faktor prioritas penentuan lokasi TPA sampah di Kabupaten Klungkung, dengan metode analisa AHP (Analytical Hierarchy Process). Selanjutnya yaitu tahapan menentukan lokasi-lokasi prioritas alternatif TPA sampah berdasarkan skor kesesuaian lahan. Metode analisa yang digunakan dalam tahapan ini adalah menggunakan metode Weighted Overlay pada GIS dan metode AHP. Hasil dari penelitian ini terdapat 14 alternatif lokasi TPA sampah di Kabupaten Klungkung yang didasarkan dengan 11 variabel yang digunakan, dari ke-14 alternatif lokasi tersebut terdapat 2 prioritas alternative lokasi TPA yang berada di Kecamatan Dawan.
Arahan Pengembangan Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan Kota Malang sebagai Heritage Tourism Muhammad Rifqi Faghrezi; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 3 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i3.96865

Abstract

Kawasan Kayutangan Kota Malang dulunya merupakan pusat kota pada tahun 1914. Hal ini dapat dibuktikan dengan dapat ditemukannya peninggalan-peninggalan bersejarah serta tampilan visual bangunan-bangunan yang ada di Kawasan ini. Koridor Jalan Basuki Rahmat atau dulunya Kayutangan merupakan salah satu koridor jalan bersejarah yang membentuk karakter khas Kota Malang, yang secara visual dibentuk oleh deretan fasad bangunan di sepanjang Jalan Basuki Rahmat atau yang dulu disebut Jalan Kayutangan. Namun, Kawasan Kayutangan telah mengalami perubahan baik secara fisik maupun non-fisik seiring berjalannya waktu dan berkembangnya perkotaan yang menyebabkan berkurangnya nilai sejarah dan ciri khas yang dimilikinya. Penelitian ini memiliki dua tahap analisis. Tahap pertama yaitu analisis faktor – faktor yang mempengaruhi pengembangan Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan Kota Malang sebagai heritage tourism menggunakan analisis Delphi. Kemudian tahap kedua atau tahap terakhir yaitu analisis arahan pengembangan yang sesuai pada Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan sebagai heritage tourism yang menggunakan beberapa acuan seperti tinjauan teori, kondisi eksisting kawasan, best practice, dan tinjauan kebijakan. Hasil dari penelitian ini didapatkan 11 faktor yang mempengaruhi Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan sebagai heritage tourism melalui Analisis Delphi. Setelah ditemukan ke-11 faktor tersebut maka ditemukan arahan pengembangan Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan Kota Malang sebagai heritage tourism. Arahan tersebut berfokus pada penyelarasan fasade bangunan cagar budaya, peningkatan dan perlindungan fisik cagar budaya, peningkatan sarana dan prasarana, peningkatan aksesibilitas dan pemasaran, serta meningkatkan kebijakan dan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan Koridor Basuki Rahmat Kawasan Kayutangan Kota Malang.
Pengaruh Variabel Keruangan pada Periode Awal Penyebaran Pandemi Covid 19 di Kota Surabaya Karina Pradinie Tucunan; Rivan Aji; Utari Sulistyandari; Muhammad Sri Harta; Putu Rudy Satiawan
Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota Vol 18, No 1 (2022): JPWK Volume 18 No. 1 March 2022
Publisher : Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/pwk.v18i1.34867

Abstract

Penyebaran  Covid -19 selama ini selalu dikaitkan dengan carrier atau orang yang membawa virus baik yang diidentifikasikan sebagai ODP, PDP dan juga Positif Covid 19 (Pos). Namun, banyak yang tidak menyadari bahwa selama ini intervensi yang dilakukan pemerintah secara umum adalah intervensi terhadap pola keruangan seperti bentuk-bentuk PSBB, lockdown, karantina wilayah dan juga pembatasan akses pada aktivitas publik lainnya. Ruang adalah instrument utama dari pengendalian Covid -19 disebabkan ruang adalah wadah dimana manusia beraktivitas. Satu karakter ruang tertentu dalam hypothesis penlitian ini dapat mempengaruhi tingkat penyebaran lebih cepat dibandingkan dengan ruang yang lain. Pendekatan positivistic dengan menggunakan regresi linier digunakan dalam mendekati penelitian ini untuk mendapatkan gambaran mengenai seberapa besar variable keruangan mempengaruhi peneybaran covid-19 dan sebaran secara spasialnya di Kota Surabaya. Pada penemuan hasil yang ada, ditemukan bahwa terdapat 3 periode masa penyebaran Covid 19 di Kota Surabaya, yakni pada masa awal, masa PSBB dan masa new normal. Pada masa penyebaran awal ditemukan bahwa variable keruangan berpengaruh sebesar 61% pada penyebaran Covid 19 dengan variable yang mempengaruhi adalah jumlah fasilitas sosial dan jumlah sebaran warung kopi (warkop) dengan konsentrasi penyebaran spasial di Surabaya Selatan, Timur dan Barat.