Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Journal Health Applied Science And Technology (JHAST)

Perbedaan Kadar HbA1c Pada EDTA Yang Diperiksa Segera Dan Disimpan 2 Jam Disuhu Ruang (20-25℃): Perbedaan Kadar HbA1c Pada EDTA Yang Diperiksa Segera Dan Disimpan 2 Jam Disuhu Ruang (20-25℃) Aristoteles; Bastian
jurnal kesehatan terapan sains dan teknologi Vol 2 No 2 (2024): Journal Health Applied Science And Technology (JHAST)
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jhast.v2i2.51

Abstract

Latar belakang: Diabetes Melitus (DM) merupakan pembunuh nomor empat di dunia. Pemeriksaan HbA1c mencerminkan konsentrasi glukosa darah jangka Panjang. Penggunaan HbA1c sebagai Tindakan diagnostic merupakan standar perawatan oleh American Diabetes Association berdasarkan rekomendasi dari International Expert Committee. Stabilitas penundaan analisis menunjukkan bahwa inflasi nilai HbA1c berhubungan langsung dengan waktu penyimpanan, kondisi penyimpanan sampel harus dipantau dan dikontrol dengan hati-hati. Pemeriksaan HbA1c menggunakan metode Immunoassay dengan alat FinacareTM FIA Meter Plus Wondfo dari sampel pasien diabetes melitus sebanyak 29 sampel. Tujuan penelitian: Untuk mengetahui apakah ada perbandingan kadar HbA1c pada darah EDTA yang diperiksa segera dan yang disimpan 2 jam disuhu ruang 20-25°C. Metode penelitian: menggunakan studi Experimental Laboratory dengan rancangan one group pretest and posttest design. Data yang didapatkan diolah dengan program SPSS dilakukan uji Normalitas dengan uji Shapiro – wilk Bila hasil terdistribusi normal maka dilanjutkan uji hipotesis dengan uji – T berpasangan (Paired sampel T test). Dan jika tidak normal dilanjutkan dengan transformasi data, dan jika tidak normal maka dilakukan dengan uji non parametrik dengan Wilcoxon. Hasil: Hasil data yang dilakukan dengan uji (Paired Sampel T Test) didapatkan signifikan p = 0,959. Yaitu tidak ada perbedaan. Simpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa antara pemeriksaan kadar HbA1c pada EDTA yang diperiksa segera dan disimpan 2 jam disuhu ruang (20-25℃) tidak terdapat perbandingan yang signifikan, artinya pada penyimpanan 2 jam disuhu ruang (20-25℃) sampel untuk pemeriksaan HbA1c masih memiliki hasil yang baik.
Analisa Kadar Gula Darah Sewaktu Menggunakan Poct Dan Metode God-Pap Pada Ibu Hamil Dengan Hiperemesis Gravidarum Dewi Hartati; bastian
jurnal kesehatan terapan sains dan teknologi Vol 3 No 1 (2025): Journal Health Applied Science And Technology (JHAST)
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jhast.v3i1.62

Abstract

Latar belakang: Hiperemesis gravidarum adalah  mual dan muntah yang terjadi secara berlebihan selama hamil. Hiperemesis gravidarum dapat menyebabkan ibu hamil mengalami gangguan elektrolit dan penurunan berat badan. Sebagai upayapencegahan, makaibuhamildapat melakukan medical check up untuk mengetahui ada atau tidak adanya risiko gangguan kesehatan pada ibu hamil. Salah satu pemeriksaan check up ialah pemeriksaan gula darah. Pemeriksaan kadar gula darah dapat dilakukan dengan alat glukosameter (POCT) maupun alat spektrofotometer (metode GOD-PAP). Tujuanpenelitian: ini untuk menganalisa adakah perbedaan kadar gula darah sewaktu menggunakan POCT dan metode GOD-PAP pada ibu hamil dengan Hiperemesis Gravidarum di RSIA PRIMA QONITA. Metode penelitian: ialah post test only design. Jenis penelitian: yang digunakan ialah deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel yang diteliti adalah 42 sampel menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian: didapatkan hasil rata-rata pemeriksaan kadar gula darah sewaktu menggunakan POCT ialah 96,26 mg/dL dan kadar gula darah sewaktu menggunakan metode GOD-PAP  ialah 94,54 mg/dL. Dari rata-rata perbandingan pemeriksaan kada gula darah sewaktu menggunakan kedua metode didapatkan perbedaan sebesar 1,72%. Dimana perbedaan tersebut masih dalam batas normal. Analisis data menggunakan uji paired t-test  didapat hasil sig = 0,000 yang menunjukkan ρ < 0,05. Kesimpulan: dari penelitian ini terdapat perbedaan hasil pemeriksaan gula darah sewaktu menggunakan POCT dan metode GOD-PAP
a ANALISA HASIL PEMERIKSAAN LINE PROBE ASSAY DAN MYCOBACTERIUM GROWTH INDIKATOR TUBE LINI DUA GOLONGAN FLUOROQUINOLONE PADA PASIEN TB-MDR Dewi Hartati; Bastian
jurnal kesehatan terapan sains dan teknologi Vol 4 No 1 (2026): Journal Health Applied Science And Technology (JHAST)
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jhast.v4i1.93

Abstract

atar belakang : TB merupakan penyakit infeksi mudah menular melalui udara yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. TBmenjadi ancaman bagi kesehatan masyarakat global dan Indonesia menempati posisi kedua kasus TB tertinggi di dunia. Diagnosa dan penatalaksaan pasien TB akan berpengaruh dalam penanggulan TB. TB-MDR atau Multi Drug Resistant adalah TB resisten obat terhadap minimal 2 obat anti TB lini pertama. Mycobacterium Growth Indicator Tube (MGIT) merupakangold standardalam pemeriksaan TB namun membutuhkan waktu yang cukup lama. Salah satu alternative yang dikembangkan WHO adalah Line Probe Assay dengan metode genotypeyang memberikan diagnosa lebih cepat. Sehingga deteksi dan pengobatan TB-MDR dapat segera dilakukan. Tujuan penelitian: Untuk menganalisisLine Probe Assay dan Mycobacterium Growth Indicator Tube pada pasien TB-MDR. Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasionaldengan metode cross sectional dengan desain post test only control desain antara Line probe assay dan Mycobacterium Growth Indicator Tube terhadap hasil uji OAT Lini dua golongan Fluoroquinolone. Hasil : Hasil Analisa menunjukkan LPA Genotype MTBDRsI ver 2.0dengan Mycobacterium Growth Indicator Tube sebagai gold standar adalah sensitivitas 100%. Simpulan: Line Probe Assayterbukti mampu mendeteksi resistensi Fluoroquinolonedengan akurasi yang sama baiknya dengan Mycobacterium Growth Indicator Tube, namun lebih cepat sehingga berpotensi mempercepat terapi TB-MDR.”
ANALISA PEMANTAPAN MUTU INTERNAL PEMERIKSAAN ENZIM HATI BERDASARKAN ATURAN WESTGARD DI LABORATORIUM RUMAH SAKIT: Accuracy, Enzyme heart, Precision, Consolidation Quality Control Internal Ainuzzahroh, Adinda; Aristoteles; Bastian
jurnal kesehatan terapan sains dan teknologi Vol 4 No 1 (2026): Journal Health Applied Science And Technology (JHAST)
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52523/jhast.v4i1.96

Abstract

Latar Belakang: Pemantapan Mutu Internal (PMI) merupakan kegiatan pencegahan dan pengawasan yang dilaksanakan oleh masing-masing laboratorium secara terus menerus agar tidak terjadi atau mengurangi kejadian error/penyimpangan. Cakupan objek pemantapan mutu internal salah satunya adalah tahap anlitik yaitu quality controlyang merupakan tahap dengan dilakukanya uji presisi (presisi) dan ketelitian (akurasi). Salah satu penerapan yang dilakukan dapat dilakukan dengan menggunakan grafik Levey Jennings kemudian pembacaannya dapat digunakan aturan Westgard untuk mengukur akurasi (d%) dan presisi (CV%)pemeriksaan. Tujuan Penelitian : Penelitian ini untuk mengetahui Pemantapan Mutu Internal Pemeriksaan Enzim Hati Berdasarkan Aturan Westgard diLaboratorium Rumah Sakit. Metode Penelitian : Deskriptif Kuantitatif, penelitian ini dilakukan di RS X dan RS Y pada tanggal 10 -16 Maret 2025. Populasi yang diambil adalah seluruh data sekunder hasil quality control pemeriksaan enzim hati (AST dan ALT) Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder pada bulan Agustus-Desember 2024. Hasil: Nilai pada perhitungan pemeriksaan enzim hati pada RS X memiliki nilai bias yang baik dengan tidak ada nilai bias yang mencapai batas maksimal ±10% dan RS Y memiliki hasil bias yang cukup baik dengan 4 bulan hasil QC tidak melebihi batas maksimal dan 1 bulan hasil QC yang tidak akurat karena melebihi batas maksimal.Tingkat presisi pada pemeriksaan enzim hati RS X dan RS Y memiliki tingkat presisi yang cukup teliti karena tidak ada hasil CV yang melebihi batas maksimal 7%, Evaluasi grafik levey-jenning menggunakan aturan wesgrad pada pemeriksaan enzim hati pada RS X ditemukan banyak aturan 1-2 S, dan 10x. sedangkan pada RS Y banyak ditemukan aturan 1-2S, 4-1S, dan 10x.Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan hasil penelitian pemantapan mutu pemeriksaan internal enzim hati berdasarkan aturan westgard dilaboratorium rumah sakit.