Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EDUKASI HUKUM DALAM PENGELOLAAN IRIGASI PADA DAERAH DENGAN ALIH FUNGSI LAHAN PERTANIAN TINGGI Werdiningtyas, Ratri; Rosari, Bertania Kartikaning Tiyas; Hadiani, Rintis; Wahyudi, Agus Hari; As'ad, Sholihin; Setiono, Setiono; Solichin, Solichin; Hapsari, Shabrina
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 3 (2025): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v8i3.60031

Abstract

The issue of agricultural land conversion has become an increasingly pressing concern in Indonesia. Mixing land use for residential and agricultural purposes causes clogged irrigation canals due to trash dumping and sedimentation, affecting water flow and increasing pollution hazards. Impaired irrigation reduces agricultural productivity, leading to land conversion. This results in a cycle of malfunction in irrigation networks and land use. Law No. 17 of 2019 and Government Regulation No. 77 of 2001 emphasize farmers' major involvement in irrigation water management, yet many are unaware of their rights and obligations. One of the major challenges faced by farmers is the lack of knowledge about their rights and responsibilities as agricultural land managers in irrigated areas. The community service program intends to teach farmers in the Bengawan Solo Irrigation Area about their roles in irrigation management and spatial planning, thereby improving their legal knowledge and equipping them to effectively monitor their access to irrigation. The target participants for legal education on irrigation network management and spatial planning are farmers in the Bengawan Solo Irrigation Area, Jaten Subdistrict, Karanganyar Regency, Central Java. A half-day socialization and interactive workshop was held at the Jaten District Office, attended by 39 people consisting of 14 farmers, 17 P3A management personnel, and 6 village officials. The interactive sessions showed that farmers who do not know how to defend their irrigation management rights tend to shift to more economically profitable land uses, which disrupts irrigation networks and water reliability.Isu konversi lahan pertanian menjadi perhatian yang semakin mendesak di Indonesia. Bercampurnya penggunaan lahan untuk perumahan permukiman dan pertanian menyebabkan tersumbat di saluran irigasi karena pembuangan sampah dan sedimentasi, mempengaruhi aliran air dan peningkatan polusi air. Hal ini mengakibatkan siklus kerusakan pada jaringan irigasi dan penggunaan lahan. Turunnya produktifitas pertanian sebagai akibatnya menyebabkan maraknya fenomena konversi lahan pertanian menjadi perumahan permukiman. Undang-Undang No. 17 Tahun 2019 dan Peraturan Pemerintah No. 77 Tahun 2001 menekankan keterlibatan besar petani dalam pengelolaan air irigasi, namun banyak petani yang tidak menyadari hak dan kewajiban mereka. Sehingga salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah kurangnya pengetahuan tentang hak dan tanggung jawab petnai sebagai pengelola lahan pertanian di daerah irigasi. Program pengabdian masyarakat ini bermaksud untuk mengedukasi petani di daerah irigasi yang banyak terkonversi lahannya tentang hak, kewajiban dan peran mereka dalam pengelolaan irigasi dan penataan ruang, sehingga meningkatkan pengetahuan hukum mereka dan membekali mereka untuk menjaga akses irigasi sebagai haknya. Target peserta edukasi hukum pengelolaan jaringan irigasi dan penataan ruang adalah petani di daerah irigasi Bengawan Solo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Sosialisasi dan workshop interaktif setengah hari dilakukan di Balai Desa Jaten, Kecamatan Jaten yang dihadiri 39 orang yang terdiri dari 14 petani, 17 anggota/pengurus P3A, dan 6 pejabat desa. Dari sesi interaktif menunjukkan bahwa petani yang tidak tahu cara untuk membela hak pengelolaan irigasi mereka cenderung beralih ke penggunaan lahan yang lebih menguntungkan secara ekonomi, yang mengganggu jaringan irigasi dan keandalan air
Pengaruh Karakteristik Pergerakan Penumpang Commuter Line Yogyakarta-Surakarta terhadap Pemilihan Moda Feeder Arnanda, Marshelyna Yudha; Werdiningtyas, Ratri; Widodo, Candraningratri Ekaputri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 7, No 2 (2025)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v7i2.91086.81-89

Abstract

Tingginya jumlah komuter Kota Yogyakarta pengguna Commuter Line Yogyakarta-Surakarta yang menuju Kota Surakarta dihadapkan pada pemilihan moda feeder untuk menjangkau lokasi destinasi dari stasiun tujuannya di Kota Surakarta. Banyaknya pengguna transportasi umum pribadi dibandingkan pengguna transportasi umum massal diantara komuter memunculkan pertanyaan apa yang menjadi pengaruh dalam pemilihan moda oleh komuter pengguna Commuter Line  dari Yogyakarta menuju Surakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh karakteristik pergerakan terhadap pemilihan moda oleh komuter. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan teknik analisis regresi linear berganda dengan variabel dependen yaitu jenis pemilihan moda transportasi dan variabel independen yaitu karakteristik pergerakan komuter. Sampel penelitian ini adalah komuter KRL Yogyakarta-Surakarta yang menggunakan moda transportasi umum dalam melakukan pergerakannya di Kota Surakarta. Teknik pengambilan data yang digunakan yaitu penyebaran kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan pengaruh pemilihan moda feeder berdasarkan karakteristik pergerakan komuter di Stasiun Purwosari, Stasiun Solo Balapan, dan Stasiun Solo Jebres.
Faktor-Faktor yang Memengaruhi Perkembangan Desa Wisata Sumberbulu, Kabupaten Karanganyar Yulianti, Rachma Wulan Dwi; Aliyah, Istijabatul; Werdiningtyas, Ratri
Desa-Kota: Jurnal Perencanaan Wilayah, Kota, dan Permukiman Vol 8, No 1 (2026)
Publisher : Urban and Regional Planning Program Faculty of Engineering Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/desa-kota.v8i1.94775.90-105

Abstract

Pariwisata merupakan sektor yang dinamis dalam menangkap berbagai kecenderungan perkembangan global. Saat ini, sektor pariwisata menunjukkan kecenderungan pergeseran dari pariwisata massal menuju pariwisata alternatif. Salah satu jenis pariwisata alternatif yang muncul adalah desa wisata. Pada tahun 2020, Kabupaten Karanganyar menetapkan 23 desa sebagai desa wisata. Dalam perkembangannya, desa-desa tersebut memiliki proses dan pencapaian yang berbeda-beda. Sebagian desa berkembang menjadi semakin baik, sebagian berubah secara dinamis, sebagian kurang berkembang atau bahkan mengalami stagnasi. Desa Wisata Sumberbulu merupakan salah satu desa wisata yang memiliki perkembangan paling baik berdasarkan data perkembangan klasifikasi desa wisata dari Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar selama tahun 2021-2023. Desa Wisata Sumberbulu terus berkembang semakin baik setiap tahunnya hingga berhasil meraih nilai tertinggi pada klasifikasi desa wisata maju. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja faktor yang mempengaruhi perkembangan Desa Wisata Sumberbulu hingga menjadi desa wisata maju. Penelitian ini menggunakan pendekatan mix-method dengan teknik analisis content analysis untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu, serta analisis Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk menganalisis faktor yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan Desa Wisata Sumberbulu dipengaruhi oleh faktor internal yang terdiri dari faktor potensi sumberdaya alam dan budaya, faktor aman dari risiko bencana alam, faktor kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, faktor ketersediaan infrastruktur pariwisata dan faktor promosi dan pemasaran, dan juga faktor eksternal yang terdiri dari faktor kerja sama pentahelix, faktor minat wisatawan dan faktor aksesibilitas eksternal. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa faktor yang paling mempengaruhi perkembangan desa wisata Sumberbulu berdasarkan analisis adalah kerja sama komunitas masyarakat dalam lingkup internal, potensi sumberdaya alam dan budaya, serta kerja sama pentahelix.