Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Tinular Tutur : Audio Drama Media Counter Hegemony Ruler of The New Order (Analysis of Critical Discourse) Lephen, Purwanto
Dance and Theatre Review Vol 4, No 1: May 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.6 KB) | DOI: 10.24821/dtr.v4i1.4977

Abstract

The heyday of the 1980-1990 audio drama created by the Sanggar Cerita and the Teater Sanggar Prativi, Jakarta, Indonesia, was an industrial production of drama initiatives synergize between drama creators, pharmaceutical companies and herbal medicine as sponsors, and private radio companies that broadcast them. The productivity of audio drama works in the New Order era reached dozens of titles; some audio drama works produced up to 720 series or 24 episodes for two years broadcast. The audio drama Tutur Tinular by S. Tidjab uses history in Java (Singasari, Kediri, Majapahit) as a source of creation. Critical Discourse Analysis used (Norman Fairclough) is used to reveal texts, practices of discourse. Between social practices were resulting in the finding that in the audio drama, Tutur Tinular contains the behaviour of kings (rulers), royal authorities (patih, warlords), warriors (good people), criminals (bad people), and persecuted people. In the power New Order era, audio drama, which was considered an entertainment media and educational history of nationalism, was a media of resistance of the New Order military rulers.  It contained the rulers' behaviour and soldiers who oppressed their people, but it never received a reprimand and a ban on the authorities until the regime subsided.Keywords: drama audio, counter-hegemony, critical discourse        
PENDIDIKAN KARAKTER PADA SEKOLAH DASAR BERBASIS ESTETIKA TEATER ANTONIN ARTAUD (KERESAHAN ZAMAN DAN PRODUKSI) Purwanto Lephen
PROCEEDING UMSURABAYA 2023: Prosiding Conference of Elementary Studies (CES) 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teater merupakan media pembelajaran teori dan praktik yang berkaitan dengan daya kreatif, kerjasama, religiusitas hingga pesan yang kontekstual. Estetika Antonin Artaud menunjukkan teater sebagai media pengungkap pesan zaman dan produksi yang berbasis teater tradisi. Tradisi teater untuk anak Sekolah Dasar oleh Ki Hadjar Dewantara dalam bentuk sandiwara (drama dengan pesan tersembunyi) disebut langen carita (cerita yang dimusikalisasi dan didendangkan). Peserta 15 anak yang belum mengenal teater tradisi dalam waktu 30 jam berhasil memotivasi dan memberdayakan siswa-siswi SD Negeri Sayidan Yogyakarta karya teater tradisi Rara Ajonggrang, dapat menerapkan produksi teater tradisi sebagai media penguatan dan praktik pendidikan karakter (percaya diri, mandiri, bertanggung jawab, gotong royong, religius, berpikir kritis dan kreatif, inovatif). Metode evaluasi deskriptif dengan kategori baik dan belum baik dalam pengusaan elemen pertunjukan tradisi (menari, menyanyi, bermusik) dan berproduksi dengan jumlah pembelajaran humanis. Hasilnya, rata-rata berkemampuan baik pada awalnya hanya 4 peserta (3,923), yang menjadikan 12 peserta (11,7692) atau meningkat 8 peserta (7,8462), sehingga materi teater tradisi (langen carita) dapat diterima dan berhasil meberdayakan. Model lain untuk dibuat karya teater sebagai media pemberdayaan karakter dengan teater tradisi dari daerah lain untuk dipraktekkan, produksi dan mengungkapkan keresahan zaman seuai kemampuan dan minat anak seusia 7 sampai 12 tahun. Kata Kunci: teater; produksi; kreativitas, keresahan zaman; pendidikan karakterÂ