Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Characterization of Sago Starch-Based Biofoam with Corn Husk Fiber Filler Rozanna Dewi; Novi Sylvia; Zulnazri; Retnowulan, Sri Rahayu; Muarif, Agam; Fikri, Ahmad; Medyan Riza
Jurnal Bahan Alam Terbarukan Vol. 13 No. 2 (2024): December 2024 [Nationally Accredited Sinta 2]
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jbat.v13i2.2209

Abstract

The use of biofoam is one of the ways to reduce plastic waste that pollutes the environment. In this research, we want to develop biofoam from sago starch as a basic ingredient with the addition of corn husk fiber filler and the addition of magnesium stearate which aims to improve mechanical characteristics, thermal, morphological, water absorption and biodegradabillity. Variations of corn husk fiber used were 45 g, 50 g, 55 g and 60 g, with variations in the concentration of NaOH solvent used for cellulose extraction were 3%, 5%, 7% and 9%. The mechanical characteristics (tensile strength) of the resulting biofoam range from 1.37 – 2.45 MPa. The chemical bonding of biofoam was seen through Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) and showed that biofoam is hydrophilic which binds to water so that it is easily degraded by soil. Thermal characteristics were tested through Differential Scanning Calorimetry (DSC) and showed a melting point of 410.68oC at 45 g of fiber and 5% NaOH and a melting point of 410.86oC at 55 g fiber and 5% NaOH. Thermal stability was analyzed through Thermal Gravimetry Analysis (TGA) and the most thermally stable biofoam was biofoam with 45 g of corn husk fiber and 5% NaOH. The surface morphology test using a Scanning Electron Microscope (SEM) showed that the morphological structure of the corn husk fiber biofoam was uneven and there were bubbles on the surface of the biofoam. The water absorption test shows results between 5.72 – 14.43%. The lowest density test for biofoam is using 55 g fiber weight and 3% NaOH concentration, while the highest density is 60 g fiber weight and 9% NaOH concentration. The results of the biodegradability test showed that the biofoam decomposes completely within 40-45 days, the soil moisture factor greatly affects the rate of biodegradability.
Diseminasi Pengetahuan Material Terbarukan Berbasis Biomassa melalui Webinar sebagai Upaya Peningkatan Literasi Teknologi Berkelanjutan Yani, Firda Tirta; Fitriani; Zulnazri; Raudhatul Ulfa; Fahrizal Nasution; Ledy Mahara Ginting; Faisal; Iqbal Kamar
Jurnal Malikussaleh Mengabdi Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Malikussaleh Mengabdi, Januari 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/jmm.v5i1.25405

Abstract

Pengembangan literasi dan kapasitas masyarakat akademik dalam bidang material terbarukan menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya perhatian global terhadap isu keberlanjutan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diselenggarakan untuk memperluas pemahaman peserta mengenai rekayasa proses material berbasis biomassa, khususnya produksi nanoselulosa serta pengembangan biokomposit film dan board. Webinar dilaksanakan secara daring dengan melibatkan narasumber dari BRIN dan diikuti oleh peserta dari berbagai institusi pendidikan dan sektor industri. Tahap persiapan mencakup koordinasi tim, penentuan topik, penyusunan materi, pembuatan media publikasi, serta pengumpulan data registrasi peserta. Hasil registrasi menunjukkan bahwa 67,2% peserta telah mengetahui nanoselulosa, sementara 53,7% memahami konsep biokomposit, mencerminkan adanya variasi pengetahuan awal yang perlu dijembatani melalui kegiatan edukatif. Pelaksanaan webinar berlangsung efektif dengan penyampaian materi yang mendalam mengenai teknologi pemrosesan biomassa, prinsip produksi nanoselulosa, dan aplikasi biokomposit sebagai material ramah lingkungan. Webinar dihadiri oleh 75 peserta. Evaluasi kegiatan menunjukkan respons positif terhadap kualitas materi dan relevansi tema terhadap kebutuhan pengembangan ilmu dan teknologi. Secara keseluruhan, kegiatan ini memberikan dampak teoritis dan praktis berupa peningkatan literasi peserta, mendorong riset lanjutan, serta memperkuat pemahaman mengenai pemanfaatan biomassa dalam mendukung implementasi ekonomi sirkular. Hasil ini menegaskan bahwa kegiatan webinar berperan strategis dalam memperluas pengetahuan dan memfasilitasi kolaborasi di bidang material terbarukan.
PENINGKATAN DERAJAT DEASETILASI PADA KITOSAN DARI LIMBAH TULANG SOTONG (SEPIA OFFICINALIS) DENGAN MENGGUNAKAN METODE EKSTRAKSI Reci Anggraini; Zulnazri; Rozanna Dewi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 5 No. 06 (2025): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-December 2025
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v5i06.22857

Abstract

Kitosan merupakan biopolimer alami yang banyak dimanfaatkan di berbagai bidang, termasuk industri farmasi, karena sifat-sifatnya yang biokompatibel, biodegradable, dan memiliki aktivitas biologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum dicapai pada suhu 130°C dan waktu reaksi 80 menit. Pada parameter ini, kitosan yang dihasilkan memiliki derajat deasetilasi sebesar 75%, rendemen sebesar 80%, kadar udara 0,85%, dan kadar abu 0,95%.Nilai-nilai tersebut menunjukkan bahwa kitosan yang diperoleh telah memenuhi standar kualitas untuk aplikasi teknis dan memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dalam berbagai penggunaan industri.
Formulasi Sediaan Sabun Transparan dari Minyak Zaitun (Olive Oil) dengan Penambahan Minyak Atsiri Bunga Kenanga (Cananga Odorata) Sebagai Antibakteri Nia; Zulnazri; Fikri Hasfita; Wusnah; Leni Maulinda
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol. 6 No. 02 (2026): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)-April 2026
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v6i02.23814

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan sabun padat transparan berbasis minyak zaitun dengan penambahan minyak atsiri bunga kenanga (Cananga odorata) sebagai antibakteri alami, serta menganalisis pengaruh variasi perbandingan minyak dan sukrosa terhadap karakteristik sabun. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan lima variasi rasio minyak zaitun terhadap minyak atsiri (10:1, 20:3, 30:5, 40:7, 50:9) dan empat variasi konsentrasi sukrosa (5 g, 10 g, 15 g, 20 g). Parameter uji meliputi pH, kadar udara, tinggi dan stabilitas busa, kadar asam lemak bebas, basa bebas, bilangan penyabunan, uji organoleptik, dan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis . Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi minyak atsiri dan sukrosa mempengaruhi karakteristik sabun, baik dari segi kejernihan, kualitas fisik, maupun efektivitas antibakterinya. Formula terbaik diperoleh pada perbandingan minyak zaitun:kenanga 30:5 dengan penambahan sukrosa 15 g yang menghasilkan sabun dengan pH optimal, busa stabil, kadar udara sesuai, serta daya hambat antibakteri yang efektif. Penelitian ini menunjukkan potensi sabun alami dengan bahan aktif nabati sebagai alternatif produk higienis yang ramah kulit dan lingkungan.