Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

HUBUNGAN ATTACHMENT DAN LONELINESS PADA MAHASISWA LDRR: ANALISIS BERDASARKAN VARIASI JARAK FISIK Ramadhan, Asya Afifa Putri; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v5i4.8197

Abstract

ABSTRACT Long-distance romantic relationships (LDRR) are becoming increasingly common among students and often cause emotional challenges due to limited face-to-face interaction. This study aims to examine the relationship between attachment (anxiety & avoidance) and loneliness in students who are in LDRR. This study used a quantitative method with a correlational design and involved 406 students in Indonesia aged 18-25 years who had been in an LDRR for at least 3 months. Data were collected through an electronic questionnaire containing the Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) scale and the Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) with a Likert scale. The results showed a significant positive correlation between attachment and loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), where attachment tendencies were associated with higher levels of loneliness. In addition, a Kruskal-Wallis test was conducted on the physical distance category, and the results showed variations in the mean rank of attachment and loneliness in different distance categories. The very far distance category (>1000 km) had a mean rank score of 223.02 for attachment and 222.25 for loneliness. The minimal category (80 km) showed a mean rank score of 211.16 for attachment and 225.16 for loneliness. These findings indicate that physical distance can exacerbate emotional challenges in LDRR, particularly in individuals with insecure attachment. ABSTRAK Hubungan romantis jarak jauh atau long-distance romantic relationship (LDRR) menjadi fenomena yang semakin umum di kalangan mahasiswa dan kerap memicu tantangan emosional akibat adanya keterbatasan interaksi tatap muka. Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara attachment (anxiety & avoidance) dengan loneliness pada mahasiswa yang menjalani LDRR. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain korelasional dan melibatkan 406 mahasiswa di Indonesia, berusia 18-25 tahun yang menjalin LDRR selama minimal 3 bulan. Data dikumpulkan melalui kuesioner elektronik yang memuat skala Experiences in Close Relationship-Revised (ECR-R) serta Social and Emotional Loneliness Scale for Adults-Short Version (SELSA-S) dengan skala Likert. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan antara attachment dan loneliness (r? (406) = 0.526, p < 0.05), di mana kecenderungan attachment berhubungan dengan tingginya tingkat loneliness. Selain itu, uji beda Kruskal-Wallis dilakukan pada kategori jarak fisik, hasil menunjukkan adanya variasi mean rank attachment dan loneliness pada kategori jarak yang berbeda. Kategori jarak sangat jauh (>1000 km) dengan skor mean rank 223.02 pada attachment dan 222.25 pada loneliness. Kategori minimal (80 km) menunjukkan skor mean rank 211.16 pada attachment dan 225.16 pada loneliness. Temuan ini menunjukkan bahwa jarak fisik dapat memperkuat tantangan emosional dalam LDRR, khususnya pada individu dengan insecure attachment.
Korelasi antara Self-Esteem dengan Tingkat Loneliness pada Mahasiswa Rantau Putri, Arsy Febrianti; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7757

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-esteem dengan tingkat loneliness pada mahasiswa rantau di Indonesia. Loneliness sering dialami oleh mahasiswa yang tinggal jauh dari keluarga dan daerah asal, sementara self-esteem sebagai faktor internal memiliki peran penting dalam kemampuan individu untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian korelasional. Partisipan penelitian berjumlah 267 mahasiswa rantau berusia 19–25 tahun yang berada pada semester tiga ke atas, yang diperoleh melalui teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rosenberg Self-Esteem Scale (RSES) dan UCLA Loneliness Scale (versi 3). Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman’s rho serta uji beda non-parametrik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan negatif yang signifikan antara self-esteem dan loneliness (r = –.819, p .001), yang berarti semakin tinggi self-esteem yang dimiliki mahasiswa rantau, maka semakin rendah tingkat loneliness yang dialami, begitupun sebaliknya. Selain itu, hasil uji beda berdasarkan jenis kelamin, usia, jenis universitas, semester, dan domisili asal menunjukkan nilai p .05, yang berarti tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada self-esteem maupun loneliness berdasarkan faktor demografis tersebut.
Hubungan Antara Tingkat Self-compassion dan Risiko Academic Burnout pada Mahasiswa di Fase Penyusunan Skripsi Duarsa, Naraya Kinastrian Siniddhikara; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7758

Abstract

This study examines the relationship between self-compassion and academic burnout among final-year undergraduate students at University who are completing their theses. Academic burnout has become a significant concern due to prolonged academic stress, while self-compassion is recognized as an internal coping mechanism that may mitigate such stress. Using a quantitative correlational design, data were collected from 240 respondents through purposive sampling. Participants completed the Self-compassion Scale (SCS) and the Academic Resilience Scale-30 (ARS-30), both measured using a four-point Likert scale. Data were analyzed using the Statistical Package for the Social Sciences (SPSS) with Spearman’s Rho correlation test due to non-normal data distribution. The results revealed a strong negative and significant correlation between self-compassion and academic burnout (rs = –0.762, p 0.05), indicating that higher self-compassion levels are associated with lower academic burnout. These findings highlight the protective role of self-compassion in reducing academic exhaustion and emotional fatigue among students facing academic pressure. The study concludes that enhancing self-compassion may serve as an effective psychological strategy to prevent academic burnout in higher education contexts.
Hubungan Antara Internalisasi Standar Kecantikan Media dan Body Image pada Dewasa Muda Pengguna Aktif Instagram Azzuhruf, Naura Reisya; Wibowo, Astri Anggraini Hapsara; Roswiyani, Roswiyani
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol 4, No 2 (2025): December 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v4i2.7756

Abstract

Penggunaan Instagram yang intensif pada dewasa muda sering memaparkan mereka pada standar kecantikan yang tidak realistis. Paparan ini dapat memicu internalisasi standar kecantikan media yang kemudian memengaruhi pola pikir individu terhadap tubuh mereka sendiri (body image). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara internalisasi standar kecantikan media dengan body image pada dewasa muda pengguna aktif Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif non-eksperimental dengan desain korelasional. Partisipan studi ini berjumlah 284 dewasa muda di DKI Jakarta yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan secara daring menggunakan kuesioner Sociocultural Attitudes Towards Appearance Questionnaire-4 (SATAQ-4) untuk mengukur internalisasi standar kecantikan media dan Multidimensional Body-Self Relations Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS) untuk mengukur body image. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara internalisasi standar kecantikan media dan body image (p .05), meskipun kekuatan hubungannya dalam kategori lemah. Analisis dimensi menunjukkan bahwa internalisasi ramping dan internalisasi atletis, serta tekanan teman sebaya berhubungan signifikan dengan dimensi body image, sedangkan tekanan keluarga tidak memiliki hubungan yang signifikan. Semakin tinggi tingkat internalisasi standar kecantikan media pada dewasa muda, semakin tinggi pula perhatian dan evaluasi mereka terhadap body image. Temuan ini mengindikasikan pentingnya kesadaran dalam melihat konten media sosial untuk menjaga persepsi tubuh yang sehat.
PENGARUH CHILDHOOD EMOTIONAL NEGLECT TERHADAP SELF-EXPRESSION PADA DEWASA AWAL Tan, Chatrine; Roswiyani, Roswiyani
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i2.9102

Abstract

Self-expression ability in young adulthood is an important aspect of psychological development, as it relates to an individual’s capacity to convey thoughts, emotions, and needs in an adaptive manner. However, many individuals still experience difficulties in expressing their emotions effectively. One factor that is presumed to influence this condition is the experience of Childhood Emotional Neglect (CEN), although studies specifically linking CEN to self-expression remain limited. This study aims to examine the effect of Childhood Emotional Neglect (CEN) on self-expression ability in young adults. The participants in this study consisted of 296 individuals aged 18–25 years. This study employed a quantitative approach using purposive sampling, and data were collected online through Google Forms. The instruments used included a self-expression scale and a CEN scale, both measured using a Likert scale. Data analysis included tests of normality, linearity, correlation, regression, and group differences. The results showed that participants’ levels of self-expression were in the moderate category, as were their experiences of CEN. Correlation analysis revealed that CEN had a significant negative relationship with self-expression (r = –0.177; p = 0.002), indicating that higher levels of CEN were associated with lower self-expression ability. Dimensional analysis showed that emotional needs had the strongest negative relationship with self-expression, followed by cognitive needs and supervision needs, while physical needs did not show a significant relationship. Regression analysis indicated that CEN had a significant effect on self-expression, although its contribution was relatively small (R² = 0.031). In addition, independent samples tests based on gender showed no significant differences in CEN or self-expression scores between males and females. Overall, this study concludes that experiences of emotional neglect during childhood contribute to lower self-expression ability in young adulthood. ABSTRAK Kemampuan self-expression pada dewasa awal merupakan aspek penting dalam perkembangan psikologis, namun masih banyak individu yang mengalami kesulitan dalam mengekspresikan emosi secara adaptif. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kondisi tersebut adalah pengalaman Childhood Emotional Neglect (CEN), meskipun kajian yang secara spesifik menghubungkan CEN dengan self-expression masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh Childhood Emotional Neglect (CEN) terhadap kemampuan self-expression pada individu dewasa awal. Partisipan dalam penelitian ini berjumlah 296 orang dengan rentang usia 18–25 tahun. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling, dan pengumpulan data dilakukan secara daring melalui Google Forms. Instrumen yang digunakan terdiri atas skala self-expression dan skala CEN yang diukur menggunakan skala Likert. Analisis data meliputi uji normalitas, linearitas, korelasi, regresi, dan uji beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat self-expression partisipan berada pada kategori sedang, demikian pula pengalaman CEN yang juga berada pada kategori sedang. Uji korelasi menunjukkan bahwa CEN memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan self-expression (r = –0,177; p = 0,002), yang berarti semakin tinggi tingkat CEN yang dialami individu, semakin rendah kemampuan self-expression yang dimilikinya. Analisis berdasarkan dimensi menunjukkan bahwa emotional needs memiliki hubungan negatif paling kuat dengan self-expression, diikuti oleh cognitive needs dan supervision needs, sedangkan physical needs tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Hasil uji regresi menunjukkan bahwa CEN berpengaruh signifikan terhadap self-expression, meskipun kontribusinya relatif kecil (R² = 0,031). Uji beda berdasarkan jenis kelamin menunjukkan tidak terdapat perbedaan signifikan pada skor CEN maupun self-expression antara laki-laki dan perempuan. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa pengalaman pengabaian emosional pada masa kanak-kanak berkontribusi terhadap rendahnya kemampuan self-expression pada dewasa awal.