Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Pelatihan Menulis Cerita Anak Berbasis Kearifan Lokal Bagi Pegiat Literasi Ruang Berbagi Manokwari Papua Barat Rahmawati, Chori; Avanti Samino, Francine; Ruth Lianita, Priska
Jurnal Abdimas Adpi Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2021): Jurnal Abdimas ADPI Sosial dan Humaniora
Publisher : Asosiasi Dosen PkM Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/jsoshum.v2i3.232

Abstract

Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan kemendikbud menjadi tanggungjawab kita semua, salah satunya adalah para pegiat literasi di Rumah Belajar Ruang Berbagi Manokwari Papua Barat. Optimalisasi GLN dapat dilakukan dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal. Pengintegrasian nilai-nilai kearifan lokal dapat dilakukan dengan cara membaca cerita rakyat serta mengenalkan keragaman budaya lokal seperti rumah adat, permainan tradisional, juga kuliner khas daerah setempat. Kegiatan bercerita menjadi salah satu metode yang digunakan oleh pegiat literasi di Ruang Berbagi. Dalam bercerita para pegiat literasi hanya mengandalkan sumbangan buku dari para relawan dan donatur. Buku-buku yang digunakan terkadang tidak sesuai dengan konteks kearifan lokal lingkungan anak. Tujuan dari PKM pelatihan menulis cerita anak berbasis kearifan lokal adalah memberdayakan para pegiat literasi agar terampil membuat cerita anak dan menghasilkan kumpulan cerita anak yang dapat digunakan sebagai media dalam pembelajaran literasi sesuai konteks kearifan lokal lingkungan anak. Metode kegiatan yang digunakan adalah pelatihan dengan menggunakan pendekatan andragogi dan strategi pembelajaran kontekstual. Pelatihan dilaksanakan secara online dengan menggunakan aplikasi Zoom Meeting, WhatsUp dan e-mail untuk pengiriman hasil karya. Pelatihan diikuti oleh 41 pegiat literasi. Pelatihan menghasilkan kumpulan cerita anak berbasis kearifan lokal Papua.
SIKAP SISWA SMA TERHADAP PROFESI GURU Maria Claudia Wahyu Trihastuti; Clara Ika Sari Budhayanti; Francine Avanti Samino; Paulina Chandrasari Kusuma; V. M. Nilawati Hadisantosa
Psiko-Edukasi Vol 19, No 1 (2021): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap terhadap profesi guru adalah evaluasi positif atau negatif secara kognitif, afeksi, dan psikomotorik terhadap profesi guru yang terkait kompetensi guru (pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial) dan kompensasi serta penghargaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sikap siswa SMA dan SMK di Jabodetabek terhadap profesi guru. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian terdiri dari 50 siswa sebagai sampel ujicoba dan 414 siswa sebagai sampel penelitian dari lima sekolah swasta di Jakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan komponen dan karakteristik sikap yang dikaitkan dengan kompetensi guru serta kompensasi dan penghargaan. Berdasarkan hasil ujicoba diketahui bahwa dari 50 pernyataan, terdapat 43 pernyataan valid dengan koefisien realibilitas instrumen sebesar 0,956. Data penelitian diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat 92 siswa (22%) memiliki sikap yang sangat positif terhadap profesi guru, 259 (63%) siswa memiliki sikap positif, 58 (14%) siswa memiliki sikap cukup positif, 5 (1%) siswa memiliki sikap kurang positif, dan tidak ada siswa yang memiliki sikap negatif terhadap profesi guru. Indikator yang dinilai positif oleh siswa yaitu indikator gaji guru yang memadai dan indikator profesi guru dihargai masyarakat. Indikator yang terkait dengan kompetensi kepribadian yang dinilai positif adalah kepribadian utuh, seperti kebiasaan guru berpakaian rapi dan sopan. Kompetensi sosial guru yang dinilai positif adalah kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa untuk berubah ke arah yang baik namun guru dinilai kurang mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Kompetensi profesional guru yan dinilai positif antara lain terkait dengan penguasaan materi yang diajarkan namun guru dinilai kurang mampu mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Kompetensi pedagogik guru cenderung dinilai kurang positif oleh siswa, antara lain guru dinilai kurang tegas, belum mampu mengajar sesuai dengan gaya belajar dan karakteristik siswa, kurang menguasai keterampilan mengajar, serta kurang mampu menyampaikan materi dengan menarik dan kreatif.Saran diberikan kepada kepala sekolah, guru, dan kepala program studi Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya: (1) Kepala sekolah hendaknya menyusun program pengembangan sumber daya guru terutama yang terkait dengan peningkatan kompetensi pedagogik. Pembinaan kompetensi pedagogik guru hendaknya dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan agar pelaksanaan proses pembelajaran lebih efektif dan guru lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran; (2) Guru diharapkan secara terus menerus mengembangkan keilmuan yang telah dimiliki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan; dan (3) Kepala program studi beserta tim penyusun kurikulum hendaknya memperkaya kurikulum dengan menambah bobot mata kuliah yang terkait keterampilan mengajar calon pendidik.
Pelatihan Menulis Cerita Anak Berbasis Kearifan Lokal Bagi Pegiat Literasi Ruang Berbagi Manokwari Papua Barat Magdalena Chori Rahmawati; Francine Avanti Samino; Priska Ruth Lianita
Jurnal Abdimas Adpi Sosial dan Humaniora Vol. 2 No. 3 (2021):  Jurnal Abdimas ADPI Sosial dan Humaniora
Publisher : Asosiasi Dosen Pengabdian kepada Masyarakat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47841/jsoshum.v2i3.145

Abstract

The National Literacy Movement launched by the Ministry of Education Culture is the responsibility of all of us, one of which is the literacy activists at the Learning House Sharing Room, Manokwari West Papua. Optimization of GLN implementation can be done by integrating local wisdom values. The integration of local wisdom values can be done by reading folklore and introducing local cultural diversity such as traditional houses, traditional games, as well as local culinary specialties. Storytelling is one of the methods used by literacy activists at the Learning House Sharing Room. In telling stories, literacy activists only rely on book donations from volunteers and donors. The books used are sometimes not in accordance with the context of the local wisdom of the children’s environment. The purpose of the PKM training to write children’s stories based on local wisdom is to empower literacy activists from to be skilled at making children’s stories and produce a collection of children’s stories that can be used as media in literacy learning according to the context of local wisdom in the child’s environment. The activity method used is training using an andragogy approach and contextual learning strategies. The training is carried out online using Zoom meeting application and e-mail for sending the work. The training was attended by 41 literacy activists. The training produced a collection of children’s stories based on local Papuan wisdom.
PENGEMBANGAN BUKU SISWA TEMATIK BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK SISWA KELAS II SEKOLAH DASAR Magdalena Chori Rahmawati; M.Francine Avantie Samino; Inosius Kalakmabin
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 7 No. 2 (2022): Volume 07, Nomor 02, Desember 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v7i2.6443

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa buku siswa tematik berbasis budaya untuk siswa kelas 2 Sekolah Dasar. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research & Development) dengan model pengembangan ADDIE. Penelitian dilaksanakan di SD YPPK Salib Suci Agats. Hasil penelitian pada isi berkategori sangat baik dari aspek isi materi, keakuratan materi, dan keabsahan dengan akumulasi dari rentang skor validitas yakni 92%, sedangkan desain buku siswa berkategori sangat baik dari ukuran buku, desain cover buku, desain isi buku, ilustrasi isi buku dengan akumulasi dari rentang skor validitas yakni 94,5%. Hasil analisis memperoleh A (81%-100%), maka buku siswa kualifikasinya sangat baik untuk digunakan dalam pembelajaran. Berdasarkan hasil uji coba yang dilakukan diperoleh data bahwa materi yang ada dalam buku jelas bagi siswa, memberi dampak positif, dan buku layak untuk digunakan. Dengan demikian produk buku siswa yang dikembangkan dinyatakan layak untuk digunakan dalam pembelajaran.
pengembangan PENGEMBANGAN BAHAN AJAR TEMATIK DIGITAL BERBASIS BUDAYA LOKAL UNTUK SISWA KELAS 2 SD Samino, M. Francine Avanti; Rahmawati, Magdalena Chori; Runggeari, Maria Shely; Maryono, Maryono; Purbadia, Maria Christina
Jurnal Pendidikan Dasar Vol. 15 No. 2 (2024): Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : Pendidikan Dasar - Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/jpd.v15i2.50284

Abstract

Teaching materials are a supporting element for part of the learning process. The limitations of digital thematic teaching materials based on local culture for students in schools are the background for this research. The aim of this research is to produce digital thematic teaching materials based on local culture, especially for grade 2 elementary schools, so the students can enjoy and feel at ease when participating in thematic learning at school. The method applied in the research and development method, referring to the five stages of ADDIE, namely (1) analyzing needs (analysis), (2) designing digital thematic teaching materials based on local culture (design), (3) developing digital thematic teaching materials based on local culture (development), (4) testing digital thematic teaching materials based on local culture (implementation), (5) evaluating products (evaluation). Data collection uses techniques through interviews, observation, questionnaires and documentation. The results of the research can be concluded that the thematic digital teaching materials developed for grade 2 students have good material quality with a score of 83%, while the digital book design has very good quality with a score of 91,9%. This shows that digital teaching materials have very good quality so they can be used in the teaching and learning process. Apart from that, the material in the teaching materials is presented clearly and easily understood by students, is appropriate to their environment, has a positive impact and is a medium that is suitable for use.
MENGURAI PERMASALAHAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA (KEGIATAN PENDAMPINGAN POS SAPA UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA) Feronica, Feronica; Pandia, Weny Savitry S.; Agustian, Murniati; Samino, M. Francine Avanti; Zahrasari Lukita Dewi
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 8 No. 1 (2025): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v8i1.34467

Abstract

Masalah kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi isu penting yang memerlukan upaya serius dalam pencegahan maupun penanganannya. Meskipun telah ada berbagai kebijakan untuk mencegah kekerasan terutama pada perempuan dan anak, perilaku kekerasan masih kerap terjadi. Berbagai dampak negatif jangka pendek maupun panjang yang meliputi fisik dan psikis bahkan keselamatan jiwa memerlukan penanganan dan upaya-upaya pencegahan yang serius. Pemprov DKI telah berupaya melakukan penanganan kekerasan terhadap perempuan dan anak dengan membentuk Pos SAPA (Sahabat Perempuan dan Anak) di beberapa perguruan tinggi di Jakarta. Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah Unika Atma Jaya. Pos SAPA diharapkan dapat membantu menangani permasalahan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk masyarakat di sekitar kampus. Berbagai kegiatan Pos SAPA Unika Atma Jaya yang meliputi pencegahan, penanganan, dan pendampingan kekerasan terhadap perempuan dan anak telah dilakukan. Dalam artikel ini disampaikan kajian oleh Pos SAPA Unika Atma Jaya khususnya terkait pendampingan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Pos SAPA menemukan beberapa permasalahan yang kompleks dan menjadi karakter yang membedakan kekerasan dalam rumah tangga dengan kekerasan lainnya. Tulisan ini disusun berdasarkan pengalaman Pos SAPA mendampingi korban kekerasan dalam rumah tangga pada tahun 2021 hingga 2024. Untuk mengatasi kasus kekerasan dalam rumah tangga yang terus meningkat dibutuhkan keterpaduan kerjasama antara berbagai institusi atau dibentuknya institusi khusus untuk mendampingi korban. Pencegahan menjadi hal penting untuk diupayakan, terutama dengan melibatkan lembaga perkawinan yang akan mempersiapkan pasangan yang akan menikah.
Pengembangan Modul Ajar Berdiferensiasi di Sekolah Dasar M. Francine Avanti Samino; Magdalena Chori Rahmawati; Vanessa Darmawan; Merry Christin Natalia
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.36112

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar berdiferensiasi pada mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk siswa kelas IV sekolah dasar. Modul tersebut disusun untuk membantu guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia, khususnya pada materi teks narasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah research and development (R&D) dengan model ADDIE yang meliputi lima tahap, yaitu (1) analisis kebutuhan (analysis), (2) perancangan produk awal atau rancangan modul ajar (design), (3) pengembangan modul ajar (development), (4) penerapan atau uji coba media (implementation), serta (5) evaluasi produk (evaluation). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, angket, dan dokumentasi. Hasil validasi memperlihatkan rata-rata persentase sebesar 85,67% dengan kategori “sangat layak”. Dengan demikian, modul ajar berdiferensiasi yang dikembangkan dinyatakan memenuhi kriteria kelayakan untuk digunakan dalam pembelajaran.
Revitalizing Paper-Based Writing Activities to Enchance Elementary Students’ Literacy Skills in the Digital Era Magdalena Chori Rahmawati; Pricilla Anindyta; Murniati Agustian; M. Francine Avanti Samino
Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar Vol 9 No 4 (2025): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jisd.v9i4.103220

Abstract

Literacy skills form the foundation of students’ academic and social success, encompassing reading, writing, and comprehension abilities. Handwriting serves not only as a mechanical skill but also as a cognitive and neuromotor process that enhances comprehension, concentration, and memory. This study examines the influence of structured handwriting activities on paper on the literacy skills of 4th- and 5th-grade elementary students. A quantitative quasi-experimental pretest-posttest control group design was employed with 2,293 participants from 53 elementary schools. The experimental group practiced structured handwriting using the Ayo Menulis module, while the control group participated in literacy activities without handwriting emphasis. A literacy test measuring reading, writing, and listening skills was validated by experts and its reliability confirmed through Cronbach’s Alpha. Data were analyzed using parametric (Paired and Independent T-Tests) and non-parametric (Wilcoxon, Mann-Whitney) tests according to data distribution. Results showed that 81% of schools demonstrated significant improvement in literacy skills, and 66% showed significant differences between experimental and control groups. These findings affirm that handwriting-based activities effectively enhance advanced literacy skills and reinforce the cognitive importance of graphomotor processes in learning. The study recommends incorporating handwriting practice into literacy instruction to foster holistic literacy development.
PENCEGAHAN KEKERASAN PADA SISWA BERKEBUTUHAN KHUSUS MELALUI PROGRAM POS SAPA UNIVERSITAS KATOLIK INDONESIA ATMA JAYA Weny Savitry S. Pandia; Feronica; Murniati Agustian; M. Francine Avanti Samino; Zahrasari Lukita Dewi
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol. 9 No. 1 (2026): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jbmi.v9i1.36315

Abstract

Kekerasan dapat terjadi pada kelompok rentan, tidak terkecuali pada individu berkebutuhan khusus. Karena keterbatasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, siswa berkebutuhan khusus dapat menjadi korban maupun pelaku kekerasan, baik di lingkungan rumah maupun sekolah. Pos SAPA Unika Atma Jaya, yang dibentuk oleh Pemprov DKI Jakarta di tahun 2022, memiliki program pencegahan kekerasan bagi masyarakat tidak terkecuali bagi siswa berkebutuhan khusus. Dalam artikel ini disampaikan permasalahan perilaku kekerasan yang terjadi pada siswa berkebutuhan khusus, dan upaya yang telah dilakukan oleh Pos SAPA Unika Atma Jaya terkait hal ini dalam kurun waktu 2024-2025. Metode pelaksanaan yang digunakan ialah pencegahan berupa seminar dan pelatihan bagi siswa, guru, dan orang tua, serta penanganan dalam bentuk konseling psikologis. Hasilnya adalah, terdapat peningkatan pengetahuan mengenai masalah kekerasan terutama dalam bentuk fisik, verbal, psikologis, dan eksploitasi ekonomi. Orang tua, guru, maupun siswa dapat mencegah perilaku kekerasan dengan mengupayakan lingkungan sekolah dan lingkungan rumah yang nyaman dan aman, sehingga bebas dari kekerasan. Definisi kekerasan perlu diketahui oleh guru, siswa, maupun orang tua, dan siswa perlu mengetahui hal-hal yang harus dilakukan agar kekerasan tidak terjadi atau dihentikan. Pengetahuan mengenai aspek hukum dalam kekerasan diperlukan agar perilaku kekerasan dapat dicegah dan dihentikan. Dibutuhkan kerja sama antara berbagai institusi atau dibentuk institusi khusus untuk mendampingi korban kekerasan.