Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

ANALISIS KESIAPSIAGAAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI Ruman, Rifyan; Nanlohy, Willem. D.; Botanri, Adnan. A. A.; Pisty, Kreisson
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9332

Abstract

Indonesia is located within the Pacific Ring of Fire, a region characterized by high tectonic activity, making the country highly vulnerable to earthquakes. Negeri Liang, situated in Salahutu District, Central Maluku Regency, is among the areas particularly prone to seismic hazards. In such contexts, the family, as the smallest social unit, plays a crucial role in reducing disaster risks. This study aims to analyze the level of family preparedness in Negeri Liang in facing potential earthquake disasters. A quantitative approach was employed using a survey method, in which structured questionnaires were distributed to purposively selected households. The analysis focused on four main indicators of preparedness: knowledge and attitudes toward disasters, emergency response planning, early warning systems, and the capacity to mobilize resources at the household level. The findings of this study are expected to identify the actual level of community readiness in dealing with disasters and to provide strategic recommendations for local governments and other stakeholders in designing family- and community-based disaster risk reduction programs. Furthermore, this research contributes to strengthening the body of literature on local community resilience to natural disasters, particularly within island regions. ABSTRAK Negara Indonesia berada pada wilayah cincin api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik tinggi, sehingga menjadikannya sangat rentan terhadap bencana gempa bumi. Negeri Liang, yang berada di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, adalah salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap gempa bumi. Dalam situasi seperti ini, keluarga, sebagai kelompok sosial terkecil, sangat penting dalam mengurangi kemungkinan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan keluarga di Negeri Liang dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada rumah tangga terpilih secara purposive. Analisis dilakukan terhadap empat indikator utama kesiapsiagaan, yaitu pengetahuan dan sikap terhadap bencana, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, serta kemampuan mobilisasi sumber daya pada tingkat rumah tangga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi tingkat kesiapan aktual masyarakat dalam menghadapi bencana, serta memberikan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang program pengurangan risiko bencana yang berbasis keluarga dan komunitas. Penelitian ini juga berkontribusi dalam memperkuat literatur terkait ketangguhan masyarakat lokal terhadap bencana alam, khususnya di wilayah kepulauan.  
POLA PEMANFAATAN AIR SUNGAI DARI DAM ALAMI WAE ELA UNTUK MASYARAKAT Patty, Farhani Amalia; Nanlohy, W. D.; Ruman, Rifyan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9347

Abstract

The availability of clean water following the Wae Ela natural dam landslide disaster has become a crucial challenge for the people of Negeri Lima due to the damage to vital infrastructure. This study aims to analyze the water utilization patterns of the Wae Ela river and its determinants using qualitative methods with an exploratory case study design. Through in-depth interviews and observations, it was found that the utilization patterns are adaptive but very limited, where 100% of the community only uses water for non-consumptive domestic needs such as bathing and washing. Quantitative data shows an average usage volume of 130 liters per individual per visit with a dominant frequency of 2-3 times a week, concentrated in the morning (46.6%) and afternoon (33.3%). This pattern is hierarchically influenced by five main factors: the lack of adequate infrastructure, physical accessibility constraints, competition with alternative water sources, socio-economic stratification, and institutional gaps. It is concluded that current water utilization is highly dependent on individual physical and economic access without an equitable distribution mechanism, thus urgently requiring sustainable water governance policy interventions. ABSTRAK Ketersediaan air bersih pascabencana longsor bendungan alami Wae Ela menjadi tantangan krusial bagi masyarakat Negeri Lima akibat kerusakan infrastruktur vital. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pemanfaatan air sungai aliran Wae Ela dan faktor determinannya menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Melalui wawancara mendalam dan observasi, ditemukan bahwa pola pemanfaatan bersifat adaptif namun sangat terbatas, di mana 100% masyarakat hanya menggunakan air untuk kebutuhan domestik non-konsumsi seperti mandi dan mencuci. Data kuantitatif menunjukkan rata-rata volume penggunaan sebesar 130 liter per individu per kunjungan dengan frekuensi dominan 2-3 kali seminggu, yang terkonsentrasi pada waktu pagi (46,6%) dan sore hari (33,3%). Pola ini dipengaruhi secara hierarkis oleh lima faktor utama, yaitu ketiadaan infrastruktur memadai, kendala aksesibilitas fisik, kompetisi dengan sumber air alternatif, stratifikasi sosial-ekonomi, serta kekosongan kelembagaan. Disimpulkan bahwa pemanfaatan air saat ini sangat bergantung pada kemampuan akses fisik dan ekonomi individu tanpa mekanisme pemerataan, sehingga mendesak perlunya intervensi kebijakan tata kelola air yang berkelanjutan.    
ANALISIS KESIAPSIAGAAN KELUARGA DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI Ruman, Rifyan; Nanlohy, Willem. D.; Botanri, Adnan. A. A.; Pisty, Kreisson
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9332

Abstract

Indonesia is located within the Pacific Ring of Fire, a region characterized by high tectonic activity, making the country highly vulnerable to earthquakes. Negeri Liang, situated in Salahutu District, Central Maluku Regency, is among the areas particularly prone to seismic hazards. In such contexts, the family, as the smallest social unit, plays a crucial role in reducing disaster risks. This study aims to analyze the level of family preparedness in Negeri Liang in facing potential earthquake disasters. A quantitative approach was employed using a survey method, in which structured questionnaires were distributed to purposively selected households. The analysis focused on four main indicators of preparedness: knowledge and attitudes toward disasters, emergency response planning, early warning systems, and the capacity to mobilize resources at the household level. The findings of this study are expected to identify the actual level of community readiness in dealing with disasters and to provide strategic recommendations for local governments and other stakeholders in designing family- and community-based disaster risk reduction programs. Furthermore, this research contributes to strengthening the body of literature on local community resilience to natural disasters, particularly within island regions. ABSTRAK Negara Indonesia berada pada wilayah cincin api Pasifik yang memiliki aktivitas tektonik tinggi, sehingga menjadikannya sangat rentan terhadap bencana gempa bumi. Negeri Liang, yang berada di Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, adalah salah satu wilayah yang sangat rentan terhadap gempa bumi. Dalam situasi seperti ini, keluarga, sebagai kelompok sosial terkecil, sangat penting dalam mengurangi kemungkinan bencana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kesiapsiagaan keluarga di Negeri Liang dalam menghadapi potensi bencana gempa bumi. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei, melalui penyebaran kuesioner terstruktur kepada rumah tangga terpilih secara purposive. Analisis dilakukan terhadap empat indikator utama kesiapsiagaan, yaitu pengetahuan dan sikap terhadap bencana, rencana tanggap darurat, sistem peringatan dini, serta kemampuan mobilisasi sumber daya pada tingkat rumah tangga. Hasil penelitian ini diharapkan dapat mengidentifikasi tingkat kesiapan aktual masyarakat dalam menghadapi bencana, serta memberikan rekomendasi strategis bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya dalam merancang program pengurangan risiko bencana yang berbasis keluarga dan komunitas. Penelitian ini juga berkontribusi dalam memperkuat literatur terkait ketangguhan masyarakat lokal terhadap bencana alam, khususnya di wilayah kepulauan.  
POLA PEMANFAATAN AIR SUNGAI DARI DAM ALAMI WAE ELA UNTUK MASYARAKAT Patty, Farhani Amalia; Nanlohy, W. D.; Ruman, Rifyan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i2.9347

Abstract

The availability of clean water following the Wae Ela natural dam landslide disaster has become a crucial challenge for the people of Negeri Lima due to the damage to vital infrastructure. This study aims to analyze the water utilization patterns of the Wae Ela river and its determinants using qualitative methods with an exploratory case study design. Through in-depth interviews and observations, it was found that the utilization patterns are adaptive but very limited, where 100% of the community only uses water for non-consumptive domestic needs such as bathing and washing. Quantitative data shows an average usage volume of 130 liters per individual per visit with a dominant frequency of 2-3 times a week, concentrated in the morning (46.6%) and afternoon (33.3%). This pattern is hierarchically influenced by five main factors: the lack of adequate infrastructure, physical accessibility constraints, competition with alternative water sources, socio-economic stratification, and institutional gaps. It is concluded that current water utilization is highly dependent on individual physical and economic access without an equitable distribution mechanism, thus urgently requiring sustainable water governance policy interventions. ABSTRAK Ketersediaan air bersih pascabencana longsor bendungan alami Wae Ela menjadi tantangan krusial bagi masyarakat Negeri Lima akibat kerusakan infrastruktur vital. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola pemanfaatan air sungai aliran Wae Ela dan faktor determinannya menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Melalui wawancara mendalam dan observasi, ditemukan bahwa pola pemanfaatan bersifat adaptif namun sangat terbatas, di mana 100% masyarakat hanya menggunakan air untuk kebutuhan domestik non-konsumsi seperti mandi dan mencuci. Data kuantitatif menunjukkan rata-rata volume penggunaan sebesar 130 liter per individu per kunjungan dengan frekuensi dominan 2-3 kali seminggu, yang terkonsentrasi pada waktu pagi (46,6%) dan sore hari (33,3%). Pola ini dipengaruhi secara hierarkis oleh lima faktor utama, yaitu ketiadaan infrastruktur memadai, kendala aksesibilitas fisik, kompetisi dengan sumber air alternatif, stratifikasi sosial-ekonomi, serta kekosongan kelembagaan. Disimpulkan bahwa pemanfaatan air saat ini sangat bergantung pada kemampuan akses fisik dan ekonomi individu tanpa mekanisme pemerataan, sehingga mendesak perlunya intervensi kebijakan tata kelola air yang berkelanjutan.    
PENGARUH AKSESIBILITAS TRANSPORTASI PENYEBRANGAN DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL MASYARAKAT DESA PESISIR (Studi Kasus: Kecamatan Huamual- Kabupaten Seram Bagian Barat) Waliulu, M. Thoriq A.; Nurhaeny, Andiah; Ruman, Rifyan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.10122

Abstract

The Huamual subdistrict has economic potential associated with a leading commodity, namely cloves. The harvest in this area in 2022 reached 718.30 tons. This yield can be distributed for sale to regions with higher market prices, such as Tahoku Village in Central Maluku Regency. However, the distance from Huamual Subdistrict to Tahoku Village presents challenges, particularly the inter-island distance that requires sea transportation and the limited availability of ferry services. Based on this description, the research questions in this study are: 1) How can the level of accessibility from production centers to markets via ferry transportation be measured and evaluated?  2)What is the effect of accessibility levels on the local economy of coastal village communities?. The objective of this study is to explain the influence of accessibility levels from production centers to markets on the local economy of coastal village communities. The results of the study addressing the main research problem, based on the gravity analysis method, indicate that the accessibility index can serve as a crucial parameter in measuring the level of reachability from production centers to markets. The higher the level of transport accessibility, the greater the economic development of a region, as evidenced by areas with high goods accessibility levels tending to have stronger economic performance. Conversely, areas with low accessibility levels tend to have weaker economic conditions. The results related to the second research problem, based on linear regression analysis, show that the variables of accessibility index and labor significantly influence the economy of production-center regions, while government expenditure does not have a significant effect. These findings are consistent with Solow’s theory, which states that economic growth is driven by at least one of three factors: government expenditure or capital accumulation, labor, and infrastructure. ABSTRAK Pada wilayah kecamatan Huamual memiliki potensi ekonomi yang terkait dengan komoditi unggulan berupa cengkeh. Hasil panen pada wilayah ini pada tahun 2022 mencapai 718,30 ton. Hasil panen tersebut dapat didistribusikan untuk dijual di daerah yang memiliki harga pasar yang tinggi seperti di Desa Tahoku, Kabupaten Maluku Tengah. Namun, jarak dari asal Kecamatan Huamual ke tujuan Desa Tahoku memiliki kendala yaitu jarak antar pulau dimana harus dilalui dengan transportasi laut dan keterbatasan armada penyeberangan. Berdasarkan uraian tersebut sehingga menimbulkan pertanyaan dalam studi ini adalah : 1) Bagaimana mengukur dan menilai tingkat aksesibilitas dari sentra produksi ke pasar melalui transportasi penyeberangan? 2) Bagaimana pengaruh dari tingkat aksesibilitas terhadap ekonomi lokal masyarakat desa pesisir? tujuan yang hendak dicapai dari penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh tingkat aksesibilitas dari sentra produksi ke pasar, terhadap ekonomi lokal masyarakat desa pesisir. Hasil penelitian mengenai rumusan masalah utama yang didasarkan pada metode analisis gravitasi, menunjukkan bahwa indeks aksesibilitas dapat menjadi parameter krusial dalam mengukur tingkat keterjangkauan dari pusat produksi ke pasar. Semakin tinggi tingkat aksesibilitas transportasi, semakin besar pula perkembangan ekonomi di suatu wilayah, terlihat dari daerah-daerah dengan tingkat aksesibilitas barang yang tinggi yang cenderung memiliki tingkat ekonomi yang juga tinggi. Sebaliknya, daerah dengan tingkat aksesibilitas rendah cenderung memiliki tingkat ekonomi yang lebih rendah. Hasil penelitian mengenai rumusan masalah kedua berdasarkan analisis regresi linear, hasilnya menunjukkan bahwa variabel indeks aksesibilitas dan tenaga kerja mempengaruhi ekonomi wilayah sentra produksi sedangkan variabel belanja pemerintah tidak berpengaruh terhadap ekonomi wilayah sentra produksi. Hasil ini sejalan dengan teori Solow bahwa pertumbuhan ekonomi minimal berasal dari satu dari tiga faktor, yaitu belanja pemerintah atau akumulasi modal, tenaga kerja, dan infrastruktur.
ARAHAN PENATAAN KAWASAN BERBASIS MITIGASI BENCANA BANJIR DI SEMPADAN SUNGAI TAMIANG KECAMATAN SERUWAY Khusnul Alia, Maghfira; Puturuhu, Ferad; Ruman, Rifyan
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v6i3.10493

Abstract

ABSTRACT This research aims to determine the direction for area planning based on flood disaster mitigation along the banks of the Tamiang River in Seruway District, Aceh Tamiang Regency, Aceh Province. Specifically in the villages of Pekan Seruway and Muka Sungai Kuruk, which are the two villages most affected during floods caused by the overflow of the Tamiang River, resulting in the breaching of levees. The riverbank area in these two villages has a high level of flood vulnerability, thus requiring guidelines for area planning based on flood disaster mitigation. This study employs an Overlay method by combining 5 flood vulnerability parameters: slope steepness, elevation, land use, rainfall, soil type, and river buffer, to obtain the level of flood vulnerability, and then uses Triangulation analysis to determine the area planning direction. The research results show that the flood vulnerability level is divided into 3 classifications: high, medium, and low. The border area of the Tamiang River is at a high risk level, thus requiring guidance for area arrangement using Triangulation analysis, resulting in an area arrangement directive based on flood disaster mitigation, which includes rehabilitation and the construction of permanent embankments with public open space at the riverbank as a buffer zone. This research is expected to serve as a reference in determining directives for area arrangement based on flood disaster mitigation at the riverbank. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan arahan penataan kawasan berbasis mitigasi bencana banjir pada sempadan Sungai Tamiang di Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Peovinsi Aceh. Khususnya di Desa Pekan Seruway dan Desa Muka Sungai Kuruk yang merupakan dua desa paling terdampak saat terjadi banjir akibat luapan air Sungai Tamiang sehingga menyebabkan jebolnya tanggul. Kawasan sempadan Sungai tamiang di kedua desa tersebut memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi sehingga diperlukan arahan penataan kawasan berbasis mitigasi bencana banjir. Penelitian ini menggunakan metode Overlay dengan menggabungkan 5 parameter kerawanan banjir yaitu kemiringan lereng, ketinggian, penggunaan lahan, curah hujan, jenis tanah, dan buffer sungai untuk memperoleh tingkat kerawanan banjir dan kemudian menggunakan analisis Triangulasi untuk menentukan arahan penataan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kerawanan banjir terbagi menjadi 3 klasifikasi yaitu tinggi, sedang, dan rendah. Kawasan sempadan Sungai Tamiang berada di tingkat kerawanan tinggi sehingga dibutuhkannya arahan penataan kawasan yang menggunakan analisis Triangulasi sehingga menghasilkan arahan penataan kawasan berbasis mitigasi bencana banjir yang berupa rehabilitasi dan pembuatan tanggul permanan dengan ruang terbuka publik di sempadan sungai sebagai zona penyangga. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menentukan arahan penataan kawasan yang berbasis mitigasi bencana banjir pada sempadan sungai.