Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Uji sifat fisikokimia gelatin yang diisolasi dari tulang ikan kembung (Rasterelliger sp.) menggunakan beberapa jenis larutan asam Nurlela Nurlela; Lany Nurhayati; Eka Lindawati
Jurnal Litbang Industri Vol 11, No 1 (2021)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (794.053 KB) | DOI: 10.24960/jli.v11i1.6805.49-58

Abstract

Salah satu upaya peningkatan nilai ekonomi limbah tulang ikan adalah mengolahnya menjadi gelatin. Ikan kembung merupakan ikan yang relatif murah, digemari masyarakat dan mengandung protein tinggi. Untuk menghasilkan gelatin berkualitas baik diperlukan optimasi pengolahan diantaranya yaitu variasi konsentrasi dan jenis larutan asam serta waktu ekstraksi. Tujuan penelitian ini adalah mencari perlakuan asam terbaik pada proses demineralisasi dan waktu terbaik pada proses ekstraksi dengan aquades menggunakan two-ways ANOVA, serta menguji sifat fisikokimia gelatin dari rendemen tertinggi.  Pelarut asam yang digunakan adalah asam klorida (HCl), asam sulfat (H2SO4), dan asam asetat (CH3COOH) dengan konsentrasi masing-masing 2, 4 dan 6% v/v. Variasi waktu ekstraksi yaitu 2, 4 dan 6 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendemen tertinggi diperoleh dari perendaman dengan H2SO4 4% dengan waktu ekstraksi selama 6 jam yaitu 4,27%. Gelatin tersebut memiliki sifat fisikokimia: pH 4,0, titik leleh 28-31,2 oC, titik isoelektrik 9,0, viskositas 2,8 cPs, bobot molekul relatif sebesar 38.390,9 g/mol, kadar air 9,30%, kadar abu 23,85%, kadar protein 58,37%, kadar lemak 0,86% dan kadar karbohidrat 7,63%.  Analisis FTIR dari gelatin yang dihasilkan menunjukkan gugus-gugus fungsi O-H, C-H, C-N, C=O, dan N-H yang sama dengan gelatin komersial. Namun, masih diperlukan optimasi seperti suhu ekstraksi agar gelatin hasil isolasi memenuhi standar mutu.
Characterization of Glucomannan Extracted from Fresh Porang Tubers Using Ethanol Technical Grade Nurlela Nurlela; Nina Ariesta; Dwi Sutari Laksono; Edi Santosa; Tjahja Muhandri
Molekul Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.942 KB) | DOI: 10.20884/1.jm.2021.16.1.632

Abstract

Glucomannan is a polysaccharide consisting of β-1.4-linked D-mannose and D-glucose monomers, which have many benefits especially in the food and pharmaceutical industry. It has been widely reported that one of the main sources of glucomannan is porang tuber (Amorphophallus muelleri Blume). Generally, glucomannan extracted or purified from porang flour. However, the drying process causes other compounds than glucomannan stick strongly, resulting low levels of glucomannan. This study was to obtain glucomannan extract in an easy, effective, and inexpensive method, by direct extraction from fresh porang tubers using ethanol technical grade. We performed two extraction methods. The first is a fixed concentration method, the sample was repeatedly extracted using 50% ethanol (FC50) and 96% ethanol (FC96) 3 times, respectively. The second is a multilevel concentration method, the sample was repeatedly extracted using ethanol 60% (first step), 80% (second step), and 96% (third step), one replication each step. The highest glucomannan content (66.56%) was obtained by a multilevel concentration method. Moisture, lipid, protein, crude fiber, calcium oxalate level significantly reduce to 13.58%, 0.07%, 4.03%, 4.95%, 0.56% respectively. FTIR spectra confirmed the presence of functional groups (O-H, C=O, C-O, C-H), that compose the glucomannan compound. SEM image showed that the granules form of glucomannan were round and oval, began to change its phase from amorphous to crystalline, related to XRD data. The results showed that the direct extraction from fresh porang tuber using ethanol technical grade with a multilevel concentration method was an effective method to extract the glucomannan
Optimasi ekstraksi glukomanan pada bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blume) Nurlela Nurlela; Lany Nurhayati; Ismanella Ismanella
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v12i2.7696.79-88

Abstract

Amorphophallus muelleri Blume atau dikenal sebagai porang merupakan sumber pangan tinggi serat yang berasal dari glukomanan yang terdapat pada bagian umbi. Selain pada bagian umbi, glukomanan juga dapat ditemukan pada bagian bulbil (umbi daun) dengan kadar sebesar 25-30%. Produksi bulbil cukup tinggi, sebagian dijadikan bibit, selebihnya dibuang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan bulbil sebagai sumber alternatif glukomanan dan optimasi suhu ekstraksi untuk memperoleh glukomanan dengan kadar tinggi. Esktraksi glukomanan dari bulbil menggunakan pelarut etanol teknis 70% dengan perbandingan bobot sampel terhadap pelarut adalah 1:3 (b/v). Bulbil diesktraksi dalam tiga variabel suhu yaitu, suhu 25, 50 dan 75 °C, serta tepung bulbil digunakan sebagai kontrol negatif. Ketiga sampel esktrak dan tepung bulbil diuji kadar glukomanan dan pemeriksaan gugus fungsi menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Kadar glukomanan tertinggi didapatkan dari metode ekstraksi menggunakan suhu 75 °C dengan kadar 30,20% (b/b) basis kering. Sedangkan, kadar glukomanan yang diesktraksi pada suhu 25 dan suhu 50 °C secara berturut-turut yaitu 23,07 dan 27,85% (b/b) basis kering. Analisis gugus fungsi menunjukkan sampel bulbil yang diesktraksi memiliki kemiripan spektrum terhadap glukomanan komersial.
Optimasi ekstraksi glukomanan pada bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blume) Nurlela Nurlela; Lany Nurhayati; Ismanella Ismanella
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v12i2.7696.79-88

Abstract

Amorphophallus muelleri Blume atau dikenal sebagai porang merupakan sumber pangan tinggi serat yang berasal dari glukomanan yang terdapat pada bagian umbi. Selain pada bagian umbi, glukomanan juga dapat ditemukan pada bagian bulbil (umbi daun) dengan kadar sebesar 25-30%. Produksi bulbil cukup tinggi, sebagian dijadikan bibit, selebihnya dibuang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan bulbil sebagai sumber alternatif glukomanan dan optimasi suhu ekstraksi untuk memperoleh glukomanan dengan kadar tinggi. Esktraksi glukomanan dari bulbil menggunakan pelarut etanol teknis 70% dengan perbandingan bobot sampel terhadap pelarut adalah 1:3 (b/v). Bulbil diesktraksi dalam tiga variabel suhu yaitu, suhu 25, 50 dan 75 °C, serta tepung bulbil digunakan sebagai kontrol negatif. Ketiga sampel esktrak dan tepung bulbil diuji kadar glukomanan dan pemeriksaan gugus fungsi menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Kadar glukomanan tertinggi didapatkan dari metode ekstraksi menggunakan suhu 75 °C dengan kadar 30,20% (b/b) basis kering. Sedangkan, kadar glukomanan yang diesktraksi pada suhu 25 dan suhu 50 °C secara berturut-turut yaitu 23,07 dan 27,85% (b/b) basis kering. Analisis gugus fungsi menunjukkan sampel bulbil yang diesktraksi memiliki kemiripan spektrum terhadap glukomanan komersial.
Studi perbandingan adsorpsi Rhodamin B menggunakan karpel buah roda teraktivasi asam dan basa Bunga F. R. Abadi; Dian Arrisujaya; Nurlela Nurlela; Gladys A. P. K. Wardhani
Jurnal Litbang Industri Vol 13, No 1 (2023)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v13i1.7669.11-17

Abstract

Studi perbandingan adsorpsi Rhodamin B dalam larutan telah dilakukan menggunakan adsorben karpel buah roda teraktivasi asam dan  basa. Adsorben diaktivasi menggunakan HNO3 0,01M dan NaOH 1%. Metoda yang digunakan dalam adsorpsi Rhodamin B dengan variasi parameter yang mempengaruhi kapasitas adsorpsi diantaranya, pH larutan, waktu kontak, bobot adsorben, dan konsentrasi larutan yaitu dengan metode batch. Interpretasi data adsorpsi Rhodamin B menggunakan model isoterm Langmuir, Freundlich, Temkin dan Dubinin–Radushkevich. Pengukuran kapasitas adsorpsi dari nilai penurunan konsentrasi Rhodamin B menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang 555 nm. Kapasitas adsorpsi maksimum Rhodamin B oleh karpel buah roda teraktivasi asam dan basa masing-masing sebesar 57,80 mg/g dan 48,30 mg/g. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adsorben karpel buah roda merupakan adsorben yang potensial dalam menurunkan konsentrasi Rhodamin B dalam larutan.
Effectiveness of Lemongrass Extract (Cymbopogon citratus) in Hand Sanitizer Formulation Against Bacteria Risma Aprilia; Nurlela Nurlela; Devy Susanty
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 13 No. 4 (2023): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v13i4.480

Abstract

Alcohol as an antiseptic ingredient in hand sanitizers is claimed to be less safe for health because alcohol causes dry skin and irritation to the skin with repeated use. Natural-based antiseptics are generally relatively safe. The plant that has the potential to be developed as an antiseptic is lemongrass (Cymbopogon citratus) because it contains citronellal, geraniol, and citronellol compounds. The aim of the study was to determine the effectiveness of lemongrass in the formulation of hand sanitizer gel through antibacterial and stability tests, including organoleptic, pH, and homogeneity. The results showed that a concentration of 10% w/v was the most active of using lemongrass extract in the hand sanitizer gel formulation. Based on the antibacterial test using the disc diffusion method, lemongrass extract (10%) had moderate activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Meanwhile, a hand sanitizer with 10% lemongrass extract has strong antibacterial activity against S. aureus and E. coli. The stability test results showed that the hand sanitizer has a turbid colour, characteristic lemongrass odour, semi-solid form, pH 6, and is homogeneous. However, the antibacterial activity of the hand sanitizer gel decreased with the length of storage time. Further research is needed to optimize the hand sanitizer formulation.