Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH SISWA SMA PADA MATERI GERAK HARMONIK SEDERHANA Ince Raudhiah Zahra; Benyamin Matius; Abdul Hakim
Vidya Karya Vol 33, No 1 (2018): April 2018
Publisher : FKIP ULM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.338 KB) | DOI: 10.20527/jvk.v33i1.5389

Abstract

Abstract. This study aims to determine the improvement of student’s problem solving skill after applying the problem based learning model and determine it’s effectiveness. This is a quantitative research with one group pretest-posttest design. Cluster random sampling was used, and 28 samples were obtained from one of high schools in Samarinda. The result of the analysis with Wilcoxon Signed Rank Test. The result showed that there’s a significant difference between students’ problem solving skill before and after the treatment, with the ­p-value 0,00 with significance 0,05. Generally, students’ problem solving skill increased from 8.5 to 29.5, with N-Gain of 0,2, which is classified as a low category. The highest gain was found in the ability of understanding the problem, with the ­N-Gain of 0,4, which is classified as a middle category. Meanwhile the indicator of students’ skill on planning problems, solving problems, and doing the re-check, were classified as low increasing category with N-Gain of 0,2. Based on calculation of effect size (d), which is 1,96 that is classified as a big category, the implementation of the treatment had a high effectiveness.   Keywords : Problem Based Learning, Problem Solving Skill, Simple Harmonic MotionAbstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan pemecahan masalah siswa setelah diterapkan model problem based learning dan mengetahui tingkat efektifitas dari penerapan model tersebut. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah cluster random sampling, dengan sampel sebanyak 28 siswa dari salah satu sekolah SMA di Samarinda. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kemampuan pemecahan masalah siswa saat pretest dan posttest dengan perolehan p-value 0,00 dan signifikansi 0,05. Rata-rata kemampuan pemecahan masalah siswa mengalami kenaikan dari 8,5 menjadi 29,5 dengan N-Gain 0,2 yang termasuk dalam kategori rendah. Peningkatan tertinggi diperoleh indikator memahami masalah dengan N-Gain 0,4 yang termasuk dalam kategori sedang, sedangkan indikator kemampuan siswa merencanakan masalah, menyelesaikan masalah dan melakukan pengecekkan kembali termasuk dalam kategori rendah dengan N-Gain 0,2. Tingkat efektivitas yang diperoleh termasuk dalam kategori tinggi dengan nilai effect size (d) 1,96 yang termasuk dalam kategori besar.Kata Kunci : Problem Based Learning, Kemampuan Pemecahan Masalah, Gerak Harmonik Sederhana
Pemahaman Kurikulum Merdeka di Pendidikan Keguruan : Studi pada Calon Guru Sekolah Dasar Zahra, Ince Raudhiah; Kurniati, Nurdiyah; Mannan, Muhammad Nur; Supriyatna, Yana
Tunas: Jurnal Penelitian Pendidikan Dasar Vol. 2 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, FKIP, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kurikulum pendidikan formal, termasuk pada jenjang Sekolah Dasar yang dinamis membuat tidak hanya guru, namun juga calon guru perlu dipersiapkan memahami kurikulum yang baru. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman mahasiswa calon guru sekolah dasar terkait kurikulum merdeka dan mengetahui pengalaman belajar mereka terkait kurikulum tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif, sehingga terfokus pada menjelaskan keadaan yang sebenarnya tanpa dilakukan perlakuan. Teknik random sampling digunakan untuk memperoleh sampel mahasiswa sebanyak 152 orang dengan tingkat semester berbeda. Hasil menunjukkan bahwa mahasiswa semester I, III, dan V memiliki tingkat pemahaman yang bervariasi terhadap kurikulum merdeka, namun semakin tinggi semester maka semakin besar kecenderungan mereka untuk memahami kurikulum merdeka. Sebagian besar pengalaman belajar kurikulum tersebut mereka peroleh dari hampir seluruh mata kuliah yang ada di program studi yang telah mengintegrasikan pemahaman kurikulum merdeka di dalamnya. Namun, penggunaan Platform Merdeka Mengajar (PMM) pada tingkat mahasiswa masih rendah.
Studi Pemahaman dan Kesiapan Calon Guru Sekolah Dasar terhadap Transisi PAUD-SD Zahra, Ince Raudhiah; Fitri Anjarwati; Nurdiyah Kurniati; Fitri Aida Sari
Early Childhood Journal Vol. 6 No. 1 (2025)
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru PAUD FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dominasi paradigma kesiapan masuk jenjang Sekolah Dasar masih menitikberatkan pada pencapaian akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung. Untuk itu, Kemendikbudristek menekankan pentingnya transisi yang menyenangkan dan ramah anak dari jenjang PAUD menuju Sekolah Dasar melalui kebijakan Transisi PAUD-SD. Kebijakan ini memerlukan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk calon guru SD. Untuk itu, dilakukan penelitian kualitatif untuk mengidentifikasi pemahaman calon guru SD terkait konsep transisi PAUD-SD, pemahaman mereka terhadap regulasi terkait, dan kesiapan mereka untuk mendukung kebijakan tersebut. Data yang dikumpulkan diperoleh dari hasil wawancara terhadap 30 orang mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD). Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman dengan tiga tahapan, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden belum memiliki pemahaman yang mendalam terkait konsep transisi PAUD-SD maupun regulasi yang menyertainya. Mayoritas responden telah menyadari bahwa pemahaman terkait psikologis dan tahapan perkembangan anak diperlukan untuk mendukung transisi PAUD-SD, namun masih banyak responden yang belum mempersiapkan hal tersebut.
Examining Moral Typologies in Decision-Making Regarding Socio-Scientific Issues: Students' Interpretations of Right and Wrong: Penelitian Nadia Mubarokah; Ince Raudhiah Zahra; Suci Indah Putri
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2000

Abstract

This study aimed to examine the typology of students’ moral judgment in decision-making related to socio-scientific issues. A Systematic Literature Review (SLR) method was employed to analyze 22 national and international journal articles addressing four moral typologies: absolutists, subjectivists, situationists, and exceptionists, as well as the decision-making processes within the context of socio-scientific issues. The research stages included formulating research questions, searching and selecting relevant literature, and conducting an in-depth analysis to identify decision-making tendencies based on moral typology. Findings revealed that absolutist students uphold universal moral values with an emphasis on social and environmental concerns; subjectivist students base their decisions on personal values influenced by religion and culture; situationist students adjust their decisions according to the specific situational context without consistently adhering to general moral standards; and exceptionist students choose decisions perceived to yield the greatest positive impact despite being aware of moral norms. Understanding moral typology helps educators design.
ANALISIS IMPLEMENTASI PENDEKATAN STEM DALAM PEMBELAJARAN IPA DI SEKOLAH DASAR: STUDI KONTEKSTUAL DI KOTA SAMARINDA Supriyatna, Yana; Suhartini, Erna; Raudhiah Zahra, Ince; Mannan, Muhammad Nur; Khaerani, Rosita Putri Rahmi
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 04 (2025): Volume 10 No. 04 Desember 2025 Terbit
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i04.31500

Abstract

STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) holds strong potential to promote 21st-century skills in elementary education, yet its implementation faces ongoing challenges. This study examines teachers’ understanding, instructional strategies, obstacles, institutional support, and the impact of STEM-based science learning in Samarinda, Indonesia. Using a descriptive qualitative-quantitative approach, data were collected from 18 teachers through questionnaires, interviews, reflections, and document analysis. Findings show that while teachers demonstrate basic understanding of STEM, especially in science and technology (mean score: 3.90), the integration of engineering and mathematics remains limited (3.60). Key barriers include limited training, insufficient time, and inadequate resources (3.23), with school support remaining general (3.00). Despite this, teachers actively seek resources and engage in informal collaboration. STEM practices reportedly increase student engagement, creativity, and critical thinking (4.10). The study highlights the need for practical training, contextual learning tools, teacher collaboration, and sustained policy support to strengthen STEM education at the elementary level.
Identifikasi Pemahaman Calon Guru SD Mengenai Inkuiri Ilmiah Ince Raudhiah Zahra; Novira Anjani
JURNAL PENDIDIKAN MIPA Vol. 15 No. 2 (2025): JURNAL PENDIDIKAN MIPA
Publisher : Pusat Publikasi Ilmiah, STKIP Taman Siswa Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37630/jpm.v15i2.2849

Abstract

Calon guru kelas yang akan mengajarkan Ilmu Pengetahuan Alam di tingkat Sekolah Dasar perlu memahami inkuiri ilmiah agar mampu memfasilitasi kegiatan inkuiri pada peserta didik di kelas, namun hasil kajian literatur menunjukkan belum adanya penelitian yang mengidentifikasi pemahaman calon guru SD terhadap inkuiri ilmiah di Indonesia. Permasalahan tersebut mendorong dilakukannya penelitian kualitatif deskriptif ini untuk mengidentifikasi pemahaman inkuiri ilmiah mahasiswa PGSD sebagai calon guru Sekolah Dasar. Dipilih 31 mahasiswa semester 4 yang telah menyelesaikan mata kuliah konsep dasar IPA. Pemahaman mahasiswa tersebut diidentifikasi melalui instrumen tes VASI dengan 8 soal essay. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan tahapan model Miles dan Huberman, yakni reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan serta verifikasi. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas calon guru belum memiliki pengetahuan yang memadai terkait inkuiri ilmiah. Calon guru paling banyak tidak memahami tentang perlunya membuat kesimpulan yang konsisten dengan data. Temuan ini menguatkan argumen bahwa meskipun pembelajaran berbasis eksperimen maupun observasi pernah dilakukan mahasiswa, baik sebelum memasuki bangku kuliah maupun saat diperkuliahan, hal tersebut belum cukup untuk membuat mereka memahami konsep inkuiri ilmiah. Kesimpulan ini diharapkan dapat menjadi dorongan bagi para pendidik untuk melakukan aktivitas inkuiri secara autentik dan mengajarkan konsep inkuiri ilmiah secara eksplisit dalam pembelajaran IPA, khususnya kepada calon guru SD pada jenjang pendidikan tinggi, sebagai bekal untuk menjadi guru kelas yang akan mengajarkan IPA kepada peserta didik secara tematik dengan mata pelajaran lainnya.
Student's interest in PENILIK as sustainable development extracurricular program to support agricultural awareness Yani, Mely; Layyinah, Syifa Qalbiyatul; Zahra, Ince Raudhiah; Achwani, Annie Satriani; Riandi, Riandi; Sholihat, Rini; Amprasto, Amprasto
Jurnal Inovasi Pendidikan IPA Vol. 9 No. 1: April 2023
Publisher : Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jipi.v8i1.50393

Abstract

This study is a descriptive study that aims to describe the implementation of the PENILIK (Pasukan Petani Cilik) Program and find out students' interest in the program to support the agricultural awareness of students. PENILIK is an extracurricular program in regenerative agriculture in a school environment that focuses on training in farming competencies, which has several stages, such as identification, analysis, implementation, and reflection. This program is an effort to implement the value of education sustainable development to increase students' interest and awareness in the agricultural area. Student's response was taken from a questionnaire given to 26 extracurricular members who are able and committed to accomplish the program at one of the schools which has high potential area for agriculture. Based on the questionnaire results, students have a high interest in the program, and the programs can positively impact students, especially in increasing their awareness of the importance of agriculture. Furthermore, this program brings an opportunity for the school and surround society to explore the agricultural potency adjust with the goals of education sustainable development.  Therefore, support from all stakeholder, parents and the community involved in implementing the program's sustainability is needed.
Interactive video's urgency on guided inquiry laboratory to improve integrated science process skills Zahra, Ince Raudhiah; Chandra, Didi Teguh; Rusdiana, Dadi
Jurnal Penelitian Ilmu Pendidikan Vol. 16 No. 1 (2023): March-May
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpipfip.v16i1.57969

Abstract

This study aimed to describe the analysis phase results on the ADDIE product development method, which forms the basis for the need for interactive videos in guided inquiry laboratory learning to improve integrated science process skills. The analytical procedures used were identifying gaps in the performance of students' integrated science process skills, identifying the cause, collecting infrastructure information, and determining appropriate products. Data was collected through tests and questionnaires from 42 students and 7 middle school science teachers in West Java. The results show that students' integrated science process skills are low. The cause is the rare provision of learning that facilitates students to design experiments. Students need more intensive guidance, but teachers have limitations in facilitating all the difficulties students face when designing and conducting experiments. Based on the results of an analysis of student characteristics, teacher difficulties, and availability of infrastructure, the interactive video in guided inquiry laboratory learning is suitable for addressing issues of readiness, time management, and difficulties in guiding students so it is hoped that integrated science process skills can improve. Peningkatan keterampilan proses sains terintegrasi menggunakan video interaktif pada inkuiri laboratorium terbimbingPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan hasil fase analisis pada metode pengembangan produk ADDIE yang menjadi dasar diperlukannya video interaktif pada pembelajaran laboratorium inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains terintegrasi. Prosedur analisis yang digunakan adalah mengidentifikasi kesenjangan keterampilan proses sains terintegrasi peserta didik, mengidentifikasi penyebab kesenjangan, mengumpulkan informasi infrastruktur, dan menentukan produk yang sesuai. Pengumpulan data dilakukan melalui tes dan angket dari 42 peserta didik dan 7 guru IPA SMP di Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains terintegrasi peserta didik tergolong rendah. Penyebabnya adalah kurang optimalnya pemberian pembelajaran yang memfasilitasi peserta didik untuk merancang eksperimen. Peserta didik membutuhkan bimbingan yang lebih intensif, namun guru memiliki keterbatasan dalam memfasilitasi semua kesulitan yang dihadapi peserta didik saat merancang dan melakukan percobaan. Berdasarkan hasil analisis karakteristik peserta didik, kesulitan guru, dan ketersediaan sarana prasarana, video interaktif dalam pembelajaran laboratorium inkuiri terbimbing dipilih karena sesuai untuk mengatasi masalah kesiapan, manajemen waktu, dan kesulitan dalam membimbing peserta didik sehingga diharapkan keterampilan proses sains terintegrasi dapat meningkat.