Articles
BOYCOT JEPANG!: NASIONALISME CINA PERANTAUAN DI MAKASSAR 1915-1937
Heri Kusuma Tarupay
Lensa Budaya: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Budaya Vol. 12 No. 1 (2017): Jurnal Lensa Budaya
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya universitas Hasanuddin
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34050/jlb.v12i1.3118
Gerakan boikot di Makassar tidak lagi menjadi hanya semacam penolakan terhadap tindakan Jepang di Cina, tetapi lebih jauh telah memperlihatkan bentuk pembayangan akan bagian dari kesatuan bangsa Cina yang dibayangkan, dalam ruang lingkup geografis yang berbeda. Jalannya gerakan ini menunjukkan bahwa demi terwujudnya masyarakat yang satu, apapun akan dilakukan untuk membelanya. Sejauh efektifitasnya, gerakan boikot terbilang tidak berjalan dengan efektif, dikarenakan tidak bisa merangkul semua masyarakat Cina di Makassar untuk turut serta. Pengawasan dari pemerintah colonial telah turut memberikan sumbangsih tidak berjalan efektifnya gerakan ini. Gerakan boikot di wilayah koloni, telah menunjukkan bahwa masyarakat Cina dalam kurun waktu tertentu juga melakukan kegiatan politik. Bersamaannya waktu gerakan boikot dan gerakan nasionalis Indonesia bisa saja saling memberikan pengaruh.
CINTA KELUARGA: REVOLUSI (1946-1949) DALAM IMAJINASI PRAMOEDYA ANANTA TOER
Heri Kusuma Tarupay
Al-Qalam Vol 25, No 3 (2019)
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (263.471 KB)
|
DOI: 10.31969/alq.v25i3.786
Revolusi Indonesia (1946-1949) banyak digambarkan dalam suasana perang dan diplomasi. Dalam perang, suasana lebih banyak diwarnai oleh pertempuran antara orang-orang Indonesia dengan para tentara gabungan sekutu. Sementara dalam ruang diplomasi suasana perundingan diperankan oleh elit-elit di Jakarta. Yang hilang dari suasana seperti ini, adalah seperti apakah kondisi di tengah masyarakat (di) Indonesia, yang tidak ikut berperang dan tidak pula ikut berunding. Karya-karya Pramoedya Ananta Toer dalam bentuk novel dan cerita pendek berlatar revolusi menyajikan suasana berbeda, dibandingkan sekedar perang dan diplomasi. Keluarga selalu menjadi bagian penting yang mewarnai karya-karya tulis novel dan roman Pramoedya Ananta Toer. Lalu, apa makna keluarga dalam masa revolusi (di) Indonesia tersebut. Tulisan ini melihat suasana di tengah masyarakat selama revolusi berjalan dengan menganalisa novel yaitu Keluarga Gerilya dan roman Larasati. Keluarga merupakan unit paling kecil dalam satu masyarakat. Kajian Saya Sasaki Shiraishi menyebut bahwa konsep keluarga merupakan aspek penting dalam masyarakat Indonesia untuk mengakui seseorang sekaligus membedakan, meliyankan atau apapun istilah yang digunakan. Persoalan mengakui dan membedakan penting dalam periode revolusi karena persoalan si (apa) orang Indonesia itu merupakan sesuatu yang tidak jelas dan menjadi alasan terjadinya kekerasan terhadap seseorang atau satu kelompok. Sementara James T. Siegel menyebut bahwa keluarga dan Negara yang merupakan dua unit yang berbeda, menjadi satu dalam periode revolusi. Konsepsi ini akan digunakan dalam menganalisa novel dan roman karya Pramodya Ananta Toer selama periode revolusi, untuk memberi gambaran seperti apa suasana revolusi (di) Indonesia.
MODERASI BERAGAMA
Tarupay, Heri Kusuma
Dharma Duta Vol 21 No 2 (2023): Dharma Duta : Jurnal Penerangan Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33363/dd.v21i2.945
Moderasi beragama yang saat ini dicanangkan oleh Kementerian Agama bukanlah hal baru dalam masyarakat Indonesia. Dua dari empat unsur moderasi beragama yaitu toleransi dan anti kekerasan telah dirumuskan oleh para pelaku-pelaku sejarah dari berbagai etnis di Indonesia. Pengalaman sejarah dari masa kurun niaga sampai dengan saat ini menjadi dasar bagi para tokoh-tokoh yang diulas dalam tulisan ini untuk merumuskan ide, gagasan dan cara bertindak yang ideal bagi masyarakat di Indonesia. Dengan ide, gagasan dan cara bertindak yang terutamanya untuk menghilangkan perilaku intoleransi dan kekerasan dianggap menjadi cara hidup ideal bagi masyarakat Indonesia. Tulisan ini dibangun dengan menggunakan metode eksploratif yaitu menganalisa beberapa tulisan para tokoh sejarah sejak masa kurun niaga sampai dengan tokoh terakhir sastrawan Pramoedya Ananta Toer yang merumuskan cara hidup toleransi dan anti kekerasan. Lewat pemaparan pemikiran dari berbagai periode sejak masa kurun niaga sampai dengan saat ini, ditujukan untuk mengingatkan kembali masyarakat Indonesia bahwa moderasi beragama telah diterapkan jauh sebelum istilah ini dipopulerkan oleh Kementerian Agama. Hidup ber(se)sama dengan rukun antar suku, agama, ras dan kelas sosial menjadi tujuan dari cara berpikir dari para pelaku sejarah tersebut.
Tugu Soekarno Palangka Raya: Pertentangan Antara Identitas Indonesia
Tarupay, Heri Kusuma
Widya Sandhi Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53977/ws.v14i2.1278
Inaugural visit of President Soekarno to Palangka Raya on July 17, 1957, marked by the establishment of Tugu Soekarno, carries two meanings. The first meanings, from the perspective of the Indonesian government in Jakarta, is that this visit symbolizes ther formalization of Central Kalimantan Province as one of the provinces in the unitary state of the Republic of Indonesia. The second meaning, from Dayak community’s perspective, is that this visit is seen as a recognition of Dayak identity. These two meanings have been continuously debated over time since President Soekarno first visit, and Tugu Soekarno has become a symbol of this two-way communication. Using observation and document analysis methods, this writing examines the symbolic communication of Tugu Soekarno in Palangka Raya, which continues to symbolize the tug of war between Indonesia and the Dayak community
Sejarah Produk Hukum terhadap Masyarakat Tionghoa di Indonesia 1619-1959
Tarupay, Heri Kusuma
Satya Dharma : Jurnal Ilmu Hukum Vol 7 No 2 (2024): Satya Dharma: Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : IAHN Tampung Penyang Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33363/sd.v7i2.1451
This writing discusses legal products that regulate the Chinese ethnic group in Indonesia. Through historical research, an investigation is conducted into the legal regulations issued by authorities since the VOC period, the Dutch colonial government, and the era of Independent Indonesia. It is understood that the position of the Chinese community in Indonesia has never been clear. By examining the legal regulations issued by these three authorities, it is found that the legal products applied to the Chinese community were built based on economic and political interests. Due to these economic and political interests, the authorities ultimately created legal products that restricted the Chinese community from interacting with other groups in Indonesia and consistently placed them in an unclear position, labeled as foreigners. These legal products influenced social life, putting this community in an ambiguous position.
Kontroversi Adat Kaharingan dalam Ritual Perkawinan Kristen dan Potensi Moderasi Beragama
Ardi, Ardi;
Santoso, Putu Eka Adthiya;
Sukmawati, Tuyun;
Oktavia, Lilis Sosila;
Astawa, I Nyoman Sidi;
Tarupay, Heri Kusuma
Satya Dharma : Jurnal Ilmu Hukum Vol 8 No 1 (2025): Satya Dharma: Jurnal Ilmu Hukum
Publisher : IAHN Tampung Penyang Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33363/sd.v8i1.1527
The misuse of customary traditions often leads to social conflict. This study examines a specific social conflict arising from the misapplication of sacred Hindu Kaharingan symbols by a Christian couple during their wedding ceremony in Tumbang Batian Village, Murung Raya Regency, Central Kalimantan. This region, particularly Kalimantan, is known for its religious diversity and rich cultural heritage. The findings indicate that the couple's actions caused significant unrest and protest among the Hindu Kaharingan community, who perceived it as a violation of ritual sanctity. This research underscores the importance of religious moderation as a conflict resolution approach. This case highlights existing societal conflicts, and thus, this study aims to address the incident by identifying its triggering factors and exploring resolution methods through the lens of religious moderation. A qualitative approach was employed, utilizing literature reviews and interviews with customary elders and family members. Triangulation techniques were also applied to enhance data validity by comparing findings from various sources and ensuring information consistency. The research results show that the symbols used in Christian traditional wedding rituals are a form of respect from the bride and groom to their ancestors.
Upaya Pencegahan Stunting melalui Program EDITING di Kecamatan Basarang, Kabupaten Kapuas
I Putu Widyanto, I Putu Widyanto;
Yuliani, Ni Nyoman Sri;
Tarupay, Heri Kusuma;
Reno, Reno;
Urip, I Nyoman
Jurnal SOLMA Vol. 14 No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. DR. Hamka (UHAMKA Press)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22236/solma.v14i3.19153
Background: Tingginya angka stunting di Kecamatan Basarang merupakan permasalahan serius yang memerlukan penanganan khusus. Upaya intervensi dilakukan secara menyeluruh melalui program EDITING, meliputi penyuluhan edukatif dan demonstrasi pembuatan MP-ASI. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yaitu memperluas pengetahuan masyarakat dan generasi muda mengenai cara mencegah dan mengatasi stunting dan meningkatkan kemampuan generasi muda maupun calon ibu dalam menyiapkan MP-ASI yang sehat dan bergizi. Metode: Kegiatan pengabdian ini menggunakan dua metode pelaksanaan yaitu metode pendidikan masyarakat dan metode pelatihan. Metode pendidikan masyarakat dengan penyuluhan melalui presentasi materi menggunakan metode ceramah dan pemutaran video edukatif yang membahas pencegahan stunting, gizi, pendidikan parenting, serta komposisi makanan yang sesuai untuk bayi. Metode pelatihan dengan demonstrasi pembuatan MP-ASI sehat dengan pangan lokal. Hasil: Hasil pelaksanaan program I di kantor kecamatan Basarang menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan pada kelompok sasaran setelah menerima edukasi, angka pengetahuan meningkat dari 65,4% menjadi 92,1%. Pada program II dilaksanakan di SMAN 1 Basarang, peningkatan pengetahuan juga terlihat signifikan, dari 36,3% menjadi 94,3%. Kesimpulan: Program pencegahan stunting di Kecamatan Basarang terbukti meningkatkan pengetahuan pencegahan stunting dan kemampuan menyiapkan MP-ASI yang sehat dan bergizi kelompok sasaran secara signifikan. Diharapkan program ini berlanjut dengan dukungan Puskesmas, Pemerintah Daerah, dan institusi pendidikan agar upaya penanggulangan stunting semakin meluas dan berkesinambungan.
Pengetahuan Simbolik Pemuda Hindu Pada Upacara Piodalan Di Kota Palangka Raya
Putri, Yeni Lidia Setio;
Ardiyani, Ni Putu Vidya;
Wangsa, I Putu Indra;
Suandika, I Nyoman;
Astawa, I Nyoman Sidi;
Tarupay, Heri Kusuma
Widya Sandhi Vol 16 No 2 (2025): Vol 16 No 2 (2025)
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Gde Pudja Mataram
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.53977/ws.v16i2.2731
In Hinduism, the Pura Piodalan ceremony is an essential ritual that marks the anniversary of the temple and serves as a form of gratitude and an effort to strengthen spiritual relations with God. The implementation of this ceremony requires the readiness of adequate facilities (upakara) and infrastructure. However, research in Palangka Raya City identified a significant knowledge gap among Hindu youth (aged 18-30 years) regarding the meaning and use of these facilities. This gap is triggered by the dominance of the older generation in ngayah activities (mutual cooperation rituals), the lack of interest of the younger generation in complex rituals due to the influence of the environment and technology, and the lack of encouragement and transfer of knowledge from parents. Although efforts to embrace have been made, active participation is still limited because ngayah is based on sincerity. This condition risks causing dissociation between ritual practice and spiritual understanding, threatening the preservation of Hindu cultural and religious values. Therefore, this study emphasizes the urgency of developing effective strategies, such as increasing involvement in ngayah, relevant education, and the use of modern media, for the sustainability of this tradition
Dinamika Kehidupan Umat Hindu Minoritas Di Kota Palangkaraya: Studi Kasus Pawai Ogoh-Ogoh
Lestari, Yustiva;
Hendra, Hendra;
Lala, Lala;
Yunita, Yunita;
Astawa, I Nyoman Sidi;
Tarupay, Heri Kusuma
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 8 No 2 (2025): Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33363/swjsa.v8i2.1529
This study aims to examine the dynamics of Hindu life as a minority group in Palangkaraya City through a case study of the implementation of the Ogoh-Ogoh Parade, a religious tradition carried out before Nyepi Day. Using a qualitative approach and case study method, data were collected through observation, interviews, literature studies, and documentation. The results of the study show that the Ogoh-Ogoh Parade is not only a form of spiritual expression of Hindus, but also has social, cultural, and symbolic values in building internal solidarity and interfaith interaction. The implementation of the parade in the 2019–2025 period showed complex dynamics, such as the challenges of the COVID-19 pandemic and adjustments to activities in 2024 to maintain tolerance when coinciding with the beginning of the month of Ramadan. The positive response from the government and the wider community shows support for the existence of Hindu culture as part of local cultural diversity. This study confirms that the Ogoh-Ogoh tradition can be a unifying medium for multicultural society, a means of value education, and a symbol of the empowerment of Hindus in facing challenges as a minority group.
Representasi Hindu dan Masyarakat Plural dalam Serial Gagaklodra
Heri Kusuma Tarupay
Tampung Penyang Vol 23 No 2 (2025): Tampung Penyang
Publisher : Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33363/tampung-penyang.v23i2.1559
In 1935–1937, Gagaklodra traveled to India to observe Hinduism as an integral part of the way of life of its people. The results of his journey in India, including his encounters with criminal figures and his efforts to address various issues there, were later conveyed to his readers in the Indies. This paper conducts a textual analysis of Gagaklodra’s serials set in India. Hinduism becomes the central focus of this study in order to examine its position within the plural society imagined by Gagaklodra. Hinduism and its place within the plural society envisioned by Gagaklodra represent a way of living together that remains relevant and necessary to be practiced in Indonesia today.