Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Survei Rumah Tangga terhadap Profil Obat pada Responden dengan Jaminan Kesehatan Nasional di Jakarta Timur Mita Restinia; Yusi Anggriani; Sondang Khairani; Rulliani Bianca Wijaya
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 2 (2020): J Sains Farm Klin 7(2), Agustus 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (607 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.2.158-163.2020

Abstract

Household surveys are one of the methods to obtain accurate information on medicine utilization in society. The study was carried out to identify the access of medicine and medicine utilization profile. A survey using convenient sampling method was conducted in 30 households with national health insurance (JKN) diagnosed with chronic diseases in East Jakarta. Each family was observed once a week for 8 weeks to analyse their diseases, medication used, and medicine access. About 19 (63.3%) respondents enrolled in this study were male. The mean ± SD of age was 55.87±12.486 years old. About 23(76.7%) respondent had access of medicine through hospital and 7(23.3%) by pharmacy directly. The most common chronic diseases identified were cardiovascular and endocrine disorder. Cardiovascular, alimentary tract and metabolism, and nervous system were medications most commonly used. Most of respondents used about 1-3 kind of medications in a month. About 101 kind of drugs used, 74 kinds of drug among of them were generic and 27 were non generic. About 12 (40%) respondents used vitamin and 8 (26.67%) used supplement. This study highlights respondent access of medicine through hospital and cardiovascular medicines were the most commonly used.
Clinical Outcomes Penggunaan Antibiotik pada Pasien Infeksi Kaki Diabetik Yusi Anggriani; Mita Restinia; Venessya Cikita Mitakda; Rochsismandoko Rochsismandoko; Tri Kusumaeni
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 1, No 2 (2015): J Sains Farm Klin 1(2), Mei 2015
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.411 KB) | DOI: 10.29208/jsfk.2015.1.2.27

Abstract

An amputation and antibiotic resistant bacteria on diabetic foot infection (DFI) are still big issue. The research aimed to evaluate clinical outcomes of antibiotic use among patients of DFI in internal medicine ward at Hospital X. An observation of prospective longitudinal methode was conducted during 3 months. Patients were selected based on diagnosis of DFI that had length of stay ≥ 3 days. Total samples were 30 patients, 16(53.3%) women and 14(46.7%) men. Only 5(16.67%) patients who did culture and sensitivity. One of them with no pathogen bacteria. The most frequently antibiotic use was ampicillin-sulbactam. Based on clinical outcomes, 11(36,7%) improve, 15(50%) worse, and others were passed away. Based on statistic, there were no influence among clinical outcomes with gender, age, BMI and duration of diabetes. Therefore based on the research, antibiotics use were still not effective to achieve desired outcomes.
Evaluasi Penggunaan Insulin pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Rawat Jalan di Rumah Sakit X di Jakarta Periode 2016-2017 Yusi Anggriani; Alfina Rianti; Annisa Nadya Pratiwi; Wulan Puspitasari
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 1 (2020): J Sains Farm Klin 7(1), April 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (788.399 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.1.52-59.2020

Abstract

Type 2 Diabetes Mellitus (DMT2) is a metabolic disease with the characteristics of hyperglycemia that occurs due to abnormal insulin secretion. One of the treatments of DM is insulin therapy. Based on its provenance, insulin consists of human insulin and analogue insulin. This study was conducted to identify profiles of insulin used in DMT2 patients at RSUP X hospital in Jakarta. This was an observational study conducted retrospectively on data from 2016 to 2017. The total sample numbers of DMT2 outpatients using insulin were 218 in 2016, and 225 in 2017. Data on insulin therapy regimens were obtained from medical records and drug use reports. The results obtained from this study indicated that the type of insulin that was widely used by DMT2 outpatients was analogue insulin with a percentage of 99%. The human insulin was rarely used in outpatients. The highest use of analogue insulin was analog premixed insulin (35%).
Karakteristik Sosiodemografi dan Health Related Quality of Life Pasien Rawat Jalan Diabetes Mellitus Tipe 2 pada Era JKN Mita Restinia; Yusi Anggriani; Aries Meryta; Tri Kusumaeni
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 3, No 1 (2016): J Sains Farm Klin 3(1), November 2016
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (313.903 KB) | DOI: 10.29208/jsfk.2016.3.1.105

Abstract

The aim of  study was carried out to determine differences of health related qualitiy of life (HRQoL) with sociodemographic characteristic in type 2 diabetes mellitus outpatiens at one of government hospital in Jakarta. It was a cross-sectional study conducted  from February  to April 2015. Total of samples were 83 patients. Male 31(37.4%) and female 52(62.6%). HRQoL associated with level education  was difference significantly (P<0.05).  Based on score of domain quality of life, female had higher score (69.82 ± 3.14) of frequency of symptoms domain than male (67.32 ± 4.50) (P<0.05). The oldest patients had the highest score (P<0.05) in domain of satisfaction. In contrast, the oldest patients had the the most decrease score (64.14 ± 4.03) in domain of frequency of symptoms (P<0.05). Patients of senior high school had lower score (60.17 ± 24.65) in domain of treatmant satisfaction than patients of  diploma/bachelor (78.78 ± 21.98). Score of domain of frequency of symptoms was higher on patients employed  than none (P<0.05). The household income did not influence all domain (P>0.05). Furthermore, diabetes duration affected both domain of satisfaction (P=0.005) and frequency of symptoms (P=0.00). In conclusion, only education level of characteristic sociodemographic had difference significantly to HRQoL among type 2 diabetes mellitus outpatients..
Evaluasi Profil Pengobatan dan Outcome Klinis Penggunaan Insulin Analog pada Pasien BPJS DM Tipe 2 Di RSUP Persahabatan Jakarta Rosdaniati Rosdaniati; Yusi Anggriani; Hesty Utami R; Tri Kusumaeni
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (659.589 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v5i8.1554

Abstract

Insulin digunakan untuk menurunkan glukosa darah dan kadar HbA1C serta dapat mengurangi komplikasi mikrovaskular. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil pengobatan, faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pemilihan terapi insulin dan untuk mengetahui perbedaan outcome klinis pasien diabetes melitus tipe 2 yang menggunakan insulin di RSUP Persahabatan. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif, yang dilakukan secara longitudinal time series. Populasi adalah pasien BPJS DM tipe 2 RSUP Persahabatan periode Januari 2017-Desember 2018 sejumlah 1.100 pasien. Sampel sebanyak 285 diambil dengan rumus Krecjie Morgan. Data berasal dari rekam medis di Instalasi Farmasi Rumah Sakit menggunakan formulir isian dan kuesioner dan diolah serta dianalisa dengan SPSS versi 23. Obat DM oral yang banyak diresepkan adalah Sulfonilurea. Obat non DM yang sering diresepkan adalah obat jantung. Insulin yang sering digunakan berdasarkan jenis adalah insulin Humalog, merk adalah Humalog Mix dan berdasarkan kerja adalah Insulin analog intermediate acting. Berdasarkan outcome klinik, outcome klinik GDP, GDPP dan HbA1C pada pasien usia ≤ 60 tahun atau > 60 tahun secara umum termasuk tidak terkendali/buruk. Berdasarkan hasil uji Kruskall Walls, pada outcome GDP ada perbedaan yang signifikan diantara golongan insulin (minimal ada satu pasang golongan yang berbeda nyata) terhadap outcome GDP. Pada outcome GDPP dan HbA1C tidak ada perbedaan yang signifikan diantara golongan insulin terhadap outcome GDPP dan HbA1C. Berdasarkan hasil uji Mann Whitney, dengan 28 kelompok pasangan insulin, diperoleh hasil nilai outcome klinik GDP berbeda nyata yaitu pada perbandingan terapi antara insulin fast acting dengan insulin analog intermediate acting, begitupun antara insulin fast acting dan kombinasi insulin, baik kombinasi yang menggunakan 2 macam insulin analog, maupun kombinasi antara insulin analog dan ADO. Pada uji nilai outcome klinik GDPP berbeda nyata pada perbandingan terapi antara insulin fast acting maupun insulin long acting dengan kombinasi insulin intermediate acting dan ADO. Pada hasil HbA1c menunjukkan tidak ada perbedaan penggunaan terapi berbagai jenis insulin.
Evaluasi Perencanaan dan Pengadaan Obat di Era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Puskesmas Kabupaten Cianjur Yusi Anggriani; Rina Rosdiana; Sondang Khairani
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v17i2.8673

Abstract

Perencanaan diperlukan untuk menentukan jenis dan jumlah obat yang sesuai dengan kebutuhan. Pengadaan merupakan tahapan selanjutnya untuk merealisasikan kebutuhan obat, sehingga obat dapat tersedia dengan efektif dan efisien. Tujuan penelitian untuk mengetahui kesesuaian perencanaan dan pengadaan obat dengan rencana kebutuhan obat, e-catalogue dan Fornas di Puskesmas Kabupaten Cianjur. di Puskesmas Kabupaten Cianjur. Desain penelitian kuantitatif non eksperimental observasional. Data kuantitatif diambil secara retrospektif dari dokumen perenacanan, pengadaaan, dan laporan penggunaan obat di Puskesmas obat tahun 2019. Penelitian dilakukan di 23 Puskesmas yang disampling berdasarkan wilayah secara proporsional, dipilih berdasarkan tipe puskesmas dan jumlah kapitasi pertahun Hasil dari penelitian menunjukkan; rata-rata kesesuaian jenis obat di RKO dengan pengadaan obat sebesar 85,90%, kesesuaian jumlah obat di RKO dengan pengadaan sebesar 70,55%, kesesuaian antara pengadaan obat dengan Fornas  sebesar 77,01%. Kesesuaian dana obat yang terdapat dalam RKO dengan pengadaan obat sebesar 95,77%, alokasi dana pengadaan yang terserap sebesar 93,86%, alokasi dana obat sebesar 20,35% dari total dana pelayanan Kesehatan di Puskesmas. Pengadaan obat berdasarkan e-catalogue sistem sebesar 32,44%. Pengadaan obat di Puskesmas Kabupaten Cianjur belum sesuai dengan perencanaan, penggunaan dana JKN yang belum optimal, dan pengadaan obat berdasarkan e-catalogue masih perlu ditingkatkan.
Persepsi Pasien dengan Keluhan Minor Illness terhadap Peran Apoteker Terkait Efisiensi Biaya dan Akses Pengobatan di Era Jaminan Kesehatan Nasional Irmin Irmin; Prih Sarnianto; Yusi Anggriani; Jenny Pontoan
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 01 Juli 2020
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v17i1.5622

Abstract

Minor Illness adalah kondisi medis yang kurang serius yang tidak memerlukan tes laboratorium atau tes darah. Minor illness juga didefinisikan sebagai kondisi yang akan hilang dengan sendirinya dan dapat sembuh dengan melakukan pengobatan sendiri (swamedikasi). Kebanyakan pasien dapat mengobati penyakit minor illness hanya dengan menggunakan obat-obat OTC (Over-the-Counter). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien dengan keluhan minor illness terhadap peran apoteker terkait efisiensi biaya obat dan akses pengobatan di era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Penelitian ini dapat memberikan masukan bagi pemerintah dalam hal ini BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) sebagai otoritas pelaksana program JKN terkait pentingnya peran apoteker dalam melakukan efisiensi biaya dan kemudahan akses pengobatan pasien dengan keluhan penyakit minor illness. Penelitian ini menggunakan metode observasi dengan pengolahan data secara deskriptif. Penelitian ini dilakukan di apotek yang bekerjasama dengan BPJS di wilayah DKI, dengan sampel sebanyak 99 responden pasien yang melakukan swamedikasi pada bulan Juni 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat potensi efisiensi biaya baik dari aspek manajemen, klinis, swamedikasi yang efektif dan terdapat kemudahan akses pengobatan melalui swamedikasi. Kesimpulan, keterlibatan apoteker dalam menangani keluhan minor illness terbukti menghemat biaya dan kemudahan akses pengobatan.
ANALISIS PERBANDINGAN BIAYA RIIL DENGAN TARIF KLAIM COST PER DAY DAN OUTCOME KLINIS PADA PASIEN COVID-19 DENGAN KOMORBID HIPERTENSI DAN DIABETES MELITUS DI RSUP FATMAWATI Widya Wulan Ayu Puspitaningrum; Hesty Utami; Yusi Anggriani; Setianti Haryani
Jurnal Farmamedika (Pharmamedika Journal) Vol 7 No 2 (2022): Jurnal Farmamedika (Pharmamedica Journal)
Publisher : Sekolah Tinggi Teknologi Industri dan Farmasi Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47219/ath.v7i2.164

Abstract

COVID-19 menjadi pandemi dunia yang mempengaruhi sektor kesehatan, sosial, ekonomi, dan keuangan. Kebijakan yang dibuat Pemerintah Indonesia dalam keadaan darurat untuk meminimalkan angka kematian pasien COVID-19. Pada awal pandemi, pembayaran klaim menggunakan tarif per hari (cost per day) berdasarkan lama rawat inap dan pelayanan kesehatan yang diberikan bersifat fee for service, sedangkan saat ini menggunakan tarif paket INA-CBGs. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbandingan biaya riil dengan tarif klaim cost per day dan outcome klinis pada pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi dan/atau DM. Penelitian dilakukan menggunakan metode analitik observasional dengan desain studi kohort retrospektif. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif periode Juli 2020 hingga Desember 2020 di RSUP Fatmawati. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan signifikan (p≤0,05) besarnya biaya riil rumah sakit dengan tarif klaim cost per day pasien COVID-19 komorbid hipertensi dan/atau DM. Terdapat hubungan bermakna (p≤0,05) antara antibiotik (Levofloxacin), antikoagulan (Heparin), kortikosteroid (Dexamethason), vitamin (Vit C + Vit D3 + Zink), obat antihipertensi (Amlodipin), obat antidiabetes (Insulin Lantus), dan obat lain (Asetilsistein) dengan outcome klinis. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan antara besarnya biaya riil rumah sakit dengan tarif klaim cost per day pasien COVID-19 komorbid hipertensi dan/atau DM yaitu selisih positif yang merupakan keuntungan rumah sakit yaitu rata-rata selisih positif pada 79 pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi Rp 111.693.429, rata-rata selisih positif pada 21 pasien COVID-19 dengan komorbid DM Rp 117.160.014, dan rata-rata selisih positif pada 26 pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi dan DM Rp 140.310.694. Profil obat berpengaruh terhadap outcome klinis pasien COVID-19 dengan komorbid hipertensi dan/atau DM.
Rekomendasi Apoteker Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II Dengan Komplikasi Nefropati Berdasar Analisis Drug Related Problems (DRP) (Studi Kasus di Instalasi Rawat Inap RSUD Karawang) Faridah Syamsiah; Yusi Anggriani; Hesty Utami Ramadaniati; Hidayat Hidayat
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.4178

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji profil rekomendasi Apoteker atas DRP pada pasien penyakit DM nefropati serta faktor-faktor yang mempengaruhi respons dokter terhadap rekomendasi yang disampaikan oleh Apoteker. Penelitian ini bersifat observasional dengan desain prospective case series. Subyek penelitian ini adalah seluruh pasien penyakit DM nefropati rawat inap di Instalasi Rawat Inap RSUD Karawang selama September – Desember 2022 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Dalam penelitian ini, DRP diklasifikasikan berdasarkan sistem klasifikasi PCNE V9.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 85 DRP yang didentifikasi, terdapat 247 rekomendasi. Rekomendasi pada tataran penulis resep sebanyak 65,18%, pada tataran obat sebanyak 34,82%. Sebanyak 64,37% dari 247 rekomendasi yang diberikan pada tataran penulis resep tidak disetujui dan 35,63% rekomendasi disetujui.
BIAYA MEDIS LANGSUNG PASIEN HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT UMUM DAERAH (RSUD) ARJAWINANGUN DAN RSUD WALED KABUPATEN CIREBON Dosi Ahmad Yani; Prih Sarnianto; Yusi Anggriani
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 4 No 1 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37874/ms.v4i1.123

Abstract

Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan global dengan biaya tinggi. Terapi Pengganti Ginjal (TPG) yang paling sering dilakukan yaitu hemodialisis (HD). Saat ini sebagian besar pasien PGK yang melakukan HD dijamin pembiayaannya oleh Badan Penyelengara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS-K) dengan besaran jaminan sesuai tarif Indonesian Case-Base Groups (Ina-CBGs) yang pernah mengalami penurunan pada tahun 2016. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripskan biaya medis langsung pasien yang menjalani hemodialisis untuk mengetahui rata-rata biaya pelayanan selama satu tahun (real cost), mengetahui besaran biaya apabila pelayanan diberikan sesuai standar pelayanan menurut Perhimpunan Nefrologi Indonesia, PERNEFRI (ideal cost) serta membandingkan ideal cost dengan tarif Ina-CBGs untuk RS pemerintah tipe B. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dari sudut pandang pemberi pelayanan (Rumah Sakit) pada pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Data biaya diambil dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dan data klaim InaCBGs. Analisis data dilakukan untuk melihat rata-rata biaya medik langsung dan membandingkannya dengan biaya untuk pelayanan ideal. Dari 93 pasien yang dianalisis, 51,6% berjenis kelamin laki-laki, usia rata-rata (minimal-maksimal) 48 (20-75) tahun, 86% menikah, pendidikan sekolah dasar atau dibawahnya 49,5%. Biaya medis langsung Rp. 791.967; 9,9% lebih kecil dari biaya klaim InaCBGs. Namun biaya ideal HD rata-rata Rp 958.467; 8,7% lebih besar dari biaya klaim InaCBGs. Kesimpulan penlitian adalah biaya InaCBGs HD masih lebih besar dari real cost, namun lebih kecil dari ideal cost.