Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

PENGARUH PELAYANAN HOME CARE APOTEKER PADA PENGETAHUAN, KEPATUHAN, KUALITAS HIDUP, DAN OUTCOME KLINIS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS KOTA TANGERANG Irna Fitriana; Hesty Utami R; Yusi Anggriani; Yuliani
Pharmacoscript Vol. 7 No. 1 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i1.1556

Abstract

Pelayanan kefarmasian yang berfokus pada pasien, khususnya home pharmacy care, menekankan penerapan edukasi melalui home care oleh apoteker sebagai pendekatan untuk memodifikasi perilaku hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi dampak pelayanan home care apoteker terhadap pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Neglasari (kelompok intervensi) dan Puskesmas Bugel (kelompok kontrol) selama periode tiga bulan dengan desain quasi eksperimental menggunakan two group pretest-posttest. Sampel penelitian dipilih melalui metode total sampling, melibatkan 100 pasien diabetes melitus tipe 2 (51 dalam kelompok intervensi dan 49 dalam kelompok kontrol). Instrumen penelitian berupa Kuesioner ADL knowledge, kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS) dan Kuesioner Short form-36 (SF-36). Pada tahap awal penelitian, uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam karakteristik demografi dan profil klinis antara kedua kelompok, dengan nilai p p-value >0,005. Setelah intervensi home care, uji Chi-Square pada kelompok intervensi mengindikasikan perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian home care terkait pengetahuan (p=0,000), tingkat pengetahuan menggunakan dua metode MARS-5 (p=0,003) dan pill count (p=0,005), kualitas hidup (p=0,000), serta hasil klinis (p=0,013). Sementara pada kelompok kontrol, tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penelitian, dengan nilai p-value >0,005. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan signifikan pada hasil posttest terkait pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis antara kedua kelompok (p=0,000*). Uji korelasi dengan Spearman’s rho menegaskan adanya hubungan antara pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis (sig=0,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelayanan home care yang disediakan oleh apoteker efektif dalam memperbaiki seluruh aspek variabel yang menjadi fokus penelitian.
PENGARUH PELAYANAN HOME CARE APOTEKER PADA PENGETAHUAN, KEPATUHAN, KUALITAS HIDUP, DAN OUTCOME KLINIS PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 DI PUSKESMAS KOTA TANGERANG Irna Fitriana; Hesty Utami R; Yusi Anggriani; Yuliani
Pharmacoscript Vol. 7 No. 1 (2024): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v7i1.1556

Abstract

Pelayanan kefarmasian yang berfokus pada pasien, khususnya home pharmacy care, menekankan penerapan edukasi melalui home care oleh apoteker sebagai pendekatan untuk memodifikasi perilaku hidup pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi dampak pelayanan home care apoteker terhadap pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis pada pasien diabetes melitus tipe 2. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Neglasari (kelompok intervensi) dan Puskesmas Bugel (kelompok kontrol) selama periode tiga bulan dengan desain quasi eksperimental menggunakan two group pretest-posttest. Sampel penelitian dipilih melalui metode total sampling, melibatkan 100 pasien diabetes melitus tipe 2 (51 dalam kelompok intervensi dan 49 dalam kelompok kontrol). Instrumen penelitian berupa Kuesioner ADL knowledge, kuesioner Medication Adherence Report Scale (MARS) dan Kuesioner Short form-36 (SF-36). Pada tahap awal penelitian, uji Chi-Square menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan dalam karakteristik demografi dan profil klinis antara kedua kelompok, dengan nilai p p-value >0,005. Setelah intervensi home care, uji Chi-Square pada kelompok intervensi mengindikasikan perubahan yang signifikan sebelum dan sesudah pemberian home care terkait pengetahuan (p=0,000), tingkat pengetahuan menggunakan dua metode MARS-5 (p=0,003) dan pill count (p=0,005), kualitas hidup (p=0,000), serta hasil klinis (p=0,013). Sementara pada kelompok kontrol, tidak terdapat perbedaan yang signifikan sebelum dan sesudah penelitian, dengan nilai p-value >0,005. Uji Mann-Whitney menunjukkan perbedaan signifikan pada hasil posttest terkait pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis antara kedua kelompok (p=0,000*). Uji korelasi dengan Spearman’s rho menegaskan adanya hubungan antara pengetahuan, tingkat kepatuhan, kualitas hidup, dan hasil klinis (sig=0,000). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa pelayanan home care yang disediakan oleh apoteker efektif dalam memperbaiki seluruh aspek variabel yang menjadi fokus penelitian.
Hubungan antara Partisipasi dalam Program Prolanis dan Kadar Gula Darah Puasa pada Pasien Diabetes Tipe 2: Data dari Kota dengan Prevalensi Tinggi di Jakarta Faradiba Faradiba; Yusi Anggriani; Elsa Maulidya
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 23 No. 01 Juli 2026
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan laporan International Diabetes Federation (IDF 2021), Indonesia menempati peringkat ke-5 dalam prevalensi diabetes di dunia. Untuk mengatasi hal tersebut, asuransi kesehatan nasional Indonesia (BPJS-JKN) menyelenggarakan program untuk manajemen penyakit kronis bernama Prolanis, yang termasuk penyakit diabetes melitus tipe 2. Program ini menawarkan konsultasi rutin untuk pasien, skrining, serta kunjungan rumah. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan efektivitas program Prolanis melalui profil kadar gula darah (GDP) pada pasien diabetes tipe 2 di puskesmas-puskesmas di Jakarta. Analisis observasional dengan pendekatan cross-sectional komparatif dilakukan pada 274 pasien Prolanis dan 242 pasien non-Prolanis. Data didapatkan dari rekam medis dan presensi kehadiran Prolanis. Mann-Whitney digunakan untuk menilai perbedaan 1) profil GDP antara Prolanis dan non-Prolanis, 2) profil GDP antarkelompok puskesmas, dan 3) jumlah kehadiran untuk kontrol pasien Prolanis dan non-Prolanis. Chi-square digunakan untuk menganalisis hubungan antara kontrol rutin dan profil GDP pada kedua kelompok. Meskipun kedua kelompok tidak mencapai target GDP, hasil penelitian menunjukkan adanya indikasi perbedaan yang signifikan antara kelompok Prolanis dan kelompok non-Prolanis. Puskesmas yang mengadopsi semua kegiatan Prolanis memiliki GDP yang lebih rendah dibandingkan puskesmas yang mengadopsi secara parsial. Tidak ada hubungan antara kontrol rutin dan profil GDP. Implementasi Prolanis diperlukan, tetapi sejauh ini belum memadai. Pemerintah harus menjadikan potensi Prolanis sebagai program pengontrol penyakit yang lebih serius, dengan lebih berfokus pada kualitas implementasi secara menyeluruh.