Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

MAKNA BUDAYA POHON AREN DALAM PENDEKATAN EKOLOGI BUDAYA DI KAMPUNG ADAT DUKUH, CIKELET, GARUT Hidayana, Iip Sarip; Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu
PANGGUNG Vol 32 No 4 (2022): Keragaman Budaya, Kajian Seni, dan Media
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v32i4.2298

Abstract

Bagi masyarakat adat, hubungan manusia dengan alam sangatlah penting. Ketergantungan manusia pada alam membuat perlakuan dan penghormatan kepada alam menjadi bagian dari nilai hidup yang dianut. Ketika terjadi perubahan dalam memperlakukan alam, maka terjadi pergeseran dan perubahan pada nilai yang mereka anut. Pohon aren merupakan simbol penting dalam lahirnya kampung adat Dukuh di Garut, Jawa Barat. Namun demikian, pergeseran nilai aren secara ekonomis menjadikan pengelolaan pohon itu semakin berkurang. Hal itu tentunya dapat mengancam nilai-nilai dan kebertahanan budaya masyarakat adat tersebut. Melalui penelitian kualitatif dengan menggunakan metode etnografi, penelitian ini bermaksud mengungkap aspek historis dan makna budaya pohon aren bagi masyarakat adat Dukuh melalui pendekatan ekologi budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kekayaan pengetahuan khusus dalam mengelola pohon aren yang berbasis kearifan lokal. Lebih jauh, pohon aren juga memiliki makna kultural yang penting yang menggambarkan pandangan hidup masyarakat adat Dukuh. Fungsi terpenting pohon aren bagi masyarakat dukuh adalah untuk menjaga ketahanan budaya sebagai salah satu bahan baku rumah adat, dan media pewarisan nilai-nilai budaya. Kata kunci: pohon aren, pola penanaman tradisional, makna budaya, masyarakat adat, kampung Dukuh
Pemanfaatan Ruang Publik Bagi Pengembangan Wisata Berbasis Seni Budaya Lokal Khozanatu Lahpan, Neneng Yanti; Putra, Bagas Dwipantara; Hidayana, Iip Sarip; Shafanissa, Winna
PANGGUNG Vol 34 No 2 (2024): Estetika, Budaya Material, dan Komodifikasi Seni
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v34i2.3368

Abstract

Ruang publik merupakan elemen penting dalam pengembangan pariwisata budaya, khususnya sebagai ruang bagi disajikannya atraksi seni. Dorongan pemerintah melalui UU Kepariwisataan Nomor 10 tahun 2009 dan UU Pemajuan Kebudayaan Nomor 5 tahun 2017 telah mendorong sejumlah kelompok masyarakat berinisiatif dalam mengembangkan ruang publik untuk kepentingan pengembangan seni budaya lokal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, melalui pariwisata budaya. Salah satunya dalah Rumah Budaya CKLT di desa Cijambe kecamatan Cikelet, Garut, yang memiliki fokus pada pendampingan dalam rekonstruksi maupun revitalisasi seni tradisi dan penyelenggaraan kegiatan budaya yang dikemas menjadi daya tarik wisata. Melalui pendekatan participatory action research (PAR), penelitian ini menekankan pentingnya aspek pemberdayaan masyarakat, dan keterlibatan masyarakat secara aktif dalam penelitian. Metode dalam pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan FGD. Community-based tourism merupakan konsep penting dalam melihat keterlibatan masyarakat dalam pengemasan paket wisata ini. Hasilnya adalah 1) pendeskripsikan potensi seni dan aktivitas budaya di desa yang dapat menjadi materi atau bahan dalam pengemasan paket seni, 2) ruang publik di Rumah Budaya CKLT didesain sedemikian rupa agar dapat memenuhi fungsi ruang atraksi seni budaya yang dapat manjadi tujuan dari kunjungan pariwisata, 3) pengemasan paket wisata seni dapat dikembangkan sebagai sarana untuk peningkatan ekonomi masyarakat Kata kunci: ruang publik, pariwisata budaya, pengemasan seni budaya, peningkatan ekonomi
KONSEP KEHIDUPAN ORANG SUNDA DI LIRIK LAGU CIGAWIRAN Firdausya, Alivya; Suryamah, Dede; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 8 No. 1 (2024): GERAKAN UJUNGBERUNG REBELS, ANTROPOLOGI NOSTALGIA, DAN MEME LIRIK HAREUDANG PAS
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v8i1.1645

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini menganalisis tentang korelasi lirik lagu Cigawiran dengan konsep pandangan hidup orang Sunda, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik, dengan pendekatan kualitatif. Langkah-langkah penelitian dilakukan melalui wawancara dengan narasumber Cigawiran dan melalui studi pustaka. Dari hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui bahwa konsep hidup orang Sunda yang terdapat dalam lirik lagu Cigawiran dibagi menjadi 5 bagian yaitu: tentang manusia dengan Tuhan, tentang manusia dengan alam, tentang manusia dengan lingkungan sekitar, tentang manusia sebagai pribadinya, dan tentang manusia dalam mengejar kepuasan lahiriah dan batiniahnya. Sedangkan bahasa simbolik yang digunakan dalam lirik lagu Cigawiran untuk mengungkap konsep kehidupan orang Sunda adalah melalui teori interaksi simbolik, dan gaya bahasa pada lirik lagu. Kata kunci: konsep kehidupan orang Sunda, lirik lagu Cigawiran ABSTRACT This study analyzes the correlation of the lyrics of the song Cigawiran with the concept of the Sundanese view of life, this study uses a descriptive analytic method, with a qualitative approach. The research steps were carried out through interviews with Cigawiran resource persons and through literature studies. From the results of the research conducted, it can be seen that the Sundanese concept of life contained in the lyrics of the song Cigawiran is divided into 5 parts, namely: about humans and God, about humans and nature, about humans and the surrounding environment, about humans as individuals, and about humans in pursuit of life. Inner and outer satisfaction. While the symbolic language used in the lyrics of the song Cigawiran to reveal the concept of Sundanese life is through the theory of symbolic interaction, and the style of language in the lyrics of the song. Keywords: the concept of life of the Sundanese, the lyrics of the song Cigawiran
Digital Pilgrimage: The Role of Online Platforms in Preserving and Promoting Kampung Dukuh’s Religious Heritage Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu; Putra, Bagas Dwipantara; Hidayana, Iip Sarip; Budiman, Arif
Mudra Jurnal Seni Budaya Vol 40 No 2 (2025)
Publisher : Institut Seni Indonesia Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31091/mudra.v40i2.3155

Abstract

Kampung Adat Dukuh is a traditional village that maintains its ancestors’ traditions and cultural values, especially from Islamic teachings. This traditional village receives regular visits from pilgrims every Saturday. Continuous visits by outsiders to this area have given rise to various potential socio-cultural vulnerabilities among the indigenous community. Therefore, an effort is needed to manage the visits of these pilgrims as a potential for well-managed religious tourism that can control the boundaries that maintain the sustainability and comfort of the lives of indigenous people. One of them is developing a digital platform to promote the richness of the traditions and culture of Dukuh Village while maintaining its values by properly documenting them following the etiquette in Dukuh Village. This article aims to see the changes and potential for empowering Dukuh Village as a religious tourism destination and disseminating information about its cultural practices through digital platforms. By using qualitative methods and developing the PAR (Participatory Action Research) method combined with ethnographic work, this study pays attention to community involvement in this empowerment. The study results show that the young generation of Kampung Dukuh has a solid ability to adapt and learn by making the digital platform a space for expression and maintaining the values of the wisdom of Kampung Dukuh by presenting accurate information using an insider perspective.
EcoPedagogy Model Based on Dukuh Indigenous Ecological Wisdom for Environmental Education in Climate Crisis Swaradesy, Rufus Goang; Kurniawati; Markhmadova, Zhansaya K.; Hidayana, Iip Sarip; Mawaddah, Hawina Nur; Khairullah, Afif Dzaky
Jurnal Prima Edukasia Vol. 13 No. 3 (2025): September 2025
Publisher : Asosiasi Dosen PGSD dan Dikdas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jpe.v13i3.90329

Abstract

This research is motivated by the failure of formal education systems to integrate traditional ecological knowledge into the curriculum, thereby creating a gap between indigenous wisdom values and practices in climate change education. This research aimed to develop an integrated learning model based on the Dukuh indigenous community's ecological wisdom for environmental education in the climate crisis era. A participatory ethnographic approach was employed, involving 38 participants comprising teachers, students, indigenous leaders, and community members. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, photovoice documentation, and participant observation conducted between March and August 2025 in Kampung Adat Dukuh, West Java, Indonesia. Thematic analysis revealed a sophisticated five-function land management system (tutupan, garapan, larangan, titipan, cadangan) and a pamali governance mechanism with compliance rates ranging from 71% to 92%. A significant implementation gap was identified, where 83% of teachers understood local wisdom values. Yet only 17% systematically integrated them into formal curricula due to structural barriers, including limited ethnopedagogical training (88%), curriculum inflexibility (82%), and pressures from an academic achievement orientation (76%). Based on these findings, the EcoPedagogy Culture model is developed, comprising four interconnected pillars: experiential learning, storytelling, ritual-based learning, and apprenticeship. Student preferences strongly favor experiential approaches (94% positive response) and practical demonstrations (88% engagement), compared to traditional lectures (31% engagement). The model demonstrates that students participating in experiential learning sessions achieve 67% higher retention of ecological concepts compared to classroom-only instruction. This research provides an empirically grounded framework for bridging Traditional Ecological Knowledge and formal education systems, offering pathways for climate change adaptation through revitalization of indigenous ecological wisdom in educational contexts.
TRADISI WIRID KARINDING DALAM PERSPEKTIF FUNGSI DAN MAKNA DI DAERAH CICALENGKA KABUPATEN BANDUNG Renetha, Renetha; Cahya, Cahya; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.2272

Abstract

Abstrak: Penelitian ini membahas persoalan Tradisi Wirid Karinding sebagai bentuk seni pertunjukan yang dikaji dengan perspektif antropologi budaya berbasis seni. Adapun fokus pengkajiannya mengarah kepada aspek fungsi dan makna yang terkandung dalam bentuk penyajian Tradisi Wirid Karinding. Untuk mengungkap persoalan fungsi dan makna tersebut, penulis menggunakan teori Struktural Fungsional dari Radcliffe Brown sebagai pisau bedah penganalisisan substansi permasalahan pokok. Adapun metode penelitianya menggunakan metode deskriptif Analisis dalam bentuk model penelitian Kualitatif. Dalam upaya menjelaskan dan membahas isu-isu penting terkait dengan pokok permasalahan, maka penulis mendeskripsikan secara sistematis dimulai dari Bab I Pendahuluan hingga Bab V Kesimpulan. Dengan demikian laporan hasil penelitian dalam bentuk Skripsi ini dapat memberikan penjelasan dan penganalisisan secara terperinci sesuai dengan sistematika penulisan. Kata Kunci: Wirid Karinding, Fungsi, Makna dan Tradisi Abstract: This study discusses the issue of the Wirid Karinding Tradition as a form of performing arts that is studied from the perspective of art-based cultural anthropology. The focus of the study is on aspects of function and meaning contained in the form of presenting the Wirid Karinding Tradition. To reveal the problem of function and meaning, the author uses the Structural Functional theory from Radcliffe Brown as a scalpel to analyze the substance of the main problem. The research method uses descriptive analysis method in the form of a qualitative research model. In an effort to explain and discuss important issues related to the subject matter, the authors describe systematically starting from Chapter I Introduction to Chapter V Conclusion. Thus the research report in the form of this thesis can provide a detailed explanation and analysis in accordance with the systematics of writing. Keywords: Wirid Karinding, Function, Meaning and Tradition
PENGARUH GLOBALISASI ATAS PEWARISAN BUDAYA SENI TERBANG BUHUN DI MAJALAYA KECAMATAN PASEH KABUPATEN BANDUNG Haqi, Inaya Ainul; Suryamah, Dede; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 9 No. 2 (2025): POTRET BUDAYA TRADISI DAN MATERI LOKAL DAN GLOBAL PADA MASA KONTEMPORER DI INDO
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/jbe.v9i2.2308

Abstract

Abstrak: Penelitian ini memfokuskan pengaruh globalisasi terhadap pewarisan budaya di Majalaya Kecamatan Paseh. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan pewarisan budaya dan pengaruh globalisasi apa saja yang terdapat pada Seni Terbang Buhun dengan analisis pengaruh globalisasi dan pewarisan budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mendeskripsikan permasalahan secara menyeluruh dengan teknik pengumpulan data yang berupa observasi, studi Pustaka, wawancara, dan dokumentasi. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu perubahan sosial William F Ougburn dan Pewarisan budaya J Berry untuk menganalisis Seni Terbang Buhun. Hasil peneltian bahwa perubahan yang terjadi dalam Seni Terbang Buhun dalam kebudayaan material serta immaterial dan pewarisan budaya dilakukan melalui tiga pola yaitu, pewarisan tegak, pewarisan datar dan pewarisan miring. Namun dalam pewarisan budaya terdapat kendala dalam penerusan budaya ke genarasi selanjutnya. Kata kunci: pewarisan budaya, globalisasi, seni terbang buhun. Abstract: This study focuses on the influence of globalization on cultural inheritance in Majalaya, Paseh District. The purpose of this study is to explain the cultural inheritance and the effects of globalization on Seni Terbang Buhun by analyzing the effects of globalization and cultural inheritance. Using qualitative research methods to describe the problem thoroughly with data collection techniques in the form of observation, literature study, interviews, and documentation. The theory used in this research is William F Ougburn's social change and J Berry's cultural inheritance to analyze Seni Terbang Buhun. The results of the research show that the changes that occur in Seni Terbang Buhun in material and immaterial culture and cultural inheritance are carried out through three patterns, namely, upright inheritance, flat inheritance and oblique inheritance. However, in cultural inheritance there are obstacles in transmitting culture to the next generation. Keyword: heritage,globalitation, Seni Terbang Buhun.
SISTEM PEWARISAN BUDAYA PADA KESENIAN LONGSER GRUP PANCAWARNA DI DESA RANCAMANYAR KECAMATAN Billah, M. Arif; Lahpan, Neneng Yanti Khozanatu; Hidayana, Iip Sarip
Jurnal Budaya Etnika Vol. 3 No. 2 (2019): Artefak Budaya Arkais dan Kontemporer : dari Ulos Hingga Seni Digital
Publisher : Institute of Indonesia Arts and Culture (ISBI) Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/be.v3i2.1122

Abstract

ABSTRAKSeni longser merupakan kesenian dengan jenis teater rakyat yang hidup dan berkembang di wilayah Jawa Barat, khususnya di daerah Bandung. Pada awalnya, kesenian longser pertama kali diperkenalkan oleh seniman bernama Bang Tilil. Kiprahnya sebagai seniman longser, mampu menghasilkan beberapa grup seni longser di wilayah Bandung salah satunya, yaitu seni longser Grup Pancawarna yang dipimpin oleh Ateng Japar. Setelah Ateng Japar wafat, kesenian tersebut masih dilanjutkan oleh anggota grup atau penerusnya untuk dapat mempertahankan kesenian longser s ebagai warisan budaya. Sebagai salah satu usaha untuk dapat mempertahankan kesenian tersebut. Tulisan ini, merupakan deskripsi analisis dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Adapun teori yang digunakan, yaitu teori pewarisan budaya. Temuan dari hasil penelitian yaitu, membahas hasil pola pewarisan budaya dari Ateng Japar sebagai pendiri grup Pancarwarna kepada para penerusnya. Proses pewarisan kesenian ini dilakukan menggunakan konsep enkulturasi dan sosialisasi. Ada beberapa aspek yang berubah dari proses pewarisan kesenian longser Pancawarna, aspek tersebut yaitu bentuk atau struktur pertunjukan.Kata Kunci: Kesenian Longser, Grup Pancawarna, dan Pewarisan BudayaABSTRACTLongser is one of popular arts that live within areas in West Java, particularly in a beautiful town called Bandung. The art of longser was firstly introduced by an artist, Bang Tilil. His performance as a longser artist had made some of group of longser art in the area, one of the most well known among people was called a group Pancawarna that was lead by Ateng Japar. Despite is death, he inspire other members of the group, which is also his successor, to continue preserving this longser art as a cultural heritage. This research is a descriptive analysis with qualitative approach, and using a theory of cultural inheritance. The research discovers the patterns resulted from a cultural inheritance that was passed down to the younger generation from Ateng Japar as the founder of Pancawarna group. This longser inheritance was passed down using the enculturation and socialization concepts. During this process, several aspects change slowly within the longser of Pancawarna group. Those aspects are longser’s forms or performing structures.Keywords: Longser, Pancawarna Group, Enculturation, Socialization, and Cultural Inheritance.