Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Karakterisasi Bakteri Penghasil Gas Metana pada Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii Fatoni, M. Indra; ., Melki; Agustriani, Fitri
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 1 (2012): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (262.003 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i1.1434

Abstract

This study aims to determine the pressure of methane gas produced by the seaweed Eucheuma cottonii and characterization of methane-producing bacteria learn in the process of making biogas from Eucheuma cottonii seaweed species. Laboratory scale research conducted in July-August 2010. The material used is seaweed Eucheuma cottonii 5 kg and 10 kg of sediment taken from the coastal waters Kalianda, Lampung province. Making biogas and methane gas pressure calculations performed at the Laboratory of Marine Biology Department of Marine Science Sriwijaya University and characterization of bacteria carried in the Great Hall of the Public Health Laboratory Palembang. Measurement of methane gas pressure using a manometer and characterization of bacteria through the three stages of colony morphology, cell morphology and physiology with test observations of biochemical reactions. The results showed that the seaweed Eucheuma cottonii can produce methane gas with a maximum pressure of 14.90 psi on day 24. From the results obtained by characterization of the bacteria bacillus-shaped bacteria that are gram-negative group. In tests of biochemical reactions that function to see the metabolic activity of bacteria showed positive results in the motility test, glucose, maltose, indole, TSIA (H2S), red methil, citrat simmon’s, lysine decar and shown negative results in tests of lactose, mannitol, sucrose, urea, voges proskauers and ornithine decar. Key words : seaweed, Eucheuma cottonii, methane, bacteria,  characterization of bacteria. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tekanan gas metana yang dihasilkan rumput laut jenis Eucheuma cottonii dan mengetahui karakterisasi bakteri penghasil gas metana dalam proses pembuatan biogas dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii. Penelitian skala laboratorium ini dilaksanakan pada bulan Juli-Agustus 2010. Bahan yang digunakan adalah rumput laut Eucheuma cottonii 5 kg dan sedimen pantai 10 kg yang diambil dari perairan Kalianda, provinsi Lampung. Pembuatan biogas dan perhitungan tekanan gas metana dilakukan di Laboratorium Biologi Laut Program Studi Ilmu Kelautan Universitas Sriwijaya serta karakterisasi bakteri dilakukan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Palembang. Pengukuran tekanan gas metana dengan menggunakan alat manometer dan karakterisasi bakteri melalui 3 tahap yaitu morfologi koloni, morfologi sel dan pengamatan fisiologi dengan uji reaksi biokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rumput laut Eucheuma cottonii dapat menghasilkan gas metana dengan tekanan maksimal 14,90 psi pada hari ke 24. Dari hasil karakterisasi bakteri didapatkan bakteri berbentuk basil yang merupakan kelompok dari gram negatif. Pada uji reaksi biokimia yang berfungsi untuk melihat aktivitas metabolisme bakteri menunjukkan hasil positif pada uji motilitas, glukosa, maltosa, indol, TSIA (H2S), methil red, simmon’s citrat, lysine decar dan hasil negatif ditunjukkan pada uji laktosa, manitol, sukrosa, urea, voges proskauers serta ornithine decar.   Kata kunci : Rumput laut, Eucheuma cottonii, gas metana, bakteri,  karakterisasi bakteri
Struktur Vegetasi Mangrove Alami di Areal Taman Nasional Sembilang Banyuasin Sumatera Selatan Sutasoit, Yudhis H; ., Melki; ., Sarno
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 9, No 1 (2017): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1097.611 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v9i1.4141

Abstract

Mangrove merupakan suatu komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa spesies pohon-pohonan yang khas atau semak yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Kerusakan hutan mangrove dapat disebabkan 2 faktor utama yaitu faktor aktifitas manusia dan faktor alami. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan menganalisis struktur vegetasi mangrove alami di areal Taman Nasional Sembilang. Penelitian dilaksanakan pada September-Oktober 2013. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode transek berpetak dimana ukuran plot untuk pohon 10m x 10m, anakan 5m x 5m, dan semai 2m x 2m. Mangrove yang ditemukan pada kedua lokasi pengamatan yaitu Sungai Sembilang dan Sungai Bungin sebanyak 12 jenis mangrove antara lain Avicennia alba, Avicennia marina, Bruguiera gymnorrhiza, Ceriops tagal, Excoecaria agallocha, Hibiscus tiliaceus, Kandelia candel, Nypa fruticans, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata, Soneratia alba, dan Terminalia catappa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur vegetasi mangrove alami di areal Taman Nasional Sembilang pada fase pohon jenis Rhizophora apiculatamemiliki indeks nilai penting tertinggi sebesar 44,49 %, pada fase anakanjenis Rhizophora mucronata memiliki indeks nilai tertinggi sebesar 72,54 %,pada fase semai jenis Rhizophora mucronata memiliki indeks nilai pentingtertinggi sebesar 66,07 %.KATA KUNCI: Mangrove, Taman Nasional Sembilang, struktur vegetasi.
Potensi Ekstrak Rumput Laut Halimeda renchii dan Euchema cottonii Sebagai Antibakteri Vibrio sp Purnama, Rahmad; ., melki; Putri, Wike Ayu Eka; ., Rozirwan
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 2, No 1 (2011): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.736 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v2i1.1290

Abstract

The research about Changing of Mangrove Area by Using Remote Sensing in Sembilang National Park, South Sumatera, had been conducted on October 2009 until Januari 2010. The aim of the researches was to know the changing of mangrove in 2003-2009 period by using images data Landsat-7 ETM+ and SPOT 2 2009. Monitoring of condition mangrove in the field, used quadrat plot which the sizes 30 x 30 m and processing of images used algorithm NDVI (Normalize Difference Vegetation Index) with supervised classification. The result of the research showed that mangrove area in 2003 was about 91.679,45 ha, area mangrove in 2009 have decreased becoming 83.447,23 ha. Changing of mangrove area for 6 years (2003-2009) was 8.232, 29 ha or around 9,86%. Mangrove density in 2003 consist of rare mangrove (11.079,36 ha), medium mangrove (31.441,61 ha), and dense mangrove (49.158,48 ha). Mangrove density in 2009 in 2009 had changed for each classes were, 10.695 ha, 28.545,16 ha and 44.206,53 ha for rare, medium, dense mangrove respectively. The compotition of true mangrove vegetation consisted of four families and twelve species which dominated by genus of Avicenia, Ceriops, Sonneratia, and, Xylocarpus. Key Words : Mangrove, Remote Sensing, Landsat-7 ETM+, SPOT 2, Sembilang National Park. ABSTRAK Rumput laut Halimeda renchii dan Euchema cottonii merupakan salah satu bahan alami yang tidak menimbulkan resistansi untuk mengatasi vibriosis karena memiliki metabolit sekunder yang dapat membunuh bakteri. Tujuan penelitian ini adalah Melakukan ekstraksi Halimeda renchii dan Eucheuma cottonii yang diduga mempunyai senyawa bioaktif  sebagai antibakteri, Menentukan zona hambat pertumbuhan bakteri Vibrio sp dari ekstrak Halimeda renchii dan Eucheuma cottonii,  Membandingkan zona hambat yang paling baik antara Halimeda renchii dan Eucheuma cottonii untuk menghambat pertumbuhan bakteri Vibrio sp, Menentukan konsentrasi  hambatan minimum  (KHM) ekstrak Halimeda renchii dan Eucheuma cottonii terhadap pertumbuhan bakteri Vibrio sp. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Mei 2010. Pembuatan ekstrak rumput laut dengan menggunakan metode maserasi sedangkan pengujian aktifitas antibakteri dengan menggunakan metode difusi agar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ekstrak Halimeda renchii yang diujikan terhadap Vibrio parahaemolitycus, Vibrio Alginolyticus, dan Vibrio charcariae memiliki zona hambat tertinggi terhadap Vibrio parahaemolyticus sebesar 16,7 mm.  Ekstrak Euchema cottonii yang diujikan terhadap Vibrio parahaemolitycus, Vibrio Alginolyticus, dan Vibrio charcariae memiliki zona hambat tertinggi terhadap Vibrio parahaemolyticus yaitu sebesar 24,1 mm. Diantara kedua ekstrak yang diujikan ekstrak yang memiliki aktivitas zona hambat paling baik adalah ekstrak Euchema cottonii.  Konsentrasi hambat minimum ekstrak Halimeda renchii terhadap ketiga jenis bakteri Vibrio sp adalah pada konsentrasi 0,05%. Konsentrasi hambat minimum ekstrak Euchema cottonii terhadap bakteri Vibrio alginolyticus dan Vibrio parahaemolyticus adalah pada konsentrasi 0,05% sedangkan ekstrak Euchema cottonii terhadap Vibrio charcariae adalah pada konsentrasi 1%.   Kata kunci : Antibakteri, Halimeda renchii, Euchema cottonii, Vibrio sp,  Konsentrasi hambat minimum.
Kualitas Perairan Muara Sungsang ditinjau dari Konsentrasi Bahan Organik pada Kondisi Pasang Surut Sembiring, Susan MR; ., Melki; Agustriani, Fitri
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 2 (2012): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (595.333 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i2.1392

Abstract

ABSTRACTThe increase of organic material into the Sungsang Estuary waters continuously can lead to changes in the composition of physical, chemical and the biological properties of these waters. The purposes of this research are assessing  the value of  the concentration of organic matter, knowing the water quality and the environmental factors that affect the content of TOM, BOD and COD in waters of Sungsang. Water sampling took on July, 8th to 9th, 2011 in Sungsang Estuary at high and low tide, Banyuasin regency, South Sumatera, then continued the analysis of water samples at the Laboratory of Aquatic, Cultivation vocation, University of Sriwijaya and the Environment Agency Palembang on July 13th  to  24th , 2011. The results showed that the average content of TOM at high tide was 7.2 mg/l and at low tide was 9.9 mg/l. BOD values ​​at high tide was 5.1 mg/l and at low tide was 4.2 mg/l. The average value of COD at high tide was 249.8 mg/l and at low tide was 295.5 mg / l. Sungsang Estuary water quality in terms of organic matter and BOD TOM within the quality standard is exceeded while the COD content of the quality standard based on the Degree of the Minister of Environment for marine biota. The relationship among salinity, pH, temperature and DO on TOM at high tide was proportional to BOD and COD, while inversely at low tide. The relationship among salinity, pH, temperature and DO and BOD of the TOM is inversely proportional to at low tide, while the COD was proporsional.Keywords: TOM, BOD, COD ABSTRAKPeningkatan bahan organik secara terus-menerus di perairan Muara Sungsang dapat mengakibatkan perubahan sifat kimia fisika perairan dan sifat biologis dari perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkaji nilai konsentrasi bahan organik, mengetahui kualitas air, serta faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi TOM, BOD dan COD. Pengambilan sampel dilaksanakan pada tanggal 8-9 Juli 2011 di Muara Sungsang saat pasang surut, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, dilanjutkan analisis sampel di Laboratorium Program Studi Budi Daya Perairan Universitas Sriwijaya dan Badan Lingkungan Hidup Palembang pada tanggal 13-24 Juli 2011. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan rata-rata TOM saat pasang 7,2 mg/l dan surut 9,9 mg/l. Nilai BOD saat pasang 5,1 mg/l dan surut 4,2 mg/l. Nilai rata-rata COD saat pasang 249,8 mg/l dan surut 295,5 mg/l. Kualitas perairan Muara Sungsang ditinjau dari bahan organik TOM dan BOD masih berada dalam batas baku mutu sedangkan kandungan COD sudah melampaui baku mutu berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup untuk biota laut. Hubungan antara salinitas, pH, suhu dan DO terhadap TOM saat pasang adalah berbanding lurus sedangkan untuk BOD dan COD berbanding terbalik. Hubungan antara salinitas, pH, suhu dan DO terhadap TOM dan BOD saat surut adalah berbanding terbalik, sedangkan utnuk COD berbanding lurus.Kata kunci: TOM, BOD, COD
Laju Pertumbuhan Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Bandeng (Chanos chanos), dan Rumput Laut (Eucheuma cottonii, Gracilaria sp) pada Budidaya Polikultur dengan Padat Tebar yang Berbeda di Desa Sungai Lumpur Kabupaten OKI Sumatera Selatan Siboro, Guido F; ., Melki; ., Isnaini
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 6, No 1 (2014): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.124 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v6i1.1709

Abstract

Pengembangan usaha perikanan di Kabupaten Ogan Komering Ilir sangat prospektif ditinjau dari segi aspek  teknis,  sosial,  ekonomi,  maupun  sumberdaya  yang  tersedia.  Kabupaten  Ogan  Komering  Ilir  khususnyadesa  Simpang  Tiga  Kecamatan  Tulung  Selapan  telah  mengembangkan  budidaya  udang  dan  bandeng  secara polikultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju pertumbuhan pada Udang Windu (Penaeus monodon), Ikan Bandeng (Chanos-chanos),dan Rumpu Laut  Eucheumacotonii,Gracilaria sp) pada budidaya polikultur dengan padat  tebar  yang  berbeda.  Metode  pengumpulan  data  yang  diterapkan  dalam  penelitian  ini  adalah  metode eksperimental  dengan  menggunakan  rancangan  acak  kelompok  (RAK)  dengan  menggunakan  uji  One  Away Anova dengan 2 perlakuan dan 9 pengulangan. Data yang digunakan adalah data yang didapat langsung dari lapangan, dengan pengukuran yang dilakukan 10 hari  sekali dan penimbangan berat selama 80 hari kedepan. Lajupertumbuhan  berat  rata-rata  udang  windu  tertinggi  dengan  nilai  7,963%  pada  perlakuan  A  dan  pada perlakuan B dengan nilai 7,667%. Laju pertumbuhan berat rata-rata ikan bandeng lebih tinggi pada perlakuan A dengan  nilai  6,867%.  Hal  ini  disebabkan  karena  dilakukan  pemberian  pakan,  sedangkan  perlakuan  B  dengannilai 6,528%. Laju pertumbuhan panjang udang windu telihat pada Tabel 7, terlihat jelas padat tebar yang tinggi memiliki panjang rata-rata yang lebih tinggi dengannilai 0,288 cm dan diikuti perlakuan B dengan nilai 0,236 cm. Laju pertumbuhan panjang rata-rata ikan bandengpadaTambak A lebih tinggi dengan nilai 0,284 cm dari perlakuan B dengannilai 0,231 cm.
Biopotensi Tumbuhan Mangrove untuk Pencegahan Penyakit Vibrosis pada Udang Windu ., Melki; Soedharma, Dedi; Effendi, Hefni; Mustopa, A. Zaenal
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 2, No 1 (2011): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.912 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v2i1.1146

Abstract

Ekstrak tiga jenis tumbuhan mangrove (daun, buah, batang dan akar) meliputi tumbuhan mangrove Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, dan Sonneratia alba yang diambil dari Sadai, Bangka Selatan, Bangka Belitung dimana telah diekstraksi dengan pelarut methanol, ethyl acetate dan n-hexane serta telah diuji sebagai antibakteri pada bakteri Vibrio harveyi yaitu patogen udang windu dan uji toksisitas BSLT. Hasil uji antibakteri dari semua bagian tumbuhan mangrove didapatkan bahwa daun dan batang S. alba dengan pelarut metanol lebih potensi yaitu dengan zona hambat yang terbentuk 24±3,78 mm dan 23±3,78 mm. Hasil uji BSLT didapatkan untuk daun S. alba dengan pelarut metanol bersifat toksik sedangkan batang S. alba dengan pelarut metanol bersifat tidak toksik terhadap artemia. Selanjutnya bagian tumbuhan mangrove dianalisa komponen kimianya dengan menggunakan kromatografi kolom, kromatografi lapis tipis dan kromatografi cair kinerja tinggi dengan detektor PDA. Hasil identifikasi dengan menggunakan kromatografi kolom dengan eluen chloroform: methanol (9:1 sampai 1:9) memberikan hasil pemisahan terbaik, identifikasi dengan menggunakan kromatografi lapis tipis dengan eluen chloroform: methanol (9:1 sampai 1:9) memberikan hasil pemisahan terbaik dan identifikasi dengan kromatografi cair kinerja tinggi pada panjang gelombang 200-400 nm menghasilkan bahwa ekstrak tumbuhan mangrove yang berperan sebagai antibakteri dan untuk selanjutnya ekstrak tumbuhan mangrove ini dapat dikembangkan sebagai antibakteri dan biofarmatika.   Kata kunci: ekstrak mangrove, antibakteri, BSLT, kromatografi kolom , kromatografi lapis tipis, dan kromatografi cair kinerja tinggi ABSTRACT Crude extracts of three mangrove species (leaf, fruit, bark and root), i.e. Ceriops tagal, Rhizophora apiculata, and Sonneratia alba collected from Sadai, South Bangka, Bangka Belitung was extracted  in methanol, ethyl acetate, n-hexane and tested for different range of biological activities including antimicrobial activity of shrimp Vibrio harveyi pathogen and brine shrimp cytotoxic. The overall bioactivity profile showed that, leaf and bark of S. alba methanolic (24±3,78 mm and 23±3,78 mm) exhibited more biopotency. Result by using Brine Shrimp Lethality Test showed that leaf of S. alba methanolic was toxic and bark of S. alba methanolic was not toxic to Artemia. The highly active mangrove was evaluated further to analyze the chemical compounds using column chromatography, thin layer chromatography and high performance liquid chromatography with detector photodiode array (PDA). The identification with column chromatography using chloroform: methanol (9:1 to 1:9) gave the best separation, identification results using thin layer chromatography using chloroform: methanol (9:1 to 1:9) gave the best separation and chromatographic identification results high performance liquid at a wavelength of 200-400 nm showed mangrove extracts might have functional role in bioactivity and can be used for the development of antibacterial and biopharmaceuticals.   Keywords: Mangrove extract, antibacterial activity, brine shrimp cytotoxicity, column    chromatography, TLC, and HPLC
PURIFIKASI DAN UJI DEGRADASI BAKTERI MIKROPLASTIK DARI PERAIRAN MUARA SUNGAI MUSI, SUMATERA SELATAN Vianti, Rizky Okta; ., Melki; ., Rozirwan; Purwiyanto, Anna IS
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 12, No 2 (2020)
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/maspari.v12i2.12648

Abstract

Kepadatan limbah plastik menjadi suatu ancaman besar bagi lingkungan dan organisme perairan, pasalnya proses degradasi plastik menjadi mikroplastik membutuhkan waktu yang sangat lama. Salah satu upaya alternatif untuk mengurangi dampaknya dapat menggunakan bakteri.  Penelitian ini bertujuan untuk  mengidentifkasi jenis bakteri pendegradasi limbah mikroplastik dan menentukan kemampuan isolat bakteri dalam mendegradasi limbah mikroplastik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli – September 2019. Pengambilan sampel air menggunakan jaring micro nett berdiameter 90x15 cm dengan mesh size 300 ?m dan dilakukan pengukuran kualitas air, meliputi suhu, salinitas, DO, pH dan kecepatan arus. Identifikasi bakteri menggunakan uji biokimia otomatis (VITEK-2). Hasil penelitian menunjukkan adanya tiga jenis bakteri yang berpotensi mendegradasi mikroplastik dari enam isolat yang berhasil dimurnikan yaitu Vibrio fluvialis, Serratia rubidaea, Serratia marcescens dan Psedomonas putida.Kata Kunci : Bakteri mikroplastik, degradasi, kualitas air, Muara Sungai Musi.
Keadaan Budidaya Rumput Laut di Pulau Panjang Provinsi Bangka Belitung Melki Melki; Andi Agussalim
Jurnal Penelitian Sains No 16 (2004)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5032.364 KB) | DOI: 10.56064/jps.v0i16.259

Abstract

Penelitian ini telah dilaksanakan dari tanggal 20 dan 21 Desember 2003 di Pulau Panjang Provinsi Bangka Belitung. Metode yang digunakan adalah metode survey dan wawancara serta data diperoleh dengan pengukuran langsung. Dari hasil pengamatan bahwa Pulau Panjang cocok dijadikan daerah budidaya, karena sudah tersedia bibit alami rumput laut Eucheuma cottonii, faktor lingkungan yang mendukung kegiatan budidaya serta adanya pangsa pasar. Namun kendala yang dihadapi adalah rendahnya nilai jual rumput laut kering. 
Penapisan Aktivitas Antibakteri dari Bakteri yang Berasosiasi dengan Karang Lunak Sarcophyton sp Chairul Huda; Salni .; Melki .
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 4, No 1 (2012): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (270.102 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v4i1.1343

Abstract

A screening of antibacterial activity from bacteria associating with soft coral Sarcophyton sp from Tegal island, Lampung, was conducted. The purpose of this screening was to get bacterial isolates that have antibacterial activity with Escherichia coli and Stapiloccocus aureus and also to determine the biochemical characters from the bacteria that have the antibacterial activity. The sample of soft coral was taken by snorkeling at 1,5 meters depth. The bacteria that associated with soft coral were isolated by dilution and pour plate method on NA media. The test of antibacterial activity was done by using agar diffusion  method with paper discs. Isolates that have antibacterial activity were tested to check their biochemical characters. From 10 bacteria isolates that have associated with soft coral Sarcophyton sp were obtained, there were two isolates had antibacterial activity (D1.1 to E. coli and D2.2 to S. Aureus).  Both bacteria isolates were  gram negative and motil. In catalyst test, oxidation, urea, citrate, and carbohydrate fermentation both bacteria isolates showed positive reaction. With VP test, D1.1 isolate showed positive  reaction but D2.2 showed negative reaction. In contarary, with gelatin isolate test, isolate D1.1 showed negative reaction but D2.2 positive. Keywords: Bacteria associations, soft corals, Sarcophyton sp, antibacterial,  biochemical tests   ABSTRAK Telah dilakukan penapisan aktivitas antibakteri dari bakteri yang berasosiasi dengan karang lunak Sarcophyton sp dari perairan Pulau Tegal, Lampung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan isolat bakteri yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap E. coli dan S. aureus serta mengetahui sifat biokimia dari bakteri yang memiliki aktivitas antibakteri tersebut. Pengambilan sampel karang lunak dilakukan dengan teknik snorkeling pada kedalaman 1,5 meter. Bakteri yang berasosiasi dengan karang lunak diisolasi dengan metode pengenceran bertingkat dan pour plate pada media NA. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi agar menggunakan paper disk. Isolat yang memiliki aktivitas antibakteri diuji sifat biokimianya. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan 10 isolat bakteri yang berasosiasi dengan karang lunak Sarcophyton sp, dan dari 10 isolat tersebut didapat 2 isolat yang memiliki aktivitas antibakteri (D1.1 terhadap E. coli dan D2.2 terhadap S. aureus). Kedua isolat bakteri ini merupakan bakteri gram negatif dan motil. Pada uji katalase, oksidase, urea, sitrat dan fermentasi karbohidrat, kedua isolat bakteri baik D1.1 maupun D2.2 sama-sama menunjukan reaksi yang positif. Uji MR kedua isolat sama-sama menunjukan reaksi negatif. Sedangkan pada uji VP isolat bakteri D1.1 menunjukkan reaksi positif dan D2.2 negatif. Sebaliknya, pada uji gelatin isolat D1.1 menunjukkan reaksi negatif dan D2.2 positif. Kata Kunci: Bakteri asosiasi, karang lunak, Sarcophyton sp, antibakteri, uji  biokimia
DISTRIBUSI TOTAL SUSPENDED SOLID DAN TOTAL DISSOLVED SOLID DI MUARA SUNGAI BANYUASIN KABUPATEN BANYUASIN PROVINSI SUMATERA SELATAN Ahmad Firdaus; Melki .; Hartoni .; Riris Aryawati
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 7, No 1 (2015): Edisi Januari
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1303.801 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v7i1.2493

Abstract

Muara Banyuasin merupakan daerah estuaria yang memiliki peranan penting dari segi ekonomi maupun ekologi, tempat bermuaranya sungai besar, beberapa sungai kecil. Aktivitas manusia seperti industri, transportasi, penebangan hutan dan pembukaan lahan peningkatan TSS dan TDS di Muara. Kegiatan ini menyebabkan meningkatnya pengikisan tanah di sepanjang aliran sungai sehingga berdampak terhadap padatan tersuspensi dan padatan terlarut semakin tinggi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui konsentrasi TSS dan TDS, kondisi kualitas air di Muara sungai Banyuasin di lihat dari parameter lingkungan, menggambarkan distribusi TSS dan TDS saat pasang dan surut, menggambarkan profil melintang TSS dan TDS saat pasang dan surut. Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Juni – Agustus 2013. Penentuan stasiun penelitian menggunakan metode purposive sampling. Hasil Konsentrasi TSS di perairan Muara sungai Banyuasin lebih tinggi saat surut dibandingkan saat pasang yakni nilai TSS saat surut 208 mg/l – 1640 mg/l, sedangkan saat pasang 527 mg/l – 1116 mg/l. TDS lebih rendah saat surut dibandingkan saat pasang yakni nilai TDS saat surut 192 mg/l – 1081 mg/l, sedangkan saat pasang 779 mg/l - 1909 mg/l. Kondisi kualitas air Muara sungai Banyuasin meliputi suhu dan salinitas bervariasi setiap lapisan kedalaman dan lebih dominan di lapisan permukaan perairan.KATA KUNCI: Muara sungai Banyuasin, TDS, TSS.