Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Kami Tidak Takut Air ! Christina Eviutami Mediastika; Lya Dewi Anggraini
Share: Journal of Service Learning Vol. 11 No. 1 (2025): FEBRUARY 2025
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.9744/share.11.1.22-30

Abstract

Menurut data UNDP 2017, Indonesia adalah negara dengan populasi masyarakat buta terbanyak ke dua di dunia setelah India. Dari jumlah total penduduk Indonesia, tercatat 1,5% menderita kebutaan dengan berbagai tingkat, dari yang masih dapat sedikit melihat, sampai yang buta total. Penduduk buta ini juga ingin beraktivitas seperti layaknya orang biasa. Namun, berbeda dengan keadaan di negara maju, di Indonesia, rendahnya penerimaan masyarakat dan kurangnya fasilitas yang mendukung, membuat mereka umumnya berada di lingkungan terbatas dan senantiasa membutuhkan bantuan orang lain. Kurangnya fasilitas, tidak seharusnya menghalangi mereka belajar life-skill agar dapat menjadi manusia mandiri. Salah satu life-skill yang perlu dikuasai adalah mengenal air agar tidak takut. Hal ini makin penting, karena Indonesia merupakan negara kepulauan yang dikelilingi air. Sejalan dengan kebutuhan pembelajaran terkait ruang dan penumbuhan empati, melalui Mata Kuliah Community Outreach, para mahasiswa Program Studi Arsitektur Universitas Ciputra menggelar program pendampingan siswa buta untuk mengenal dan tidak takut air. Program diawali dengan pembekalan bagi mahasiswa dan teman buta, praktek pendampingan, pendampingan di kolam renang dan pantai, serta evaluasi. Kegiatan sederhana ini, ternyata mampu menumbuhkan rasa percaya diri teman buta, empati para mahasiswa, dan empati masyarakat sekitar. Kegiatan pengenalan air ini penting untuk rutin diselenggarakan, karena teman buta menyukai dan membutuhkannya.
PERANCANGAN PROYEK MUSEUM DAN SANGGAR TARI BALI DENGAN PENDEKATAN SENSE OF PLACE OLEH KONSULTAN LUH ADITYA ARCHITECT Dewi, Aditya Yuliantina; Mediastika, Christina Eviutami
KREASI Vol. 10 No. 2 (2025): Kreasi
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/kreasi.v10i2.5963

Abstract

Budaya merupakan faktor identitas negara yang menjadi panduan perilaku masyarakat untuk berkembang dan mewariskannya ke generasi selanjutnya. Semakin berkembangnya zaman, budaya Indonesia lambat laun memudar akibat masuknya budaya barat yang lebih modern dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mewariskan nilai – nilai budaya. Dalam ranah arsitektur, hal yang dapat dilakukan sebagai bentuk kontribusi pelestarian budaya, khususnya kepada generasi muda adalah dengan menerapkan nilai – nilai budaya ke dalam desain bangunan. Pendekatan konsep yang dapat dilakukan untuk menggabungkan budaya dan desain bangunan adalah dengan pendekatan sense of place. Oleh karena itu, terciptalah konsultan Luh Aditya Architect dengan pendekatan konsep sense of place budaya Tri Hita Karana-Tri Loka yang digabungkan dengan budaya daerah tempat proyek dibuat. Pendekatan ini memiliki maksud untuk melestarikan filosofi budaya (adat istiadat kebiasaan, makna budaya) ke dalam desain yang tak lepas dari terciptanya suasana harmonis dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan. Rancangan proyek yang akan menerapkan konsep sense of place budaya ini adalah museum dan sanggar tari Bali. Pembuatan desain bertujuan meningkatkan dan melestarikan budaya tari dan musik tradisional Bali kepada masyarakat lokal, khususnya generasi muda Indonesia, maupun mancanegara. Desain harus dapat menyampaikan budaya khas Bali namun tidak terkesan kuno dan monoton. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kuantitatif dan kualitatif.
Penggunaan Angkutan Umum untuk Membangun Life-Skill Siswa Buta dan Empati Sesama Mediastika, Christina Eviutami; Anggraini, Lya Dewi
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 3 (2023): Agustus
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i3.17162

Abstract

Pendampingan dan pengenalan life-skill pada siswa-siswi buta adalah kegiatan yang sangat penting untuk membekali mereka dalam menjalani kehidupan secara mandiri. Salah satu life-skill yang cukup penting adalah berkegiatan di ruang publik, seperti menggunakan angkutan umum. Pengabdian masyarakat yang dilaporkan dalam paper ini adalah pendampingan dan pengenalan siswa SMP dan SMA berkebutuhan khusus visual dalam menggunakan bus kota dan kereta api lokal. Sebanyak 19 siswa buta bersama 11 mahasiswa pendamping terlibat dalam kegiatan ini. Antusiasme berkegiatan dengan angkutan umum tidak hanya nampak pada siswa buta namun juga pada mahasiswa pendamping. Selama pendampingan, diamati dan digali data kualitattif terkait persepsi siswa buta dalam penggunaan angkutan publik, dengan mahasiswa sebagai enumerator sekaligus pendamping. Data menunjukkan bahwa kegiatan ini memberikan manfaat pada siswa buta belajar banyak hal baru, diantaramya: fasilitas pendukung angkutan publik yang masih menyulitkan dan fasilitas ruang publik kota yang belum sepenuhnya memadai untuk difabilitas netra. Bagi para mahasiswa Program Studi Arsitektur, kegiatan ini membuka wawasan mereka bahwa ada komunitas buta yang perlu mendapatkan perhatian dalam perencanaan dan perancangan lingkungan binaan. Empati desain bagi mahasiswa Arsitektur dapat ditumbuhkan dengan pelibatan langsung mereka dengan komunitas yang membutuhkan desain khusus tersebut