Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

MAKNA NGUSABHA GEDEBONGDI DESA ADAT NGIS KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM I Ketut Dani Budiantara; I Gede Sugiarka
LAMPUHYANG Vol 13 No 1 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i1.296

Abstract

Desa Adat Ngis sampai saat ini masih melestarikan adat dan budaya leluhur. Hal ini terlihat dalam kegiatan yang berkaitan dengan upacara adat terutama dalam melaksanakan upacara Panca Yadnya. Ngusabha Gedebong merupakan salah satu upacara Panca Yadnya yang dilaksanakan umat Hindu di Desa Adat Ngis. Sesuai dengan namanya Ngusabha Gedebong sarana utama upakaranya menggunakan sarana gedebong ( batang pohon pisang). Ngusabha Gedebong dilaksanakan setahun sekali setiap Sasih Kaulu. Disamping unik, juga belum pernah dilakukan kajian mendalam tentang bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di desa Adat Ngis. Berkaitan dengan itu, kajian difokuskan untuk mendeskripsikan bentuk, dan makna Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik pendekatan empiris. Jenis penelitian kualitatif, penentuan subjek penelitian purposive sampling. Jenis data digunakan data kualitatif, sumber data primer dan sekunder. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara, dan pencatatan dokumen; serta analisis data deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Berdasarkan hasil pembahasan disimpulkan bahwa bentuk Ngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu merupakan jenis Dewa Yadnya yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya pada purnamaning sasih kawulu, dengan sarana upacara terdiri dari : Bayuhan 1 tanding, bayuhan berisi piser/tumpeng yang terbuat dari nasi jit kuskusan dan di ujungnya berisi garam/uyah yang beralaskan kojong, bayuhan berisi belayag 11 (solas) buah,tehenan atanding berisi beras, benang putih, porosan, segau ( daun dapdap yang dialuskan/ditumbuk ),Ungkab Lawang atanding berisi beras, kelapa yang dikupas kulitnya, sampiyan pakecuan,kerik keramas, berisi segau atangkih, kunyit mekihkih atangkih, kapas dan minyak, gegine metunu atangkih, buah lemo atangkih, suah sunggar sebagai pensucian,segehan putih kuning,buu,petabuh yaitu : tuak, arak, bere,.toya anyar ( air suci yang masih sukla ), api takepan, tegteg yaitu : wakul berisi jajan, biu, tumpeng, kasa putih, sampian kejingjing, banten pejatian yang dihaturkan di Bale Agung, ajuman dan canang sari, dengan proses pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan penutup. Sedangkan makna Nngusabha Gedebong di Desa Adat Ngis yaitu bermakna mohon kemakmuran, dan wujud syukur.
Sesayut Pancoran Pada Ngusabha Dalem Di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka; I Ketut Dani Budiantara
LAMPUHYANG Vol 13 No 2 (2022)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v13i2.308

Abstract

Proses pelaksanaan upacara yadnya selalu mempergunakan sarana-sarana pendukung. Salah satu sarana yang digunakan adalah banten. Banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem merupakan banten yang jarang dipergunakan, tetapi penting karena masyarakat tidak mengetahui dan memahami bentuk, fungsi dan makna yang dikandungnya. Untuk itu perlu dikaji bentuk, fungsi dan makna banten Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem yang nantinya masyarakat Hindu di Desa Pakraman Seraya menjadi paham. Rumusan masalah yang diperoleh dari latar belakang tersebut sebagai berikut. (1) Bagaimana bentuk Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (2) Apa Fungsi Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem? (3) Apa Makna Sesayut Pancoran pada Usabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, Kecamatan Karangasem, Kabupaten Karangasem?. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif, metode yang digunakan adalah metode pendekatan subjek penelitian dengan menggunakan metode pendekatan empiris, metode penentuan subjek penelitian dengan teknik purposive sampling, jenis data yang dipakai adalah data kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode wawancara dan pencatatan dokumen. Setelah data terkumpul dilakukan analisa data melalui metode deskriptif dengan teknik induksi dan argumentasi. Adapun hasil penelitian yang diperoleh, yaitu: (1) Bentuk Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya Kecamatan Karangsem, Kabupaten Karangsem adalah susunan banten yang terdiri atas: dulang, alas sesayut, tumpeng, telur ayam, galan (belayag), kelampet, kacang saur, buratwangi, jajan, buah-buahan, dan sampiyan nagasari, (2) Fungsi Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya, meliputi: fungsi religius, fungsi pendidikan, fungsi sosial ekonomi dan fungsi penyucian, (3) Makna Sesayut Pancoran pada Ngusabha Dalem di Desa Pakraman Seraya adalah sebagai anugrah, wujud sembah bhakti dan sthana Sang Hyang Widhi beserta manifestasi-Nya dalam memberikan pancaran anugerah untuk membersihkan diri dari pengaruh Sad Ripu dan untuk meleburkan segala kekotoran (mala) yang ada di bumi maupun dalam diri manusia yang muncul dari pikiran, perkataan, dan tingkah laku (Tri Kaya Parisudha) yang dapat mengakibatkan suatu penderitaan dalam hidup.
Pengembangan Kegiatan Belajar Mengajar Berbasis Teknologi Komunikasi Interpersonal Guru di Era Society 5.0 NI Putu Diah Untari Ningsih; I Gede Sugiarka; Ni Nyoman Ayu Gita Cahyani
Lampuhyang Vol 14 No 1 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i1.325

Abstract

Kegiatan belajar mengajar adalah serangkaian proses penyampain ilmu atau tranformasi ilmu yang dilakukan oleh tenaga pendidik dan peserta didik. Proses tersebut dapat dilakukan secara formal ataupun non formal, disesuaikan dengan kondisi dan keadaan yang ada. Tentu dalam menjalankan suatu kegiatan belajar diperlukannya komunikasi yang baik antara peserta didik dan guru. Teknologi komunikasi ini dikenal dengan sebutan komunikasi interpersonal. Dimana komunikasi interpersonal ini adalah Komunikasi adalah proses pertukaran informasi dari dua belah pihak atau lebih. Ketika seorang guru sudah mampu menerapkan komunikasi interpersonal ini dengan baik, maka proses belajar mengajar juga akan berjalan dengan baik dan menghasilkan sesuatu sesuai dengan harapat dunia pendidikan. Perkembangan zaman yeng kini berada pada era sosiety 5.0 ini juga yang menyebabkan berubahnya pola perilaku dan kehidupan masyarakat, khususnya sistem komunikasi baiik formal aaupun non folmat. Oleh sebab itu, kita harus bisa menjaga jalinan komunikasi dengan penerapan komunikasi interpersonal bagi guru untuk lebih dekat dengan peserta didik dan meningkatkan suasana belajar mengajar.
Segehan Ongkara di Pura Taman Gandamayu dalam Upacara Bhuta Yadnya di Desa Adat Jasri Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem I Gede Sugiarka
Lampuhyang Vol 14 No 2 (2023)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v14i2.341

Abstract

Upacara Bhuta Yadnya (upacara yang berkaitan dengan alam semesta) sebagai salah satu cara menjaga keseimbangan alam semesta. Karena bertujuan untuk pembersihan terhadap tempat (alam) dari gangguan dan pengaruh-pengaruh buruk, sehingga sifat baik dan kekuatannya dapat berguna bagi kesejahteraan umat manusia dan alam. Perlu keharmonisan itu dijaga dengan mengadakan upacara bhuta yadnya. Upacara pembersihan di halaman rumah dalam bhuta yadnya dilakukan dengan seperti mesegehan
Struktur Dan Ajaran Tattwa Dalam Teks Aji Maya Sandhi Sugiarka, I Gede
Lampuhyang Vol 15 No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Agama Hindu Amlapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47730/jurnallampuhyang.v15i2.383

Abstract

Banyaknya Ajaran Agama Hindu yang dituangkan dalam bentuk lontar berhasil disusun oleh penulis/sastrawan merupakan karya sastra yang mendukung dan memperkaya budaya Bali. Salah satu Lontar dari hasil terjemahan adalah Lontar Aji Maya Sandhi, yang inti ajarannya belum dapat dipahami oleh masyarakat secara umum. Disebabkan karena rendahnya minat dan bahasa yang digunakan dalam lontar tersebut memakai bahasa jawa kuno, walaupun ada beberapa lontar yang sudah dialih bahasakan ke dalam bahasa bali maupun bahasa Indonesia, tetapi masyarakat maasih belum mengerti dan paham tentang makna serta ajaran-ajaran yang terkandung dalam lontar tersebut. Maka sebagai kalangan akdemis yang berkecimpung dalam bidang pendidikan khususnya pendidikan Agama Hindu merasa terpanggil dan berminat untuk menggali, mengkaji, serta mengungkap ajaran-ajaran yang terkandung dalam lontar tersebut Rumusan Masalah Bagaimanakah Struktur Forma Teks Aji Maya Sandhi? Bagimanakah Struktur Naratif Teks Aji Maya Sandhi?Ajaran Tattwa apa saja yang terkandung dalam Teks Aji Maya Sandhi? Jenis metode penelitian yang diguakan adalah metode kualitatif .Dalam penelitian sastra, penelitian ini menggunakan metode kualitatif.Penelitian ini menggunakan pendekatan empiris atau metode non ekspirimen, Jenis dan Sumber Data Jenis data yang dipergunakan adalah data kualitatif. Sumber data merupakan penentuan sumber-sumber informasi yang nantinya dapat digunakan dalam menguji hipotesis. Dalam penelitian ini metode yang dipergunakan adalah pencatatan dokumen atau kepustakaan. Penelitian ini dipergunakan metode analisa nos statistik atau pengolahan data secara deskriptif
Aksara Bali dalam Konteks Multikulturalisme: Menjaga Warisan Lokal di Tengah Globalisasi Brahmandika, Pande Gede; Sugiarka, I Gede
Dharma Sastra : Jurnal Penelitian Bahasa dan Sastra Daerah Vol 4 No 2 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/ds.v4i2.4008

Abstract

Balinese script is one of the cultural heritages that plays an important role in maintaining the cultural identity of the Balinese people. In the midst of increasingly strong globalization, the existence of Balinese script faces various challenges, including the influence of foreign cultures and changes in local values. This article aims to explore how Balinese script can be maintained and developed in the context of increasingly complex multiculturalism. Through a qualitative approach, this study analyzes various efforts to preserve Balinese script involving education, communities, and the role of modern technology. The results of the analysis show that the integration of Balinese script in the education system, the use of digital technology, and support from local communities and the government are key to maintaining the sustainability of this cultural heritage. This article also highlights the importance of collective awareness in preserving Balinese script as a symbol of unique and valuable cultural identity amidst global cultural diversity
Designing Etnopedagogy: The Philosophy of Tri Hita Karana as The Foundation of Educational Values Metera, I Gde Made; Sugiarka, I Gede; Sukrayasa, I Wayan; Widyastuti, Ni Putu; Rumbay, Christar Arstilo
Advances In Social Humanities Research Vol. 3 No. 3 (2025): Advances In Social Humanities Research
Publisher : Sahabat Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/adv.v3i3.356

Abstract

Education based on local wisdom plays an essential role in shaping students' character in alignment with cultural values. The Tri Hita Karana philosophy, a fundamental concept in Balinese society, emphasizes the balance of relationships between humans and God (Parahyangan), humans and their fellow beings (Pawongan), and humans and nature (Palemahan). This research aims to design and develop an ethnopedagogical concept based on Tri Hita Karana as the foundation of educational values. The research method used is qualitative descriptive with a constructive approach, involving literature studies, interviews with cultural figures and educators, as well as observations of educational practices in Bali. The findings indicate that the implementation of Tri Hita Karana values in education can be carried out through three main approaches: developing a curriculum based on local wisdom, integrating Tri Hita Karana values into existing subjects, and implementing educational programs oriented toward social, environmental, and spiritual balance. By incorporating the Tri Hita Karana philosophy into the education system, students not only acquire academic knowledge but also develop an awareness of the importance of maintaining harmony in life. In conclusion, ethnopedagogy based on Tri Hita Karana has great potential in strengthening character education and shaping a generation with balanced intellectual, social, and spiritual intelligence.
Eksistensi dan Adaptasi Hindu di Era Disrupsi Digital Studi kasus Masyarakat Desa Penglipuran Nurhayanti, Ketut; Sugiarka, I Gede
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 3 No. 6 (2025): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v3i6.360

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang semakin masif memberikan perubahan signifikan terhadap eksistensi, adaptasi praktik tradisi dan budaya agama Hindu masyarakat Bali yang mengintegrasikan nilai-nilai religius dengan kehidupan sosial sehari-hari. Perlunya untuk terus beradaptasi terhadap perkembangan jaman tanpa harus melupakan tradisi dan budaya. Penelitian ini akan mendeskripsikan eksistensi dan adaptasi Desa Penglipuran sebagai Desa Wisata yang banyak melakukan interaksi sosial dan budaya karena pariwisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kepustakaan dan wawancara. Hasil penelitian ini adalah masyarakat Desa Wisata Penglipuran menerapkan ajaran Tri Hita Karana yaitu prahyangan, pawongan dan palemahan sebagai landasan mengelola pariwisata sehingga tercermin dalam kehidupan setiap hari masyarakatnya. Desa Wisata menggunakan platform digital Instagram, Facebook, dan Youtube untuk mempromosikan eksistensi Desa Wisata Penglipuran, penggunaan platform digital sebagai bagian dari adaptasi Desa Wisata Penglipuran terhadap perkembangan jaman. Dalam pengelolaan Desa Wisata Penglipuran juga menggunakan transaksi melalui QRISS untuk mempermudah wisatawan pada saat pembelian tiket masuk ke Desa Wisata Penglipuran.
Application of Ethnopedagogy in Education, Especially Learning in School Sugiarka, I Gede
Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 3 No. 8 (2025): Enrichment: Journal of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : International Journal Labs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55324/enrichment.v3i8.539

Abstract

Ethnopedagogy is a form of learning actualization that focuses on instilling local wisdom values in the educational process. This study aims to explore the concept, implementation, and barriers of ethnopedagogy. As a pedagogical approach, ethnopedagogy in elementary schools needs to be implemented through innovative learning strategies and media in order to attract students' attention and foster a love for local culture. This study used a mixed methods approach with a concurrent triangulation strategy to obtain comprehensive data. The results show that the application of ethnopedagogy through learning media based on local wisdom is proven to be more effective in increasing student engagement and understanding of cultural values. Learning activities packaged in the form of traditional games and contextual media are able to create an active, creative, effective, and enjoyable learning atmosphere. Thus, ethnopedagogy can be optimally implemented when presented through innovative learning activities rooted in local potential. The research implies that for ethnopedagogy to be optimized, a more mature conceptual framework and collaborative efforts between universities, schools, and the government are necessary to strengthen its application and distinguish it from similar educational approaches.
The Role Of The Vedas In Forming Ethical And Humanistic Personality Sugiarka, I Gede
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 5 No. 11 (2025): Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v5i11.52339

Abstract

The Vedas, as the primary source of Hindu teachings, contain universal values that guide human beings toward ethical and humanistic living. This article aims to examine the role of the Vedas in shaping an ethical and humanistic personality. Using a qualitative descriptive approach, this study analyzes Vedic texts, religious literature, and modern theories of ethics and humanism. The findings reveal that the Vedas emphasize the balance between spirituality and morality through the principles of dharma, satya, ahimsa, and tat tvam asi. These values serve as the foundation for forming individuals who are empathetic, just, and respectful of life. This study highlights that the Vedas not only regulate the relationship between humans and God but also provide an ethical framework for building a dignified and civilized society.