Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Pemanfaatan ekstrak wuru ketek (Myrica Javanica Reinw. Ex Bl.) sebagai sabun antiseptik Adrianto, Dimas; Adiana, Sylvi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 3 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i3.1379

Abstract

Tanaman wuru ketek (Myrica Javanica) mengandung senyawa flavonoid (mirisetin dan kuersetin) maupun flavonoid glikosidanya [mirisitrin (mirisetin 3-O-rhamnoside)]; terpenoid (3-epi-ursolic acid,3-O-(E)-caffeoylursonic acid); saponin (arjunolic acid) diperoleh dari daun. Tanaman Myrica javanica berkhasiat sebagai: antiinflamasi, analgesik, antitumor, hepatoprotektor, antidiabetes dan antibakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan cara uji efektifitas antibakteri dari ekstrak wuru ketek sebagai antibakteri dan memformulasi sediaan sabun padat dengan bahan aktif ekstrak wuru ketek sebagai antiseptik terhadap bakteri S. aureus. Metode penelitian ini dilakukan penelitian eksperimen dengan menentukan efektifitas antiseptik dari ekstrak wuru ketek menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri S. aureus, dilanjutkan dengan pembuatan sediaan sabun padat ekstrak wuru ketek. Evaluasi terhadap sediaan sabun meliputi uji organoleptis, pH, homogenitas, asam bebas, diameter daya hambat, iritasi, dan ketinggian busa. Berdasarkan hasil penelitian sediaan sabun ekstrak wuru ketek memiliki aktifitas menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan DDH 25±0,01 mm termasuk kategori sangat kuat.
Tingkat pengetahuan mahasiswa farmasi Institut Kesehatan Hermina tentang air rebusan daun salam sebagai obat hipertensi Saputra, Tegar Bagus; Arianti, Varda; Adrianto, Dimas; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1631

Abstract

Pengetahuan merupakan pemahaman atau keterampilan yang diperoleh melalui pengalaman, pendidikan, atau pembelajaran. Pengetahuan tentang bahan alam mencakup informasi mengenai senyawa yang dihasilkan oleh organisme hidup seperti tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme. Mahasiswa farmasi sebagai calon tenaga kesehatan dituntut memiliki pemahaman yang komprehensif terhadap obat modern maupun obat tradisional untuk mendukung praktik kefarmasian yang aman dan berbasis bukti. Daun salam (Syzygium polyanthum) adalah salah satu tanaman herbal yang umum digunakan, kaya akan metabolit sekunder, dan memiliki efek farmakologis sebagai obat tradisional, termasuk terapi hipertensi. pentingnya pemahaman mahasiswa farmasi terhadap pemanfaatan tanaman herbal serta belum adanya penelitian yang secara khusus mengkaji pengetahuan mahasiswa farmasi mengenai air rebusan daun salam, dilakukan penelitian berjudul Pengetahuan Mahasiswa Farmasi Institut Kesehatan Hermina tentang Air Rebusan Daun Salam sebagai Obat Hipertensi. Penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif dengan instrumen berupa kuisioner yang terdiri dari 10 pernyataan. Data dianalisis menggunakan SPSS melalui uji validitas(r table =0,235) dan reliabilitas(α =0,530). Hasil dari 67 responden menunjukkan tingkat pengetahuan terbagi menjadi tiga kategori: Baik (66%), Cukup (22%), dan Kurang (12%).
Perbandingan standarisasi ekstrak daun teh hijau (Camellia sinensis L.) dengan pelarut yang berbeda Pratama, Arya Yudha; Arianti, Varda; Adrianto, Dimas; Krismayadi, Krismayadi
Indonesian Journal of Health Science Vol 4 No 6s (2024): Mewujudkan Indonesia Sehat: Transformasi Sistem Kesehatan di Era Baru
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v4i6s.1176

Abstract

Teh hijau (Camellia sinensis L. Kuntze) adalah salah satu tanaman yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Teh hijau dikenal sebagai minuman herbal berkhasiat tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai parameter spesifik dan non spesifik serta kandungan metabolit sekunder pada ekstrak etanol dan aquadest teh hijau. Ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% dan aquadest. Jenis penelitian eksperimental. Hasil ekstrak didapatkan  rendemen etanol 31% dan aquadest 28%. Pada hasil penetapan parameter spesifik dan non spesifik menunjukkan bahwa ekstrak teh hijau  pada pengujian organoleptik didapatkan hasil berbentuk kental, warna coklat, bau khas, rasa pahit sepat. kadar sari larut etanol pada ekstrak etanol 42%, ekstrak aquadest 45,4% dan kadar sari larut aquadest esktrak etanol 49% dan aquadest 50,1%. Hasil kandungan senyawa metabolit sekunder pada teh hijau mengandung flavonoid, tannin, saponin dan alkoloid. Hasil standarisasi parameter non spesifik pada ekstrak teh hijau, kadar air ekstrak etanol 2,0% ekstrak aquadest 2,2%, Kadar abu ekstrak etanol 6,4% ekstrak aquadest 8,6%, susut pengeringan ekstrak etanol 0,14% ekstrak aquadest 0,19%, sisa pelarut ekstrak etanol 0,9574, bobot jenis ekstrak etanol 0,97, ekstrak aquadest 0,96. Hasil dari standarisasi ekstrak teh hijau  dalam penelitian ini memenuhi persyaratan.  
Formulasi sediaan sabun padat ekstrak Wuru Ketek (Myrica javanica Reinw. ex Bl) dengan basis minyak nabati dan minyak hewani Ardiyansyah, Muhamad; Adrianto, Dimas; Fakhriah, Amalina; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1611

Abstract

Tanaman Wuru Ketek (Myrica javanica reinw. ex. Bl) berpotensi menghambat Pertumbuhan bakteri serta dapat digunakan untuk pembuatan beberapa sediaan Untuk kehidupan sehari-hari, salah satunya sediaan sabun padat. Tujuan penelitian Ini adalah untuk mengetahui formulasi sediaan sabun padat Ekstrak Wuru Ketek (Myrica Javanica Reinw. ex. Bl.) menggunakan metode eksperimental dengan Desain trial. F0 tidak mengandung Ekstrak Wuru Ketek, sedangkan F1, F2, dan F3 Masing-masing mengandung Ekstrak Wuru Ketek sebesar 5%, 7,5%, dan 10% serta Melakukan uji skrining dan evaluasi fisik sediaan sabun padat yang mencakup uji Organoleptik, uji homogenitas, uji pH, uji stabilitas busa, dan uji aktivitas Antibakteri. Formulasi tersebut menunjukan bahwa tidak terjadi perubahan Organoleptik dan homogenitas, serta memenuhi standar pH 9-11 dan tinggi busa 1,3 Cm – 22 cm serta hasil uji aktivitas antibakteri diperoleh hasil diameter zona hambat 5 – 19 mm (sedang) hingga ≥20 mm (sangat kuat) terhadap bakteri Staphylococcus aureus.
Formulasi dan evaluasi ekstrak daun wuru ketek dalam pasta gigi sebagai anti bakteri Cedric, Alif; Adrianto, Dimas; Arianti, Varda; Fakriah, Amalina
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 5 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i5.1700

Abstract

The wuru ketek plant (shrub/small tree) contains antibacterial substances, making it a potential alternative for toothpaste formulation. Toothpaste functions as a cleaning cosmetic, mouth freshener, and caries prevention. Caries itself is caused by demineralization of the tooth surface due to bacterial growth, one of which is Staphylococcus aureus. This study focuses on the effectiveness of wuru ketek leaf extract in toothpaste formulation. The results of the antibacterial test showed varying inhibition zones: formula 1 was 10.25 mm, formula 2 was 17.25 mm, and formula 3 was 14.20 mm. In addition, physical evaluation of toothpaste (including organoleptic, homogeneity, spreadability, pH, foam height, and viscosity) was carried out through accelerated stability tests at extreme temperatures, room, and controlled for 45 days. All physical parameters of the preparation have met the requirements. Tanaman wuru ketek (perdu/pohon kecil) mengandung zat antibakteri, menjadikannya alternatif potensial untuk formulasi pasta gigi. Pasta gigi berfungsi sebagai kosmetik pembersih, penyegar mulut, dan pencegah karies gigi. Karies gigi sendiri disebabkan oleh demineralisasi permukaan gigi akibat pertumbuhan bakteri, salah satunya Staphylococcus aureus. Penelitian ini berfokus pada efektivitas ekstrak daun wuru ketek dalam formulasi pasta gigi. Hasil uji antibakteri menunjukkan zona hambat yang bervariasi: formula 1 sebesar 10,25 mm, formula 2 sebesar 17,25 mm, dan formula 3 sebesar 14,20 mm. Selain itu, evaluasi fisik pasta gigi meliputi (organoleptis, homogenitas, daya sebar, pH, tinggi busa, dan viskositas) dilakukan melalui uji stabilitas dipercepat pada suhu ekstrem, ruang, dan terkontrol selama 45 hari. Semua parameter fisik sediaan tersebut telah memenuhi persyaratan.
Identifikasi senyawa Asam Askorbat dan evaluasi formulasi sediaan Sheet Mask sari buah jambu biji merah (Psidium Guajava Var. Pomifera) Handayani, Yulin Tristi; Adrianto, Dimas; Fakhriah, Amalina; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 5 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i5.1722

Abstract

Perawatan kulit wajah dengan menggunakan kosmetik khususnya masker wajah, salah satunya jenis masker yang populer saat ini adalah masker sheet. Masker sheet semakin populer karena kemampuannya dalam menyalurkan bahan aktif dan kemudahan penggunaan. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi kandungan asam askorbat dalam sari buah jambu biji merah (Psidium guajava var. pomifera) serta mengevaluasi stabilitas masker sheet berbahan aktif sari buah tersebut. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menguji empat formulasi (F0–F3) secara organoleptik, homogenitas, pH, dan viskositas pada suhu ruang, dingin, dan hangat selama 4 minggu. Hasil menunjukkan bahwa sari jambu biji merah mengandung asam askorbat, dan formula F3 paling stabil pada suhu ruang dan dingin, dengan viskositas (230-1,150 cPs) dan pH (4,5-8,0) sesuai standar SNI. Kesimpulannya, sari buah jambu biji merah berpotensi sebagai bahan aktif alami dalam sheet mask, dengan penyimpanan suhu rendah untuk menjaga kestabilan.
Inovasi pemanfaatan limbah kulit Jeruk Peras (Citrus nobillis L) dalam pembuatan formulasi sediaan sampo padat Nugroho, Haryo Bayu; Adrianto, Dimas; Fakhriah, Amalina; Arianti, Varda
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1776

Abstract

Kulit jeruk merupakan salah satu limbah organik yang berpotensi dimanfaatkan karena kandungan minyak atsirinya yang kaya senyawa aktif seperti limonene, linalool, sitronelal, dan geraniol, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid, alkaloid, terpenoid, tanin, dan saponin yang memiliki aktivitas antibakteri dan antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk membuat sediaan sampo padat dari minyak atsiri kulit jeruk peras serta mengevaluasi efektivitas antibakterinya. Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan tiga formulasi yang mengandung 0%, 10% dan 20% minyak atsiri kulit jeruk peras. Evaluasi dilakukan melalui uji sifat fisik, uji kimia, dan uji aktivitas antibakteri. Hasil menunjukkan bahwa sediaan homogen, terjadi perubahan warna dan pH akibat perlakuan suhu panas, serta tinggi busa memenuhi standar yaitu antara 1,3–22 cm. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan zona hambat sebesar 13,5 - 22,18 mm terhadap bakteri Staphylococcus aureus, yang tergolong dalam kategori kuat – sangat kuat. Hasil ini menunjukkan bahwa minyak atsiri kulit jeruk peras berpotensi digunakan sebagai bahan antibakteri dalam sediaan sampo padat.
Uji aktivitas antibakteri sediaan masker bubuk ekstrak etanol Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Propionibacterium Acne Fakhriah, Amalina; Nurjannah, Selfia Irma; Adrianto, Dimas; Maulina, Devi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 6 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i6.1812

Abstract

Penelitian ini bertujuan menguji aktivitas antibakteri sediaan masker serbuk dari ekstrak etanol daun pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Propionibacterium acnes, bakteri utama penyebab jerawat. Ekstrak diperoleh melalui metode maserasi menggunakan etanol 96%, kemudian diuji selama 24 jam aktivitas antibakterinya menggunakan metode difusi cakram. Hasil menunjukkan bahwa sediaan masker bubuk ekstrak etanol daun pepaya memiliki konsentrasi 20%, 40%, 60%, dan 80%. Aktivitas antibakteri dengan zona hambat tertinggi pada konsentrasi 80% sebesar 18.57 mm, yang tergolong dalam kategori kuat. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok perlakuan, yakni menggunakan uji normalitas dan uji kruskal-wallis. Skrining fitokimia menunjukkan adanya senyawa aktif seperti alkaloid, tanin, flavonoid, saponin, dan steroid yang berkontribusi terhadap aktivitas antibakteri. Meskipun daya hambatnya masih lebih rendah dibandingkan kontrol positif (klindamisin), hasil ini menunjukkan potensi penggunaan ekstrak daun pepaya dalam formulasi produk kosmetik alami untuk perawatan kulit berjerawat.