Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Evaluasi Pewarnaan Alcian Blue Terhadap Sel Mast Jaringan Ikat dari Preparat Beku Jaringan Kulit Kaki Tikus Agung Endro Nugroho; Kazutaka Maeyama
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 08 No. 02 Agustus 2011
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3700.146 KB)

Abstract

Alcian blue merupakan pewarna golongan phthalosianin tembaga yang digunakan dalam pewarnaan asam mukopolisakarida dan proteoglikan jaringan ikat. Alcian blue mengandung empat gugus tetrametillisothiouronium yang bermuatan positif (tetrakationik) yang berikat secara elektrostatik dengan muatan negatif dari glikoaminoglikan (heparin). Alcian blue tidak mewarnai semua sel mast. Hal ini kemungkinan karena sisi anionik dari heparin terlindungi oleh protein, atau ikatan kompleks dalam granul sel mast sangat kuat. Safranin sering digunakan sebagai pewarna lanjutan sebagai kombinasi alcian blue dengan safranin untuk mewarnai articular cartilage proteoglikan pada pengamatan histologi.Pewarna tunggal aclian blue terhadap sel mast jaringan ikat memberikan warna biru langit hingga hijau, sedangkan pewarna alcian blue-safranin memberikan warna biru langit hingga hijau, sedangkan pewarnaan alcian blue-safranin memberikann variasi warna yaitu biru, merah dan campuran kedua warna tersebut. Sel mast akan teramati cukup jelas pada pewarnaan toluidine blue dibandingkan dengan pewarnaan alcian blue. Namun, pada pewarnaan alcian blue terutama alcian blue-safranin, jumlah sel mast jaringan ikat yang teramati lebih banyak dibandingkan pewarnaan toluidine blue.
Validasi Metode Spektrofotometri UV-VIS Untuk Studi Kelarutan Pentagamavunon-0 di dalam Pembawa Self-Nanoemulsifying Drug Delivery System Ika Yuni Astuti; Marchaban Marchaban; Ronny Martien; Agung Endro Nugroho
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 14 No. 01 Juli 2017
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (912.003 KB)

Abstract

Pentagamavunon-0 memiliki aktivitas anti-inflamasi yang tinggi namun kelarutan dan absorpsinya kurang, yang dapat diperbaiki dengan formulasi SNEDDS. Salah satu parameter penting optimasi SNEDDS adalah kelarutan PGV-0 dalam berbagai minyak, surfaktan, co-surfaktan dan pada produk akhir. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode spektrofotometri UV-Vis yang sederhana dan murah untuk perhitungan PGV-0 dalam formulasi SNEDDS. Pengujian dilakukan dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis, metanol sebagai pelarut dan deteksi sinar tampak dilakukan pada panjang gelombang 419 nm. Linieritas, batas deteksi (LOD), batas kuantitas (LOQ), presisi, dan keakuratan metode tersebut ditentukan. Studi kelarutan dilakukan dengan metode shake flask termodifikasi, menggunakan labrasol sebagai model pembawa. PGV-0 yang tidak larut dipisahkan dan dibersihkan dari filtrat, dihitung dengan spektrofotometri UV-Vis yang telah divalidasi, dan kelarutan PGV-0 ditentukan. Pengukuran validasi dilakukan pada kisaran 1-8 ppm. Hasil penelitian menunjukkan adanya linieritas yang baik dengan r=0,99949, LOD=0,29 ppm, dan LOQ=0,95 ppm. Keakuratan yang dinyatakan sebagai perolehan kembali=98,32-100,74%. Presisi metode ini baik (RSD=1,29-1,93%). Perolehan kembali hasil kelarutan PGV-0 yang diperoleh dari metode spektrofotometri UV-Vis ini dibandingkan dengan kelarutan sampel yang sama yang diperoleh dari metode standar HPLC untuk perhitungan PGV-0 adalah 100,02% yang mengindikasikan keakuratan yang baik.
EVALUASI POLA PENGGUNAAN OBAT DALAM TERAPI PASIEN KETERGANTUNGAN NARKOTIKA DI SEBUAH RUMAH SAKIT DI DIY Nurul Maziyyah; Agung Endro Nugroho
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 09 No. 01 April 2012
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pji.v9i1.689

Abstract

ABSTRAK Narkotika sebagai salah satu obat pengurang nyeri dalam dunia medis, sering disalahgunakan oleh masyarakat karena efek lain yang ditimbulkan. Tidak jarang penyalahgunaan ini menimbulkan sifat ketergantungan terhadap penggunaan narkotika yang dapat mengakibatkan berbagai kondisi klinis yang merugikan bagi pemakainya. Oleh karena itu diperlukan tatalaksana terapi yang tepat untuk menanggulangi kondisi klinis yang diderita pasien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memberi gambaran serta mengevaluasi penggunaan obat pada penatalaksanaan terapi pasien ketergantungan narkotika yang menjalani perawatan di sebuah Rumah Sakit di DIY selama periode Januari hingga Desember 2009. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian non-eksperimental secara deskriptif analitik dengan mengambil data secara retrospektif. Data dari rekam medik pasien dikumpulkan dan dianalisis mengenai terapi obat yang diberikan pada tiap pasien dengan mengacu pada standar yang digunakan dalam penelitian, yaitu SPM RS, UK Guideline, WHO Guideline, NICE Guideline, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach edisi ke-7, Drug Information Handbook, dan IONI. Analisis meliputi ketepatan indikasi, ketepatan obat, ketepatan dosis, dan ketepatan pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terapi ketergantungan narkotika yang dilakukan di Rumah Sakit selama tahun 2009 meliputi terapi ketergantungan opioid yang berupa terapi substitusi opioid dengan sediaan buprenorfin dan kombinasi buprenorfin-nalokson, terapi simtomatik, dan terapi suportif, serta terapi ketergantungan stimulansia yang berupa terapi simtomatik, terapi suportif, dan terapi komplikasi akibat penyalahgunaan stimulansia. Hasil evaluasi penggunaan obat pada terapi pasien ketergantungan narkotika di Rumah Sakit selama tahun 2009 menunjukkan ketepatan indikasi sebesar 55,88 %, ketepatan pemilihan obat sebesar 55,88 %, ketepatan regimen dosis sebesar 50,00 %, serta ketepatan pasien terhadap terapi yang diberikan sebesar 100 %. Ketepatan penggunaan obat, baik tepat indikasi, tepat obat, tepat dosis, dan tepat pasien terlihat pada 15 kasus pasien atau sebesar 44,12 % dari seluruh kasus yang dievaluasi. Kata Kunci: ketergantungan, narkotika, evaluasi, terapi ABSTRACT Narcotic as a pain killer drug has been often misused intentionally because of other effects it possesses. This drug abuse behavior has often cause dependency toward narcotic usage, which could lead to various unwanted clinical conditions for the users. Therefore, an appropriate therapy procedure is necessary to overcome these clinical conditions. The objective of this study is to give a description and evaluation on drug usage in the therapy of narcotic dependence patients’ ongoing medication in a hospital in DIY from January until December 2009. This study used a nonexperimental design study with analitical descriptive method by obtaining data retrospectively. Data from patients’ medical record was collected and analyzed about the medication given to each patient by refering to the standards used in this study, which is The Hospital’s Medical Service Standard, UK Guideline, WHO Guideline, NICE Guideline, Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach 7th edition, Drug Information Handbook, and IONI. The analysis included appropriate indication, appropriate drug, appropriate dosage, and appropriate patient. The result of the study showed that narcotic dependence therapy in the hospital during 2009 included opioid dependence therapy in the form of opioid substitution therapy with buprenorfin alone and in combination with nalokson, symptomatic therapy, and supportive therapy, and stimulant dependence therapy in the form of symptomatic therapy, supportive therapy, and complication therapy due to stimulant abuse. The result of evaluation on drug usage in narcotic dependence patients in the hospital during 2009 showed 55,88% of appropriate indication, 55,88% for appropriate drug selection, 50,00% appropriate dosage regimen, and 100% for appropriate patients. Appropriate drug usage, which includes appropriate indication, appropriate drug, appropriate dosage, and appropriate patient was seen in 15 cases or 44,12% from all cases evaluated. Keywords: dependence, narcotic, evaluation, therapy
AKTIVITAS ANTIDIABETES FRAKSI n-HEKSAN EKSTRAK ETANOL DAUN LENGLENGAN (Leucas lavandulifolia JE. Smith) PADA TIKUS NEONATAL STZ-INDUCED TYPE-2 DIABETES MELLITUS Yance Anas; Risha Fillah Fithria; Maulita Cut Nuria; Yunita Midkha; Agung Endro Nugroho; Puji Astuti
Jurnal Ilmu Farmasi dan Farmasi Klinik Prosiding Seminar Nasional "Perkembangan Terbaru Pemanfaatan Herbal Sebagai Agen Preventif Pada Tera
Publisher : Universitas Wahid Hasyim Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.035 KB) | DOI: 10.31942/jiffk.v0i0.1198

Abstract

ABSTRAK Dalam penelitian ini, kami melakukan fraksinasi ekstrak etanol daun lenglengan dengan pelarut n-heksan untuk menyederhanakan kandungan zat aktif yang terkandung di dalamnya dan mengevaluasi efek antidiabetesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek antidiabetes fraksi n-heksan ekstrak etanol daun lenglengan (FHDL) pada tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus. STZ 90 μg/KgBB diberikan secara i.p pada 35 ekor anak tikus galur Wistar umur 2 hari.  Pada usia 3 bulan, dilakukan pengukuran kadar glukosa pre-prandial dan post-prandial. Sebanyak 25 ekor tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus dikelompokkan ke dalam lima kelompok perlakuan, terdiri dari kelompok kontrol diabetes (CMC-Na 0,5%; 25 mL/KgBB), kelompok glibenklamid 5 mg/KgBB dan tiga kelompok FHDL (62,5; 125 and 250) mg/KgBB. Sediaan uji diberikan selama 28 hari. Kadar glukosa darah pre-prandial dan post-prandial diukur pada hari ke-0, 7, 14 dan 28. FHDL secara signifikan berhasil menurunkan kadar glukosa darah pre-prandial dan post-prandial tikus neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus (p<0,05). Perlakuan FHDL 62,5 mg/KgBB selama 28 hari memiliki efek antidiabetes yang tinggi, yaitu mampu  menurunkan kadar glukosa darah pre-prandial tikus sebesar 45,99%. Perlakuan FHDL 250 mg/KgBB juga signifikan menurunkan kadar glukosa darah post-prandial tikus (p<0,05) dengan efek antidiabetes pada hari ke-7, 14 dan 28 berturut-turut adalah sebesar 19,28%; 22,68% dan 24,92%. Kata Kunci: Daun Lenglengan, Efek Antidiabetes, Fraksi n-Heksan, Neonatal STZ-induced type-2 diabetes mellitus
UJI EFEK HIPOGLIKEMIK GETAH DAN GEL DAUN LIDAH BUAYA [ALOE VERA (L.) BURM. F.] PADA TIKUS YANG TERINDUKSI STREPTOZOTOSIN Mega Karina Putri; Suwidjiyo Pramono; Agung Endro Nugroho
JURNAL FARMASI DAN KESEHATAN INDONESIA Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Farmasi dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Universitas Kristen Immanuel

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61179/jfki.v1i1.143

Abstract

Hiperglikemik merupakan salah satu ciri diabetes mellitus (DM). Penanganan DM agarkadar glukosa darah dapat terkontrol, dilakukan dengan memperhatikan life style dankonsumsi obat, baik sintetik maupun berasal dari tanaman. Salah satu tanaman yang dapatdigunakan adalah lidah buaya [Aloe vera (L.) Burm. f.]. Namun, di dalam lidah buayaterkandung antrakinon, yang mempunyai efek samping berupa laksatif. Untukmenghindari efek tersebut, dilakukan perlakuan dengan memisahkan gel dan getah daunlidah buaya, kemudian dilakukan optimasi dan kombinasi dosis gel dan getah daun lidahbuaya. Kedua ekstrak tersebut kemudian diuji efek farmakologinya dengan parameterkadar glukosa darah. Uji farmakologi dilakukan selama 21 hari pada 40 ekor tikus jantangalur wistar. Sampling darah dilakukan ketika tikus berumur 7, 8, 9 dan 10 minggu.Sampling darah dilakukan dengan pengambilan preprandial dan postprandial. Data kadarglukosa darah yang diperoleh dianalisis statistik dengan uji One way ANOVA. Uji kadarglukosa menunjukkan bahwa gel daun lidah buaya memberikan % potensi penurunankadar glukosa darah preprandial tertinggi yaitu 33,32±1,21%. Dosis getah yangdiberikan, baik tunggal maupun kombinasi dengan gel tidak ditemukan adanya efeksamping laksatif.