Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

LEVEL OF KNOWLEDGE ABOUT STORAGE AND DISPOSAL OF MEDICINE AT HOME IN THE COMMUNITY OF BANJARBARU CITY, SOUTH KALIMANTAN Okta Muthia Sari; Khoerul Anwar; Indah Pebriani Putri
Cendekia Journal of Pharmacy Vol 5, No 2 (2021): Cendekia Journal of Pharmacy
Publisher : STIKES Cendekia Utama Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31596/cjp.v5i2.141

Abstract

In Indonesia, the percentage of household-scale drug storage is quite large. People keep drugs for self-medication. Drugs should not be stored carelessly because it will affect the stability of the drug. In addition, the improper disposal of drugs still occurs in the community. Improper disposal of drugs can harm the environment. It is important for the public to have the correct knowledge regarding drugs in order to avoid the adverse health effects of themselves and the environment. The purpose of this study was to describe the level of knowledge of the people of Banjarbaru City about the storage and disposal of drugs at home. This research is descriptive analytic cross sectional approach with sampling technique using quota sampling. The population of this research is the entire community of Banjarbaru City, South Kalimantan. The sample size used in this study based on the Lemeshow sample calculation formula was 247 respondents. The data was taken with a validated questionnaire. The data obtained were analyzed using percentages. A total of 247 respondents met the inclusion criteria. The results showed that the majority of them were 38-47 years old, had high school and college education and worked as housewives. The level of knowledge of the people of Banjarbaru City about storing medicines at home is 39.2% less knowledge, 44.5% sufficient knowledge and 16.1% good knowledge. The level of knowledge of the people of Banjarbaru City about disposing of drugs at home is 52.6% with poor knowledge, 40.5% sufficient knowledge and 6.8% good knowledge. The knowledge of the people of Banjarbaru City about storing drugs at home is included in the sufficient level (44.5%). While the knowledge of the people of Banjarbaru City about the disposal of drugs at home is included in the level of less (52.6%).
Profil Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Beberapa Tumbuhan Genus Artocarpus di Indonesia Ayu Ina Solichah; Khoerul Anwar; Abdul Rohman; Nanang Fakhrudin
Journal of Food and Pharmaceutical Sciences Vol 9, No 2 (2021): J.Food.Pharm.Sci
Publisher : Institute for Halal Industry and System (IHIS) Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jfps.2026

Abstract

Artocarpus merupakan tumbuhan genus utama keluarga Moraceae dengan jumlah spesies hampir 1.400. Beberapa spesies dari genus tersebut dapat dimanfaatkan sebagai makanan dan obat tradisional di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Jenis yang banyak tumbuh di Indonesia yaitu Artocarpus altilis (sukun), Artocarpus camansi (kluwih), Artocarpus heterophyllus (nangka), Artocarpus integer (cempedak), dan Artocarpus odoratissimus (tarap). Tumbuhan tersebut memiliki potensi sebagai bahan obat dan punya nilai gizi yang tinggi. Review ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan antar spesies, profil fitokimia, dan aktivitasnya sebagai antioksidan dari kelima tumbuhan tersebut. Narrative review ini ditulis berdasarkan penelusuran literatur yang berupa publikasi artikel penelitian yang ada di basis data Google Scholar, PubMed, dan Science Direct. Selain itu digunakan sumber pustaka lain berupa buku dan naskah tugas akhir untuk memperkaya isi artikel. Hasil kajian literatur terhadap 5 tumbuhan tersebut menunjukkan bahwa beberapa tumbuhan memiliki kemiripan morfologi daun walaupun secara fisik masih bisa dibedakan. Profil fitokimianya memiliki keunikan dengan kandungan utama berupa senyawa fenolik termasuk flavonoid, stilbenoid, arilbenzofuron, dan neolignan yang tersebar pada bagian daun, buah, bunga, dan kulit. Keunikan tersebut ditemui dengan adanya senyawa golongan flavonoid terprenilasi dan tergeranilasi. Senyawa fenolik tersebut mempunyai kemampuan sebagai antioksidan pada beberapa model uji dan potensial untuk dikembangakan sebagai antioksidan atau kandidat obat terutama untuk penyakit yang melibatkan mekanisme radikal bebas dalam mekanisme patofisiologinya.
ANALISIS PREVALENSI PARKINSONISME PADA PASIEN SKIZOFRENIA YANG MENDAPAT OBAT ANTIPSIKOTIK GENERASI PERTAMA: ANALYSIS OF PREVALENCE OF PARKINSONISM IN SCHIZOPHRENIC PATIENTS RECEIVING FIRST-GENERATION ANTIPSYCHOTIC DRUG Okta Muthia Sari; Noor Cahaya; Khoerul Anwar; Sandra Putri Wijaya
Medical Sains : Jurnal Ilmiah Kefarmasian Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Farmasi Muhammadiyah Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.205 KB) | DOI: 10.37874/ms.v7i1.271

Abstract

Antipsikotik generasi pertama secara luas diresepkan untuk pengobatan skizofrenia, efek terapeutiknya juga dikaitkan dengan efek samping movement disorders seperti parkinsonisme. Tujuan dari penelitian ini untuk menilai prevalensi parkinsonisme pada pasien skizofrenia yang menjalani pengobatan antipsikotik generasi pertama dan untuk menganalisis antipsikotik mana yang terkait dengan prevalensi parkinsonisme. Ini adalah studi potong lintang berbasis rumah sakit yang dilakukan di rawat inap Rumah Sakit Jiwa Sambang Lihum, Kalimantan Selatan, Indonesia. Pengumpulan data dilakukan secara retrospektif selama periode tahun 2018. Sebanyak 71 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 33 (46,5%) pasien yang menerima antipsikotik generasi pertama mengalami parkinsonisme. Karakteristik pasien dalam penelitian ini mayoritas jenis kelamin laki-laki (76,1%) dan berumur 20-45 tahun (84,5%). Haloperidol antipsikotik generasi pertama yang paling banyak digunakan (56.3%) diikuti oleh kombinasi klorpromazin-haloperidol (35.2%). Prevalensi parkinsonisme sebesar 46,5% pada pasien skizofrenia yang mendapat antipsikotik generasi pertama. Berdasarkan analisis, tidak ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan umur dengan parkinsonisme. Penggunaan haloperidol dibandingkan dengan klorpromazin-haloperidol menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan prevalensi parkinson (p <0.05). Kesimpulan dari penelitian ini, karakteristik pasien skizofrenia dalam penelitian mayoritas laki-laki dan berumur 20-45 tahun. Haloperidol merupakan antipsikotik generasi pertama yang paling banyak digunakan sebesar 56.3%. Prevalensi parkinsonisme pada pasien skizofrenia yang mendapat antipsikosis generasi pertama adalah 46,5%. Tidak ada hubungan yang signifikan antara parkinsonisme dan jenis kelamin atau umur pasien dalam penelitian ini Penggunaan haloperidol dikaitkan dengan prevalensi parkinsonisme dibandingkan dengan antipsikotik generasi pertama kombinasi klorpromazin dan haloperidol pada pasien skizofrenia.
ANALISIS KANDUNGAN FLAVONOID TOTAL EKSTRAK ETANOL DAUN BINJAI (Mangifera caesia Jack.) DAN PENGARUHNYA TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH TIKUS YANG DIINDUKSI FRUKTOSA-LEMAK TINGGI Khoerul Anwar; Fadlillaturrahmah Fadlillaturrahmah; Dwi Puspita Sari
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 2 No 1 (2017): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.291 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v2i1.79

Abstract

Daun binjai (Mangifera  caesia  Jack.)  mengandung  flavonoid yang berperan dalam menurunkan kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan menetapkan kadar flavonoid total dan menguji aktivitas ekstrak etanol daun M. caesia terhadap penurunan kadar glukosa darah pada tikus yang diberi diet fruktosa dan lemak tinggi. Serbuk daun M. caesia dimaserasi menggunakan etanol 96%. Kadar  flavonoid  total ditetapkan dengan  metode spektrofotometri  UV-Vis  pada panjang gelombang 416 nm. Induksi diet fruktosa dan lemak tinggi dilakukan dengan pemberian larutan fruktosa 1,8 g/kg BB dan lemak tinggi (15% minyak jelantah dan 5% kuning telur bebek) 15 g/kg BB p.o selama 28 hari. Pada hari ke-29 tikus dikelompokkan sesuai perlakuannya. Kelompok 1 kontrol normal. Kelompok 2 kontrol negatif (CMC-Na 0,5%). Kelompok 3 kontrol positif (metformin 45 mg/kg BB). Kelompok 4, 5 dan 6 berturut-turut diberikan ekstrak etanol  daun M. caesia (125, 250, dan 500 mg/kg BB). Pemberian perlakuan dilakukan selama 14 hari secara per oral sekali sehari. Hasil penelitian menunjukkan kadar flavonoid total ekstrak etanol daun M. caesia adalah 3,99±0,08%  b/b  ekivalen  kuersetin.  Ekstrak  etanol  daun M.  caesia dosis 125, 250, dan 500 mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah berbeda bermakna dengan kontrol negatif (p≤ 0,05) dan sebanding dengan kontrol positif metformin  45 mg/kg  BB (p> 0,05).
AKTIVITAS ANTIINFLAMASI EKSTRAK ETANOL UMBI TAWAS UT (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) PADA MENCIT SECARA TOPIKAL Deka Rotama; Noor Cahaya; Sudarsono Sudarsono; Agung Endro Nugroho; Khoerul Anwar
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 4 No 1 (2019): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.267 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v4i1.245

Abstract

Tawas ut tuber (Ampelocissus rubiginosa Lauterb.) contains of flavonoid, tanin, compound and saponin which is potentially anti-inflammatory. This objective of this research is to prove by effect giving extrak ethanol tawas ut tuber about effect anti-inflammatory topical based on consideration the fold of the skin and amount of cell neutrofil to mice which induced by carageenan. Thirty mice ware divided into 6 groups. They were normal control group (palacebo gel), positive control (Voltaren®), negative control (karagenin), and testing groups with gel extract concentrations of 0,5%, 1%, and 2%. Ethanol extract of Tawas ut tuber leaf applied, after back of test animals was induced by 0,2 ml of 3% carageenan, then every hour was measured for middosal skin fold thickness during 6 hours observation. The animal’s skin was cut off to perform test at 24 hours after treatment. The neutrophils migration was observed using hematoxylin and eosin (HE) stining method. The percentage result of inhibition (%PI) ethanol extrak of tawas ut tuber with concentration 0,5%, 1%, and 2% were 20,00%; 23,51%; and 24,92% respetively. The average result of netrofil total from ethanol extrak of tawas ut tuber with concentration 0,5%, 1% and 2% were 28,28; 20,88; and 16,24 respecively. Gel 2% posesses the most effective topical anti-inflammatory. Based on the result, it can be concluded that ethanol extrak of tawas ut tuber posesses anti-inflammatory in skin oedema of back of mice induced by carageenan.
Characterization of Ethanol Extract from Agarwood (Aquilaria microcarpa Baill.) Leaf Beny Rahmanto; Wawan Halwany; Fajar Lestari; Khoerul Anwar; Liling Triyasmono; Muhammad Ikhwan Rizki; Maman Turjaman
Jurnal Jamu Indonesia Vol. 3 No. 2 (2018): Jurnal Jamu Indonesia
Publisher : Tropical Biopharmaca Research Center, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (983.222 KB) | DOI: 10.29244/jji.v3i2.56

Abstract

The aim of this research is to determine the specific and non-specific parameter from ethanolic extract of A. microcarpa. Specific parameters such as the organoleptic properties, content of water and ethanol soluble compound, and chhromatogram profile of the extract. In contrast, the non-specific parameter includes drying losses, ash levels, microbiological contamination levels, and heavy metal contamination levels. The results showed that the organoleptic properties of ethanolic extract of A. microcarpa was thick, blackish brown color, bitter taste and have distinctive odor. The average content of water-soluble compounds of 66.93%, ethanol-soluble of 47.97%, and chromatogram profile with Rf 0.636. The non-specific parameters results were drying losses of 5.50%, total ash content of 3.73%, acid-insoluble ash of 2.13%, microbial contamination testing results of 1.2x102-5.5x103 colonies/g, and total mold/ yeast contaminants of 10-100 colonies/g. Heavy metal contamination Pb levels and Cd levels were 5.47 mg/kg and 0.19 mg/kg respectively. These studies suggested that the observed specific and non-specific parameters may be helpful for establishing pharmacopoeia standards of A. microcarpa and to ensure uniformity of extract effect.
RASIO KANDUNGAN KALIUM DAN NATRIUM DAUN SAMBUNG NYAWA (Gynura Procumbens (Lour.) Merr.) BERDASARKAN UMUR DAN CARA PENGOLAHAN Khairun Athiya; Sunardi Sunardi; Khoerul Anwar
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (356.422 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v10i2.3166

Abstract

Penerapan Smart Drying and Mixing Technology untuk Peningkatan Mutu dan Nilai Jual Kosmetika Tradisional Banjar Di Martapura khoerul Anwar; Agung Nugroho; Totok Wianto
Jurnal Pengabdian ILUNG (Inovasi Lahan Basah Unggul) Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/ilung.v2i1.4364

Abstract

Kosmetika herbal berbahan lokal saat ini semakin mendapatkan pasar dan tempat yang luas di pasar lokal. Salah satu yang faktor yang menyebabkan perubahan tren tersebut terkaitt kekhawatiran kemananan penggunaan bahan kimia dalam kosmetika jika digunakan secara terus menerus dalam jangka panjang. Beberapa jenis kosmetika tradisional Banjar adalah bedak basah, lulur cingkaruk, betimung dan ramuan jamu dari bahan alami. Pasar Martapura dikenal sebagai pusat ramuan khas Banjar, baik obat tradisional maupun kosmetika tradisional dan selalu ramai dengan penjualan komoditas tersebut. Permasalahan yang ada adalah pada pembuatan sediaan kosmetika tradisional tersebut yang masih manual dan masih memerlukan pembenahan untuk pengajuan notifikasi kosmetika pada BPOM. Dengan potensi yang dimiliki sebagai produk unggulan dari kota Martapura, tentunya hal ini perlu mendapat pembenahan. Diseminasi teknologi penggunaan smart drying and mixing technology diharapkan dapat meningkatkan mutu dan nilai jual kosmetika tradisional Banjar yang diproduksi oleh mitra UKM Lulur Sari Pengantin. Kegiatan ini diharapkan akan menjadi solusi yang baik terhadap permasalahan yang ada di mitra. Diseminasi teknologi yang akan dilakukan di antaranya adalah introduksi dan penggunaan teknologi mesin pengering cerdas, pengaduk, pengayak, pembenahan proses produksi agar lebih higienis, dan dilakukan inovasi kemasan serta cara pemasaran. Pembuatan kosmetika tradisional akan mengacu ke CPKB (Cara pembuatan kosmetika yang baik) yang dipersyaratkan BOPM untuk nantinya bisa mendapatkan notifikasi kosmetika. Transfer teknologi yang dilakukan kepada mitra berjalan dengan baik, sehingga terjadi peningkatan mutu dan produksi kosmetika tradisional serta peningkatan model sistem pemasaran berbasis on line.
Formulation and physical stability of syrup containing gaharu (Aquilaria microcarpa Baill.) leaves extract Mia Fitriana; Wawan Halwany; Yuni Kartika; Khoerul Anwar; Siswadi Siswadi; Muhammad Ikhwan Rizki; Beny Rahmanto; Susy Andriani
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 14, No 1 (2022)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v14i1.7647

Abstract

One of natural ingredients that has potential as herbal medicines is the leaves of agarwood-producing plants.  Opportunities for the development of agarwood-producing plants (Aquilaria microcrocarpa Baill.) as medicinal plants are still wide open. Ethanol extract of Aquilaria microcarpa Baill folium extract was made in the form of syrup preparations to facilitate use. This study aimed to formulate Gaharu folium extract into syrup preparations. The syrup preparations were made into 3 formulas with variations in the concentration of sorbitol as a sweetener, namely 60%; 63% and 65%. The three formulas were then evaluated including organoleptic test, viscosity test, pH test, homogeneity test and specific gravity test. The hedonic test was also carried out to determine which formula was the most preferred. The evaluation results showed that all syrup formulas met a good range of syrup requirements. From the results of the analysis of the preference test data, it could be concluded that all formulas had a level of acceptance that was not significantly different, but formula 2 had the highest total hedonic score compared to other formulas. Formula 2 also had the appropriate pH, viscosity and specific gravity as a syrup.
Skrining senyawa Eurycoma longifolia terhadap siklus sel dengan metode docking melalui interaksi cylcin Samsul Hadi; Khoerul Anwar; Noer Komari; Desiya Ramayanti Azhara; Diah Aulia Rosanti
Jurnal Ilmiah Farmasi Vol. 18 No. 2 (2022): Jurnal Ilmiah Farmasi
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/jif.vol18.iss2.art15

Abstract

Background: The community has known pasak bumi for generations to increase sexual desire in men (aphrodisiac). Besides, it can improve the performance of sports athletes and as an antistress, reduce tension, anger, and confusion. Objective: This relatively large number of uses encourages researchers to want to do in silico screening of active compounds against antitumors by going through 2 stages, namely through online PASS and docking. Method: Docking method to see the stability interaction of compounds with cyclin. In this test, Pyrx was used as a docking tool with various cell cycle-related targets, namely cyclin D3 (PDB ID: 3G33), cyclin A (PDB ID: IJSU), cyclin A (PDB ID, cyclin C (1ZP2), cyclin D (ID PDB: 2W9F), cyclin H (PDB ID: 1KXU), and cyclin T (PDB ID: 3BLR). Results: The docking result showed that each cyclin showed the best interaction with these compounds: Cyclin A and 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (-8.6 Kcal/mol), cyclin H and Niloticin (-8.0 Kcal/mol), cyclin D3 is 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (-7.2 Kcal/mol), cyclin D is Eurycolactone F (-8.4 Kcal/mol), cyclin C is and Niloticin (-7.5 Kcal/mol), and cyclin T and Niloticin (-8.2 Kcal/mol). Conclusion: Based on the docking score obtained, the stability of the interaction is predicted to occur in cyclin A and 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (ΔG: -8.6 Kcal/mol). Intisari Latar belakang: Pasak bumi telah dikenal oleh masyarakat secara turun-temurun untuk meningkatkan gairah seksual pada pria (afrodisiaka). Disamping itu dapat meningkatkan performa atlet olahraga dan sebagai antistress, menurunkan tegangan, kemarahan, dan kebingungan. Tujuan: Penggunaan yang relatif banyak ini mendorong peneliti berkeinginan melakukan skrining senyawa aktif terhadap antitumor secara in silico dengan melalui 2 tahap yaitu melalaui PASS online dan docking. Metode: Metode docking dipakai untuk melihat interaksi stabilitas senyawa dengan cylin. Dalam pengujian ini, Pyrx digunakan sebagai alat docking dengan berbagai target yang berhubungan dengan siklus sel, yaitu cyclin D3 (PDB ID: 3G33), cyclin A (PDB ID: IJSU), cyclin C (PDB ID: 1ZP2), cyclin D (ID PDB: 2W9F), cyclin H (ID PDB: 1KXU), dan cyclin T (ID PDB: 3BLR). Hasil: Hasil docking pada masing-masing cyclin menunjukkan interaksi terbaik dengan senyawa berikut ini: cyclin A dan 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (-8,6 Kkal/mol), cyclin H dan Niloticin (-8,0 Kkal/mol), cyclin D3 dan 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (-7,2 Kkal/mol), cyclin D dan Eurycolactone F (-8,4 Kkal/mol), cyclin C dan Niloticin (-7,5 Kkal/mol), serta cyclin T dan Niloticin (-8,2 Kkal/mol). Kesimpulan: Berdasarkan skor docking yang diperoleh, kestabilan interaksi diprediksi akan terjadi pada cyclin A dengan 9-Methoxycanthin-6-one 3-N-oxide (ΔG: -8.6 Kkal/mol).