Yosef Adityanto Aji
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : joged

Keluk: Kelembutan dan Kekuatan Desain Motif Pucuk Pakis Sebagai Tema Karya Tari Zulkipli Zulkipli; Yosef Adityanto Aji; Decirius Suharto
Joged Vol 20, No 2 (2022): OKTOBER 2022
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v20i2.8201

Abstract

ABSTRAKMotif Pucuk Pakis merupakan motif Dayak yang dapat dijumpai pada lukisan di rumah Betang, kostum wanita Dayak Iban, tato pada tubuh, tenun, anyaman, manik-manik, serta pahatan patung. Pada suku Dayak Iban di Kalimantan Barat, Pucuk Pakis atau Sulur dimaknai sebagai “Cikal Bakal Kehidupan Yang Baru”. Bentuk motif Pucuk Pakis atau Sulur memiliki batang tegak dan Pucuk Pakis yang bentuk melengkung memberikan impresi makna kuat dan lembut. Karya tari Keluk menggunakan metode riset artistik-koreografi sinematografi. Adapun tujuan dan manfaat dalam penciptaan tari ini yaitu menciptakan karya video tari dengan koreografi tunggal dan mengkomunikasikan desain lengkung dan fungsi yang terkandung dalam motif Pucuk Pakis atau Sulur. Keluk merupakan garapan tari kontemporer Indonesia dalam bentuk tari video yang berpijak pada budaya suku Dayak Iban berdasarkan subjektivitas koreografer melalui pengalaman empiris. Karya ini terdiri tiga segmen yaitu segmen pertama “Memvisualisasikan Desain Melengkung Pucuk Pakis Kuat”, segmen kedua “Memvisualisasikan Desain Pucuk Pakis Melengkung Kuat dan Lembut”, segmen ketiga “Memvisualisasikan Desain Melengkung Pucuk Pakis Menjadi Bularan”.ABSTRACTThe Pucuk Pakis motif, a Dayak motif, can be found in paintings at Betang's house, Iban Dayak women's costumes, body tattoos, weaving, weaving, beads, and sculptures. In the Iban Dayak tribe in West Kalimantan, or Sulur is interpreted as "The Forerunner of a New Life". The shape of the fern shoots or tendrils has an erect stem and the fern shoots are curved. The curved and sturdy Pucuk Pakis design gives the impression of a strong and soft meaning. The work of Keluk Dance uses a cinematographic artisticchoreographic research method. The goals and benefits of creating this dance are creating dance videos with single choreography and communicating the curved designs and functions contained in the Pucuk Pakis or Sulur motifs, creating contemporary Indonesian dance works based on the local culture of the Iban Dayaktribe based on the subjectivity of the choreographer, creating works of art. Innovative and creative video rates through empirical experience. This work consists of three segments, namely the first segment “Visualizing the Curved Design of Strong and Soft Curved Ferns”, the second segment “Visualizing the Design of Strong and Soft Curved Paws of Ferns”, the third segment “visualizing the Curved Design of Fern Tops Become Round”.
BEKSAN BANDABAYA REPRESENTASI AJARAN KEPEMIMPINAN ASTHABRATA K.G.P.A.A. PAKU ALAM IX Aji, Yosef Adityanto
Joged Vol 23, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v23i2.14158

Abstract

RINGKASANPenelitian ini akan menjelaskan konsep kepemimpinan antara Beksan Bandabaya dengan naskah Asthabrata di Pura Pakualaman pada masa K.G.P.A.A. Paku Alam IX (bertahta 1999— 2015). Tari yang Bandabaya berasal dari masa K.G.P.A.A. Paku Alam II (bertahta 1829—1858). Beksan Bandabaya merupakan tari yang disajikan oleh empat orang penari laki-laki berkarakter gagah, menggambarkan prajurit yang sedang berlatih perang dengan menggunakan pedang dan perisai. Berdampingan dengan tari, terdapat karya sastra mengenai Asthabrata yang juga berasal dari masa K.G.P.A.A. Paku Alam II. Asthabrata merupakan ajaran kepemimpinan yang ideal melalui teladan karakter 8 dewa. Masing-masing adalah Batara Indra berkarakter bijak bestari, Batara Yama berkarakter adil dalam menegakkan hukum, Batara Surya berkarakter cermat dalam urusan keuangan, Batara Candra mempunyai pesona dan kepribadian yang memikat, Batara Bayu berkepribadian kuat dan tidak mudah terhasut, Batara Wisnu berkarakter asketis dan petapa, Batara Brama mempunyai karakter berani dan mahir bersiasat, dan Batara Baruna mempunyai karakter bersahaja dan mampu mengayomi. Pada masa K.G.P.A.A. Paku Alam IX terdapat 12 manuskrip dan sebuah buku tercetak berisi ajaran kepemimpinan yang bernama Asthabrata tersebut. Beksan Bandabaya dan Asthabrata diteliti menggunakan pendekatan etnografi dengan sudut pandang emik maupun etik.ABSTRACTThis research tries to explain the relationship between a choreography called Beksan Bandabaya and a script entitled Asthabrata in the reign of Prince Paku Alam IX (reigned in 1999—2015). Dances in Pura Pakualaman are never directly related to or become a means of a ritual. One of the dances which is often performed in some occasions is Beksan Bandabaya. Beksan Bandabaya is a male dance with gallant characteristic. The dance is performed by four male dancers, which depicts 4 soldiers exercising their fighting, using their sword and shield. This dance, which was created in the reign of Paku Alam II (reigned in 1829—1858), was also performed outside the Pakualaman palace. Alongside with the dance, there is a literary work about Asthabrata, which was also originated in the reign of Prince Paku Alam II. Asthabrata is an idealistic leadership teaching through the example of 8 Gods. They are Batara Indra, who is wise, Batara Yama, who is just in upholding the law, Batara Surya, who is careful in managing money, Batara Candra, who has a great charm with exciting personality, Batara Bayu, who has a strong personality and firm, Batara Wisnu, who is ascetic and he is also a hermit, Batara Brama, who is brave and clever, and Batara Baruna, who is humble and protective. In the reign of Prince Paku Alam IX, there were 12 manuscripts and a printed book about the leadership teaching entitled Asthabrata. The two material objects above, Beksan Bandabaya and Asthabrata were observed with ethnographic approach with emic and ethic point of view. Beksan Bandabaya was analyzed and interpreted by using the theory of symbolic interactionism, while the leadership teaching of Asthabrata was analyzed and interpreted by using a leadership concept.
PANCA MAHA BUTA: KESEIMBANGAN EKOLOGI DAN HARMONI ALAM SEMESTA DALAM SEBUAH FILM TARI Aji, Yosef Adityanto
Joged Vol 24, No 2 (2025): OKTOBER 2025
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/joged.v24i2.17919

Abstract

ABSTRAKPanca Maha Buta merupakan karya yang dikategorikan sebagai film tari. Karya ini merupakan kolaborasi antara tari dan sinema sehingga menjadi satu kesatuan bentuk estetika visual. Proses penciptaan Panca Maha Buta menggunakan metode koreografi dan sinematografi, di mana masing-masing pendekatan saling berkaitan dan saling melengkapi. Karya ini ditarikan oleh delapan penari, menceritakan kisah perjalanan seorang perempuan dalam mencari keseimbangan ekologi dan harmoni alam. Panca Maha Buta terbagi dalam enam adegan, yang masing-masing adegan menggunakan lokasi yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk memperkuat konsep berkarya yang sesuai dengan konsep dan tema cerita. Panca Maha Buta menggunakan dua konsep utama dalam penyajiannya, yaitu film tari naratif dan film tari abstrak atau konseptual.ABSTRACTPanca Maha Buta is a work categorized as a dance film. This work is a collaboration between dance and cinema so that it becomes a unified form of visual aesthetics. The creation process of Panca Maha Buta uses choreography and cinematography methods, where each approach is interconnected and complementary. This work is danced by eight dancers, telling the story of a woman's journey seeking ecological balance and natural harmony. Panca Maha Buta is divided into six scenes, each scene using a different location. This aims to strengthen the concept of working in accordance with the concept and theme of the story. Panca Maha Buta uses two main concepts in its presentation, namely narrative dance film and abstract or conceptual dance film.