Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PKM PENINGKATAN PENGUASAAN PTK PADA GURU-GURU DI SEKOLAH DASAR DI DESA KUTUK UNDAAN KUDUS Ahmad Nur Syafiq; Amalia Rahmawati
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 1, No 1 (2019): Jurnal ABDIMAS Indonesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v1i1.961

Abstract

Kegiatan penelitian menjadi salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru yang profesional, karena salah satu guru yang berhasil (efektif) adalah bersifat reflektif. Guru yang demikian selalu belajar dari pengalaman, sehingga dari hari ke hari kinerjanya menjadi semakin baik. Kenyataan di atas rupanya menjadi perhatian, sehingga akhirnya diciptakanlah formulasi penelitian yang sesuai untuk guru yakni Classroom Action Research atau yang lebih dikenal dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Para guru sekolah dasar di MI dan SD Negeri Kutuk Undaan Kudus belum mengetahui sepenuhnya tentang PTK yang sesuai dengan teori dan penerapannya. Sementara pelaksanaan PTK sangat mendukung terciptanya proses pengajaran dan pembelajaran yang efektif dan efisien. Kegiatan program kemitraan masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dan workshop penguasaan PTK bagi guru-guru di sekolah dasar di Desa Kutuk Undaan Kudus dan menerapkan materi pelatihan dalam menyusun proposal dan laporan PTK. Hasil pelaksanaan program kemitraan masyarakat ini adalah terdapat peningkatan pemahaman para guru tentang profesinya, terutama dalam hal pemahaman penulisan/ pembuatan/ pelaksanaan PTK. Para guru sekolah dasar di MI dan SD Negeri Kutuk Undaan Kudus sangat tertarik untuk meningkatkan profesinya. Pernyataan ini didukung oleh antusiasnya para guru dalam mengikuti dan mengajukan pertanyaan selama pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat. Berkaitan dengan hal tersebut, para guru mempunyai kehendak untuk melakukan penelitian dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran. Di samping itu, para guru sudah dapat memahami Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi No. 16 Tahun 2009 tentang Pengembangan Keprofesian Berlanjut (PKB) sebagai bekal untuk meningkatkan diri.
Pemahaman Mahasiswa tentang Kekerasan Seksual Verbal di Institusi Pendidikan Tinggi Ana Anggraini; Amalia Rahmawati; Mila Nur Khasanah; Basma Ilmida Fahmandani; Imawati Islamiyah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Posted
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.58498

Abstract

Studi ini meneliti pemahaman mahasiswa tentang kekerasan seksual verbal di lingkungan pendidikan tinggi. Kekerasan seksual verbal sering dinormalisasi sebagai bentuk humor atau interaksi sosial biasa di antara mahasiswa, sehingga pengakuan terhadap sifatnya sebagai kekerasan berbasis gender masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa mendefinisikan kekerasan seksual verbal, mengidentifikasi batasan antara humor dan kekerasan seksual verbal, dan mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi pada normalisasi perilaku tersebut di lingkungan akademik. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa dari berbagai fakultas di universitas-universitas di Kota Surakarta dan dilengkapi oleh informan ahli dari kalangan akademisi dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK). Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya memahami kekerasan seksual verbal sebagai ucapan, lelucon, atau komentar yang melampaui batasan pribadi dan menyebabkan kerugian psikologis pada korban. Namun, kekerasan seksual verbal terus dinormalisasi karena budaya patriarki, rendahnya tingkat sensitivitas gender, dan praktik menyalahkan korban. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan kesadaran gender dan penerapan program pendidikan pencegahan sangat penting untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan berbasis gender.