Nyeri merupakan kondisi tidak nyaman yang diderita oleh banyak orang, baik disebabkan oleh penyakit dan juga luka. Beberapa terapi farmakologi yang digunakan adalah obat anti-inflamasi non steroid (AINS), opioid, kortikosteroid dan analgesik adjuvan. Akan tetapi, penggunaan obat tersebut memiliki beberapa efek samping yang sangat berdampak pada pasien. Penggunaan obat tradisional juga merupakan alternatif yang cepat dan mudah diakses oleh masyarakat. Olehnya itu, penggunaan obat tradisional masih dianggap rasional dan relevan karena potensi keamanan dan aksesibilitas. Penggunaan obat tradisional banyak terekam dalam kebudayaan atau suku-suku di Indonesia, termasuk di kebudayaan Bugis. Ramuan obat tradisional tersebut terekam dalam naskah kuno masyarakat Bugis yang dikenal dengan Lontara pabbura. Melalui penelitian ini, ramuan obat tradisional dalam naskah kuno Lontara pabbura untuk penanganan nyeri dieksplorasi. Naskah kuno diperoleh dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Naskah yang diperoleh kemudian ditransliterasi dan diterjemahkan. Proses berikutnya adalah identifikasi nama ilmiah tumbuhan obat untuk kemudian dibandingkan dengan literatur yang ada saat ini. Penelusuran literatur dilakukan dalam rangka memvalidasi klaim penggunaan dan efikasinya. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan ramuan obat tradisional Bugis untuk penanganan nyeri, yakni kombinasi dari Polyporus sanguineus (L.), Pimpinella anisum L., Foeniculum vulgare Mill., Cryptocarya massoy (Oken) Kosterm., dan Syzygium aromaticum (L.) Merr. & L.M.Perry. Berdasarkan data literatur terbaru, ditemukan bahwa semua komponen ramuan ini memiliki efek potensi analgesik, kecuali Polyporus sanguineus (L.), and Cryptocarya massoy yang belum dilakukan penelitian lebih lanjut. Penggunaan ramuan ini bisa menjadi opsi alternatif terhadap terapi farmakologis yang ada saat ini.