This Author published in this journals
All Journal e-GIGI
P. S. Anindita
Universitas Sam Ratulangi

Published : 31 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

GAMBARAN STATUS GINGIVA PADA PEROKOK DI DESA BUKU KECAMATAN BELANG KABUPATEN MINAHASA TENGGARA Poana, Priska M.; Mariati, Ni Wayan; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8078

Abstract

Abstract: Smoking is a habit that we often encounter in daily life. Besides its systemic effect, smoking can also lead to pathological conditions in the oral cavity. Gingiva is one of the soft tissues of the mouth. Accumulation and combustion products of cigarettes can affect the response of gingival inflammation. This study aimed to describe the status of gingiva in smokers in Buku village Belang Southeast Minahasa. This was a descriptive study. Samples were males aged 35-40 years, worked as fishermen, and had the smoking habit. Samples were 72 people obtained by purposive sampling method. The results showed that 4.17% of smokers who smoked >20 cigarettes per day had moderate inflammation of the gingiva and 25% of smokers with smoking duration >10 years had mild inflammation of the gingiva. Conclusion: Based on the number of cigarettes smoked per day and duration of smoking, few smokers had normal gingival status and there was no smokers with severe inflammation of the gingiva.Keywords: smoker, gingival statusAbstrak: Merokok merupakan salah satu kebiasaan yang sering dijumpai sehari-hari. Kebiasaan ini tidak hanya menimbulkan efek secara sistemik, tetapi juga dapat menimbulkan kondisi patologis di rongga mulut. Gingiva merupakan salah satu bagian jaringan lunak mulut. Panas dan akumulasi produk hasil pembakaran rokok dapat mempengaruhi respon inflamasi gingiva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status gingiva pada perokok di Desa Buku Kecamatan Belang Kabupaten Minahasa Tenggara. Penelitian ini bersifat deskriptif. Sampel penelitian yaitu laki-laki umur 30-54 tahun yang berprofesi sebagai nelayan dan memiliki kebiasaan merokok. Sampel berjumlah 72 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 72 orang subjek penelitian yang diperiksa, 4,17% perokok yang menghisap rokok >20 batang per hari memiliki status gingiva inflamasi sedang dan 25% perokok dengan lama merokok > 10 tahun memiliki status gingiva inflamasi ringan. Berdasarkan jumlah rokok yang dihisap per hari maupun lamanya merokok, hanya sedikit perokok yang memiliki status gingiva nomal dan tidak ditemukan perokok dengan status gingiva inflamasi berat.Kata kunci: perokok, status gingiva
PERBEDAAN PERUBAHAN WARNA RESIN KOMPOSIT PADA PERENDAMAN MINUMAN SARI BUAH PABRIK DAN SARI BUAH SEGAR Kaunang, Claudya F.; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10318

Abstract

Abstract: Composite resin has a lot advantages compared with other filling materials, this is because composite resin has mechanical strength and good aesthetic properties. However, the composite resin also has a disadvantage that can be discoloration during usage caused by extrinsic factors. One of the extrinsic factors is absorption of food and beverages’ dye. Beverage such as fruit juice can cause discoloration of the composite. This study aimed to determine the discoloration of the composite resin when it was immersed in fruit juice. This was an experimental study with a pretest and posttest group design. There were10 samples of composite resin circle formed with a thickness of 2 mm and a diameter of 5 mm, divided in 2 groups: group I was immersed in fresh fruit juice and group II was immersed in factory fruit juice factory until days 9. On days 3, 6, and 9, samples were tested for discoloration by using a spectrophotometer. The results showed color changes in the samples immersed in factory fruit juice more intense than samples immersed in fresh fruit juice. The T test results showed a significant difference in color changes between composites immersed in factory fruit juice and composites immersed in fresh fruit juice on days 3, 6, and 9 (p <0.05).Keywords: composite resin, discoloration, fruit juiceAbstrak: Resin komposit memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan bahan tumpatan lainnya karena tumpatan resin komposit memiliki kekuatan mekanik dan sifat estetik yang bagus. Resin komposit juga memiliki kekurangan yaitu dapat mengalami perubahan warna selama pemakaian yang disebabkan oleh faktor ekstrinsik yaitu adanya absorbsi zat warna dari makanan maupun minuman. Minuman yang dapat menyebabkan perubahan warna pada komposit salah satunya ialah minuman sari buah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan warna resin komposit pada perendaman minuman sari buah. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental murni dengan rancangan pretest and posttest group design. Terdapat 10 sampel resin komposit yang berbentuk lingkaran dengan tebal 2 mm dan diameter 5 mm, dibagi dalam 2 kelompok yakni kelompok I, direndam dalam sari buah pabrik dan kelompok II, direndam dalam sari buah segar sampai hari ke-9. Pada hari ke-3, 6, dan 9 sampel diuji perubahan warna dengan menggunakan alat spektrofotometer. Hasil penelitian menunjukkan perubahan warna sampel yang direndam dalam sari buah pabrik lebih besar dibandingkan sampel yang direndam dalam sari buah segar. Hasil uji t menunjukkan adanya perubahan yang bermakan dari resin komposit pada pengukuran hari ke-3, 6, 9 antara kelompok perendaman sari buah pabrik dan kelompok perendaman sari buah segar dengan p<0,05.Kata kunci: resin komposit, perubahan warna, minuman sari buah
Perbedaan Waktu Pembekuan Darah Pasca Pencabutan Gigi pada Pasien Menopause dan Non-menopause Turang, Veren K.; Tendean, Lydia; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 6, No 2 (2018): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.6.2.2018.20953

Abstract

Abstract: Entering the age of 40s in women, hormone levels and alveolar bone density begin to decrease which can cause wobbly teeth ended with tooth extraction. In menopausal patient, the tooth extraction has to be performed very carefully to avoid excessive bleeding. This study was aimed to compare the clotting time after tooth extraction of menopausal patients with of non-menopausal patients at RSGM Unsrat Manado. This was an analytical descriptive study with a cross sectional design. Study population included all female patients aged 35-60 years who had tooth extraction performed on them at the Oral Surgery Department of RSGM Unsrat in June 2018. Samples were obtained by using the total sampling method. The results showed that there were 32 subjects consisted of 13 women (40.63%) aged 35-44 years (non-menopause) and 19 women (59.37%) aged 45-60 tahun (menopause). Most of the normal clotting timess of non-menopausal subjects were at minutes-6 and 7, each of 5 subjects (15.62%). Most of the abnormal clotting times in menopausal subjects was at minute-9 as many as 8 subjects (25.00%). The Shapiro-Wilk test showed that data were not distributed normally; therefore, the further analysis was performed with the Mann-Whitney test with a P value of 0.000 (P <0.05). Conclusion: There was a significant difference in clotting time after tooth extraction between menopausal and non-menopausal patients.Keywords: menopause, non menopause, clotting time, tooth extraction Abstrak: Memasuki usia 40-an kadar hormon pada perempuan mulai berkurang, demikian pula kepadatan tulang alveolar yang dapat menyebabkan kegoyangan gigi dan dilakukannya tindakan pencabutan gigi. Pada pasien menopause teknik pencabutan gigi harus dilakukan secara hati-hati untuk mengurangi risiko perdarahan berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan waktu pembekuan darah pasca pencabutan gigi antara pasien meno-pause dan non-menopause di RSGM Unsrat Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian yaitu semua pasien perempuan berusia 35-60 tahun yang dilakukan tindakan pencabutan gigi di Bagian Bedah Mulut RSGM Unsrat pada bulan Juni 2018. Pengambilan sampel menggunakan metode total sampling. Hasil penelitian menda-patkan 32 orang subyek penelitian, terdiri dari 13 orang (40,63%) berusia 35-44 tahun (non-menopause) dan 19 orang (59,37%) berusia 45-60 tahun (menopause). Kategori waktu pembe-kuan normal pada subyek non-menopause terbanyak pada menit ke-6 dan ke-7, masing-masing sebanyak 5 orang (15,62%). Kategori tidak normal pada subyek menopause terbanyak pada menit ke-9 sebanyak 8 orang (25,00%). Hasil uji Shapiro-Wilk menunjukkan data terdistribusi tidak normal, dan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney dengan perolehan signifikansi 0,000 (P <0,05). Simpulan: Terdapat perbedaan bermakna pada waktu pembe-kuan darah pasca pencabutan gigi antara pasien menopause dan non menopause.Kata kunci: menopause, non menopause, waktu pembekuan darah, pencabutan gigi
UKURAN DAN BENTUK LENGKUNG GIGI RAHANG BAWAH PADA SUKU MONGONDOW Paputungan, Rahmaya E. U.; Anindita, P. S.; Siagian, Krista V.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.9603

Abstract

Abstract: Mandibular arch size and form are required in order to establish proper diagnoses and orthodontic treatment plans. Mandibular dental arch is a factor affecting maximum stability of treatment outcomes. The purpose of this study was to determine means of mandibular arch size and form in Mongondow ethnic group.This research was classified into descriptive observational with cross sectional study. Sample of this research were 35 peoples aged 18-25 years at the original Mongondow ethnic group based on two generation of grandparents. Samples were taken by using purposive sampling method. The measurement of dental arch length and width were done in sagittal and transversal direction based on the Raberin’s method. Results showed that the average values of mandibular arch length in Mongondow ethnic group which categorized as depths of canines (L31), depths first molars (L61) and depths of second molars were 5.18 mm;24.26 mm; and 39.34 mm respectively. The average values of mandibular arch width which categorized as inter canines (L33), inter first molars (L66) and inter second molars (L77) were 27.38 mm, 45.60 mm and 53.59 mm respectively. The most mandibular arch form of Mongondow ethnic group was mid (51.4%) and the less of this group was pointed (5.7%).Keywords: dental arch size, dental arch form, mandibular, Mongondow ethnic groupAbstrak: Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah sangat diperlukan dalam menentukan diagnosa dan rencana perawatan ortodontik yang tepat. Lengkung gigi rahang bawah merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam mempertahankan stabilitas hasil perawatan ortodonti. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada suku Mongondow. Jenis penelitian ini yaitu observasional deskriptif dengan desain penelitian cross sectional study. Sampel yang diperoleh sebanyak 35 orang suku Mongondow asli dari dua generasi yag berusia 18-25 tahun. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengukuran panjang dan lebar lengkung gigi diukur dalam arah sagital dan transversal pada model studi/hasil cetakan rahang bawah dengan metode Raberin. Hasil pengukuran diperoleh rerata ukuran panjang lengkung gigi rahang bawah pada suku Mongondow yang dikategorikan sebagai kedalaman kaninus (L31), kedalaman molar pertama (L61) dan kedalaman molar kedua (L71) berturut-turut yaitu 5,18 mm; 24,26 mm; dan 39,34 mm. Rerata ukuran lebar lengkung gigi yang dikategorikan sebagai lebar interkaninus (L33), lebar intermolar pertama (L66) dan lebar intermolar kedua (L77) berturut-turut yaitu 27,38 mm; 45,60 mm dan; 53,59 mm. Bentuk lengkung gigi rahang bawah pada suku Mongondow paling banyak yaitu bentuk mid (51,4%) dan yang paling sedikit yaitu bentuk pointed (5,7%). Kata kunci: ukuran lengkung gigi, bentuk lengkung gigi, rahang bawah, suku Mongondow
KEBUTUHAN PERAWATAN ORTODONTI BERDASARKAN INDEX OF ORTHODONTIC TREATMENT NEED PADA USIA REMAJA 15 – 17 TAHUN Oley, Axel B.; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.8770

Abstract

Abstract: Dental and oral health is an important factor that must be maintained. Things that affect dental health problems and oral one of them is malocclusion. The application needs orthodontic treatment is aimed at correcting malocclusions that can affect the health of the teeth and oral cavity as well as the appearance of a person's face. Research conducted a descriptive study. The purpose of this study to determine the needs of orthodontic treatment based Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), which consists of two components, namely the Aesthetic Component (AC) and the Dental Health Component (DHC). The study was conducted in high school 3 Tondano country with the number of students 390 people. Data collection was performed by inspection and measurement using the AC and DHC. The results showed that 85.94% based on the air-conditioning was not / little need of treatment, 9.37% needed treatment and of 4.69% borderline desperate need of care, while 51.56% based DHC no / little need of treatment, 35.94% need treatment of borderline and 12.5% in dire need of treatment.Keywords: malocclusion, Index of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic Component, Dental Health Component.Abstrak: Kesehatan gigi dan rongga mulut merupakan faktor penting yang harus dijaga. Hal yang mempengaruhi masalah kesehatan gigi dan rongga mulut salah satunya ialah maloklusi.Penerapan kebutuhan perawatan ortodonti ditujukan untuk memperbaiki maloklusi yang dapat mempengaruhi kesehatan gigi dan rongga mulut serta penampilan wajah seseorang.Penelitian yang dilakukan merupakan suatu penelitian yang bersifat deskriptif.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan perawatan ortodonti berdasarkan Index of Orthodontic Treatment Need (IOTN), yang terdiri dari dua komponen yaitu Aesthetic Component (AC) dan Dental Health Component (DHC).Penelitian dilakukan di SMA negeri 3 Tondano dengan jumlah siswa 390 orang.Pengambilan data dilakukan dengan pemeriksaan dan pengukuran menggunakan AC dan DHC. Hasil penelitian menunjukan bahwa berdasarkan AC 85,94% tidak/sedikit membutuhkan perawatan, 9,37% membutuhkan perawatan borderline dan 4,69% sangat membutuhkan perawatan, sedangkan berdasarkan DHC 51,56% tidak/sedikit membutuhkan perawatan, 35,94% membutuhkan perawatan borderline dan 12,5% sangat membutuhkan perawatan.Kata kunci: Maloklusi, Index Of Orthodontic Treatment Need, Aesthetic component, Dental Health Component.
GAMBARAN MALOKLUSI BERDASARKAN INDEKS HANDICAPPING MALOCCLUSION ASSESSMENT RECORD (HMAR) PADA SISWA SMA N 9 MANADO Loblobly, Monalisa; Anindita, P. S.; Leman, Michael A.
e-GiGi Vol 3, No 2 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.2.2015.10487

Abstract

Abstract: Malocclusion is a condition of abnormal occlusion. If it is not treated it will result in several diseases for the patients. Studies about malocclusion have been done in several cities in Indonesia which showed that many people with malocclusion did not seek for treatment. One of the ways to identify and assess the severity of malocclusion is using the Handicapping Malocclusion Index Assessment Record (Hmar). This study aimed to describe malocclusions in students of SMA N 9 Manado.This was a descriptive cross sectional design. The study was conducted in August 2015 with a total sample of 30 students in grade eleven, obtained by using consecutive sampling. Malocclusion assessment obtained using HMAR consisted of comprising the teeth in one jaw, abnormal tooth relationships of both jaws in occlusion, and dentofacial abnormality examinations. The results showed that based on HMAR most of the malocclusions were in the severe category which were in need of care. Irregular teeth in one jaw in the anterior and posterior regions was the highest form of tooth rotation and tooth crowding. Abnormality in the relationship of both jaws in the occluded jaw position in the anterior region was the highest in the case of excessive nip distance and the lowest cross bites meanwhile in the posterior region was the mesial position of caninus. Concerning dentofacial abnormalities, there was only one palatal bite abnormality. Conclusion: Based on HMAR the highest percentage of malocclusion in this study was severe malocclusion.Keywords: malocclusion, malocclusion handicapping index assessment recordAbstrak: Maloklusi merupakan bentuk oklusi menyimpang dari normal yang jika tidak dirawat akan mengakibatkan hambatan bagi penderita. Penelitian mengenai maloklusi sudah dilakukan pada beberapa kota di Indonesia yang menunjukan bahwa banyak orang yang mengalami maloklusi tetapi tidak melakukan perawatan. Salah satu cara mengidentifikasi dan menilai keparahan maloklusi yaitu menggunakan Indeks Handicapping Malocclusion Assessment Record (HMAR). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran maloklusi berdasarkan Indeks HMAR pada siswa SMA N 9 Manado. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan rancangan potong lintang. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2015 dengan jumlah sampel 30 siswa kelas sebelas, menggunakan consecutive sampling. Penilaian maloklusi diperoleh dengan pemeriksaan berdasarkan indeks HMAR pada model studi. Penilaian meliputi penyimpangan gigi dalam satu rahang, kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi, dan kelainan dentofasial. Hasil penelitian penyimpangan gigi dalam satu rahang menunjukan persentase tertinggi yaitu gigi rotasi pada rahang atas. Kelainan hubungan gigi kedua rahang dalam keadaan oklusi menunjukkan di regio anterior presentase tertinggi yaitu berupa jarak gigit berlebih dan di regio posterior persentase tertinggi berupa kelainan anteroposterior yang menunjukkan gigi kaninus lebih ke mesial. Kelainan dentofasial hanya ditemukan satu kelainan berupa palatal bite. Simpulan: Gambaran maloklusi berdasarkan indeks HMAR dengan persentase tertinggi yaitu pada kategori maloklusi berat, sangat memerlukan perawatan.Kata kunci: maloklusi, indeks HMAR
STATUS KARIES PADA GIGI BERJEJAL DI SD NEGERI 12 TUMINTING Malohing, Dewi; Anindita, P. S.; Gunawan, Paulina
e-GiGi Vol 1, No 2 (2013): e-GiGi Juli-Desember 2013
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.1.2.2013.2622

Abstract

Abstract: One of many dental problem has faced frequently by Indonesian people nowadays is dental caries, the other name for decay in teeth. The main factor leads into the caries is the setting of teeth (host) wich is out of the arch causing it hardly to be cleaned, tends to food and debris accumulated. These research aims to gain the image of the caries status for the crowding at tuminting 12th elementary school public. DMF-T index is used for this caries examination. The research is presented into descriptions from, take student who have been fom ten to twelve years old with crowding conditions as population, then uses the total sampling method to determine sixty seven of them as sample. The result for crowding of the caries distribution shows that the range of DMF-T number is 0.7. it belongs to the low category, based on category of DMF-T index by WHO. Keywords: caries, crowding.     Abstrak: Salah satu masalah kesehatan gigi dan mulut yang dihadapi penduduk Indonesia adalah tingginya penyakit jaringan keras gigi atau karies. Karies gigi disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor utama penyebab karies yaitu keadaan gigi (host), dimana posisi gigi dengan posisi keluar dari lengkung rahang, menyebabkan kesulitan pembersihan. Kondisi ini cenderung membuat makanan dan debris terakumulasi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk memperoleh gambaran status karies pada gigi berjejal di SD Negeri 12 Tuminting. Pemeriksaan karies menggunakan indeks DMF-T. Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif. Populasi dari penelitian ini yaitu siswa usia 10-12 tahun dengan kondisi gigi berjejal. Sampel berjumlah 67 orang dan pengambilan sampel dilakukan dengan metode total sampling. Hasil penelitian tentang distribusi karies pada gigi berjejal menunjukkan rata-rata jumlah DMF-T ialah 0,7 dan menurut kategori indeks DMF-T dari WHO termasuk pada kategori sangat rendah. Keyword: karies, gigi berjejal.
Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua Saputra, Yoddy G.; Anindita, P. S.; Pangemanan, Damajanty H.C.
e-GiGi Vol 4, No 2 (2016): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.4.2.2016.14163

Abstract

Abstract: Mandibular size and shape are important information especially in terms to figure out the right diagnosis and the type of treatment a patient should have. Human mandible is a key factor for occlusion adjustment, meanwhile maxilla is following the mandible’s position. Several studies show that the stability of mandibular shape and size determines the success of one’s treatment. Each ethnic group has a particular skeletal pattern as well as shape and size of mandible. This study was aimed to obtain the average size and shape of mandibles among local Papuans. This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. Samples were obtained by using purposive sampling method. There were 35 local Papuans aged 18-25 years as subjects. Data were obtained by molding the subject’s mandible, therefore, each subject produced a study model. The study model was measured in sagittal (length) and transversal (width) views based on Raberin method. The results showed that the average lengths of local Papuans’ mandibular size in sagittal view (L31, L61, and L71 in a row) were 6.143; 26.463; and 43.743 mm meanwhile the average widths of local Papuans’ mandibular size (L33, L66, and L77 in a row) were 30.857; 50.971; and 60.971 mm. The mandibular shape of most local Papuans was mid shape (45.8%) meanwhile the least shape of them was pointed (5.7%)Keywords: dental arch size, dental arch shape, mandibular, local Papuan Abstrak: Ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah sangat diperlukan dalam menentukan diagnosis dan rencana perawatan yang tepat dalam bidang ortodontik karena rahang bawah merupakan faktor stabilitas oklusi, sedangkan rahang atas menyesuaikan pada rahang bawah. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kestabilan bentuk dan ukuran lengkung gigi rahang bawah merupakan faktor stabilitas dari hasil perawatan. Setiap kelompok etnik cenderung memiliki pola skeletal dan ukuran lengkung gigi rahang bawah yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui rerata ukuran dan bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua. Jenis penelitian yaitu deskriptif observasional dengan desain potong lintang. Subjek penelitian ini sebanyak 35 orang Papua berusia 18-25 tahun diperoleh dengan menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dalam penelitian dilakukan dengan mencetak rahang bawah setiap subjek penelitian dan didapatkan hasil cetakan berupa model studi. Model studi yang diperoleh diukur dalam arah sagital (panjang) dan transversal (lebar) berdasarkan metode Raberin. Hasil pengukurun diperoleh rerata panjang lengkung gigi rahang bawah pada orang Papua dalam arah sagital (yaitu L31, L61, L71) berturut-turut 6,143; 26,463; dan 43,743 mm, sedangkan rerata lebar lengkung gigi dalam arah transversal (yaitu L33, L66, L77) berturut-turut 30,857; 50,971; dan 60,971 mm. Bentuk lengkung gigi rahang bawah pada orang asli Papua paling banyak yaitu bentuk mid (45,8%) dan yang paling sedikit berbentuk pointed (5,7%). Kata kunci: ukuran lengkung gigi, bentuk lengkung gigi, rahang bawah, orang asli Papua
PERSEPSI PASIEN PENGGUNA GIGI TIRUAN LEPASAN BERBASIS AKRILIK YANG MENGGUNAKAN JASA DOKTER GIGI DI KOTAMOBAGU Mokodompit, Rifon I.; Siagian, Krista V.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 3, No 1 (2015): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.3.1.2015.8077

Abstract

Abstract: Loss of teeth can be caused by various diseases such as caries and periodontal disease. Losing teeth can lead people to emotional impact as well as impaired functions of speaking, chewing, and aesthetics. The use of denture to replace missing teeth is important to avoid these impacts. This study aimed to determine patients’ perception as users of removable acrylic based denture in Kotamobagu. This was a descriptive study with a cross sectional design. Population were 203 users of removable acrylic based denture at dentist services in Kotamobagu. Samples were 67 respondents obtained by using Solvin formula and simple random sampling method. In this study we used questionnaire consisted of 25 questions. The results showed that the patient’s perception was in good category based on competence, access, needs, time, and budget.Keywords: patient’s perception, removable denture, dentist serviceAbstrak: Kehilangan gigi dapat disebabkan oleh berbagai penyakit seperti karies dan penyakit periodontal. Kehilangan gigi dapat menimbulkan dampak emosional serta terganggunya fungsi bicara, pengunyahan, dan estetika. Penggunaan gigi tiruan untuk menggantikan gigi yang hilang penting dilakukan untuk menghindari dampak tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi pasien pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang menggunakan jasa dokter gigi di Kotamobagu. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan desain potong lintang. Populasi yaitu pasien pengguna gigi tiruan lepasan berbasis akrilik yang menggunakan jasa dokter gigi di Kotamobagu yang berjumlah 203 jiwa. Pengambilan sampel menggunakan rumus Slovin menghasilkan 67 sampel, dan metode pengambilan sampel dilakukan dengan simple random sampling. Studi ini menggunakan kuesioner yang berjumlah 25 pertanyaan. Hasil penelitian menunjukkan berdasarkan kompetensi, akses, kebutuhan, waktu, dan biaya persepsi pasien termasuk kategori baik.Kata kunci : persepsi pasien, gigi tiruan lepasan, jasa dokter gigi
Hubungan pengetahan kesehatan gigi dan mulut dengan status karies pada pemulung di tempat pembuangan akhir Sumompo Manado Anggow, Ollivia R.; Mintjelungan, Christy N.; Anindita, P. S.
e-GiGi Vol 5, No 1 (2017): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.5.1.2017.14783

Abstract

Abstract: The knowledge of dental and oral health is very essential to the formation of one's actions in the maintenance of his/her dental and oral health. One of the most common oral disease in Indonesian citizen is dental caries. This study was aimed to determine the relationship between the knowledge of oral health status and caries among scavengers in Sumompo Manado. This was a descriptive analytical study with a cross sectional design. There were 78 scavengers aged 18-45 years old as respondents obtained by using purposive sampling method. The results showed that the highest percentages of knowledge about oral health and caries status were in less knowledge with high caries status by an average of 32.1%. The chi-square test obtained a p value of 0.027. Conclusion: There was a significant relationship between oral health knowledge and caries status of scavengers in Sumompo Manado.Keywords: oral health knowledge, scavengers, caries Abstrak: Pengetahuan kesehatan gigi dan mulut sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang dalam pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. Salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia ialah karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status karies pada pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sumompo (TPA) Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif analitik dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah pekerja pemulung yang umumnya pada kelompok usia 18-45 tahun sebanyak 78 orang. Metode pengambilan sampel secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan pengetahuan responden tentang kesehatan gigi dan mulut dan status karies paling banyak ditemukan pada pengetahuan kurang dengan status karies tinggi yaitu sebesar 32,1%. Berdasarkan uji Chi-Square didapatkan p value 0,027 (p < 0,05). Simpulan: Terdapat hubungan bermakna antara pengetahuan kesehatan gigi dan mulut dengan status karies pekerja pemulung di Tempat Pembuangan Akhir Sumompo Manado. Kata kunci: pengetahuan kesehatan gigi dan mulut, pekerja pemulung, status karies