Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Optimasi Formula dan Evaluasi Stabilitas Sediaan Toner Wajah Ekstrak Daun Keji Beling (Strobilanthes crispus L.) Gobel, Alia Afrilia; Resvita Bahi, Rizky; Mappa, Moh. Rivaldi
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 4 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i4.902

Abstract

Facial skin is prone to dryness due to UV radiation, which accelerates premature aging (photoaging) and triggers various skin problems such as atopic dermatitis. In Indonesia, the prevalence of dry skin reaches 50%–80%. Several commercial toner products still contain alcohol, which can further dry the skin when used for a long period of time. Therefore, natural ingredients with moisturizing effects are needed, one of which is Strobilanthes crispus (keji beling) leaves, containing flavonoids with antioxidant activity. This study aimed to determine the effect of varying concentrations of Tween 80 surfactant on the stability of toner formulations. The research method was experimental, formulating four formulas with surfactant concentrations of 0% (F0), 5% (FI), 7.5% (FII), and 10% (FIII), followed by stability testing using the cycling test and evaluating organoleptic properties, homogeneity, viscosity, pH, irritation, and hedonic acceptance. The organoleptic evaluation showed that FI, FII, and FIII produced clear yellowish-green liquid preparations with a characteristic odor of keji beling leaves, whereas F0 produced a dark green liquid with the same odor. All formulas were homogeneous with a pH of 5. The viscosity values were 1.72 cPs for FI, 1.82 cPs for FII, 2.37 cPs for FIII, and 1.35 cPs for F0. Irritation testing showed negative results for all formulas, indicating no signs of primary irritation. Hedonic testing revealed that FIII was the most preferred by panelists. Based on these findings, it can be concluded that the formula containing 10% polysorbate (FIII) provided the best physical stability and panelist acceptance. Thus, variation in surfactant concentration affects the physical stability of Strobilanthes crispus leaf extract toner formulations.
Identifikasi Senyawa Fenol Fraksi Etanol Rumput Laut (Eucheuma spinosum) dengan Metode Kromatografi Moh. Rivaldi Mappa; Rizky Resvita R. Bahi; Amanda Pratiwi Sugeha; Tantri Wulandari Mokoginta; Mifta Putri Salsabila Pontoan; Putri Isauraamabel Tangahu; Hairil Akbar
Tinctura Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v5i2.5207

Abstract

Eucheuma spinosum merupakan salah satu spesies rumput laut yang mengandung senyawa fenol yang berkhasiat sebagai antioksidan. Senyawa antioksidan dapat melindungi tubuh dari efek radikal bebas yang merusak sehingga menjaga kesehatan secara umum. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan senyawa fenol dari fraksi etanol rumput laut yang diperoleh dari pesisir pantai Desa Maelang Kabupaten Bolaang Mongondow dengan skrining fitokimia dan metode kromatografi lapis tipis KLT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi etanol rumput laut positif mengandung senyawa fenol yang ditandai dengan perubahan warna dari kuning kemerahan menjadi kuning kehijauan pada proses skrining fitokimia dan terbentuknya bercak noda berwarna hijau dan biru dengan nilai Rf 0,46 pada pelat KLT yang dibandingkan dengan baku standar kuesetin.
Pengaruh Variasi Konsentrasi Na-CMC sebagai Gelling Agent terhadap Sifat Fisik Gel Tabir Surya Seng Oksida (ZnO) Rizky Resvita R. Bahi; Alyavayza Putri Monoarfa; Moh Rivaldi Mappa
Tinctura Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v6i1.6077

Abstract

Kerusakan kulit akibat paparan sinar UV dari matahari menjadi masalah serius yang memerlukan perhatian. Penggunaan tabir surya merupakan langkah preventif efektif terhadap dampak negatif sinar UV. Seng oksida (ZnO) dalam tabir surya berfungsi sebagai penghalang fisik UV dan lebih efektif dibandingkan titanium oksida (TiO2). Gel tabir surya menjadi populer karena mudah meresap ke kulit tanpa meninggalkan residu. Gelling agent dalam formulasi gel sangat mempengaruhi sifat fisiknya. Carboxy methyl cellulose (Na-CMC) sering digunakan karena sifat netral dan kemampuannya meningkatkan viskositas, dengan konsentrasi 3-6%. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh variasi konsentrasi Na-CMC sebagai gelling agent berdasarkan sifat fisik meliputi organoleptik, homogenitas, uji pH, dan uji daya lekat. Formula gel dengan zat aktif seng oksida 2% dibuat dengan membandingkan basis gel Na-CMC ke dalam 3 konsentrasi yakni F1 3%, F2 5%, dan F3 6%. Hasil uji organoleptik sediaan menunjukkan adanya pengaruh signifikan terhadap variasi gelling agent yang digunakan terhadap bentuk sediaan. Seluruh sediaan homogen dan memiliki pH 8 yang tidak menyebabkan iritasi atau kulit bersisik ketika diaplikasikan pada kulit. Formula dengan daya lekat terbaik adalah F2 dan F3 dengan hasil 49s dan 88s.
Aksi Donor Darah Sekaligus Pemeriksaan Kesehatan Dan Pengobatan Gratis Dilingkungan Institut Kesehatan Dan Teknologi Graha Medika Kuna, Moh. Rasyid; Mappa, Moh. Rivaldi; Mokodompit, Hafsia Khairun Nisa
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 3 No. 3 (2022): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v3i3.1038

Abstract

Dalam rangka memperingati Milad ke-1 Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu (IKTGM) menyelenggarakan 2 kegiatan yakni donor darah sekaligus pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Kegiatan pertama yang dilakukan adalah donor darah, Donor Darah merupakan proses pengambilan darah dalam jumlah tertentu dari seorang pendonor, darah yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk transfusi darah bagi yang membutuhkan. terdapat banyak manfaat yang akan diperoleh oleh pendonor bila rutin mendonorkan darahnya, kegiatan kedua pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis hal ini dilakukan karena Prevalensi (PTM) Penyakit tidak menular terus mengalami peningkatan seiring dengan perubahan pola hidup masyarakat kearah yang kurang seimbang. Faktor risiko PTM di indonesia antara lain adalah hipertensi, obesitas dan diabetes. Kurangnya pengetahuaan dan kesadaran terhadap bahaya PTM menyebabkan deteksi dini berbasis pelayanan kesehatan kurang efektif. Tujuan dari kegiatan ini untuk Meningkatkan pengetahuan dan kepedulian semua dosen dan mahasiswa dilingkungan kampus Institut Kesehatan dan Teknologi Graha Medika Kotamobagu dalam kegiatan sosial donor darah dan Meningkatkan kesadaran memeriksakan kondisi kesehatan secara rutin sehingga dapat mengendalian faktor risiko penyakit tidak menular (PTM).
Edukasi Pengolahan Bahan Alam Sebagai Alternatif Pengobatan Tradisional Di Desa Muntoi Kabupaten Bolaang Mongondow Gonibala, Alfiana P.; Mappa, Moh. Rivaldi; Kuna, Moh. Rasyid
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 3 No. 3 (2022): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v3i3.1059

Abstract

Indonesia memiliki prospek yang baik dalam pengembangan agroindustri tumbuhan obat dimana lebih dari 9,609 spesies tumbuhan Indonesia yang memiliki khasiat sebagai obat. Tumbuh-tumbuhan telah menjadi sumber penting sebagai pengobatan sejak beribu-ribu tahun yang lalu. Tujuan diadakan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tengan bahan alam sebagai alternatif pengobatan tradisional serta pengolahannya. Kegiatan ini dilaksanan di Desa Muntoi Kabupaten Bolaang Mongondow, Pengabdian masyarakat ini dilaksanakan dengan 2 tahap yaitu tahapan perencanaan dan tahap pelaksanaan. Hasil yang diperoleh dari kegiatan ini adalah Obat tradisionaladalah obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun-temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau kebiasaan setempat. Jenis sediaan tradisional yang dapat dibuat dari tanaman antara lain The (species), Dekok (decoctum), infusa (rebusan), jus (succus), sirup (sirupus) dan tingtur (tinctura).Bagian tanaman yang dapat digunakan rimpang, batang, daun, bungan dan buah. Ramuan menggunakan takaran tradisional, masih digunakan misalnya sejari (kurang lebih 8 cm), sejengkal (panjang 18 cm), segengganm (berat basah 80 gram), helai, biji, sendok makan (15 mL), sendok teh (5 mL), segelas (200 mL), cangkir (180 mL) dan tetes.
Isolasi dan Penetapan Flavonoid Total Pada Daun Keji Beling (Strobilanthes crispus L.) Menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Moh Rivaldi Mappa; Rizky Resvita R. Bahi; Huwaidah Istiqomah
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 9 Nomor 1 (2026)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v9i1.904

Abstract

Keji beling (Strobilanthes crispus L.) has several therapeutic activities such as anticancer, antimicrobial, treating diabetes mellitus, cholesterol, and kidney stones. Flavonoids are the main compounds that contribute to the therapeutic activities of keji beling. Along with its therapeutic activities, flavonoids are complicated by physicochemical properties that make these compounds difficult to identify specifically. This study aims to isolate and identify flavonoid compounds in keji beling leaves using UV-Vis spectrophotometry. The method used was experimental, including qualitative and quantitative analysis, with stages including maceration, phytochemical screening, fractionation, thin-layer chromatography (TLC), column chromatography, preparative thin-layer chromatography (PTLC), and UV-Vis spectrophotometry. The extraction results showed a yield of 11.8%. The phytochemical screening test showed positive results for flavonoid compounds. The fractionation process produced two layers, namely polar and nonpolar layers. TLC results with the best solvent ratio (9:1) showed an Rf value of 0.72. Column chromatography provided good separation results. PTC produced blue-white, orange, red, and purple spots. The results of quantitative analysis of total flavonoids using UV-Vis spectrophotometry with quercetin as a standard showed an average of 11.438 mg QE/g extract and a standard deviation (SD) of ± 0.0058 mg QE/g and %RSD of 0.05%, indicating a very good level of method precision with a maximum wavelength of sample absorbance at 433 nm.
Formulasi Sediaan Lulur (Body Scrub) Ekstrak Beras Ketan Putih (Oryza sativa glutinous) dengan Cangkang Telur Ayam sebagai Eksfolian Olganita Manika; Rizky Resvita R. Bahi; Moh. Rivaldi Mappa
Tinctura Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v7i2.8172

Abstract

Salah satu permasalahan yang terjadi pada kulit adalah terjadinya penuaan dini akibat paparan sinar ultraviolet (UV). Paparan sinar UV dapat menyebabkan menumpuknya sel kulit mati sehingga produk perawatan kulit tidak dapat terserap secara baik dan memberikan efek gelap pada kulit. Penumpukan sel kulit mati bisa diatasi dengan melakukan eksfoliasi kulit menggunakan sediaan lulur (body scrub). Sedian lulur mengandung antioksidan dan scrub yang bisa diambil dari bahan alam seperti beras ketan putih dan cangkang telur ayam. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat keberhasilan limbah cangkang telur ayam menjadi eksfolian pada sediaan lulur ekstrak beras ketan putih serta efektivitas dan pengaruhnya terhadap sediaan. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan optimasi ukuran partikel cangkang telur ayam berdasarkan nomor ayakan. Sediaan dibuat dalam 4 formula, yaitu kontrol negatif (K-) tanpa menggunakan cangkang telur ayam serta FI, FII dan FIII yang menggunakan cangkang telur ayam dengan ayakan nomor 40 ; 60 ; dan 100. Uji sediaan yang dilakukan, meliputi uji organoleptis, uji homogenitas, uji pH, uji tipe krim, uji daya sebar, uji daya lekat, uji iritasi dan uji hedonik.. Hasil penelitian menyatakan bahwa sediaan lulur ekstrak beras ketan putih dengan formula terbaik terdapat pada formula II (FII) yang menggunakan cangkang telur ayam ayakan nomor 60. Sehingga dapat disimpulkan bahwa cangkang telur ayam dapat dijadikan sebagai eksfolian dalam formulasi sediaan lulur ekstrak beras ketan putih.
Penentuan Kadar Flavonoid Total pada Ekstrak Daun Bandotan (Folium Ageratum conyzoides L.) menggunakan Metode Spektrofotometri UV-Vis Tantri Wulandari Mokoginta; Moh. Rivaldi Mappa; Rizky Resvita R Bahi; Alfiana Pramasita Gonibala
Tinctura Vol 7 No 2 (2026): Jurnal Farmasi Tinctura
Publisher : Program Studi S1 Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35316/tinctura.v7i2.9469

Abstract

Daun bandotan memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai obat tradisional karena mengandung senyawa bioaktif, terutama flavonoid. Pemanfaatannya secara turun temurun oleh Masyarakat desa Tudu Aog, khususnya dalam mengatasi pendarahan pada luka iris, menunjukkan nilai etnomedisin yang penting. Namun, data kuantitatif mengenai kadar flavonoid dalam daun bandotan masih terbatas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kadar flavonoid total pada ekstrak daun bandotan dengan menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis. Penelitian ini menerapkan metode eksperimental yang meliputi beberapa tahapan, yaitu proses maserasi, skrining fitokimia, fraksinasi, kromatografi lapis tips (KLT), Kromatografi Kolom, serta kromatografi lapis tipis preparative (KLTP) dan analisis menggunakan spektrofotometri UV-Vis. Hasil ekstraksi menunjukkan hasil rendemen sebesar 10,9%, skrining mengindikasikan adanya senyawa flavonoid secara positif, fraksinasi menghasilkan dua fase yaitu polar dan nonpolar, uji KLT dengan perbandingan 8:2 menghasilkan  nilai Rf 0,76. Pemisahan menggunakan kromatografi kolom menunjukkan hasil yang optimal, pada KLTP diperoleh noda berwarna biru, merah dan ungu dan diidentifikasi menggunakan spektrofotometri UV-Vis menunjukkan Panjang gelombang serapan maksimum pada 431 nm. Hasil analisis kuantitatif menunjukkan rata-rata kadar flavonoid pada daun bandotan adalah 17,100 mgQE/g.
Analisis Senyawa Flavonoid dari Ekstrak Etanol Daun Sirsak (Folium Annona muricata L.) menggunakan Spektrofotometri UV-Vis Firja Hasan; Moh Rivaldi Mappa; Rizky Resvita R. Bahi; Moh Rasyid Kuna
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1201

Abstract

Daun sirsak (Annona muricata L.) telah lama dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat Kelurahan Matali, Kotamobagu Timur, Kotamobagu, Sulawesi Utara sebagai antiinflamasi dan diduga mengandung flavonoid sebagai senyawa aktif. Flavonoid memiliki sistem aromatik terkonjugasi yang memungkinkan analisis menggunakan metode spektrofotometri UV–Vis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberadaan dan kadar senyawa flavonoid pada daun sirsak. Uji kualitatif dilakukan melalui ekstraksi metode maserasi, skrining fitokimia, fraksinasi, KLT, kromatografi kolom, dan KLTP. Hasil ekstraksi mendapatkan rendamen sebesar 11,1% serta skrining fitokimia dinyatakan positif ditandai perubahan warna menjadi kuning. Fraksinasi menghasilkan dua lapisan, berupa polar dan non-polar. Analisis KLT memberikan nilai Rf optimal 0,78 dengan perbandingan eluen 8:2, sedangkan kromatografi kolom dan KLTP menunjukkan pemisahan noda berwarna biru muda, merah muda, dan merah. Analisis kuantitatif menggunakan spektrofotometri UV–Vis dengan baku kuersetin serta pereaksi AlCl3 10% dan kalium asetat pada panjang gelombang 431 nm setelah inkubasi 30 menit. Kadar flavonoid rata-rata diperoleh sebesar 34,578 mgQE/g.
Isolasi dan Identifikasi Flavonoid pada Daun Bidara (Ziziphus mauritiana Lamk) menggunakan Metode High Performance Liquid Chromatografi (HPLC) Amanda Pratiwi Sugeha; Rizky Resvita R. Bahi; Moh. Rivaldi Mappa
Health Research Journal of Indonesia Vol 4 No 5 (2026): Health Research Journal of Indonesia
Publisher : CV. Wadah Publikasi Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63004/hrji.v4i5.1229

Abstract

Daun bidara (Ziziphus mauritiana Lamk) secara tradisional dimanfaatkan sebagai obat herbal karena mengandung senyawa bioaktif yang berperan secara farmakologis. Di Kotamobagu daun bidara digunakan untuk mengatasi diare, pusing, dan pembengkakan, serta diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang berkaitan dengan kandungan flavonoid. Namun, data ilmiah mengenai profil flavonoidnya masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis dan profil kromatogram flavonoid dalam ekstrak daun bidara menggunakan metode High Performance Liquid Chromatography (HPLC). Tahapan penelitian meliputi metode kualitatif yaitu maserasi, skrining fitokimia, fraksinasi, KLT, kromatografi kolom, dan KLTP. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan HPLC dengan detektor UV-Vis (DAD) 260 nm, kolom C18, dan fase gerak asam format 0,1% dalam air (90%) serta asetonitril (10%) pada laju alir 1 mL/menit secara isokratik. Hasil menunjukkan nilai %RSD 0,22% dan memenuhi syarat linearitas baik R² sebesar 0,965% pada puncak kromatogram sampel dan pembanding kuarsetin dengan sekali injeksi muncul pada waktu retensi 3,095 menit yang mendekati standar kuersetin 3,022 menit, sehingga teridentifikasi senyawa golongan flavonoid jenis kuarsetin.