Articles
PERLINDUNGAN TERHADAP ANAK YANG BERHADAPAN DENGAN HUKUM
Rendy H Pratama;
Sri Sulastri;
Rudi Saprudin Darwis
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v2i1.13229
Penyimpangan tingkah laku atau perbuatan melanggar hukum yang dilakukan anak disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain adanya dampak negatif dari perkembangan pembangunan yang cepat, arus globalisasi dibidang komunikasi dan informasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perubahan gaya dan cara hidup sebagian orang tua, telah membawa perubahan sosial yang mendasar dalam kehidupan masyarakat yang sangat berpengaruh terhadap nilai dan perilaku anak. Hal ini dikarenakan pada usia dini, sang anak masih dalam keadaan labil dan mudah terbawa arus kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar yang dapat mempengaruhi pola tingkah laku anak itu sendiri. Dalam menghadapi dan menanggulangi berbagai perbuatan tingkah laku anak yang diduga melakukan suatu tindakan pidana, harus bisa dibedakan dengan kasus yang dialami oleh orang dewasa. Tidak sewajarnya anak dibawah umur mendapat penyidangan yang terlalu lama, yang dapat menjadikan trauma pada perkembangan mental anak. Menurut UU no 11 tahun 2012 pasal 91 ayat 3, setelah melakukan persidangan anak harus menjalani rehabilisasi sosial, yang bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik dan mental anak yang tersandung kasus agar bisa kembali melaksanakan fungsi sosialnya.
PENERAPAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN PEKERJA SOSIAL OLEH RELAWAN DALAM PENDAMPINGAN KEPADA ANAK PENDERITA KANKER
Pradini Nur’amalia Arliani;
Sri Sulastri;
Budi M. Taftazani
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 1 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v2i1.13268
Kanker dapat menyerang bagian manapun dari anggota tubuh manusia dan tidak memandang usia manusia. Kanker bisa juga terjadi pada anak-anak. Bagi penderita kanker, menanggulangi penyakit kanker dan prosedur pengobatannya bukanlah hal yang mudah. Hal ini tentu juga sangat dirasakan oleh anak penderita kanker. Selain itu, jika salah satu anggota keluarga terkena kanker, maka dampaknya akan sangat dirasakan oleh anggota keluarga yang lain. Penanganan anak penderita kanker tidak hanya tergantung pada tim medis tetapi juga dilihat dari penyelesaian masalah yang mencakup psikologis dan sosialnya. Salah satu unsur dapat membantu memberikan pengobatan non-medis kepada pasien adalah relawan. Oleh karena itu, tujuan dari artikel ini adalah untuk memahami peranan relawan yang menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam memberikan pendampingan kepada anak penderita kanker dan keluarga.Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Penelitian kualitatif dipilih karenapeneliti ingin melihat peran relawan dalam menerapkan pengetahuan dan keterampilan pekerja sosial dalam melakukan pendampingan kepada anak penderita kanker. Kemudian metode yang digunakan yaitu penelitian deskriptif, dengan menggambarkan keadaan nyata subyek yang akan diteliti yaitu pelayanan yang diberikan oleh Pekerja Sosial Medis dan relawan di Bangsal Kanker Anak – Rumah Sakit Kanker Dharmais.Dari hasil temuan yang ada di lapangan dapat dilihat bahwa bentuk peran yang dijalankan relawan dalam memberikan pendampingan bagi anak penderita kanker dan keluarganya tampak seperti bentuk peran Pekerja Sosial Medis (PSM). Maka penting melibatkan PSM agar pelayanan pengobatan yang terpadu dapat diberikan kepada pasien dan keluarganya, dari yang memiliki penyakit kronis apapun dan dalam seluruh kelompok usia, karena seorang PSM mempunyai bekal pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan nilai (value) sebagai bentuk kesatuan dari the helping profession.
PROSES REHABILITASI SOSIAL WANITA TUNA SUSILA DI BALAI REHABILITASI SOSIAL KARYA WANITA (BRSKW) PALIMANAN KABUPATEN CIREBON
WIDYA SUCI RAMADHANI;
SRI SULASTRI;
SONI AKHMAD NURHAQIM
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 2 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v4i2.14292
Masalah pelacuran atau prostitusi merupakan masalah sosial yang sangat kompleks karena populasi setiap tahunnya masih terlihat sangat banyak. Kemudian perilaku para pekerja pelacuran merupakan hal yang sangat bertentangan dengan norma dan nilai yang berlaku didalam masyarakat. Oleh karena itu perlu adanya penanganan yang serius untuk merespon permasalahan ini. Rehabilitasi sosial adalah salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan wanita tuna susila (WTS). Rehabilitasi sosial juga merupakan ranah praktik pekerjaan sosial, maka dari itu perlu adanya kontribusi dari pekerja sosial dalam penanganan masalah tersebut. Salah satu lembaga pemerintah yang melaksakan fungsi rehabilitasi sosial adalah Balai Rehabilitasi Sosial Karya Wanita (BRSKW) Palimanan Kabupaten Cirebon. Adapun waktu rehabilitasi dilakukan kurang lebih selama enam bulan. Dari hal tersebut penulis tertarik untuk meneliti proses rehabilitasi yang dilakukan oleh pihak lembaga, dan hasil dari proses rehabilitasi tersebut. Karena pada kebanyakan kasus para WTS yang sudah mengikuti rehabilitasi akan kembali lagi menjadi WTS.
EKSISTENSI PEKERJA SOSIAL DI RANAH INDUSTRI INDONESIA
Danny Dwi Septianto;
Sri Sulastri;
Gigin Ginanjar Kamil Basar
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 2, No 3 (2015): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v2i3.13583
Setiap pekerja industri di seluruh dunia pasti memiliki resiko kecelakaan yang besar khususnya di Indonesia, hal tersebut tentu membuat perasaan cemas ke para pekerja di perusahaan tersebut belum lagi resiko kehilangan pekerjaan yang bukan karena kinerja mereka buruk atau kesalahan kerja, melainkan karena adanya pergantian pekerja dari manusia ke mesin hal itu tentu member rasa cemas yang bertambah besar dan belum lagi masalah sosial kronis seperti alienation,alcoholism,absenteeism,accidents dan abuse yang masih menyelimuti banyak pekerja yang bekerja di ranah industrialisasi. Dan di Indonesia masih belum ada indikasi bahwa Indonesia akan lebih memperhatikan dan mensejahterakan para pekerja dan lebih memanusiawi kan pekerja di ranah industrialisasi khususnya kepada pekerja yang tidak memiliki jabatan yang tinggi. Mungkin karena para pekerja tersebut dianggap tidak berpengaruh atau memang belum ada atau sengaja tidak mengadakan program pelayanan sosial bagi pegawai, yang jelas adalah Indonesia kini butuh pekerja sosial industri untuk memperhatikan pekerja, memberi rasa aman bagi para pekerja dan memberi rasa aman kepada keluarga yang ditinggalkan pekerja baik itu untuk keluar kota karena pekerjaan atau meninggal dunia. Serta dengan metode yang dimiliki pekerja sosial khususnya pekerja sosial industri maka masalah sosial kronis yang diderita oleh pekerja yang bekerja di ranah industrialisasi dapat ditangani agar pekerja dapat melakukan fungsi sosialnya dengan baik dan member dampak positif pada perusahaan. Hal tersebut yang harus di perhatikan oleh perusahaan-perusahaan Indonesia saat ini mengingat industrialisasi merupakan salah satu faktor prnting pembangunan sebuah negara.
PELAYANAN LANJUT USIA TERLANTAR DALAM PANTI
Sri Sulastri;
Sahadi Humaedi
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 4, No 1 (2017): Prosiding Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24198/jppm.v4i1.14225
Jumlah penduduk lanjut usia (60 tahun keatas) akan terus meningkat. Peningkatan jumlah penduduk lanjut usia berhubungan positif dengan Ageing index dan sebaliknya berhubungan negatif dengan Potential Support Ratio. Jika pendapatan penduduk yang bekerja sebagai pendukung penduduk lansia tidak menunjukkan peningkatan berarti, maka jumlah penduduk lansia terlantar akan terus meningkat. Jumlah penduduk lansia wanita cenderung lebih banyak dan lebih rentan daripada pria karena tingkat partisipasi angkatan kerjanya rendah, lebih banyak yang berstatus lajang dan tinggal sendiri, dan berpendidikan rendah. Kebijakan perlindungan lansia saat ini lebih mengedepankan pelaksanaan kesejahteraan sosial dengan kelompok sasaran prioritas yaitu penduduk lansia terlantar. Kegiatan pelayanan lebih ditujukan untuk perlindungan dan rehabilitasi sosial, diantaranya melalui panti reguler. Dalam RPJMD 2015-2019 dikembangkan kebijakan Perawatan Jangka Panjang (Long-Term Care) yang dilaksanakan oleh 3 komponen utama yaitu pemerintah, masyarakat, dan rumah tangga. Pemerintah bertugas untuk menyediakan sistem asuransi LTC dan layanan berbasis institusi melalui panti; masyarakat menyediakan layanan berbasis komunitas, dan rumah tangga melaksanakan layanan berbasis rumah tangga. Tulisan ini ditujukan untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi penduduk lanjut usia dan pelayanan lanjut usia terlantar dalam panti. Dari hasil penelusuran beberapa literatur terkait diperoleh informasi bahwa Kelompok sasaran pelayanan sosial dalam panti, termasuk yang dikelola oleh pemerintah masih memilih lansia yang mampu mandiri dan memiliki keluarga, padahal mereka dapat dilayani melalui model layanan home care dan community care. Pelayanan dalam panti seyogyanya memilih lansia yang sudah tidak memiliki kemandirian yang tidak dapat ditangani oleh model pelayanan lain. Untuk itu, diperlukan pengembangan mekanisme penjangkauan lansia tersebut, proses pelayanan yang relevan, penyediaan sumberdaya manusia dan sarana pelayanan yang memadai.
Imaging of odontogenic keratocyst of the jaw by panoramic radiography: a scoping review
Sri Sulastri;
Ria Noerianingsih Firman;
Lusi Epsilawati
Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia (JRDI) Vol 5 No 2 (2021): Jurnal Radiologi Dentomaksilofasial Indonesia (JRDI)
Publisher : Ikatan Radiologi Kedokteran Gigi Indonesia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.32793/jrdi.v5i2.699
Objectives: This review article is aimed to determine the imaging of odontogenic keratocyst of the jaw by panoramic radiography. Review: This research is a descriptive research using the scoping review method based on the Preferred Reporting Items for Systematic Review and Meta-analysis Scoping Review (PRISMA-Scr) which was conducted from February 2021 to April 2021. The search for literature related to the research topic was carried out through database of scientific articles on PMC NCBI, Pubmed NCBI, and Garuda as well as hand searching. The identified articles were screened by checking for duplicates, reading the titles and abstracts, and reading the entire articles. A total of 16 articles were included out of 161 articles in total. Conclusion: Imaging of odontogenic keratocyst of the jaw by panoramic radiography is most commonly found in the 1st and 2nd decades of life and in males, the lesions are unilocular or multilocular radiolucent and have an envelopmental shape in which the outline of the cyst surrounds the entire unerupted tooth. OKCs have well-defined with sclerotic or scalloped margins, most often occur in the posterior mandible and often associated with impacted 3rd molars, root resorption was a rare occurrence.
ANALISIS USAHATANI PADI RAWA (Studi Kasus di Desa Sukanagara Kecamatan Lakbok Kabupaten Ciamis)
Sri Sulastri Sitanggang;
M. Gunardi Judawinata
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Agroinfo Galuh Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Galuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (228.159 KB)
|
DOI: 10.25157/jimag.v6i1.1511
Kecamatan Lakbok merupakan satu-satunya daerah lahan gambut penghasil padi rawa di Pulau Jawa. Penelitian dilakukan di Desa Sukanagara yang merupakan pusat kota Kecamatan Lakbok. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik petani, mengetahui karakteristik usahatani padi rawa dan menganalisis keuntungan yang diperoleh dari usahatani padi rawa di Desa Sukanagara. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan teknik studi kasus. Alat analisis yang digunakan adalah RC Rasio dan untuk memperoleh informasi menggunakan teknik wawancara mendalam. Informan dalam penelitian ini merupakan para petani padi yang melakukan usahatani di lahan rawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa petani memiliki perilaku dan pengetahuan yang diwariskan secara turun temurun sehingga menjadi kebiasaan dalam melakukan usahatani padi rawa. Proses usahatani padi rawa di Desa Sukanagara memiliki perbedaan yaitu cara penanganan yang disesuaikan dengan kondisi genangan air dan dalam hal budaya; seperti penentuan musim tanam melalui kalender pranata mangsa, pembuatan pestisida yang diracik sendiri, melakukan perhitungan hari baik dalam penanaman dan pemanenan, melakukan pemipitan sebelum pemanenan, dan melakukan penyimpanan gabah. Hasil usahatani padi rawa dari seluruh informan layak untuk diusahakan atau menguntungkan dengan perolehan RC Ratio > 1. Namun hal ini dapat terjadi apabila kondisi lahan rawa dalam keadaan normal atau stabil.
PENGEMBANGAN POTENSI WIRAUSAHA DI DESA MEKARGALIH, KECAMATAN JATINANGOR, KABUPATEN SUMEDANG
Rudi Saprudin Darwis;
Sri Sulastri;
Maulana Irfan
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 1 (2020): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (287.048 KB)
|
DOI: 10.31604/jpm.v3i1.116-126
Micro, small, and medium enterprises (MSMEs) in the Mekargalih Village area, Jatinangor District, Sumedang Regency still face problems of weak business capacity, uncertain market access and development, ineffective business management, and limited business networks. This paper will describe efforts to develop the capacity of SMEs in Mekargalih Village through workshops on entrepreneurship. The studio filled with material delivery on developing entrepreneurial insight, promoting product legality through halal certification and brand rights, as well as sharing experiences from MSME actors in the Mekargalih Village. In the implementation, not all invited participants could attend because the implementation time was in conjunction with other community activities. The results of the evaluation of participants who attended, using the Wilcoxon Test method, showed the workshop influenced increasing the knowledge of participants even though the increase was small. For the aspects of 'business development according to the target market,' there was no increase in knowledge. As a suggestion, providing material for business development following the target market needs to be accompanied by the presentation of real data to be the basis for business development.
PEMANFAATAN MEDIA DIGITAL UNTUK MENUNJANG PELAKSANAAN TUGAS KADER POSYANDU ((Kasus di Desa Sukamaju, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Bandung)
Sri Sulastri;
Meilanny Budiarti Santoso;
Arie Surya Gutama
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/jpm.v6i6.2142-2151
Media digital, seperti halaman web dan media sosial banyak digunakan untuk berbagi informasi, termasuk informasi kesehatan. Informasi dari sumber terpercaya dapat mengedukasi penggunanya. Kader kesehatan yang mengelola Pos Pelayanan Terpadu dapat memanfaatkan informasi di media digital untuk kebutuhan informasi bagi dirinya dan kelompok sasaran pelayanannya. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam menggunakan media digital kepada Kader Kesehatan melalui metode pendidikan masyarakat. Hasil dari kegiatan ini sedikitnya 20 peserta terpapar informasi tentang manfaat media digital, dan dua peserta terampil mengakses informasi di media sosial dan berbagi informasi melalui media percakapan. Beberapa kader lainnya sudah mulai membentuk grup WhatsApp dengan anggota kelompok sasarannya dan berbagi informasi tentang imunisasi. Terbentuknya grup WhatsApp mendapat respon positif dari para anggotanya. Kader yang terampil dalam mengakses informasi di media digital dapat berperan sebagai pencari informasi yang dibutuhkan oleh seluruh kader kesehatan, dan kader lainnya dapat meminta informasi yang mereka butuhkan.
SOSIALISASI PENTINGNYA PENCATATAN DATA MIKRO ORANG DENGAN MASALAH KEJIWAAN DAN GANGGUAN JIWA
Sri Sulastri;
Muhammad Budi Taftazani;
Arie Surya Gutama;
Lenny Meilany
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 9 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/jpm.v6i9.3080-3091
Orang dengan Masalah Kejiwaan dan Orang dengan Gangguan Jiwa adalah dua kategori masalah kesehatan mental. Di Indonesia jumlahnya terus meningkat. Keduanya membutuhkan layanan yang berbeda sesuai dengan kebutuhannya. Gangguan jiwa bukanlah penyebab kematian, tetapi penderitanya akan hidup dalam kondisi disabilitas dalam waktu yang relatif lama. Pada tahun 2018, hanya 38,14% yang berobat, ini menunjukkan bahwa akses terhadap pelayanan kesehatan jiwa masih rendah, dan upaya penjangkauan sangat diperlukan. Orang dengan masalah kejiwaan memiliki berbagai faktor risiko yang memungkinkan mereka menjadi orang dengan gangguan jiwa. Data micro mereka sangat diperlukan untuk menjangkau keduanya. Penyediaan data mikro dapat melibatkan lingkungan sosial terdekat, seperti tetangga dan komponen masyarakat lainnya. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat desa atau kelurahan bahwa data mikro penting untuk membantu orang dengan masalah kejiwaan dan dan orang dengan gangguan jiwa mengakses layanan. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk webinar yang dihadiri oleh perwakilan masyarakat desa atau kelurahan. Tiga diantaranya telah melakukan pencatatan data mikro, dalam kegiatan ini mereka berbagi pengalaman. Hasil dari kegiatan ini, sedikitnya 14 orang perwakilannya menyadari pentingnya data mikro bagi penderita gangguan jiwa.