Lusi Epsilawati
Department Of Dentomaxillofacial Radiology, Faculty Of Dentistry, Padjadjaran University Bandung, Indonesia

Published : 93 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Normal, inflammation and necrosis pulp radiograph image using 3D cone beam computed tomography Pramanik, Farina; Firman, Ria Noerianingsih; Oscandar, Fahmi; Epsilawati, Lusi
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 28, No 2 (2016): July
Publisher : Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.253 KB) | DOI: 10.24198/pjd.vol28no2.13720

Abstract

Introduction: Abnormalities of the dental pulp can have several different diagnoses. Therefore, the dental pulp characteristics must be known in more detail and clear so that diagnosis be established more precisely and accurately.  One characteristic of the pulp can be seen from the density value through the 3D Cone Beam Computed Tomography (3D CBCT). Methods: The study  was  conducted  with  a  simple  descriptive  method.  The population is all the data 3D CBCT of patients who visited the Universitas Padjadjaran Dental Hospital (RSGM Unpad) in 2012. Samples of the research were 75 pulps  with normal, inflammation, and necrosis conditions and calculate the average density value. Results: Density values for dental pulps in the normal teeth between 465 - 775 HU, the inflammation teeth between 243.5 - 396 HU, and necrosis teeth between - 461.5 - -170 HU. Conclusion: There are differences in dental pulp density between the normal pulp, inflammation and necrosis through 3D CBCT.
Correlation between mandibular length and third molar maturation based on their radiography appearances Pramatika, Berty; Azhari, Azhari; Epsilawati, Lusi
Padjadjaran Journal of Dentistry Vol 30, No 2 (2018): July
Publisher : Faculty of Dentistry Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.21 KB) | DOI: 10.24198/pjd.vol30no2.18331

Abstract

Introduction: Growth and development is a dynamic process that is influenced by many factors, this is why children of the same age do not have the same growth rate, therefore growth can not  be evaluated only by chronological age, but also by maturation skeletal and dental. Previous research has shown a strong relationship between mandibular length and Cervical Vertebral Maturation (CVM). The aim of the present study was to determine the correlation between mandibular length and mandibular third molar maturation using panoramic radiograph. Methods: This research is an observational analytic cross sectional study. Total 412 panoramic radiographs of 207 male and 205 female aged 9-25 years were evaluated. The mandibular length measured from the point of condylion (Co) to menton (Me). M3 maturation of the mandible was evaluated by Demirjian methods. Results: Spearman non-parametric correlation was used for analysis. A strong correlation was found between mandibular length and third molar development (in males: r=0.705 on the right side and are=0.729 on the left side; in females: are=0.755 on the right side and are=0.707 on the left side) Conclusion: There is a strong correlation between mandibular length and mandibular third molar maturation in both male and female.
ANALISIS ANTEGONION INDEKS DAN MENTAL INDEKS PADA SUBJEK HIPERTENSI PENGGUNA AMLODIPINE YANG DI EVALUASI MENGGUNAKAN RADIOGRAF PANORAMIK Septina, Farihah; Sitam, suharjo; Epsilawati, Lusi
E-Prodenta Journal of Dentistry Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi UB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemeriksaan densitas tulang dapat dilakukan menggunakan radiograf panoramik digital menggunakan Antegonion Indeks (AI) dan Mental Indeks (MI). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis keterkaitan antara ketinggian tulang korteks mandibular pd subjek hipertensi dengan / tanpa menggunakan amlodipine, dibandingkan dengan subjek tanpa hipertensi (normal) sebagai kontrol. Metoda pengukuran dilakukan pada radiograf panoramik (30 buah), dengan menggunakan Antegonion indeks dan Mental indeks yang diambil dari rekam medik RSGMP-FKG Unpad, Bandung. Hasil penelitian ini didapatkan nilai GI berkisar 0,8 mm; dan pada MI berkisar 1,8-1,9 mm. Analisis statistik menunjukkan, Ketinggian korteks mandibula subjek HT pengguana amlodopin lebih rendah bila dibandingkan dengan subjek HT tidak menggunakan amlodipin (setelah masing-masing dibandingkan dgn kontrol) kondisi normal dengan nilai sig 0,0 dan lebih besar dari α > 0,05. Perbandingan hasil antara ketiga indeks menunjukan angka signifikan berbeda dengan α > 0,05. Simpulan dari penelitian ini adalah ketinggian korteks mandibula pengguna subjek HT pengguna amlodipin yang diukur dengan AI dan MI  pada radiograf panoramik adalah lebih rendah dari pada subjek HT pengguna amlodipin . Perbandingan antar indeks paling sensitif adalah menggunakan metode Gonion Indeks 
Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis pada radiograf periapikalRadiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions on periapical radiographs Istri Dwi Utami; Farina Pramanik; Lusi Epsilawati
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 3, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v3i1.22306

Abstract

Pendahuluan: Karies merupakan penyakit yang paling banyak terjadi. Pada tahun 2013 kerusakan gigi masyarakat Indonesia adalah 460 buah gigi per 100 orang. Jika dibiarkan tidak dirawat akan berkembang mengarah pada kematian pulpa dan akan menyebar menyebabkan infeksi periapikal. Tahun 2010 penyakit pulpa dan periapikal menempati posisi ke 7 dari 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di rumah sakit di Indonesia. Teknik radiograf yang dapat digunakan untuk diagnosis penyakit pulpa dan periapikal adalah teknik radiografi periapikal. Tujuan penelitian adalah mendapatkan informasi mengenai proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad. Metode: Jenis penelitian deskriptif. Populasi penelitian adalah seluruh radiograf periapiakal gigi nekrosis dengan lesi periapikal pada bulan November 2018 – Januari 2019 di Instalasi Radiologi Kedokteran Gigi RSGM Unpad. Sampel penelitian ditentukan dengan metode purposive sampling. Jumlah sampel sebanyak 54 radiograf periapikal. Hasil: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal yaitu abses periapikal sebanyak 42 kasus (77,78%), granuloma periapikal 8 kasus (14,81%) dan kista periapikal 4 kasus (7,40 %). Simpulan: Proporsi gambaran radiografis lesi periapikal gigi nekrosis di RSGM Unpad didapatkan proporsi tertinggi adalah abses periapikal diikuti granuloma periapikal dan yang terakhir adalah kista periapikal.Kata Kunci: Gigi nekrosis, lesi periapikal, radiograf periapikal ABSTRACTIntroduction: Caries is the most common disease. In 2013, tooth decay of Indonesian people was 460 teeth per 100 people. If left untreated, it will develop, leading to pulp death and will spread, causing periapical infection. In 2010, pulp and periapical diseases were ranked 7th out of the ten most diseases in outpatients of the hospitals in Indonesia. A radiographic technique that can be used for the diagnosis of pulp and periapical disease is a periapical radiographic technique. This study was aimed to obtain information about the radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital. Methods: This study was descriptive, with study population was all radiographs of the necrotic teeth periapical lesions in November 2018 - January 2019 at Dentomaxillofacial Radiology Installation of Universitas Padjadjaran Dental Hospital. The research sample was determined by purposive sampling method. The number of samples was 54 periapical radiographs. Results: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions, namely periapical abscesses in 42 cases (77.78%), periapical granuloma in 8 cases (14.81%) and periapical cysts in 4 cases (7.40%). Conclusion: The radiographic image proportion of necrotic teeth periapical lesions at Universitas Padjadjaran Dental Hospital mostly are periapical abscesses, followed by periapical granuloma, and the least is periapical cysts.Keywords: Necrotic teeth, periapical lesions, periapical radiographs
Perubahan pengetahuan setelah edukasi foto ronsen di bidang kedokteran gigi pada siswa Sekolah Menengah Atas menggunakan media animasi Nur Alya Nazerin; Lusi Epsilawati; Anne Agustina Suwargiani
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 2, No 1 (2018): Februari 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v2i2.21428

Abstract

Pendahuluan: Radiografi gigi merupakan salah satu pemeriksaan wajib yang digunakan di kalangan dokter gigi untuk membantu dalam menentukan diagnosis yang tepat dalam rongga mulut. Namun, radiografi gigi menghasilkan bahaya yang tidak terduga yaitu radiasi sinar-X yang memberi dampak buruk ke tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan pengetahuan setelah edukasi radiografi gigi di kalangan siswa SMAN 1 Cipatat menggunakan media animasi. Metode:Penelitian ini dirancang dengan metode deskriptif. 32 siswa kelas VI MIPA 2 di SMAN 1 Cipatat dipilih menjadi responden berdasarkan teknik total sampling. Perubahan pengetahuan setelah edukasi menggunakan media animasi diukur dengan memberikan kuesioner sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Perubahan pengetahuan setelah menerima pendidikan radiografi gigi yang 24 responden (75%) meningkat karena mereka memperhatikan selama pendidikan dan memiliki perilaku yang menentukan untuk belajar. Selain itu,6 responden  (18.75%) tidak mengalami perubahan pengetahuan radiografi gigi. Simpulan: Adanya peningkatan pengetahuan radiografi gigi yang signifikan setelah edukasi menggunakan media animasi.Kata kunci: Pengetahuan, radiologi kedokteran gigi, edukasi, media animasi
Perbedaan tinggi dan lebar sinus maksilaris berdasarkan jenis kelamin menggunakan radiograf panoramik Lei Wei Ken; Lusi Epsilawati; Suharjo Sitam
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 1, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v1i1.22144

Abstract

Pendahuluan: Dimorfisme seksual adalah salah satu langkah awal dalam identifikasi untuk mayat dan tulang biasanya digunakan untuk penentuan jenis kelamin sering ditemukan sudah terfragmentasi terutama pada keadaan bencana seperti ledakan dan bencana massal lainnya. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan tinggi dan lebar dinding sinus maksilaris antara laki-laki dan perempuan pada radiografi panoramik. Metode: Jenis penelitian adalah deskriptif dimana akan diukur tinggi dan lebar dinding sinus maksilaris pada kelompok laki-laki dan perempuan yang memenuhi kriteria inklusi. Penelitian ini meneliti 50 radiograf panoramik laki-laki dan perempuan usia 20-40 tahun. Hasil: Rata-rata tinggi dan lebar kanan dan kiri dinding sinus maksilaris pada laki-laki lebih tinggi dari perempuan. Tinggi rata-rata dinding kiri dan kanan laki-laki (31,46 ± 3,09 mm dan 30,47 ± 3,18 mm) dan menunjukkan signifikan secara statistik lebih tinggi laki-laki dibanding dengan perempuan  sekitar 26,41 ± 4,41 mm untuk sisi kanan dan 26,06 ± 4,49 mm untuk sisi kiri. Lebar sinus rata-rata untuk laki-laki adalah 26,57 ± 3,23 mm dan 26,3 ± 2,87 mm untuk sisi kanan dan kiri masing-masing yang hanya menunjukkan lebar kiri dinding sinus maksilaris pada pria secara signifikan lebih besar dari wanita dengan 24,82 ± 3,17 mm untuk sisi kanan dan 24,64 ± 2.85 mm untuk sisi kiri. Simpulan: Terdapat perbedaan yang bermakna pada ketinggian dinding sinus maksilaris kanan dan kiri antara pria dan wanita yang diukur dengan menggunakan radiograf panoramik.Kata kunci: Sinus maksilaris, jenis kelamin, radiograf panoramik
Deskripsi pertumbuhan akar lengkap pada gigi molar tiga rahang atas berdasarkan usia kronologis Kerk Xi Zhe; Lusi Epsilawati; Ria Noerianingsih Firman
Padjadjaran Journal of Dental Researchers and Students Vol 1, No 2 (2017): Oktober 2017
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/pjdrs.v1i1.22137

Abstract

Pendahuluan: Perkembangan gigi adalah satu proses yang lambat, tetapi pertumbuhan gigi tetap mengikuti satu pola perkembangan tersebut. Perkembangan gigi sering digunakan untuk mengevaluasi usia kronologis melalui radiograf. Erupsi gigi molar ketiga biasanya paling akhir, maka gigi tersebut dapat menjadi indikator kematangan usia. Penelitian menunjukan erupsi gigi tersebut biasanya sekitar usia 17-25 tahun tetapi, usia atau waktu pertumbuhan sempurna dari akar gigi molar ketiga masih belum diketahui. Tujuan penelitian untuk meneliti usia kronologis melalui pertumbuhan akar gigi secara sempurna pada pasien di RSGM Unpad. Metode: Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian deskripsi  dengan sampel diambil dari radiograf panoramik di Instalasi Radiologi RSGM Unpad. Populasi yang diteliti adalah pasien dari usia 17-25 tahun pada bulan April-Juni 2016. Data ini dikategorikan untuk 3 kategori sesuai dengan anatomi akar, dan diverifikasi oleh konsulen dari departemen radiologi sebelum disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil: Kelompok sampel gigi 18 menunjukkan 66% sampel perempuan dan 69% sampel laki-laki adalah dalam kategori III. Kelompok sampel gigi 28 menunjukkan  55% sampel perempuan dan 77 % sampel laki-laki adalah dalam kategori III. Simpulan: Mayoritas akar gigi molar ketiga pada populasi perempuan tumbuh secara sempurna pada usia 23 dan 25, dan pada populasi laki-laki adalah usia 22.Kata kunci: Gigi molar tiga rahang atas, pertumbuhan akar gigi, radiograf panoramik, usia kronologis
HUBUNGAN PENURUNAN TULANG ALVEOLAR DAN PENIPISAN TULANG KORTIKAL MANDIBULA PADA PENDERITA PERIODONTITIS DISERTAI DIABETES MILITUS TIPE-2 MENGGUNAKAN RADIOGRAFI CONE BEAM COMPUTED TOMOGRAFI-3D Lusi Epsilawati
Indonesian Journal of Applied Sciences Vol 2, No 2 (2012)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (129.365 KB) | DOI: 10.24198/ijas.v2i2.2739

Abstract

Diabetes mellitus is a metabolic disease, which are the characteristics characterized by high levels of sugar in the body. Based on the studies that have been made, the decline in density is one complication that occurs in this disease. Decrease in bone density is thought to cause the resorption on alveolar bone and thinning of the cortical bone. Even resorption the alveolar bone is heavily influenced by local factors such as the condition of periodontal tissue inflammation (periodontitis) does not mean that systemic factors do not influence. The cortical bone thinning influence of systemic factors is quite large. Effect of systemic and local causes bone damage, so it needs to be extent, to show the relationship between the decrease in alveolar bone and the cortical bone thinning. The aims of this study are analyze the relationship between the decrease in alveolar bone and mandible cortical bone inpatient's periodontitis with type-2 diabetes mellitus by the use of cone beam computed tomography (CBCT-3D). This type of this research is the analytical description of the sample derived from the radiographs CBCT-3D of patient's periodontitis with type-2 diabetes mellitus, who visited the RSGM FKG Unpad of 2 January 2010 - May 30, 2011, with specified criteria of sample and obtained 21 data. Region of the research performed on patients with the mandible alveolar and cortical bone which is divided into 10 regional sections. Analyzes were conducted in two stages. The first analysis with multiple regression analysis in which all three variables were measured simultaneously and the second with a partial regression analysis in which all three variables are calculated separately. Results of the study found a decrease in alveolar bone substantial in region anterior by sagital viuw and coronal. The maximum value of the alveolar resorption is in the left anterior region with a large range from 4.51 to 4.99 mm from sagital and 5.2 to 5.7 mm from the coronal. The thinning of the mandible cortical bone thinning ranged from 0.59 to 0.62 mm. Between the decrease in alveolar bone of the thinning in cortical bone significant in the posterior it's shown in the region M2, 3 and M1, while for other regions like's regions P, C and I did not show significance.
Gambaran CBCT osteomyelitis dan osteoradionecrosis Anak Agung Gede Dananjaya Agung; Lusi Epsilawati; Merry Anissa Damayanti
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 4, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.61413

Abstract

Osteomyelitis adalah peradangan yang terjadi pada tulang termasuk pada tulang rahang. Inflamasi ini menyebar dengan melibatkan sumsum pada spongios tulang bahkan sampai ke korteks dan periosteum. Osteomielitis disebabkan adanya invasi dari organisme piogenik yang masuk menginfeksi tulang dari berbagai macam cara. Osteoradionekrosis merupakan kondisi kematian jaringan tulang dikarenakan bebrapa hal seperti penggunaan radioterapi. Radioterapi merupakan salah satu penyebab umum dikeranakan radioterapi dapat merusak jaringan veskularisasi dan darah pada tulang, sehingga tulang menjadi kekurangan nutrisi yang akhirnya mengarah ke kondisi nekrosis. Untuk menganalisis kedua kondisi ini, biasa digunakan cone beam computed tomografi (CBCT). Tujuan dari penulisan studi kasus ini adalah untuk memberikan gambaran spesifik antara osteomielitis dan osteonekrosis pada CBCT. Wanita berusia 48 dan 55 tahun datang ke RSGM UNPAD Bandung dengan keluhan adanya pembengkakan di regio mandibula disertai rasa sakit luar biasa. Kondisi umum compos mentis akan tetapi sangat lemah, lalu dirujuk untuk pemeriksaan CBCT. Pemeriksaan CBCT terlihat lesi nekrotik pada mandibula dengan tingkat keparahan antara kedua pasien berbeda. CBCT memberikan gambran spesifik yang membedakan antara kedua kasus, sehingga diagnosa dapat ditegakkan secara pasti. Jenis osteomiletis yang merupakan kondisi inflamasi pada rahang mampu didefinisikan dengan baik melalui CBCT.
Differences between male and female mandibular length growth according to panoramic radiograph Azhari Azhari; Berty Pramatika; Lusi Epsilawati
Majalah Kedokteran Gigi Indonesia Vol 5, No 1 (2019): April
Publisher : Faculty of Dentistry, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (422.892 KB) | DOI: 10.22146/majkedgiind.39164

Abstract

Evaluation of the mandible was used for age and sex determination in the forensic field and it established the treatment planning in dentistry. The present study aims to determine mandibular length growth on male and female group aged   9-25 years old using panoramic radiograph. The research was conducted using analytical cross-sectional design method. The subject of this research was 412 panoramic radioraphs of patients aged 9-25 years old. It involved a totalsamples of 207 males and 205 females. This research was conducted from May to October 2017 in RSGM Padjadjaran University Bandung to meassure the length and height of mandibula from the point in condyleus to mentone. The MannWhitney test results showed a significant difference in mandibular length between men and women and no significant difference between the right andleft mandibular length in men and women. There is a difference between male and female mandibular length growth, in which the increase of growth of mandibular length in female is earlier than that of male. Male mandibular length is greater than female.
Co-Authors - Azhari Abel Tasman Yuza Achmad Noerkhaerin Putra Aga Satria Nurrachman Agung, Anak Agung Gde Dananjaya Agustin, Sylvia Alongsyah Zulkarnaen Ramadhan Amalia, Rahmi Anak Agung Gede Dananjaya Agung Anak Agung Istri Agung Feranasari Andaria, Rully Zaidan Anjani, Khamila Gayatri Anne Agustina Suwargiani Annisa Fitriyana Annisa Putri Annisa Putri Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Azhari Bambang Pontjo Priosoeryanto Belly Sam Berty Pramatika Bremmy Laksono Cahyareni, Firlana Chrisna Ardhya Medika Damayanti, Merry Deddy Firman Desyaningrum, Hentartika Dewi Zakiawati Dhiaulhaq, Rifarana Inayah Diera Fitrah Kusumawardhany Dwi Putri Wulansari Eddy Hermanto Eha Renwi Astuti Eka Marwansyah Oli'i Erna Herawati Faatihah, Amaliya Ummul Fadhlil Ulum A. Rahman Fadhlil Ulum A.R. Fadhlil Ulum Abdul Rahman Fahmi Oscandar Fahri Reza Ramadhan Farah Nurul Salsabila Farina Pramanik Fatimah, Tati Siti Fauziyah, Erlina Fidela D. Aziza Gunawan Gunawan Gustianto, Yudhy Hadiputri, Felicia Hanafi, Eva Yulianti Haris Nasutianto Harqad, Teuku Hatta, Isnur Hendra Polii Ichda Nabiela Amiria Asykarie Ilmayah, Ilmayah Indra Hadikrishna Indri Kusuma Dewi Inne Suherna Sasmita Irna Sufiawati Istri Dwi Utami Jamaluddin, Rafiqah Rezky Amelia Jamil, Nur Jamil, Nur Aini Janadewi, I Gusti Agung Kerk Xi Zhe Khamila Gayatri Anjani Krisna Krisna Kurniawan, Septian Bagus Laurentina, Made Lei Wei Ken Lita, Yurika Lubis, Ratih Trikusumadewi Lulu Hervina Lutfi Yondri Mahindra Awwaludin Romdlon Meelaashah Ragunathan Meiryndra Syaira Putri Merry Anissa Damayanti Merry Annisa Mieke Hermiawati Satari Mirna Febriani Muchlis, Muhammad Rakhmat Ersyad Muhammad Adri Nurrahim Muhammad Fikri Muhammad Rakhmat Ersyad Muchlis Munasyifa, Tazkia Noor Rachmawati Noor Rachmawati Noor Rachmawati Nova Rosdiana Nunung Rusminah Nur Alya Nazerin Nursin, Rohmat Pramatika, Berty Pramatika, Berty Putra, Dimas Satria Putri Andini, Putri Putri, Gina Putri, Meiryndra Syaira Rachmawati, Ika Rahasdini, Puri Rahimi, Mohammad Rahmadona, Suci Rahman, Fadhlil Ulum Abdul Rahmania Rahmania Raidha, Fauza Ramadhan, Ramzy Rante Marampa, Wilman Rasmi Rikmasari Ratih Trikusumadewi Lubis Regrina Setiawan Rellyca Sola Gracea Restiti, Rr Dinar Reza, Ahmad Ria N. Firman Riana Wardani Rike Kapriani Sami Puspitasari Sandy P Sarifah, Norlaila Septina, Farihah Setyawan Bonifacius Silviana Farrah Diba Sitam, suharjo Sri Sulastri Sri Susilawati Sri Tjahajawati Suhardjo Sitam Suhardjo Sitam Suhardjo Sitam, Suhardjo Suhardjo Suhardjo Suharjo Sitam Sukmadewi, Putri Marina Tadeus Arufan Jasrin Vera Widyastuti Wisam Rizqullah Yanti Rusyanti Yasmine, Salsabila Yurika Ambar Lita Yuti Malinda