Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

TRIGONELLA FOENUM : A REVIEW OF HYPOGLYCEMIC ACTIVITY Suryawati Suryawati; Safrida Safrida; Firdausa Sarah; Azizah Vonna; Vera Dewi Mulia
Jurnal Natural Volume 19 Number 3, October 2019
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jn.v19i3.13405

Abstract

Treatment of diabetes mellitus is intended to reduce the risk of blindness, kidney failure, neuropathy and heart disease that can develop due to the chronic increase in the blood glucose level. The selected hypoglycemic agents should be effective, safe and readily available. The widely used agents work by interrupting enzymes responsible for glucose regulation. Those enzymes are α-amilase, α-glucosidase, dipeptidyl peptidase-IV, aldose reductase and angiotensin converting enzyme. A medicinal plant, fenugreek (Trigonella foenum-graecum) has been used as an antidiabetic folk medicine. This review provides information related to in vitro studies showing antihyperglycemic activity of fenugreek along with an in vivo study in animals. In addition, potential phytochemicals that have been isolated from this plant are described and play a role in the searching for the most potent agents for diabetes mellitus therapy.
The use of herbal medicines by the elderly in rural area in Indonesia: A cross-sectional study among Acehnese Suryawati Suryawati; Sarah Firdausa; T. Hidayat Syah; Vera Dewi Mulia; Hijra Novia Suardi; Zahratul Aini; Fauzul Husna; Hafni Andayani
Trends in Infection and Global Health Vol 3, No 1 (2023): June 2023
Publisher : School of Medicine, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/tigh.v3i1.31438

Abstract

The use of herbal medicines has become increasingly popular worldwide. Elderly has been associated with higher consumption of many medications, including herbal medicines. However, there is a lack of documentation of medicinal herbs use among Acehnese population. Our study aimed at evaluating the profile of herbals use among the elderly population in a rural area of Aceh Province, Indonesia. A cross-sectional study was conducted from October to November 2021 in Nagan Raya Regency of Aceh. To collect information on the use of herbs, a set of structured questionnaires was utilized. The data were presented in percentage (%). A total of 100 respondents were included comprising 54.0% female and most of the respondents aged between 60–64 years (43.0%). The largest percentage of the participants made their own herbal medicines (45.0%) and used them routinely as a habit (36.0%). About 75.0% of the elderly felt better and almost all of them (96.0%) reported no adverse reaction following herbs consumption. A total of 39 plant species were used by the respondents with Annona muricate L. was the most frequently used medicinal plant (16.0%) and leaves were the most commonly used parts (68.4%). Most of the herbs were prepared through boiling and squeezing (32.6%), and mainly used in the form of a drink (77.3%). Cough treatment with herbs made up 19.3%, followed by hypertension (18.0%), flatulence (7.6%), dyspepsia (5.8%), and fever (5.8%). Our investigation revealed consistency in the use of some medicinal herbs in the present study with published experimental data. However, since elderlies are often considered vulnerable individuals, the practice of herbal self-remedies among this population should be well-monitored.
Sitologi Tumor Odontogenik: Ameloblastoma Vera Dewi Mulia
Cakradonya Dental Journal Vol 7, No 2 (2015): Desember 2015
Publisher : FKG Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ameloblastoma adalah tumor odontogenik jinak dan bersifat agresif secara lokal. Angka kejadian tumor ini sekitar 1% dari seluruh tumor pada tulang rahang. Biasanya terjadi pada regio mandibula, dan hanya sedikit kasus di maksila. Ameloblastoma mempunyai kecendrungan untuk rekurensi, karena itu sangat diperlukan diagnosis yang akurat sebelum menentukan teknik pembedahan. Gejala klinis dan radiologis ameloblastoma dapat menunjukkan gambaran yang tidak spesifik, gambarannya bisa menyerupai odontogenic cyst dan tumor lain. Fine Needle Aspiration Cytology (FNAB) merupakan suatu teknik yang mudah dan tidak invasif dalam menegakkan diagnosis sebelum tindakan pembedahan dilakukan pada ameloblastoma. Teknik ini juga merupakan suatu tindakan yang dapat dilakukan dengan cepat dan menghasilkan diagnosis yang akurat, serta dapat membedakan antara tumor jinak dan ganas. Sitologi dari ameloblastoma terdiri atas kelompok-kelompok sel basaloid dengan single spindle and stellate shaped cells. Bahan pemeriksaan bisa tidak memadai bila diperoleh dari tumor dengan area kista yang luas, dan dapat menyebabkan diagnosis menjadi tidak akurat, sehingga bisa keliru dalam menentukan keganasan yang bisa terdiagnosis sebagai suatu ameloblastoma konvensional.
Overekspresi HSP70 oleh Makrofag karena Induksi low-level laser pada Luka Bakar . Vera Dewi Mulia, Troef Soemarno
Majalah Patologi Indonesia Vol. 21 No. 1, Januari 2012
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Anatomik Indonesia (PDSPA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Latar belakang Makrofag merupakan suatu komponen penting yang berperan dalam proses penyembuhan luka. Penelitian ini dilakukan untk meneliti pengaruh terapi low level laser (LLLT) terhadap aktivasi makrofag dalam pelepasan Heat Shock Protein (HSP) 70 dan Fibroblast Growth Factor (FGF) pada proses penyembuhan luka bakar pada kulit mencit. Metode Enam belas mencit dibagi dalam 2 kelompok dan dilakukan pembuatan luka bakar derajat 2 pada kulit punggung. Pada kelompok kontrol, luka bakar dioles dengan silver sulfadiazine (SSD) 1% secara topikal dan ditutup plaster. Pada kelompok perlakuan, luka bakar diterapi dengan low level laser Therapy (LLLT) energi 4 J/cm2, dioles dengan silver sulfadiazine 1% secara topikal dan ditutup plaster. Pada hari keempat dilakukan biopsi pada lesi luka bakar. Sediaan mikroskopik dibuat dan dipulas dengan pulasan HE dan teknik imunohistokimia. Hasil Analisa statistik dengan t-test pada makrofag penghasil HSP70 dan FGF antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menunjukkan adanya perbedaan bermakna. Sedangkan, analisa statistik dengan Pearson-test pada makrofag penghasil HSP70 dan FGF antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol menunjukkan adanya hubungan positif dan perbedaan bermakna. Kesimpulan Low level laser therapy berperan dalam menginduksi aktivasi makrofag untuk menghasilkan HSP70 endogen dan FGF pada lesi luka bakar derajat 2 pada proses penyembuhan luka. Kata Kunci : proses penyembuhan, lesi luka bakar derajat 2, low-level laser terapi, makrofag. ABSTRACT Background Macrophages have been shown to participate in the wound healing process. Thisstudy is toinvestigate the effects of low-level laser therapy (LLLT) on macrophages activation in producing Heat Shock Protein 70 (HSP70) and Fibroblast growth Factor (FGF) on the burn healing process of skin hamster. Methods Sixteen hamsters were divided into two groups and subjected to second degree burn lesion. In the control group, second degree burn lesion was applied topically with silver sulfadiazine (SSD) 1% and closed dressing. In the treatment group, second degree burn was treated with LLLT at energy densities of 4J/cm2, applied topically with silver sulfadiazine 1% and closed dressing. On the fourth days, a biopsy was performed on the burn lesion. Slide microscopic were made and staining with Hematoxylin Eosin (HE) and immunohistochemistry techniques. Results Statistical analysis with t-test on HSP70 and FGF producing macrophage between treatment and control group showed that a significantly differences. While analysis with Pearson-test on HSP70 and FGF producing macrophage between treatment and control group showed a positive correlation and significant differences. Conclusion Low-level laser therapy (LLLT) roled on induced macrophages activation in producing endogenous HSP 70 and FGF on the second-degree burn lesion of the wound healing process. Keywords: healing process, second degree burn lesion, low-level laser therapy, macrophage
Hubungan Kadar Alpha-Fetoprotein dengan Derajat Keparahan Hepatocellular Carsinoma Kamalya Ulfa; Desi Maghfirah; Vera Dewi Mulia; Rachmat Hidayat; Soraya Rezeki
Journal of Medical Science Vol 7 No 1 (2026): Journal of Medical Science
Publisher : LITBANG RSUDZA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55572/jms.v7i1.291

Abstract

Hepatocellular Carsinoma (HCC) merupakan kanker hati primer yang paling sering ditemukan dan menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di dunia. Alpha-fetoprotein (AFP) digunakan secara luas sebagai penanda tumor dalam diagnosis dan pemantauan HCC, di mana peningkatan kadar AFP diduga berkorelasi dengan derajat keparahan penyakit berdasarkan sistem klasifikasi Barcelona Clinic Liver Cancer (BCLC). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar AFP dengan derajat keparahan HCC berdasarkan klasifikasi BCLC di RSUD dr. Zainoel Abidin Banda Aceh tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, dengan data diperoleh dari rekam medis pasien HCC yang memenuhi kriteria inklusi. Sebanyak 40 pasien dijadikan sampel dan dibagi berdasarkan stadium BCLC (A–D), kemudian dianalisis menggunakan uji Kruskall Wallis karena data tidak berdistribusi normal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa distribusi pasien terbanyak terdapat pada stadium BCLC B (37,5%) dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki dan rentang usia 14–74 tahun. Kadar AFP menunjukkan rentang luas (1,41–1000 ng/mL) dengan nilai yang meningkat seiring bertambahnya derajat BCLC dimana kadar AFP pada stadium A dan B yaitu 1,41-1000 ng/mL dan stadium C dan D yaitu 68,86-1000 ng/mL, serta terdapat perbedaan signifikan antara kadar AFP pada stadium A, B,C,dan D dengan p = 0,01. Penelitian ini menunjuukan terdapat hubungan bermakna antara kadar AFP dengan derajat keparahan HCC, di mana peningkatan kadar AFP pada stadium lanjut mencerminkan aktivitas tumor yang lebih agresif serta gangguan fungsi hati yang lebih berat. Pemeriksaan AFP dapat dijadikan indikator tambahan dalam menilai progresivitas HCC meskipun perlu dikombinasikan dengan penilaian klinis dan radiologis lainnya.