B.R. Suryo Baskoro
Jurusan Sastra Roman, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Humaniora

Verb Structure in Indonesian B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 3 (1996)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.182 KB) | DOI: 10.22146/jh.1939

Abstract

One of the major problems in studying Indonesian as a foreign language ismastering the verb structure. This is due to the complexity of its affixation. A good and well-formed verb will ensure a good, formal, and acceptable sentence; on the contrary, a lack of affixe where it should be, will give a non-grammatical sentence. Indonesian verbs have two structures: simple and derived verbs.
Keterkaitan Kala Passe Compose dan Imparfait dalam Bahasa Prancis B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 2 (1995)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (834.391 KB) | DOI: 10.22146/jh.1969

Abstract

Sebagai salah satu bahasa fleksi, bahasa Prancis (bP) mempraktekkan perubahan internal dalam konstituen verbanya (V). Perubahan tersebut dilakukan berdasarkan penyesuaiannya dengan persona, jumlah, jenis, kala, dan modusnya. Kelima unsur tersebut cenderung berlangsung bersama-sama. Kala adalah kategori gramatikal yang bernubunqan dengan perubahan-perubahan bentuk pada V untuk menunjukkan saat terjadinya tindakan atau peristiwa (lih. Dubois et al,. 1973:483 & Grevisse, 1980:711). Tulisan akan membicarakan dua jenis kala lampau, yakni yang disebut passe compose (PC) dan imparfait( IMP). Kedua jenis kala lampau ini perlu diperhatikan secara khusus, mengingat sifat keterkaitannya jika dipergunakan dalam wacana, baik yang naratif maupun bukan. Yang dimaksudkan ialah bahwa, dalam sebagian besar wacana, keduanya menggambarkan tindakan yang berbeda namun yang satu cenderung ditentukan oIeh yang lain.
Sistem Kedefinitan Bahasa Indonesia B.R. Suryo Baskoro
Humaniora No 9 (1998)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1228.024 KB) | DOI: 10.22146/jh.2043

Abstract

Secara semantis, nomina atau NP didefinisikan sebagai kata yang mengacupada manusia. binatang, dan konsep atau pengertian (Moeliono, 1988: 152).Definisi flu sebenarnya baru mengacu pada isinya. Adapun secara semantis-pragmatis, yakni mengenai bagaimana isi itu disampaikan, NP dapat memiliki kandungan (packaging) bermacam-macam yang menentukan status NP itu. Status-status referen itu adalah (status) lama/baru, sebagai fokus kontras, status definit/takdefinit, sebagai subjek kalimat, topik kalimat, dan status sebagai sudut pandang (Chafe, 1976: 28). Status definit/takdefinit NP yang dibahas dalam tulisan ini memilikl hubungan yang erat dengan status lama/baru: NP (yang mengandung informasi) lama senantiasa definit, meskipun yang (mengandung lnformasi) baru tidak selamanya tak definit. Bahasa Indonesia (bI) mengenal pula kata sandang (si. sang. hang. dang), namun perilakunya tidak sama dengan artikel dalam bahasa Inggris dan Perancis, di samping pemakaiannya yang semakin tidak efektif atau demi tujuan penggayaan bahasa. Masalah yang kemudlan muncul ialah bahwa kedua jenis pemarkah itu tidak selamanya hadir/tersurat. Dengan perkataan lain, NP definit maupun takdefinit dalam bl acapkali dipergunakan tanpa pemarkah, atau berpemarkah nol.