Yohanes Leonardus Sukestiyarno
Universitas Negeri Semarang

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Epistemic Agency in Dialogic Mathematics Teaching: An Explanatory Sequential Design of Online and Offline Contexts Arif Abdul Haqq; Yohanes Leonardus Sukestiyarno; Isnarto Isnarto; Bambang Eko Susilo
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 14 No. 3 (2025): July
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v14i3.3477

Abstract

Pedagogi dialogis memfasilitasi proses berpikir bersama dalam pembelajaran matematika, namun dinamika agensi epistemik pada moda daring dan luring masih jarang dipahami secara mendalam. Penelitian ini menelusuri bagaimana agensi epistemik memengaruhi komunikasi matematis pada dua kelas dialogis yang melibatkan 55 mahasiswa Pendidikan Matematika UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Melalui desain mixed methods eksplanatori, tahap kuantitatif menilai perbedaan capaian komunikasi, sementara tahap kualitatif menggambarkan pengalaman mahasiswa melalui wawancara dan observasi kelas. Hasil menunjukkan bahwa kelas luring mencapai kinerja komunikasi lebih tinggi, sementara pola capaian komunikasi berbeda secara deskriptif di sepanjang tingkat agensi epistemik. Data kualitatif memperlihatkan bahwa interaksi tatap muka memberi ruang bagi inisiatif spontan, penilaian sejawat yang lebih kaya, serta alur diskusi yang lebih fleksibel. Sebaliknya, interaksi daring cenderung membatasi partisipasi. Temuan ini menunjukkan bahwa agensi epistemik tidak hanya hadir dalam proses dialogis, tetapi juga berkelindan dengan capaian komunikasi, dengan implikasi bagi rancangan pembelajaran dialogis yang lebih adil. Dialogic pedagogy provides a foundation for cultivating reasoning and communication in mathematics; however, the emergence of epistemic agency across learning modalities remains underexplored. This study investigated how epistemic agency relates to mathematical communication in online and offline dialogic settings, employing an explanatory sequential mixed-methods design with 55 mathematics education students at UIN Syekh Nurjati Cirebon. The quantitative phase employed a quasi-experimental approach supported by validated instruments, while the qualitative phase drew on interviews and classroom observations. The results indicate that offline learning produced higher communication performance, with descriptive differences in communication patterns observed across levels of epistemic agency. Qualitative evidence illustrated how offline interaction encouraged initiative, appraisal, framing, and shared involvement, whereas online environments tended to constrain these expressions. The study highlights distinct enactments of epistemic agency across modalities and their implications for dialogic mathematics instruction.
Unpacking Students' Lack of Flexibility: A Descriptive Analysis of Mathematical Creative Thinking in High School Susilawati Susilawati; Yohanes Leonardus Sukestiyarno; Emi Pujiastuti; Tri Sri Noor Asih
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 14 No. 4 (2025): October
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31980/mosharafa.v14i4.3553

Abstract

Penelitian ini difokuskan untuk  menganalisis  kemampuan  berpikir  kreatif matematis siswa SMA dalam  menyelesaikan  masalah  matematika. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan melibatkan 34 siswa kelas X di salah satu sekolah di Kabupaten Cirebon. Teknik pengumpulan  data  dilakukan  melalui  tes, observasi, dan wawancara. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan siswa berada pada kategori sedang yang memenuhi indikator kelancaran, orisinalitas, dan elaborasi. Hanya  1 siswa  dengan  kategori  tinggi, 30 siswa  kategori  sedang, dan 3 siswa kategori  rendah. Dominannya kategori sedang disebabkan oleh keterbatasan siswa dalam mengembangkan strategi penyelesaian alternatif. Indikator  dengan rata  rata tertinggi adalah kelancaran, sedangkan indikator terendah adalah fleksibilitas. Temuan ini menunjukkan bahwa siswa cukup mampu menghasilkan ide, tetapi masih kurang fleksibel dalam menggunakan strategi pemecahan masalah. Sehingga, Kemampuan ini perlu ditingkatkan agar siswa dapat memecahkan masalah dengan berbagai solusi dan memenuhi tuntutan pembelajaran abad ke  21. This study focused on analyzing the¬  mathematical  creative  thinking  abilities of high school students  in solving  mathematical problems. The method used was a descriptive qualitative approach involving 34 grade 10 students  in  one of the schools in Cirebon Regency. Data collection techniques were carried out through tests, observations, and  interviews. The  data  obtained  were  analyzed  using  data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research findings showed  that overall students were in the medium category that met the indicators of fluency, originality, and elaboration. Only 1 student was in the  high category, 30 students were in the medium category,   and 3 students  were in the low  category. The dominance of the medium  category was caused by students' limitations in developing alternative solution strategies. The indicator with the highest average was fluency, while the lowest indicator was flexibility. These findings indicate that students are quite capable of generating ideas, but still lack flexibility in using problem  solving strategies. Therefore, this ability needs  to  be improved so  that  students can solve problems with  various solutions  and meet the demands of 21st  century learning.
INTEGRASI KURIKULUM MERDEKA DALAM MODUL AJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL INQUIRY LEARNING BASED ON INFORMATION LITERACY (ILBIL) Vera Dewi Susanti; Yohanes Leonardus Sukestiyarno; Iqbal Kharisudin; Arief Agoestanto
AKSIOMA: Jurnal Program Studi Pendidikan Matematika Vol. 14 No. 4 (2025)
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH METRO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/ajpm.v14i4.13790

Abstract

Rendahnya literasi matematika siswa masih menjadi permasalahan dalam pembelajaran matematika di SMA. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan pemanfaatan informasi sesuai dengan tuntutan Kurikulum Merdeka. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan modul ajar inovatif yang mengintegrasikan pembelajaran inquiry dan literasi informasi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan modul ajar kelas X SMA Kyai Ageng Basyariah Madiun yang dirancang menggunakan model Inquiry Learning Based on Information Literacy (ILBIL) dan disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran Kurikulum Merdeka. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model 4-D. Namun, ruang lingkup penelitian dibatasi hanya pada tahap define, design, dan develop, tanpa melibatkan tahap disseminate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat validitas modul ajar berbasis ILBIL mencapai 82,4% sehingga dinyatakan sangat layak digunakan; (2) hasil uji coba memperlihatkan respon positif dari guru dengan skor 86,9% dan dari siswa dengan skor 83,08%; serta (3) nilai rata-rata N-Gain sebesar 0,3956 yang termasuk kategori sedang. Berdasarkan hasil ini, penggunaan modul ajar dengan model ILBIL terbukti dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada materi Barisan dan Deret. Kontribusi dari penelitian ini terletak pada integrasi model ILBIL ke dalam modul ajar berbasis Kurikulum Merdeka yang belum banyak diterapkan pada konteks pembelajaran matematika SMA, khususnya materi Barisan dan Deret. Penelitian ini juga memberikan kontribusi praktis berupa modul ajar yang tervalidasi, mudah diimplementasikan, serta efektif dalam meningkatkan literasi matematika siswa. Temuan ini memperkuat bahwa penggabungan inquiry learning dengan literasi informasi merupakan pendekatan inovatif yang relevan untuk meningkatkan mutu pembelajaran matematika pada era Kurikulum Merdeka.