Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pendampingan Perencanaan Master Plan Kompleks GKJ Medari menggunakan Media Maket Berbasis Partisipatif Kinanthi, Maria; Irmawati Damanik, Imelda; Delfiati, Sriana; Bawole, Paulus; Tri Mulyani, Agustina; Joifo Jerau, Lusianus
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i3.10436

Abstract

Kompleks Gereja GKJ Medari yang dibentuk oleh beberapa jemaat gereja kecil di sekitar wilayah Medari, berkembang secara spontan dan tidak teratur dalam penataan ruangnya. Majelis Jemaat GKJ Medari ingin membuat Master Plan dan mengajukan proposal pendampingan kepada Laboratorium Perumahan dan Lingkungan Perkotaan (Lab Kota), FAD, UKDW. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk membantu proses perencanaan master plan Kompleks Gereja GKJ Medari dengan pendekatan desain partisipatif. Melalui metode ini, partisipasi aktif dari jemaat dan pengurus gereja difasilitasi untuk memastikan perencanaan yang sesuai dengan kebutuhan dan aspirasi jemaat. Salah satu media yang digunakan dalam pendampingan ini adalah maket yang dikembangkan dengan partisipasi aktif jemaat yang memungkinkan visualisasi yang lebih konkret dan interaktif. Model ini merupakan alat komunikasi yang efektif untuk membantu jemaat memahami dan memberikan masukan mengenai tata ruang, sirkulasi, dan fungsi bangunan di kompleks gereja. Kondisi bangunan eksisting yang dapat disebut sebagai cagar budaya yang masih kokoh memungkinkan kita melihat regulasi yang dapat dipertimbangkan dalam mendesain ulang. Hasil dari kegiatan ini adalah rancangan rencana induk yang lebih inklusif dan partisipatif, serta penguatan kapasitas jemaat dalam berkontribusi terhadap perencanaan lingkungan fisik gereja.
Pendampingan Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga untuk Pengembangan Pertanian Perkotaan Kelompok Tani Cokrodirjan Sabatini, Stefani Natalia; Bawole, Paulus; Sutanto, Haryati B.
Jurnal Atma Inovasia Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/jai.v5i3.10909

Abstract

Kelompok Tani (Poktan) merupakan kelompok penggerak pertanian perkotaan yang dapat mendukung kemandirian pangan. Kelompok Tani Migunani yang berada di Cokrodirjan, Suryatmajan, Kota Yogyakarta adalah salah satu kelompok tani yang produktif namun memiliki masalah terutama terkait penyiraman dan keterbatasan lahan. Di sisi lain, terdapat masalah di lingkungan lokasi binaan ini terkait air limbah rumah tangga. Tulisan ini bertujuan membahas pendampingan yang dilakukan kepada Kelompok Tani Migunani tentang pengelolaan air limbah rumah tangga untuk pengembangan pertanian perkotaan. Pendampingan yang dilakukan antara lain edukasi pengelolaan air limbah rumah tangga, edukasi dan simulasi pengolahan urin menjadi pupuk cair, dan workshop pembuatan reaktor taman pengolahan limbah sederhana untuk mengolah air limbah rumah tangga. Hasilnya, kegiatan edukasi dan simulasi memberikan peningkatan kapasitas bagi kelompok tani namun pembuatan reaktor taman pengolahan terkendala penyesuaian lokasi sumber air limbah.
Perancangan Alat Pemanas Elektrik da Penoreh Malam Terpadu yang Bersifat Inklusif Bawole, Paulus; Prawoto, Eko A.; Darsono, Puspitasari; Guspara, Winta
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 31 No. 2 (2014): Dinamika Kerajinan dan Batik
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v31i2.1078

Abstract

ABSTRAKPenguasaan ketrampilan membatik harus lebih menyebar ke berbagai pelosok di Indonesia. Kecacatan tubuh (impairment), baik brakidaktili maupun paraplegia bukanlah halangan untuk menguasai ketrampilan membatik. Terdapat tiga faktor penyebab tingginya biaya produksi batik tulis, yaitu waktu, energi dan ketrampilan tinggi. Penelitian ergonomi dengan studi kasus para pembatik difabel ini bertujuan memperoleh pemahaman tentang kemampuan pengguna dan keluhan muskuloskeletal para pembatik difabel yang diakibatkan oleh alat tersebut. Hasil yang diperoleh akan menjadi spesifikasi performa produk untuk perancangan alat membatik elektrik yang bersifat inklusif, dapat digunakan oleh berbagai pengguna, mulai dari kalangan pembatik pemula hingga yang berpengalaman, bertangan normal maupun tidak sempurna. Pengukuran dengan metode RULA, pengamatan dan wawancara dalam ujicoba penggunaan aneka jenis gagang canting desain baru diperoleh kesimpulan bahwa genggaman presisi eksternal menghasilkan kebutuhan ukuran gagang yang sama baik bagi pembatik dengan tangan normal maupun brakidaktili. Sedangkan pada analisa metode NBM dan HTA didapatkan kesimpulan bahwa jika unit pemanas malam bisa disatukan dengan canting maka didapatkan pengurangan satu langkah dalam kegiatan membatik sekaligus mengurangi keletihan dalam membatik. Penelitian ini menghasilkan konsep perancangan unit pemanas malam elektrik arus DC yang menyatu dengan penoreh malam. Alat membatik yang bersifat inklusif ini akan membuat pekerjaan membatik bisa dilakukan oleh berbagai kalangan masyarakat terutama di desa dengan pasokan listrik yang terbatas. Kata kunci: pembatik difabel, inklusif, pemanas arus DCABSTRACTThe skill of batik craftmanship should spread wider to the nook and corner of Indonesia archipelago. Impairment such as brachydactile as well as paraphlegia shouldn’t be a hindrance to master the batik technique. There are three factors found as a source of high production cost in  hand-made batik; time, energy, and high skill. The goal of this ergonomic research using case studies of difable batik artisans is to get an understanding of user capabilities and musculoskeletal problems of users while operating standard batik equipment. The result then will be used as a specification of product performance for designing inclusive electric batik equipment, that can be operated by most users, from beginners to advance artisans, with normal fingers as well as challenged. Measurement using RULA method, observation and interviews on the trials of several new handles showed that there is an agreement on handle size when both extreme impaired users performed external precision grip. NBM and HTA analyzes concluded that if wax heating unit could be integrated with canting, it will eliminate one production step as well as reduce fatique. This research had produced a design of electric batik equipment with DC current. This inclusive equipment will enable batik production to be made in villages with limited supply from national electrical company. Keywords: diffable batik artisan, inclusive, DC heating unit
Perubahan Pola Ruang Gender akibat Syariat dan Alih Fungsi dalam Arsitektur Rumoh Aceh Siregar, Mayola Glorya; Wiyatiningsih, Wiyatiningsih; Bawole, Paulus
Jurnal Lingkungan Karya Arsitektur Vol. 5 No. 1 (2026): Architecture, Room, Structure, Material
Publisher : Darma Cendika Catholic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37477/lkr.v5i1.898

Abstract

Rumoh Aceh adalah arsitektur tradisional yang kental dengan nilai budaya dan diatur ketat oleh Syariat Islam, terutama dalam hal batasan ruang gender untuk menjaga privasi dan interaksi keluarga. Prinsip spasial ini masih diterapkan di Kecamatan Ingin Jaya. Namun, tekanan sosial-ekonomi telah memicu alih fungsi signifikan, mengubah Rumoh Aceh dari hunian pribadi menjadi fasilitas komersial seperti homestay dan warung. Alih fungsi ini menimbulkan dilema kritis karena berpotensi melonggarkan bahkan menggeser kaidah Syariat Islam terkait ruang gender. Batasan ruang yang semula kaku kini beradaptasi menjadi lebih longgar demi memenuhi tuntutan komersialisasi dan modernisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pola spasial baru yang terbentuk akibat alih fungsi, dan menganalisis upaya adaptasi sosial-budaya masyarakat. Adaptasi ini penting untuk memitigasi konflik antara kebutuhan ekonomi dengan kepatuhan syariat. Menggunakan penelitian kualitatif dengan metode Etnografi untuk mengkaji perubahan perilaku dan budaya dalam konteks ruang. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembahasan perubahan Ruang Gender dan dampaknya terhadap kaidah Syariat Islam pada Rumoh Aceh yang dikomersialkan. Hasilnya menunjukkan bahwa alih fungsi komersial adalah faktor utama yang menyebabkan pelonggaran batasan ruang gender. Ditemukan adanya pola konflik yang jelas antara pemanfaatan ruang untuk tujuan ekonomi dan upaya masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai agama.
Adaptasi Masyarakat sebagai Wujud Ketangguhan Pasca Bencana: Studi Kasus Desa Pombewe Dan Jono Oge By Bethania Yunike Fridianti; Wiyatiningsih Wiyatiningsih; Paulus Bawole
Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Kajian dan Penelitian Umum
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jkpu-nalanda.v4i2.2199

Abstract

Jono Oge Village, Sigi Biromaru Regency, Central Sulawesi, has been designated a liquefaction-prone area with a high risk level. Following the 2018 liquefaction disaster, the government relocated residents to permanent housing (huntap) as a mitigation measure. This policy created a dynamic in the settlements due to differences in housing choices and limited community participation in the planning process. Some residents chose to return to their original locations and build housing independently despite ongoing disaster risks, while others remained in the provided permanent housing. These differing choices are not merely physical or spatial in nature, but also reflect the complex social, cultural, and economic ties that communities hold toward their former places of residence. This research uses a qualitative approach with a case study method, conducted in the permanent housing complex of Pombewe and the independent housing complex of Jono Oge, to analyze the forms of community adaptation and resilience after the disaster. The research's novelty lies in identifying spatial housing adjustment mechanisms as a social, economic, and cultural adaptation strategy to maintain post-disaster life.
Pola Spasial Kampung Jagalan Ledoksari terhadap Dinamika Lingkungan di Bantaran Sungai Code Sukma Nuriana Putri; Paulus Bawole; Wiyatiningsih Wiyatiningsih
Jurnal Kajian dan Penelitian Umum Vol. 4 No. 2 (2026): April: Jurnal Kajian dan Penelitian Umum
Publisher : Institut Nalanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47861/jkpu-nalanda.v4i2.2200

Abstract

Kampung Jagalan Ledoksari is part of a historic settlement that developed during the reign of Pakualam VII in the early 20th century. This settlement grew along the banks of the Code River through a socio-cultural system passed down from generation to generation, forming a strong relationship between residential space and environmental conditions. Along with urban development, this area faces pressures from urbanization, limited land availability, and recurring disaster risks such as flooding and cold lava flows, which drive environmental dynamics. This study aims to identify changes in the spatial patterns of the Code Riverbank settlement as a response to urban pressures. The focus of the study includes changes in spatial layout, building orientation, and settlement circulation patterns. The research employs a qualitative approach with an ethnographic design, utilizing field observations and in-depth historical spatial mapping to understand the process of spatial adaptation. The findings indicate that changes in the spatial patterns of Kampung Jagalan Ledoksari represent a continuous adaptation process to historical pressures, urbanization, and environmental dynamics. These adaptations gradually and multilayeredly shape transformations in spatial arrangement, building mass, and settlement connectivity. The novelty of this research lies in identifying spatial adaptation strategies that contribute to strengthening the resilience of riverbank settlements against disaster risks and spatial limitations.