Arief Hidayat
Universitas Indraprasta PGRI

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Kebangkitan Tiongkok Sebagai Raksasa Baru Dunia Tahun 1976-2013 Nur Fajar Absor; Wahyudin; Arief Hidayat; Rahayu Permana
Jurnal Pendidikan Sejarah Vol 11 No 1 (2022): JPS - Jurnal Pendidikan Sejarah, Volume 11 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Pascasarjana UNJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/JPS.111.02

Abstract

This study aims to analyze the policies that carried out from the early days of Deng Xiaoping's leadership (1976) to the end of Hu Jintao's leadership (2013) which raised China to become one of the world's giants. The method used is a historical research method which consists of four steps, namely: (1) heuristic; (2) critic; (3) interpretation; and (4) historiography. The results obtained show that the rise of China as a new giant of the world was achieved through a long and ups and downs process, until finally the 'Four Modernizations' policies of Deng Xiaoping’s era and the 'Science Development Concepts' of Hu Jintao's era made China one of the world's giants today. The Four Modernizations were carried out on aspects: (1) agriculture; (2) industry; (3) science and technology; and (4) national defense with the breakthrough made by Deng Xiaoping at that time, namely implementing 'Open Door Policy' to attract foreign investment and implementing the 'One Country, Two Systems’, namely in the political field using socialism, but in the economic field using capitalism which aims to prosper the people. Meanwhile, the Science Development Concept launched by Hu Jintao views that innovation is the core of a country's competitiveness. The positive impact was that China's economic growth reached double digits and China also succeeded in launching its own rocket into space and was able to send its astronaut, Yang Liwei into earth orbit in 2002.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebijakan-kebijakan yang dilakukan mulai dari masa awal Deng Xiaoping memimpin (1976) hingga akhir kepemimpinan Hu Jintao (2013) yang membangkitkan Tiongkok menjadi salah satu raksasa dunia. Metode yang digunakan adalah metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat langkah, yakni: (1) heuristik; (2) kritik; (3) interpretasi; dan (4) historiografi. Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa bangkitnya Tiongkok sebagai raksasa baru dunia dicapai melalui proses yang panjang dan naik-turun, hingga akhirnya kebijakan ‘Empat Modernisasi’ era Deng Xiaoping dan ‘Konsep Pengembangan Ilmu Pengetahuan’ era Hu Jintao menjadikan Tiongkok sebagai salah satu raksasa dunia saat ini. Empat Modernisasi dilakukan pada aspek: (1) pertanian; (2) industri; (3) ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek); dan (4) pertahanan nasional dengan gebrakan yang dilakukan Deng Xiaoping saat itu adalah melaksanakan ‘Politik Pintu Terbuka’ untuk menarik investasi asing dan memberlakukan sistem ‘Satu Negara, Dua Sistem’, yakni di bidang politik menggunakan sosialisme, namun di bidang ekonomi menggunakan kapitalisme yang bertujuan untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyat. Sementara itu, Konsep Pengembangan Ilmu Pengetahuan yang dicanangkan Hu Jintao berpandangan bahwa inovasi adalah inti dari daya saing sebuah negara. Dampak positifnya, pertumbuhan ekonomi Tiongkok mencapai dua digit dan juga Tiongkok berhasil meluncurkan roketnya sendiri ke angkasa dan mampu mengirimkan astronotnya, Yang Liwei ke orbit bumi pada 2002.
Museum Gedung Pegadaian Sukabumi Sebagai Sarana Wisata Edukasi Sejarah Hendi Irawan; Yusuf Budi Prasetya Santosa; Arief Hidayat
Jurnal Artefak Vol 9, No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1117.877 KB) | DOI: 10.25157/ja.v9i2.8381

Abstract

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data observasi dan wawancara. Museum adalah lembaga, tempat penyimpanan, perawatan, pengamanan, dan pemanfaatan benda bukti materil hasil budaya manusia, alam dan lingkungannya guna menunjang upaya perlindungan dan pelestarian kekayaan budaya bangsa. Selain sebagai tempat untuk menyimpan berbagai benda bersejarah dan media pembelajaran sejarah, museum juga dapat dijadikan sarana wisata edukasi bagi wisatawan. Museum sebagai wisata edukasi dapat menjadi tujuan alternatif untuk liburan sekaligus dapat memberikan wawasan, gambaran, atau pengetahuan mengenai sebuah peristiwa bersejarah bagi wisatawan. Museum Gedung Pegadaian di Sukabumi Jawa Barat adalah salah satu museum yang terdapat di Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat. Museum Gedung Pegadaian merupakan satu-satunya museum bertema pegadaian di Indonesia. Museum Gedung Pegadaian memiliki koleksi berbagai benda yang berhubungan dengan kegiatan dan aktivitas pegadaian. Museum Gedung Pegadaian dapat menjadi tujuan wisata alternatif yang mengedukasi bagi wisatawan. Para wisatawan yang berkunjung tidak hanya akan disuguhi dengan lingkungan museum yang nyaman untuk berswafoto atau sekedar bersantai, melainkan juga pengetahuan sejarah yang lengkap seputar kegiatan perekonomian di masa lalu, khususnya aktivitas penggadaian.
FORMING NATION CHARACTERS THROUGH HISTORY LEARNING PROCESS Yusuf Budi Prasetya Santosa; Arief Hidayat
Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Vol 5 No 1 (2021): Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan dan Humaniora
Publisher : Proram studi pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universaitas PGRI Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.902 KB)

Abstract

Learning is not just a process of transfer of knowledge (transfer of knowledge) from teachers to students, but also a process of transfer of values. This means that the learning process, apart from being a process of transmitting knowledge with cognitive goals, also deals with the process of developing and building the character of students. Historical learning has a strategic role in shaping the character of the nation. A good history study does not only emphasize cognitive aspects but also must pay attention to affective and psychomotor aspects. The history learning process must be able to explore noble historical values ​​from each historical event that is learned, from which the students can learn from these values ​​and use them for their future lives. So, later there will be historical awareness in students. The exploration of noble values ​​and the emergence of historical awareness can be obtained by using the appropriate historical learning method. The learning model has a strategic function in the process of learning history. Four learning models can trigger curiosity, creativity, and critical thinking of students, including discovery-based learning, problem-based learning, project-based learning, and the information processing models. Keywords: students, history learning, historical awareness, national character
Ondel-Ondel sebagai Ikon Seni Tradisi Betawi syaekhu rakhman; Yeni Handayani; Arief Hidayat
CHRONOLOGIA Vol 5 No 1 (2023): Chronologia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22236/jhe.v5i1.11563

Abstract

Indonesia is a country with many different tribes and cultures. Each region has its own characteristics that will be imprinted in the memory of each individual, which will eventually become an icon of a particular area. One of the city's icons is Ondel-Ondel from Betawi. Ondel-Ondel are giant dolls that are understood by the Betawi people as sacred culture and are used in ritual sacrifices to ancestral spirits. At first Ondel-Ondel was created as a way to repel reinforcements from the Betawi tribe. However, now everything is different. Ondel-Ondel is no longer considered sacred. The existence of Ondel-Ondel art is no longer used for cultural activities but is misused in street activities. This means that there has been a change in this Betawi Ondel-Ondel art. These changes are caused by social conditions. This is why efforts to increase awareness of local culture need to be increased. Changing times have formed new patterns of thinking about things that are traditional and not all people know the meaning behind the Betawi Ondel-Ondel art. The research method used is a qualitative method, data collection is done through literature studies, observations and interviews.