Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Pola Pemaparan Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur’an: (Kajian Stilistika Terhadap Kisah Nabi Sulaiman) Fadilla Zahra; Septiawadi; Ahmad Muttaqin
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1990

Abstract

Abstract: This study is motivated by the growing importance of Qur’anic narrative studies that are relevant to contemporary scholarship, particularly in exploring narrative patterns that remain relatively underexamined. The story of Prophet Solomon in the Qur’an encompasses themes of authority, miracles, and profound spiritual lessons. This research analyzes the modes of Qur’anic storytelling based on six narrative presentation patterns proposed in Syihabuddin Qalyubi’s stylistic framework. Employing a qualitative descriptive method, the study examines the narrative structure manifested in the selected verses. The findings reveal that four narrative patterns are clearly present: storytelling that begins with a summary of events, narration without a preliminary introduction, narration that opens with a climactic scene, storytelling that allows space for the reader’s imagination, and narration that explicitly embeds religious values. One pattern—narration that begins with a conclusion—was not identified in the analyzed verses. This study aims to contribute to the strengthening of Qur’anic narrative studies and to offer a more structured understanding of storytelling patterns as a foundation for further thematic exegesis and Islamic educational studies, particularly those related to the story of Prophet Solomon. Keywords: Prophet Sulaiman, Stylistics of the Qur'an, Pattern of Story Presentation. Abstrak: Dilatarbelakangi oleh pentingnya kajian naratif Al-Qur'an yang relevan dengan studi kontemporer, khususnya dalam upaya memahami pola penceritaan yang masih jarang dilakukan. Kisah Nabi Sulaiman dalam Al-Qur'an mengandung aspek kekuasaan, mukjizat, serta pelajaran spiritual. Penelitian ini menganalisis jenis penceritaan dalam Al-Qur’an berdasarkan enam pola pemaparan kisah yang terdapat dalam karya stilistika Syihabuddin Qalyubi. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif dan menelaah struktur penceritaan yang tampak dalam rangkaian ayat tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat pola pemaparan kisah hadir secara jelas, yaitu pemaparan yang dimulai dengan ringkasan kisah, pemaparan tanpa pendahuluan, berawal dari adegan klimaks, pemaparan yang memberikan ruang bagi imajinasi pembaca, dan pemaparan yang menyisipkan nilai keagamaan. Satu pola lainnya, yaitu pemaparan yang berawal dari kesimpulan, tidak ditemukan dalam ayat ini. Tujuan penelitian ini adalah memberikan kontribusi terhadap penguatan kajian naratif Al-Qur'an serta menawarkan pemahaman yang lebih terstruktur mengenai pola penceritaan sebagai dasar bagi studi tafsir tematik dan pendidikan keislaman yang lebih lanjut, khususnya kisah Nabi Sulaiman. Kata Kunci: Nabi Sulaiman, Stilistika Al-Qur’an, Pola Pemaparan Kisah.
Isyarat Sufistik Dalam Penafsiran Surat Al-Ankabut : 41 Kajian Tafsir Ruh Al – Ma’ani Annisa Eka; Septiawadi; Ahmad Muttaqin
AL-MUTSLA Vol. 7 No. 2 (2025): Jurnal Al Mutsla
Publisher : STAIN MAJENE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46870/jstain.v7i2.1991

Abstract

This study is motivated by the need to explore the spiritual dimension in Qur’anic interpretation, which is often overlooked in purely rational or textual approaches. Surah Al-‘Ankabut verse 41 contains the parable of the spider’s house, which many commentators, including Al-Alusi in Ruh al-Ma‘ani, interpret as a symbol of human weakness when relying on anything other than Allah. The purpose of this research is to reveal the Sufistic indications contained in Al-Alusi’s interpretation of this verse and to understand how spiritual values are articulated through his Sufi exegetical approach. This research employs a qualitative method with a library research design and content analysis of the Ruh al-Ma‘ani text. The findings show that Al-Alusi interprets the parable of the spider’s house not only as a rational symbol of fragile faith but also as a Sufistic sign of the transience of the world and the necessity of tawhid as the foundation of human spirituality. Through his Sufi approach, Al-Alusi emphasizes the inner meaning of the verse, guiding humans to detach from worldly dependencies and to surrender fully to Allah. These findings are relevant to modern contexts, particularly in understanding contemporary practices of tawassul, where Al-Alusi’s sufistic insights provide boundaries that define tawassul as merely a means to approach Allah and warn against deviations that occur when intermediaries become objects of spiritual dependence beyond the principles of tawhid. Thus, Al-Alusi’s sufistic exegesis not only enriches the interpretation of the verse but also offers an ethical perspective for preserving the purity of tawhid and addressing modern issues of materialism and spiritual crisis.Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk menggali dimensi spiritual dalam penafsiran Al-Qur’an yang sering sekali terabaikan dalam pendekatan rasional dan tekstual semata. Surat Al-‘Ankabut ayat 41 memuat perumpamaan tentang rumah laba-laba yang oleh para mufasir, termasuk Al-Alusi dalam Ruh al-Ma‘ani, dimaknai sebagai simbol kelemahan ketergantungan manusia kepada selain Allah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengungkap isyarat sufistik yang terkandung dalam penafsiran ayat tersebut serta memahami bagaimana nilai-nilai spiritual diartikulasikan melalui pendekatan tafsir sufistik Al-Alusi. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi pustaka dan analisis isi terhadap teks tafsir Ruh al-Ma‘ani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Al-Alusi menafsirkan perumpamaan rumah laba-laba tidak hanya sebagai simbol rasional tentang kerapuhan iman, tetapi juga sebagai isyarat sufistik tentang kefanaan dunia dan pentingnya tauhid sebagai fondasi spiritual manusia. Melalui pendekatan sufistiknya, Al-Alusi menekankan makna batiniah dari ayat yang mengarahkan manusia untuk melepaskan ketergantungan pada selain Allah dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya. Temuan ini relevan dengan konteks modern, terutama dalam melihat praktik tawasul masa kini, di mana nilai sufistik Al-Alusi memberikan batasan bahwa tawasul hanya berfungsi sebagai wasilah menuju Allah dan dapat menyimpang ketika perantara dijadikan objek ketergantungan spiritual yang melampaui prinsip tauhid. Dengan demikian, tafsir sufistik Al-Alusi tidak hanya memperkaya pemahaman terhadap ayat, tetapi juga menawarkan perspektif etis dalam menjaga kemurnian tauhid serta menghadirkan solusi atas problem materialisme dan krisis spiritual dalam kehidupan kontemporer.