Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

STUDI BANDING KARAKTERISTIK BETON BERPORI ANTARA BENDA UJI DI LABORATORIUM DENGAN BENDA UJI DI LAPANGAN (STUDI KASUS PADA BAHU JALAN DI DESA KADOKAN, KECAMATAN GROGOL, KABUPATEN SUKOHARJO) Yudhi Prasetyo, Rhobertus Mahadi; Setyawan, Ary; Budiarto, Arif
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.646 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37079

Abstract

Perkerasan beton berpori merupakan bentuk perkembangan infrastruktur yang baik dalam pengelolaan air hujan dan efektif dalam menanggulangi permasalahan pembangunan yang berwawasan lingkungan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara mengaplikasikan rancang campur beton berpori, perbandingan nilai kuat tekan pada benda uji beton berpori, perbandingan nilai benda uji densitas/kepadatan (gr/cm3), dan perbandingan nilai benda uji porositas di lab dan pada bahu jalan. di Desa Kadokan, Kec. Grogol, Kab Sukoharjo.Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen. Mix design perhitungan rencana menggunakan acuan Tata Cara Pembuatan Rencana Campuran Beton SNI T-15-1990-03, selanjutnya dibuat benda uji di lab. Pembuatan benda uji di lab menggunakan satuan berat sedangkan pada bahu jalan menggunakan satuan volume. Selanjutnya membuat job mix formula beton berpori untuk diaplikasikan di lapangan yaitu pada bahu jalan. Kemudian akan diuji densitas/kepadatan (gr/cm3), porositas, dan kuat tekan. Hasil analisis nilai densitas/kepadatan(gr/cm3) bahu jalan lebih kecil daripada nilai densitas di lab, penurunan nilai densitas antara 2-7%. Nilai porositas di bahu jalan lebih tinggi daripada nilai porositas di lab, kenaikan nilai porositas berkisar antara 5% sampai 16%. Nilai porositas terlalu tinggi yaitu >30%, sedangkan beton berpori adalah beton dengan nilai porositas sebesar 15 - 30 %. Hasil analisis benda uji kuat tekan pada bahu jalan lebih rendah dibanding dengan kuat tekan yang di lab. Penurunan nilai kuat tekan berkisar antara 20% sampai 34%. Adanya perbedaan satuan dalam komposisi campuran beton berpori di lab dan pada bahu jalan mengakibatkan perbedaan komposisi material yang tercampur sehingga terjadi perbedaan nilai kuat tekan.
EVALUASI DRAINASE BETON BERPORI DENGAN ISIAN PASIR DAN GUBALAN RUMPUT Supriadi, Andy; Setyawan, Ary; Budiarto, Arif
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 3 (2016): September 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.936 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i3.37093

Abstract

Pembangunan sistem drainase perkotaan perlu memperhatikan fungsi drainase sebagai prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan. Konsep ini adalah usaha konservasi sumber daya air yang pada prinsipnya mengendalikan air hujan agar lebih banyak yang diresapkan ke dalam tanah sehingga mengurangi jumlah limpasan. Pengaplikasian beton berpori diharapkan dapat menjadi salah satu solusi pembangunan prasarana kota yang didasarkan pada konsep berwawasan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai permeabilitas beton berpori, serta nilai kecepatan resapan beton berpori untuk pengisian rongga dengan pasir dan penutupan rongga dengan gubalan rumput. Penelitian dilakukan menggunakan metode eksperimen, yaitu dengan mengurangi proporsi agregat halus pada mix design beton normal. Proporsi Agregat halus yang dipakai 30% dari proporsi agregat halus untuk beton normal. Dari hasil pengujian diperoleh hasil nilai permeabilitas rata-rata pembuatan benda uji di lapangan lebih besar dibandingkan pembuatan benda uji di lab. Nilai kecepatan resapan tertinggi untuk pengujian tanpa pengisian rongga didapat oleh material batu pecah 2-3 cm dengan memakai cairan aditif sebesar 6,256 (mm/det). Nilai kecepatan resapan tertinggi untuk pengisian rongga dengan pasir didapat oleh material batu pecah 1-2 cm dengan memakai cairan aditif sebesar 2,314 (mm/det). Nilai kecepatan resapan tertinggi untuk penutupan rongga dengan gubalan rumput didapat oleh material batu pecah 1-2 cm dengan memakai cairan aditif sebesar 3,648 (mm/det).
Exploring Space-Time Fixity about Activity Types and Mode Choice Mahmudah, Amirotul M. H.; Budiarto, Arif; Dharmowijyo, Dimas B. E.; Joewono, Tri Basuki; Asmaningrum, Tri Hardiyanti
Jurnal Planologi Vol 22, No 2 (2025): October 2025
Publisher : Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/jpsa.v22i2.48312

Abstract

Space-time fixity and flexibility of activity are essential for understanding how space-time constraints influence accessibility and mobility in daily life. Reducing these constraints helps improve quality of life and solve urban problems like traffic jams. Thus, these concepts are vital not only in academia but also in transportation and travel behavior studies. This research explores how activity type and mode choice influence space-time fixity. Descriptive statistic were used to profile respondents and their activities, while bivariate analysis looked at the relationship between mode choice and activity type in terms of space-time fixity. Specifically, mode choices—such as non-motorized, motorcycle, car, public transport, and ride-sourcing—and various out-of-home activities like travel, working/studying, socializing, and grocery shopping. Daily activity data from the Surakarta agglomeration area during the COVID-19 pandemic in 2021 was collected for this study. This study finds that space fixity occurs more often than time fixity, and activities' average level of space and time fixity is fairly flexible. The time fixity pattern for mode choices in out-of-home activities is similar for most activities, except socializing. In contrast, space fixity patterns differ among out-of- home activities. Working/studying outside the home shows the highest time and space fixity across all modes. Research indicates that a score of 6.0 on a 7-point Likert scale represents the highest space-time fixity. This score applies to those who mainly use public transport, with time fixity linked to travel activity and space fixity to out-of-home working/studying activity. The implications of these results on urban planning are discussed.
Outpatient service tariff determination based on unit cost analysis mixed with community ability and willingness to pay Yuniantika; Hendrartini, Julita; Budiarto, Arif
BKM Public Health and Community Medicine Vol 39 No 11 (2023)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v39i11.6584

Abstract

Purpose: The study aims to calculate the rational outpatient tariff based on unit cost analysis, ability and willingness to pay. Method: The research is an observational study with a qualitative approach. Secondary data are obtained retrospectively to calculate unit costs and tariffs. Primary data is collected through questionnaires to see the ability and willingness to pay (WTP). Result: The calculation using the step-down method obtained the unit cost for general practice IDR 79,337, dental care IDR 151,635, psychologist consultation IDR 115,283, and fitness center IDR 236,555. The respondent's ATP value is IDR 138,808, with an average examination fee of IDR 56,093. When coupled with an improvement in service and facility quality, 58.1% of respondents agreed to a 10% rate increase. With a 20% rate increase, the willingness to pay decreases to 40.6%. In the bivariate analysis using the chi-square test, the variables significantly affecting WTP are patient perceptions of the suitability of service costs (p = 0.000). In contrast, age, gender, occupation, education, income, number of family members, and insurance ownership do not significantly influence WTP. Conclusion: The service rate is lower than the unit cost calculation. By looking at the ability and willingness to pay, it is possible to evaluate the tariff.
Pengenalan Penelitian Ilmu Kebumian dan Penerapannya dalam Eksplorasi Sumber Daya Alam dan Penanggulangan Bencana Alhadi, Kasnawi; Minardi, Suhayat; Syamsuddin; Budiarto, Arif; Alaydrus, Alfina Taurida
Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA Vol 7 No 1 (2024): Januari - Maret
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jpmpi.v7i1.7919

Abstract

Desa Tanjung Kabupaten Lombok Utara terus berupaya untuk mendorong pertumbuhan wilayahnya. Namun, desa tersebut memiliki risiko bencana yang mengacam, seperti sering terjadinya kejadian gempa bumi. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pelatihan terkait pengenalan penelitian ilmu kebumian dan penerapannya dalam eksplorasi daya alam dan penanggulangan bencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan, yaitu 1) Koordinasi dengan semua pihak terkait; 2) Pelatihan tentang pengembangan media pembelajaran berbasis teknologi; 3) Pendampingan dalam pembuatan media pembelajaran berbasis teknologi oleh guru; 4) Focus Group Discussion (FGD) pada beberapa masalah yang terjadi, solusi dan rencana tindak lanjutnya. Pelatihan ini telah berhasil memberikan wawasan kepada siswa terkait bagaimana cara menanggulangi bencana. Peserta pelatihan merasakan manfaat yang dapat membantu penanggulangan bencana dan pembangunan wilayah desan Tanjung.
Estimated cost of diabetic wound care in primary healthcare facilities using the time-driven activity-based costing method Budiarto, Arif; Oktafitria, Rita; Hafidz, Firdaus; Aristianti, Vini; Ekawati, Fitriana Murriya; Siregar, Dedy Revalino; Ilyasa; Budiman, Arif; Hendrawan, Donni; Ruby, Mahlil
BKM Public Health and Community Medicine Vol 41 No 11 (2025)
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/bkm.v41i11.23797

Abstract

Purpose: This study aimed to estimate the unit cost of diabetic wound care services in primary healthcare facilities (FKTPs) using the Time-Driven Activity-Based Costing (TDABC) method and to quantify the potential cost savings from reallocating cases from secondary (FKRTL) to primary care facilities. Methods: A micro-costing analysis was conducted across 40 FKTPs in Indonesia using a standardized five-step TDABC framework, covering personnel, facility, medical supplies, and overhead costs. Descriptive and nonparametric statistical methods, including the trimmed mean, geometric mean, and interquartile range, were applied to derive cost estimates, and simulations with 15% and 35% case shifting from FKRTL to FKTP were performed. Non-parametric methods (Kruskal–Wallis and Mann–Whitney U) were applied because the cost data were not normally distributed. Results: The estimated unit cost per diabetic wound-care visit ranged from IDR 67,121 (best-case scenario) to IDR 77,189 (realistic scenario). Cost-shifting simulations projected potential savings of up to IDR 28.15 billion in the 35% scenario. Conclusion: Strengthening diabetic wound-care services at the primary care level may enhance system-wide efficiency and reduce avoidable expenditures within the National Health Insurance (JKN) scheme, supporting the adoption of more cost-effective service delivery models in Indonesia.