Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

ANALISIS STABILITAS LERENG BERTINGKAT DENGAN PERKUATAN GEOTEKSTIL MENGGUNAKAN METODE ELEMEN HINGGA Ichsan Prasetyo; Bambang Setiawan; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 3 (2017): September 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i3.36721

Abstract

Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui angka keamanan lereng alami dan dengan perkuatan geotekstil yang terjadi pada lereng bertingkat. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode elemen hingga. Permodelan dilakukan dengan beberapa variasi pada panjang geotekstil dan tebal tanah timbunan pengisi. Parameter tanah yang digunakan adalah data sekunder dari Kabupaten Cianjur dan menggunakan pendekatan sudut geser Meyerhof. Analisis stabilitas lereng dengan perkuatan geotekstil menggunakan pendekatan sudut geser Meyerhof dengan menggunakan panjang 2 m memiliki angka keamanan lereng dibawah 1,25 sehingga menurut Bowles kelongsoran pernah terjadi dan angka keamanan menggunakan panjang 4 m, dan 6 m memiliki angka keamanan lereng diatas 1,25 sehingga kelongsoran jarang terjadi.
PENGARUH CURAH HUJAN HARIAN MAKSIMUM BULANAN TERHADAP STABILITAS LERENG (Studi Kasus : Desa Mangunharjo, Jatipurno, Wonogiri) M Zikry Tawakkal; Niken Silmi Surjandari; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 2 (2016): Juni 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v4i2.36997

Abstract

Wonogiri merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang sebagian besar wilayahnya berupa lereng atau perbukitan. Di banyak daerah perbukitan seperti Wonogiri bencana tanah longsor sering terjadi. Salah satu penyebab terjadinya tanah longsor adalah hujan lebat/hujan berkepanjangan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hujan dan kemiringan lereng terhadap stabilitas lereng. Penelitian ini menggunakan data hujan selama 10 tahun antara tahun 2004 - 2013 dan data tanah yang diperoleh dari uji sampel tanah yang diambil dilokasi penelitian. Metode Green-Ampt digunakan untuk menghitung besar tanah jenuh yang terjadi akibat adanya infiltrasi air hujan (Hsat). Tebal tanah jenuh ini berperan sebagai beban tambahan pada lereng. Stabilitas lereng dihitung dengan menggunakan metode Lereng Tak Hingga (infinite slope) untuk memperoleh nilai faktor keamanan (SF) lereng. Model lereng menggunakan variasi kemiringan 30o, 42o, 45o, dan 60o. Dari hasil penelitian diketahui bahwa infiltrasi air akibat hujan berpengaruh terhadap stabilitas lereng. Untuk semua model lereng, nilai SF menurun setelah hujan terjadi. Penurunan nilai SF ini disebabkan oleh bertambahnya beban pada lereng karena infiltrasi air hujan ke dalam tanah. Kemiringan lereng juga berpengaruh terhadap stabilitas lereng. Semakin besar kemiringan suatu lereng semakin kecil nilai SF yang diperoleh. Model lereng dengan kemiringan 60o mempunyai nilai SF < 1 yang menunjukkan bahwa lereng tidak stabil.
PENGGUNAAN SHEET PILE UNTUK PERKUATAN LERENG DI DESA TAMBAKMERANG KECAMATAN GIRIMARTO KABUPATEN WONOGIRI Kurniawan Diliaristianto; Niken Silmi Surjandari; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/mateksi.v5i2.36874

Abstract

Kabupaten Wonogiri terletak pada 7° 32' - 8° 15' Lintang Selatan dan 110° 41' - 111° 18' Bujur Timur, posisi Kabupaten Wonogiri sangat strategis karena terletak di ujung selatan Provinsi Jawa Tengah dan diapit oleh Provinsi Jawa Timur dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kondisi alamnya sebagian besar berupa pegunungan berbatu gamping, terutama di bagian selatan yang termasuk jajaran Pegunungan Seribu, kondisi ini sangat rawan terjadi bencana tanah longsor terutama pada daerah di lereng pegunungan. Oleh karena itu dilakukan analisis perkuatan lereng menggunakan sheet pile untuk menanggulangi longsor. Metode yang dilakukan adalah dengan melakukan analisis stabilitas lereng berdasarkan kondisi eksisting di Desa Tambakmerang, Kecamatan Girimarto, Kabupaten Wonogiri, dengan ketinggian 14 m dan kemiringan sebesar 60°. Analisis stabilitas lereng menggunakan bantuan program komputer. Perencanaan perkuatan menggunakan sheet pile dengan variasi ketinggian 1/2H, 1/3H, dan 1/4H dari ketinggian lereng. Berdasarkan hasil analisis stabilitas lereng sebelum diberi perkuatan nilai keamanan lereng <1,25 menunjukan bahwa kondisi lereng tersebut kritis (longsor). Perencanaan sheet pile menggunakan variasi ketinggian 1/2H, 1/3H, 1/4H untuk stabilitas lereng memiliki angka keamanan >1,25 berarti lereng tersebut relatif stabil.
MATERIAL BATU KAPUR SEBAGAI LAPISAN SUBBASE COURSE PADA SUBGRADE TANAH LUNAK DENGAN PERKUATAN PLASTIK DAN GEOSINTETIK Estu Waskita Aji; Bambang Setiawan; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 5, No 2 (2017): Juni 2017
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.838 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v5i2.36888

Abstract

Kerusakan perkerasan jalan selain karena faktor cuaca dan kelebihan beban juga dapat disebabkan oleh kualitas struktur lapis pondasi atas (base course), lapis pondasi bawah (subbase course) dan tanah dasar (subgrade). Penelitian ditujukan untuk menganalisis pengaruh ketebalan lapisan subbase course pada subgrade tanah lunak terhadap nilai CBR dan kv. Penelitian dilakukan dengan mensimulasikan struktur lapisan perkerasan jalan di dalam laboratorium. Pengujian CBR dilakukan terhadap lapisan subgrade, sedangkan pengujian plate load test dilakukan pada lapisan subbase course dan base course. Hasil penelitian menunjukan bahwa dengan penambahan ketebalan lapisan subbase course setiap 5 cm mampu meningkatkan kv pada kombinasi lapisan lengkap subgrade+plastik+subbase course+base course berturut-turut sebesar 65%; 12,35%; 7,67%; dan ditambah perkuatan geosintetik meningkatkan nilai kv pada base course berturut-turut sebesar 26,13%; 14,28%; 24,19%. Hasil penelitian juga menunjukan bahwa dengan penambahan ketebalan lapisan subbase course setiap 5 cm mampu meningkatkan CBR pada kombinasi lapisan lengkap subgrade+plastik+subbase course+base course berturut-turut sebesar 145,16%; 33,97%; 87,01%; dan ditambah perkuatan geosintetik meningkatkan nilai kv pada base course berturut-turut sebesar 75,43%; 49,51%; 65,53%. Penambahan geosintetik geotextile woven tipe 250 sebagai perkuatan yang diletakan di antara lapisan subgrade dan subbase course dapat meningkatkan nilai modulus reaksi subgrade (kv) sebesar ± 26,35%.
SIMULASI PERILAKU PENURUNAN TERHADAP BEBAN PADA PONDASI GABUNGAN TELAPAK DAN SUMURAN PADA TANAH PASIR DENGAN VARIASI KEDALAMAN TELAPAK DAN PANJANG SUMURAN Heri Afandi; Niken Silmi Surjandari; Raden Harya Dananjaya
Matriks Teknik Sipil Vol 4, No 1 (2016): Maret 2016
Publisher : Program Studi Teknik Sipil FT UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.263 KB) | DOI: 10.20961/mateksi.v4i1.37128

Abstract

Penggunaan modifikasi pondasi gabungan pada proyek bangunan sipil telah banyak digunakan. Salah satunya adalah pondasi gabungan telapak dan sumuran. Penggunan pondasi gabungan ini perlu dilakukan pengujian terlebih dahulu. Penelitian sebelumnya yang dilakukan Rensia pada 2014 menunjukkan hasil yang baik dari penurunan terhadap beban. Dalam penelitian ini pengujian dilakukan pada tanah pasir yang didapat dari data Laboratorium Mekanika Tanah UNS. Penurunan didapat dengan bantuan Plaxis 3D Foundation. Hasil penelitian menunjukkan perilaku grafik penurunan terhadap beban untuk pondasi telapak, pondasi sumuran, dan pondasi gabungan telapak dan sumuran mempunyai perilaku yang sama dengan grafik karakteristik penurunan pada tanah pasir. Adanya gabungan dua pondasi antara pondasi telapak dan sumuran menyebabkan nilai penurunan terhadap beban menjadi semakin kecil dibandingkan pondasi telapak saja atau sumuran saja. Semakin besar kedalaman telapak dan panjang sumuran, memberikan nilai penurunan yang semakin kecil. Penurunan rata-rata yang dihasilkan setiap 0,1 m kedalaman telapak dan panjang sumuran adalah sebesar 0,0246 inchi 0,0237 inchi.