Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Tingkat Erosi Sub Daerah Aliran Sungai Wae Sari II; Indikator terjadinya Erosi Dedy Sofyan; Sedek Karepesina; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 3 No 1 (2012): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v3i1.30

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor penyebab erosi dan perubahan permukaan tanah yang telah mengalami erosi di sub DAS Wae Sari. Penelitian di awali dengan pengumpulan informasi dari beberapa peta pendukung dan selanjutnya di analisis dengan metode Universal Soil Loss Equation (USLE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Erosivitas di Sub DAS Wae Sari sebesar 1557,76 t.m/ha/cm.hujan sedangkan nilai erodibilitas tanahnya sangat beragam. Nilai faktor topografi sebesar 0,010 - 4,560 dan Nilai LS efektif terendah terdapat pada unit lereng 1 segmen 1 (UL1S1) dan unit lereng 2 segmen 1 (UL2S1). Nilai LS tertinggi terdapat pada unit lereng 22 segmen lereng 5 (UL22S5). Permeabilitas tanah sub DAS Wae Sari termasuk dalam kategori lambat hingga permeabel di atas sub strata yang telah melapuk dengan nilai 1,6 mm/th hingga 2,5 mm/th. Seluruh wilayah pengamatan ditemukan Erosi dengan kondisi ringan hingga sangat berat.
Tingkat Erosi Sub Daerah Aliran Sungai Wae Sari III; Korelasi antara Erosi dengan Faktor Penggunaan Lahan, Topografi dan Jenis Tanah Dedy Sofyan; Sedek Karepesina; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 5 No 2 (2014): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v5i2.31

Abstract

Seri ketiga penelitian terhadap tingkat erosi sub DAS Wae Sari menyajikan korelasi antara tingkat erosi dengan faktor penyebab erosi yang terdiri dari penggunaan lahan, topografi dan jenis Tanah. Penelitian di awali dengan penetapan tingkat erosi di sub DAS Wae Sari dan menyajikannya pada peta. Selanjutnya dilakukan analisis korelasi antara penggunaan lahan, topografi dan jenis tanah terhadap tingkat erosi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa erosi berat hanya terjadi 1,4% dari seluruh pengamatan sedangkan 66,24% hanya mengalami erosi ringan. Faktor penggunaan lahan dan topografi memberikan korelasi yang sangat nyata terhadap tingkat erosi (p=0,00). Faktor jenis tanah memberikan korelasi nyata dengan nilai p=0.05. Tanah kambisol menghasikan rata-rata erosi lebih tinggi dibandingkan dengan tanah aluvial sedangkan kelas topografi yang menghasilkan erosi tertinggi adalah topografi bergelombang (8-15%). Kawasan perladangan yang memiliki topografi 8-15% menghasilkan erosi tertinggi.
Model Pengelolaan Lahan untuk Tanaman Energi (Studi Kasus Penanaman Kayu Energi di Areal Pabrik Semen PT. Holcim Narogong Plant) Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 1 No 1 (2010): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v1i1.32

Abstract

Kegiatan penanaman kayu yang dimanfaatkan sebagai bahan bakar substitusi, khususnya untuk kebutuhan internal pabrik Semen perlu direncananakan dengan baik. Penelitian ini menjawab dua permasalahan, yaitu (1) simulasi pertumbuhan tanaman selama proses pengusahaan hutan dan (2) kelayakan ekonomis selama kegiatan penanaman. Simulasi dilakukan dengan bantuan software stella versi 8 dan selanjutnya di sajikan secara diskriptif. Hasil penelitan menunjukkan bahwa selama 30 tahun pengusahaan, terdapat fluktuasi pertumbuhan tanaman. Faktor yang dominan yang mempengaruhinya adalah daya dukung lahan bekas tambang. Simulasi dan Perhitungan Net Present Value (NPV) juga menunjukkan bahwa kegiatan pengusahaan kayu energi juga layak secara ekonomis.
Penetapan Kesesuaian Lahan untuk Penanaman Kayu Energi (Studi hipotetik di Kecamatan Klapanunggal, Bogor) Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 2 No 1 (2011): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v2i1.33

Abstract

Pabrik semen telah menggunakan kayu sebagai bahan subtitusi saat proses pembakaran. Sementara itu, lahan terbuka akibat pengambilan batu gamping telah ditanami menggunakan tanaman berkayu. Jika kebutuhan bahan substitusi mulai meningkat, maka diperlukan penanaman pada area yang lebih luas. Sebuah penelitian dilakukan untuk menjawab kesesuaian lahan di sekitar pabrik semen untuk kebutuhan kayu energi. Metode yang digunakan adalah analisis spasial terhadap peta Kecamatan Klapanunggal Kabupaten Bogor. Hasil penelitan menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Klapanunggal sesuai ditanami kayu energi dan hanya 1% yang tidak sesuai.
Kualitas Briket Arang dari Limbah Ela Sagu Sudiono Wali; Sedek Karepesina; Samin Botanri; Tekat Dwi Cahyono
Jurnal Agrohut Vol 13 No 1 (2022): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v13i1.122

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui manfaat dan kualitas limbah ela sagu dan menguji panas atau kalor briket arang limbah ela sagu yang telah diproses melalui pencetakan dengan menggunakan pipa dan dongkrak. Ela sagu dikeringkan dibawah sinar matahari dan berikutnya dibakar di dalam drum selama 30 menit hingga menjadi arang. Serbuk arang di saring hingga lolos 80 mesh.. Berikutnya disiapkan perekat yang dibuat dari tepung sagu dan air. Keduanya dicampur dan dipanaskan hingga mendidik. Sambil diaduk, campuran di dinginkan hingga berbentuk seperti perekat. Briket dibuat dengan mencampur perekat dengan arang. Perbandingan perekat dengan arang adalah 1:1. Perekat dan arang ela sagu dimasukkan dalam pipa ukuran 4 cm dan diberi tekanan 1, 2, dan 3 ton selama 15 menit. Berikutnya dilanjutkan dengan pemanasan pada suhu 100 °C selama 30 menit. Identifikasi kualitas briket arang adalah kadar air, kadar abu, kadar zat mudah menguap dan fixed karbon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan tekanan 3 ton memberikan kualitas briket arang yang terbaik.
Aplikasi Fungi Mikoriza Arbuskula dan Pupuk Kandang Terhadap Pertumbuhan Tanaman Samama (Antocephalus macrophyllus Roxb) Jumadil Thepu; Juni La Djumat; Kamaruddin Kamaruddin; Tekat Dwi Cahyono; Farida Bahalwan
Jurnal Agrohut Vol 12 No 2 (2021): Agrohut
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Darussalam Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51135/agh.v12i2.123

Abstract

Samama adalah salah satu tanaman pionir yang mudah tumbuh di alam. Samama juga telah di budidayakan dengan berbagai teknik khusus untuk memperbaiki periode awal pertumbuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek fungi mikoriza arbuskula dan pupuk kandang terhadap pertumbuhan bibit Samama. Pemberian fungi mikoriza arbuskula (FMA) yang terdiri dari dua tarap perlakuan, yaitu M0 = Tanpa Pupuk (kontrol) dan M1=Glomus sp 5 gram/polybag. Faktor kedua yaitu penambahan pupuk kandang yang terdiri dari tiga tarap perlakuan, P0 = Tanpa Pupuk (kontrol), P1 = 100 gram/polybag, P2 = 200gram/polybag. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa semua perlakukan berpengaruh nyata hingga sangat nyata terhadap tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan panjang daun. Selain itu, berat segar tanaman, berat kering total dan nisbah pucuk akar. Sementara itu interaksi FMA dan pupuk kandang tidak nyata.
PENERAPAN TEKNOLOGI PENYULINGAN MINYAK KAYU PUTIH MENGGUNAKAN METODE KUKUS BERBAHAN STAINLESS BAGI RUMAH INDUSTRI MINYAK KAYU PUTIH DI KABUPATEN BURU Muhammad Bula; Tekat Dwi Cahyono; Nurhaya Yusuf
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEMBANGUN NEGERI Vol 7 No 1 (2023): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Membangun Negeri
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35326/pkm.v7i1.1716

Abstract

Kondisi alam kabupaten Buru banyak ditumbuhi oleh tanaman kayu putih yang tumbuh liar dan melimpah dimanfaatkan oleh sebagian masyarakat untuk di olah menjadi minyak kayu putih di antaranya bapak La Manigo dan bapak Hasan sebagai kelompok mitra. Sistem proses produksi penyulingan minyak kayu putih pada kelompok mitra menggunakan metode rebus dengan bahan ketel kayu kuning menjadi masalah prioritas. Masalah lain, perlunya pendampingan dari sisi manajemen keuangan. Solusi yang ditawarkan meliputi dua aspek yaitu aspek sistem proses produksi dan aspek manajerial. Aspek sistem proses produksi, metode yang digunakan dengan mendesain dan membuat teknologi ketel penyulingan minyak kayu putih berbahan stainless dengan mengimplementasikan metode kukus. Hal ini dimulai dari mengidentifikasi kebutuhan rill mitra terkait operasional produksinya, merancang, membuat dan melakukan pengujian terhadap ketel, serta melakukan pelatihan dan pendampingan kepada kelompok mitra. Pada aspek manajerial, perlu memberikan pendampingan terkait manajemen keuangan. Hasil diperoleh pada aspek sistem produksi, telah dibuat dan diimplementasikannya dua unit ketel penyulingan minyak kayu putih berbahan stainless metode kukus yang memiliki keunggulan dari ketel berbahan kayu kuning milik kelompok mitra. Pada aspek manajemen kelompok mitra telah memiliki pemahaman terkait metode pencatatan keuangan sederhana, dan mampu menganalisa besarnya keuntungan yang diperoleh dalam tiap memproduksi minyak kayu putih.
Dimensional Stability and Wettability of Modified Samama (Anthocephallus macrophyllus) Wood with Boron, Citric Acid, and Heat Treatment Priadi, Trisna; Wardhani, Miranti Kusuma; Putra, Guruh Sukarno; Cahyono, Tekat Dwi
Jurnal Sylva Lestari Vol. 13 No. 1 (2025): January
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v13i1.1056

Abstract

This research aimed to address the leaching phenomenon of boron preservatives in wood. The subsequent investigation focuses on wood's dimensional stabilization and wettability after a two-stage impregnation process. Samama (Anthocephallus macrophyllus) wood was impregnated with boron (boric acid, borax, and a combination of both) at a pressure of 7 atm for 4 hours, with each preservative’s concentration set at 5%. After oven drying at 60°C until achieving a 15% moisture content, the next step involves a second-stage impregnation with citric acid (at a 5% concentration) under the same pressure and duration. The final step included heat treatment at 80°C and 160°C for 4 hours. The research results indicate that boron and citric acid enhance the dimensional stabilization of samama wood. The best dimensional stabilization treatment combines boric acid, borax, citric acid, and heat treatment at 160°C. This study confirms that citric acid improves the dimensional stabilization of samama wood, whether used with boron or not. Compared to treatments without citric acid and heating, the two-stage impregnation reduces boron leaching by up to 30%. The research also recommends that all treatments exhibit good finishing properties. Keywords: Anthocephallus macrophyllus, boron, dimension stabilization, impregnation, wettability
The Hydrophilicity of Samama Wood Surface Quality after Boron, Methyl Methacrylate Impregnation, and Heat Treatment Cahyono, Tekat Dwi; Priadi, Trisna; Noviyanti, Eka; La Djumat, Juni; Kaliky, Fitriyanti
Jurnal Sylva Lestari Vol. 12 No. 1 (2024): January
Publisher : Department of Forestry, Faculty of Agriculture, University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jsl.v12i1.851

Abstract

Indicators of surface roughness and surface-free energy can represent the improvement in wood surface quality. In this study, those two indicators were used to determine the change in the samama (Anthocephalus macrophyllus) wood surface following two modification steps, namely impregnation and heat treatment. The first step was boron impregnation in two forms applied separately, i.e., boric acid and borax. The second step was impregnation of methyl methacrylate followed by heat treatment at 90°C and 180°C. Surface roughness was determined following the ISO 4287:1997 standard, and surface free energy was analyzed using the Rabel Method. The results showed that the radial surface of samama wood naturally had a lower roughness than the tangential surface. Impregnation with boric acid, borax, and methyl methacrylate increased the wood surface roughness. However, heat treatment at 180°C tended to smooth the rough surface. Total surface free energy was altered after borax and methyl methacrylate impregnation. However, heat treatment seemingly withdrew the alteration. The polar components and dispersion contributed to total surface free energy with different compositions. In this study, the change in surface roughness was not congruent with the change in total surface free energy. Keywords: boron, heat treatment, impregnation, samama, surface free energy
Local Community Processing Based on Sago in Leihitu District, Central Maluku Regency: Olahan Lokal Masyarakat Berbasis Sagu di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah Hadidjah Latuponu; Samin Botanri; Tekat Dwi Cahyono; Suud Marasabessy; Farida Mony; Tina D. Kaisupy; Haris Salampessy; Chomsa DU. Bassary; M. Riadh Uluputty
JATI EMAS (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat) Vol. 8 No. 1 (2024): Jati Emas (Jurnal Aplikasi Teknik dan Pengabdian Masyarakat)
Publisher : DPD Jatim Perkumpulan Dosen Indonesia Semesta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hitumesing Village is one of the (State) Villages in Central Maluku Regency, Maluku Province which has the largest sago forest in the Leihitu District area, namely 238.81 ha or 50.71% of the area of sago forest on Ambon Island. The community has used sago as a product with economic value in order to support the family economy and as a source of village income. Community service activities have been carried out and the partner is the Hitumessing Village/State government. The approach implemented involves counseling, training and mentoring. The result of this activity is the empowerment of community groups in producing various types of processed food made from sago. The benefits obtained include opening new jobs, developing production centers for various cakes and other products that use sago as a basic ingredient, increasing family income, improving quality of life, and improving community welfare. This is part of efforts to reduce poverty levels in rural areas, especially in Hitumessing village, Leihitu sub-district. It is also hoped that with the available business space, it will be an impetus for new economic growth and move the economy in rural areas and sub-district areas in a better direction in the future.