Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Isolasi Dan Karakterisasi Protein Ampas Tahu Nanan Nurdjannah; Sri Usmiati
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 3, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v3n2.2006.83-95

Abstract

Ampas tahu merupakan hasil samping dari proses pembuatan tahu. Kadar protein ampas tahu cukup tinggi yakni sekitar 6%. Pada umumnya ampas tahu dimanfaatkan untuk pakan ternak atau campuran oncom dan tempe gembus. Ampas tahu mempunyai peluang untuk digunakan dalam pembuatan tepung kaya serat dan protein yang dapat diaplikasikan untuk berbagai produk pangan, dan sebagai media tumbuh dan perkembangan jamur. Pada penelitian ini ampas tahu diisolasi proteinnya dengan cara asam-basa dan dilihat sifat fisik, kimia dan fungsional dari isolat protein yang dihasilkan. Perlakuan penelitian terdiri atas suhu ekstraksi (25 dan 500C) dan pH ekstraksi ( 8,0; 8,5; 9,0; 9,5 dan 10). Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Kelompok, pola faktorial dengan ulangan 1 dan 2 sebagai blok. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ampas tahu basah menghasilkan konsentrat protein dengan kualitas yang lebih baik dari ampas tahu kering. Rendemen tepung, kadar protein dan recovery protein yang dihasilkan masih rendah. Suhu dan pH ekstraksi mempengaruhi karakteristik dari protein yang dihasilkan. Hasil pembobotan menunjukkan perlakuan dengan suhu ekstraksi 500C dan pH 10 merupakan kombinasi perlakuan terbaik dengan rendemen tepung 11,68%, recovery protein 25,85%, kadar protein 61,14%, kadar air 6,66%, kadar abu 2,74%, kadar lemak 31,9%, total karbohidrat 4,26%, daya serap air 3,38g air/g protein, daya serap lemak 3,79g lemak terserap/g protein, kapasitas emulsi 61,2%, stabilitas emulsi 69,60%, kapasitas busa 15,71%, stabilitas busa 55,28%, kelarutan tertinggi pada pH 12 yaitu 89,14%.
Efektivitas Lilin Penolak Lalat (Repelen) Dengan Bahan Aktif Limbah Penyulingan Minyak Nilam Sri Yuliani; Sri Usmiati; Nanan Nurdjannah
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 2, No 1 (2005): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v2n1.2005.1-10

Abstract

Telah dilakukan uji efektivitas lilin dari ekstrak limbah penyulingan minyak nilam di Laboratorium Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor dan di Laboratorium Entomologi FKH-IPB, Bogor. Penelitian menggunakan limbah penyulingan minyak nilam yang kemudian diekstrak menggunakan pelarut metanol 1:4. Ekstrak limbah tersebut diformulasikan menjadi 9 formula lilin dengan kombinasi bahan aktif sebagai berikut; a) ekstrak limbah penyulingan minyak nilam dan minyak sereh wangi (1: 1) dengan konsentrasi 12,5%, 25%, dan 50%. b) ekstrak limbah penyulingan minyak nilam dan minyak cengkeh (1: 1) dengan konsentrasi 12,5, 25%, dan 50%. c) minyak sereh wangi (25%). d) minyak cengkeh (25%). e) Lilin tanpa bahan aktif (kontrol). Selanjutnya dilakukan uji efektivitas terhadap day a tolak (repelen) lalat menggunakan udang busuk 12 jam, pengujian menggunakan 25 ekor lalat umur 2-5 hari kenyang air gula. Pengamatan dilakukan setiap menit dengan menghitung jumlah hinggapan lalat ke udang tiap menitnya sampai menit ke-60, pengamatan dilakukan dengan menggunakan glass chamber. Hasil pengujian efektivitas lilin terhadap lalat rumah menunjukkan bahwa formula 113 dengan kombinasi bahan aktif ekstrak limbah penyulingan minyak nilam dengan minyak cengkeh (konsentrasi 50%), merupakan formula paling optimal dibandingkan dengan formula lainnya dengan daya tolak sebesar 87,6% pada menit ke 10 dan 100% pada menit ke 60. The Effectiveness of repellent candle with the extract solution of patchouly distillation waste as the active componentThe effectiveness of repellent candle was examined at laboratory of Indonesian Center for Agricultural Postharvest Research and Development and Entomology Laboratory of VeterinaryFaculty of Bogor Agricultural University. Patchouly distillation waste was extracted using methanol with ratio of 1:4 and then formulated into 9 formulas of candle. The combination of active compound in the formula were: (a) mixing of patchouly distillation waste and citronella oil (I: I) with of 12.5%; 25% and 50% concentration; (b) mixing of patchouly distillation waste and clove oil (1:1) with 12.5%; 25% and 50% concentration; (c) citronella oil (25%); (d) clove oil (25%) and (e) without active compound as control. The effectiveness determination of repellent activity on flies was conducted using 12 hours decayed shrimp. The trial was using 25 flies 2-5 days age which already fully fed with sugar solution. The observation was conducted every minute in glass chamber by counting flies which lied on the decayed shrimps, for the period of 60 minutes. The results showed that the optimum formula was combination of active compound of distillation waste from patchouly and clove oil (concentration 50%) with 87.6% repellent activity at the tenth minutes and 100% at the sixtieth minutes.
ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL PAKET TEKNOLOGI PENGOLAHAN LADA PUTIH (White Pepper) SEMI MEKANIS Tatang Hidayat; Nanan Nurdjannah; Sri Usmiati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n1.2009.%p

Abstract

Salah satu masalah dalam industri lada di Indonesia yaitu rendahnya mutu lada yang dihasilkan di tingkat petani. Untuk meng-atasi hal tersebut, telah dikembangkan paket teknologi pengolahan lada semi mekanis yang saat ini unit percontohannya telah dibangun di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis baik dari segi teknis mau-pun finansial. Tahapan penelitian meliputi : 1) Produksi lada putih dengan dua cara penge-ringan, yaitu penjemuran dan alat pengering, 2) Analisis mutu lada putih, dan 3) Analisis finansial pengolahan lada putih. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa secara teknis paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis memiliki kinerja yang cukup baik. Rendemen lada putih yang dihasilkan berkisar antara 19,63-20,62%. Lada putih yang dihasilkan baik dengan alat pengering maupun dengan pen-jemuran memenuhi standar mutu IPC WP-1 dan WP-2, kecuali kadar kotoran yang meme-nuhi standar mutu IPC WP-2. Total mikroba lada putih kedua cara pengeringan tersebut relatif sama dan memenuhi standar mutu IPC untuk lada putih yang disterilkan. Hasil analisis finansial pengolahan lada putih di Kalimantan Timur pada kapasitas 0,5 ton bahan baku per proses, baik yang menggunakan alat pengering maupun penjemuran, layak direalisasikan. Penggunaan alat pengering menghasilkan NPV Rp 114.258.359,-, IRR 44,9%, B/C rasio 1,07 dengan masa pengembalian modal 2,18 tahun, sedangkan penjemuran menghasilkan NPV    Rp 142.603.460,-, IRR 48,5%, B/C rasio 1,09 dengan masa pengembalian modal 1,9 tahun. Analisis sensitivitas pengolahan lada putih dengan alat pengering dapat mentolerir ke-naikan harga bahan baku dan penurunan harga jual produk sampai 5%, sedangkan dengan penjemuran dapat mentolerir sampai 7%.
POTENSI BAKTERIOSIN DARI Lactobacilus sp. GALUR SCG 1223 SEBAGAI BIOPRESERVATIF PADA DAGING SEGAR Sri Usmiati; Nur Richana
Buletin Teknologi Pasca Panen Vol 7, No 2 (2011): Buletin Teknologi Pascapanen Pertanian
Publisher : Buletin Teknologi Pasca Panen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerusakan pangan oleh mikroba patogen antara lain Escherichia coli, Salmonella thypimurium, Listeria monocytogenes dan Staphylococcus aureus dapat menimbulkan kerusakan produk dan penyakit bahkan kematian. Untuk mengatasi hal tersebut diperlukan usaha pengawetan pangan merupakan salah satu cara untuk menjaga keamanan dan memperpanjang masa simpannya. Aplikasi metode pengawetan pangan secara kimiawi dengan senyawa kimia sintetik dan non food grade (formalin, pemutih, boraks) sangat berbahaya akumulasinya dalam tubuh, karena menimbulkan gangguan metabolisme dan merusak kesehatan. Salah satu pengawet yang aman untuk kesehatan adalah yang dihasilkan secara alamiah oleh bakteri asam laktat (BAL) yang dikenal dengan nama bakteriosin. Beberapa kelebihan bakteriosin sebagai biopreservatif antara lain tidak toksik, dapat terdegradasi oleh enzim proteolitik pencernaan, tidak membahayakan mikroflora usus, mengurangi penggunaan pengawet bahan kimia, penggunaannya fleksibel, dan tahan terhadap proses pengolahan asam, basa, dan kondisi panas atau dingin. Produksi bakteriosin dengan aktivitas hambat yang baik terhadap patogen dapat menggunakan media komersial seperti deMann Rogosa Sharpe dan Trypton Glucosa Extract yang harganya mahal atau media alamiah lain yang harganya relatif murah dan mudah diperoleh seperti sayuran, gula dan karbohidrat lain yang dapat menginduksi BAL untuk menghasilkan bakteriosin. Bakteri asam laktat Lactobacillus sp. galur SCG 1223 dapat menghasilkan bakteriosin dengan daya hambat yang baik terhadap E. coli, S. thypimurium, dan L. monocytogenes dengan kondisi optimum produksi pH 5, suhu 33,5oC selama waktu inkubasi 9 jam. Dalam bentuk cair, bakteriosin dari Lactobacillus sp. galur SCG 1223 tahan disimpan selama 12 minggu dalam pendingin bersuhu 4oC, kondisi pH 2-4 dan memiliki ketahanan terhadap panas hingga 100oC, sedangkan dalam bentuk enkapsulasinya menggunakan formula 16,67% maltodekstrin: 83,33% susu skim bubuk dengan kondisi suhu masukan spray drying 150oC pada kadar bakteriosin cair 20%, aktivitas hambatnya menurun pada kisaran 24,5-44,4% terhadap bakteri Gram positif dan Gram negatif. Aplikasinya pada daging ayam dan daging sapi segar dengan bakteri uji E. coli, S. thypimurium dan L. monocytogenes menunjukkan potensi daya hambat bakteriosin dari Lactobacillus sp. galur SCG 1223 yang cukup besar, sehingga digolongkan sebagai bakteriosin yang berspektrum penghambatan yang luas terhadap kelompok bakteri Gram negatif dan Gram positif. Dengan potensi tersebut, diperlukan upaya proses pemurnian yang lebih sempurna untuk lebih meningkatkan kemampuannya sebagai biopreservatif serta diuji terhadap berbagai jenis bakteri patogen yang dominan sebagai kontaminan bahan pangan, serta diproduksi dalam bentuk serbuk seperti halnya bakteriosin komersial yang telah beredar di pasar seperti Nisin.
Characteristic of cow milk dadih using starter of probiotic of lactic acid bacteria Sri Usmiati; W. Broto; H. Setiyanto
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol 16, No 2 (2011): JUNE 2011
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development (ICARD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (205.212 KB) | DOI: 10.14334/jitv.v16i2.643

Abstract

Dadih is an original dairy product from West Sumatera processed traditionally. It is a spontaneous fermentation of buffalo milk at room temperature for 48 hours in a bamboo tube, has no standard of processing and quality. Dadih is potentially to be develop into probiotic products (functional food) that can be enjoyed by the public widely. Development of cow's milk dadih is necessary since buffalo milk is available only in certain area. Product and characteristic information of cow milk dadih using probiotic of lactic acid bacteria starter has not been known. The research objective was to determine the characteristics of cow milk dadih that used starter of probiotic lactic acid bacteria during storage at room temperature (27oC) and cold temperature (4oC). The study was designed using a factorial randomized block design pattern 12x3 at room temperature and 12X4 at cold temperatures, with the number of repeatation of 3 times. Treatment consisted of: (i) starter formula (A) using a single bacterium or a combination of Lactobacillus acidophilus, Lactobacillus casei and Bifidobacterium longum, and (ii) storage time (B). Observed parameters included pH value, titrable acidity, the total plate count, and in-vitro probiotic testing (bacterial resistance to bile salts and low pH) of cow milk dadih. The results showed that L. acidophilus early exponential phase was at the hour 3rd, L. casei at the hour 4th and B. longum on the 3rd of which is used as the optimum time of mixing two or more bacteria in the manufacture of cow milk dadih. The volume of starter used was 3% with time fermentation of 48 hours at room temperature (27-30oC). Cow milk dadih that was stored for 7 days at room temperature (27-30oC) and for 21 days at cold temperatures (4-10oC) was able to maintain viability of bacteria to bile salts and low pH at 1010-1012 cfu/ml with percentage resistance varied. The cow milk dadih using a combination starter of B. longum with other probiotics on the composition of 1:1 had a resistance to bile salts which were relatively constant after the dadih was kept for 21 days at cold temperature. Cow milk dadih with a starter of probiotic bacteria still qualify as a probiotic product with good quality that storaged up to 4 days at room temperature and 21 days in cold temperatures. Key Words:  Dadih, Probiotic, Lactobacillus Acidophilus, Lactobacillus Casei, Bifidobacterium Longum
Microbes of fermented kefir-like using combination of kefir grains and Bifidobacterium longum Sri Usmiati; Rarah Ram
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol 10, No 1 (2005): MARCH 2005
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development (ICARD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.458 KB) | DOI: 10.14334/jitv.v10i1.474

Abstract

The objectives of research were to find out physico-chemical characters and to detect flavor volatile compound of kefir-like. Material used was skim milk TS 9.5% which was heated at 85oC for 30 minutes and cooled at 22oC before innoculation of the starter. Microorganisms used were (a) Lactobacillus acidophilus P155110, (b) Lactobacillus delbrueckii subsp. Bulgaricus NCIMB 11778, (c) Lactococcus lactis P155610, (d) Leuconostoc mesenteroides subsp. dextranicum NCIMB 3350, (e) Acetobacter aceti P154810, (f) Bifidobacterium longum BF1, and (g) Saccharomyces cerevisiae P156252. The treatments consist of P1 = without (b); P2 = without (a); and P3= used (a) until (g). The physico-chemical characters identified were lactic acid and lactose percentages, pH, viscosity, organoleptic test for intensity of kefir-like sensory attributes. Results indicated that B. longum was potential bacterium use for starter combination on kefir-like making. The use starter P1 combination has high acidity and viscosity, low pH and lactose percentage, and high intensity on attribute creamy-white color, soft and curdle consistency, and kefir specific aroma on kefir-like. Volatile compound acid group were dominate by high acidity character on kefir-like resulted from starter P1 combination. Compound of 3-hydroxi-2-butanone (acetoin) was affecting butter-like of P3 character. This compound resulted from which is a character of fermented milk flavor was not detected on P1 kefir-like.     Key Words: Fermented Milk Kefir-Like, Volatile Compound, Physicochemical Character, Bifidobacterium longum
Effect of bacteriocin from Lactobacillus sp. Var. SCG 1223 on microbiological quality of fresh meat Sri Usmiati; Miskiyah .; Rarah R.A.M.
Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner Vol 14, No 2 (2009): JUNE 2009
Publisher : Indonesian Center for Animal Research and Development (ICARD)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.745 KB) | DOI: 10.14334/jitv.v14i2.356

Abstract

Inhibition technology of microorganism on meat can be done biologically and chemically. Biologically, inhibition to microbe can be conducted by addition antimicrobe, for example bacteriocin that have character as biopreservative. The aim of this research was to study the microbiological quality of fresh meat with bacteriocin isolated from Lactobacillus sp. SCG 1223 storaged at certain addition and temperature with different storage time. This experiment was done based on Completely of Random Design (CRD) with factorial arragement 3 x 4 for meat kept at room temperature (270C) and 3x3 for meat kept at cold temperature (4ºC) in three replications. The first factor was addition of biopreservative: addition bacteriocin (B), without addition antimicrobia (TB), and addition of nisin (N) on fresh meat. The second factor was different storage time at room temperature (H0, H6, H12 and H18) and low temperature (D0, D14, D28). Other treatments as indicators was contaminated with indicator bacteria (S. thypimurium, E. coli, L. monocytogenes). Variable analyzed were initial TPC (Total Plate Count) and total indicator bacteria S. thypimurium; E. coli; L. monocytogenes at fresh meat, meat quality consist of total indicator of bacteria, pH value of meat; and protein level. Result indicated that bacteriocin from Lactobacillus sp. SCG 1223 isolat could inhibit bacteria growth (S. thypimurium, L. monocytogenes, and E. coli. Bacteriocin produced by Lactobacillus sp. can work at room temperature (270C) and cold temperature (40C). Nisin effectivity almost same to bacteriosin produced from Lactobacillus sp. SCG 1223 isolated from cow fresh milk in inhibiting Gram positive L. monocytogenes. Key Words: Microbiological, Bacteriocin, Lactobacillus sp. Var. SCG 1223
Sifat Mikrobiologi dan Sensori Dadih Susu Sapi yang Difermentasi Menggunakan Lactobacillus plantarum dalam Kemasan yang Berbeda Roswita Sunarlim; Sri Usmiati
Buletin Peternakan Vol 30, No 4 (2006): Buletin Peternakan Vol. 30 (4) November 2006
Publisher : Faculty of Animal Science, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21059/buletinpeternak.v30i4.1212

Abstract

File lengkap ada dalam bentuk PDF dibawah ini
ANALISIS TEKNIS DAN FINANSIAL PAKET TEKNOLOGI PENGOLAHAN LADA PUTIH (White Pepper) SEMI MEKANIS Tatang Hidayat; Nanan Nurdjannah; Sri Usmiati
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 20, No 1 (2009): BULETIN PENELITIAN TANAMAN REMPAH DAN OBAT
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v20n1.2009.%p

Abstract

Salah satu masalah dalam industri lada di Indonesia yaitu rendahnya mutu lada yang dihasilkan di tingkat petani. Untuk meng-atasi hal tersebut, telah dikembangkan paket teknologi pengolahan lada semi mekanis yang saat ini unit percontohannya telah dibangun di Kalimantan Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menguji paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis baik dari segi teknis mau-pun finansial. Tahapan penelitian meliputi : 1) Produksi lada putih dengan dua cara penge-ringan, yaitu penjemuran dan alat pengering, 2) Analisis mutu lada putih, dan 3) Analisis finansial pengolahan lada putih. Hasil pene-litian menunjukkan bahwa secara teknis paket teknologi pengolahan lada putih semi mekanis memiliki kinerja yang cukup baik. Rendemen lada putih yang dihasilkan berkisar antara 19,63-20,62%. Lada putih yang dihasilkan baik dengan alat pengering maupun dengan pen-jemuran memenuhi standar mutu IPC WP-1 dan WP-2, kecuali kadar kotoran yang meme-nuhi standar mutu IPC WP-2. Total mikroba lada putih kedua cara pengeringan tersebut relatif sama dan memenuhi standar mutu IPC untuk lada putih yang disterilkan. Hasil analisis finansial pengolahan lada putih di Kalimantan Timur pada kapasitas 0,5 ton bahan baku per proses, baik yang menggunakan alat pengering maupun penjemuran, layak direalisasikan. Penggunaan alat pengering menghasilkan NPV Rp 114.258.359,-, IRR 44,9%, B/C rasio 1,07 dengan masa pengembalian modal 2,18 tahun, sedangkan penjemuran menghasilkan NPV    Rp 142.603.460,-, IRR 48,5%, B/C rasio 1,09 dengan masa pengembalian modal 1,9 tahun. Analisis sensitivitas pengolahan lada putih dengan alat pengering dapat mentolerir ke-naikan harga bahan baku dan penurunan harga jual produk sampai 5%, sedangkan dengan penjemuran dapat mentolerir sampai 7%.