Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

The Relevance of the Equator Monument as a Representation of Pontianak City Identity Bayuardi, Galuh; Equanti, Dian
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 7, No 4 (2023): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (November)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v7i4.5840

Abstract

The Equator Monument is a well-known landmark of Pontianak City. The city identity is related to the sense of place when someone is in that place. The sense of place acknowledges the subjective individual city imagery. From this point of view of citizen subjectivity, this study aimed to explain how the Khatulistiwa Monument represents the identity of Pontianak City, and how is the production of space in the Khatulistiwa Monument area. This study used a qualitative research method. It collected data from Z-generation citizens and field observation. The results of this study show that the Khatulistiwa Monument is still relevant to the identity of Pontianak City due to its popularity, but the Khatulistiwa Monument area did not fulfil the sense of place that represents the of Pontianak City’s identity. The production of space of The Khatulistiwa Monument was made of the activities of its visitors who perceive it, entrepreneurs who use the space, and the Tourism Office that designed TheKhatulistiwa Monument area.
FRAGMENTASI, SEJARAH, HETEROGENITAS PENDUDUK, DAN BUDAYA KOTA PONTIANAK Bayuardi, Galuh; Firmansyah, Andang; Superman, Superman
Patra Widya: Seri Penerbitan Penelitian Sejarah dan Budaya. Vol. 18 No. 3 (2017)
Publisher : Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4024.043 KB) | DOI: 10.52829/pw.6

Abstract

Pontianak merupakan kota madya di Indonesia. Secara geografis, lokasi Pontianak dekat dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura. Kondisi ini menyebabkan Pontianak sering dikunjungi pelancong dari negara tetangga, baik pengunjung yang memiliki urusan di Kota Pontianak, maupun yang sekadar singgah sebelum menuju destinasi lain di wilayah Indonesia. Jika ditelusuri dari sejarahnya, pada dasarnya Pontianak didesain sebagai kota perdagangan. Pontianak mengalami pembangunan yang cepat saat kedatangan VOC yang membuat kesepakatan dengan Kesultanan Pontianak. Sebagai tindaklanjut dari kesepakatan itu, mereka membangun kantor pemerintahan dan juga keraton untuk mendukung aktivitas politik di Pontianak. Seiring dengan pesatnya pentumbuhan Kota Pontianak, berbagai kelompok etnis menjadikan Pontianak sebagai kota yang heterogen. Kini, Pontianak dikunjungi berbagai etnis dari berbagai wilayah di Indonesia. Kelompok etnis yang tinggal di Pontianak di antaranya adalah Melayu, Dayak, Tionghoa, Jawa, Batak, Bugis, Madura, Banjar, Sunda, dan Bali. Berbagai etnis bergaul satu sama lain. Kondisi sosial heterogen di Pontianak tidak serta merta melahirkan pluralitas. Terkadang muncul sentimen kedaerahan baik itu klaim oleh penduduk lokal, maupun oleh mereka yang ditandai sebagai pendatang, meskipun pernyataan ini tidak terlihat secara langsung, tapi memiliki potensi masalah di kemudian hari.____________________________________________________________Pontianak is one of municipality in Indonesia. Geographicaly Pontianak location, is a region close to neighboring countries such as Malaysia and Singapore. This condition causes the Pontianak o en visited by travelers from neighboring countries either intentionally been to Pontianak Municipality and those who simply stopped to proceed to the main destinations in Indonesia other region. If traced far back on the history, basically Pontianak was designed to be a commercial city. Pontianak expertencing rapid development when VOC entrance and made an agreement with the ruler of Pontianak sultanate. As a follow up of the agreement, they established government offices and also the castle to support the political act wities in Pontianak. Along with the rapid growth of the Pontianak city, various ethnic groups from within and outside the island ofBorneo began to arrive. The arrival of the various ethnic groups making Pontianak as one of the cities where the population is heterogeneous. Today, Pontianak is much visited various ethnic groups from various regions in Indonesia. Ethnic groups who live in Pontianak, among others are Malay, Dayak, Chinese, Javanese, Batak, Bugis, Madurese, Banjar, Sunda, Bali, etc. Various ethnic coexistence between ethnic group and mingle with one another. Conditions heterogeneous society in Pontianak do not necessarily give birth to plurality. Sometimes it appears regionalist sentiment either of those claiming to be local residents as well as those who are considered immigrants even though it is not exposed directly but has the potential to become a problem in the future.
Pendapatan Rumah Tangga Petani Karet Pasca Menurunnya Harga Karet di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Equanti, Dian; Galuh Bayuardi; Lola Novita Sari, Tiodora
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol. 11 No. 3 (2024): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v11i3.8466

Abstract

Mata pencaharian penduduk di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas didominasi berkebun karet. Anjloknya harga karet di harga Rp 5.000/kg menyebabkan petani mengalami penurunan pendapatan. Kondisi ini berdampak pada perubahan sosial ekonomi rumah tangga petani. Berlatar belakang situasi ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan rumah tangga petani karet pasca menurunnya harga karet di Desa Tanjung Keracut Kabupaten Sambas; kedua, untuk mengetahui perubahan kondisi sosial masyarakat pasca menurunnya harga karet di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan pertama, rata-rata pendapatan petani jauh lebih rendah yakni antara Rp 300.000 – Rp 500.000/bulan, dibandingkan sebelum penurunan harga karet yang berkisar Rp 800.000 – Rp 1.200.000/bulan. Kedua, penurunan harga karet berdampak pada perubahan sosial rumah tangga petani berupa perubahan mata pencaharian petani, perubahan jenis tanaman, dan anggota rumah tangga petani yang memilih bekerja di luar desanya.
MIGRASI TRANSNASIONAL DAN PERUBAHAN PERAN PETANI PEREMPUAN DI DESA TEBAS SUNGAI KABUPETAN SAMBAS Equanti, Dian; Galuh Bayuardi
Jurnal Swarnabhumi : Jurnal Geografi dan Pembelajaran Geografi Vol. 9 No. 2 (2024): Jurnal Swarnabhumi : Jurnal Geografi dan Pembelajaran Geografi
Publisher : Geography Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/swarnabhumi.v9i2.11116

Abstract

Migrasi laki-laki transnasional menyebabkan perubahan sosial peran gender di kalangan rumah tangga petani di Desa Tebas Sungai. Penelitian ini mendeskripsikan perubahan sosial yang terjadi di desa pertanian setelah ditinggal oleh laki-laki yang bermigrasi secara transnasional. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan mewawancarai informan petani perempuan yang suaminya bermigrasi untuk bekerja di Malaysia. Studi tersebut mengatakan bahwa perubahan setelah laki-laki keluar termasuk peran petani perempuan yang lebih besar dan mendominasi semua pekerjaan di bidang tanah dan rumah tangga; perempuan tani telah memperluas kewenangan dan akses untuk mengelola sumber daya pertanian. Nilai tanah bagi perempuan tani melestarikan budaya bercocok tanam keluarga sehingga tidak menjual tanahnya. Meskipun kewenangannya lebih besar, pertanian subsisten ini telah memperkuat peran domestik dari rumah ke tanah. Sedangkan laki-laki tetap menjalankan peran publiknya sebagai pencari nafkah utama di negara asing.
Pendapatan Rumah Tangga Petani Karet Pasca Menurunnya Harga Karet di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Equanti, Dian; Galuh Bayuardi; Lola Novita Sari, Tiodora
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol. 11 No. 3 (2024): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/sosial.v11i3.8466

Abstract

Mata pencaharian penduduk di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas didominasi berkebun karet. Anjloknya harga karet di harga Rp 5.000/kg menyebabkan petani mengalami penurunan pendapatan. Kondisi ini berdampak pada perubahan sosial ekonomi rumah tangga petani. Berlatar belakang situasi ini, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pendapatan rumah tangga petani karet pasca menurunnya harga karet di Desa Tanjung Keracut Kabupaten Sambas; kedua, untuk mengetahui perubahan kondisi sosial masyarakat pasca menurunnya harga karet di Desa Tanjung Keracut Kecamatan Teluk Keramat Kabupaten Sambas. Hasil penelitian menunjukkan pertama, rata-rata pendapatan petani jauh lebih rendah yakni antara Rp 300.000 – Rp 500.000/bulan, dibandingkan sebelum penurunan harga karet yang berkisar Rp 800.000 – Rp 1.200.000/bulan. Kedua, penurunan harga karet berdampak pada perubahan sosial rumah tangga petani berupa perubahan mata pencaharian petani, perubahan jenis tanaman, dan anggota rumah tangga petani yang memilih bekerja di luar desanya.
PEMBERDAYAAN PETANI LEBAH MADU DI KAWASAN TAMAN NASIONAL DANAU SENTARUM SEBAGAI PENGUATAN KAPASITAS (Studi Kasus Desa Vega) Sudirman, Sudirman; Bayuardi, Galuh; Equanti, Dian
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 6, No 2 (2022): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v6i2.3093

Abstract

Kajian ini menganalisis pemberdayaan petani lebah madu hutan di Kawasan Taman Nasional Danau Sentarum (TNDS) dengan studi kasus di Desa Vega. Hasil penelitian menunjukkan program pemberdayaan, pelatihan dan pendampingan telah mendorong peningkatan kapasitas belajar, kapasitas berorganisasi, dan kapasitas berusaha. Kapasitas belajar petani meningkat terlihat dari kemauan belajar, mencoba cara baru dan menerapkannya sehingga terjadi perubahan cara budidaya dan panen madu dengan lebih memperhatikan kelestarian kawasan TNDS. Kapasitas berorganisasi dijelaskan dengan munculnya insiatif para petani lebah untuk membentuk organisasi yang mengkoordinir kelompok-kelompok petani, membuat kesepakatan yang mengatur tata cara budidaya lebah mulai dari persiapan hingga panen lestari; membeli madu produksi petani, menjaga kestabilan harga jual madu, dan memasarkan madu. Kapasitas berusaha dibuktikan dengan jalinan kerja sama kelompok petani dengan berbagai mitra yang membantu membuka jaringan pemasaran; sistem pengelolaan budidaya lebah madu, dan pengawasan mutu produk. Masalah yang dialami petani antara lain pola cuaca yang sulit diprediksi, pasang surut air sungai yang menyulitkan akses ke lokasi budidaya; jangkauan pemasaran dalam skala lokal; serta harga jual yang tidak stabil. Penelitian ini menyarankan agar komunitas peternak lebah menjalin komunikasi dan kerjasama dengan berbagai pihak untuk mendorong peningkatan mutu dan memperluas pemasaran madu.Kata kunci: pemberdayaan; penguatan kapasitas; petani lebah madu