Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Kualitas gonad bulubabi Tripneustis gratilla dengan pakan rumput laut yang berbeda Agnette Tjendanawangi; Nicodemus Dahoklory
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3501.109 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.214-221

Abstract

ABSTRACT Gonad quality of sea urchin Tripneustis gratilla is influenced by consumed seaweed type. Therefore, this study was conducted to determine the type of seaweed as potential source of carotenoids and produce a good quality of sea urchin gonad. The study was conducted in two phases, namely first phase was to obtain the content of carotenoids and β-carotene from several species of seaweed; and second phase was to testify the seaweed that produced high quality of sea urchin gonad.This study used completely randomized design with 4 treatmens of macroalgae diets, namely: 1. Enhalus sp., 2. Sargassum sp., 3. Ulva sp., and 4. Eucheuma sp. Each treament was repeated three times. Measured parameters were gonad weight, gonad maturity index, gonad color quality, and gonad texture. The study result showed that Enhalus contained the highest carotenoid and β-carotene content with 1409.53 and 639.37 mg/kg respectively. The highest gonad weight was 2.8 g; gonad color and texture was good (score 3); and the highest gonad maturity index was 5.4% that obtained from sea urchin fed with Enhalus. Therefore, this study concludes that Enhalus is potential source of carotenoids for sea urchin T. gratilla diet that will produce a good quality of gonad. Keywords: carotenoid, diet, gonad quality, sea urchin, seaweed.
Efektivitas suplementasi ekstrak temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) pada pakan komersial terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) Monika Karnini Emba; Agnette Tjendanawangi; Yuliana Salosso
Jurnal Aquaculture Indonesia Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Prodi Akuakultur Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jai.v5i2.8480

Abstract

Benih ikan bawal bintang (Trachinotus blochii) cukup rentan mengalami kematian karena daya tahan tubuh yang belum kuat dan stabil.Salah satu strategi peningkatan imunitas atau daya tahan tubuh benih ikan bawal bintang adalah melalui penggunaan imunostimulan dari bahan alami, salah satunya bahan alami temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak temulawak dalam pakan komersial terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bawal bintang. Metode yang diterapkan dalam penelitian ini adalah metode rancangan acak lengkap (RAL). Hasil uji ANOVA dari penelitian ini, mengindikasikan bahwa penambahan ekstrak temulawak pada pakan komersial bagi benih ikan bawal bintang memiliki nilai terbaik dari perlakuan D (3% ekstrak temulawak), dimana hasil laju pertumbuhan spesifik yang paling besar yaitu 5,82%/hari, pertumbuhan berat mutlak paling besar yaitu 7,2 gram, pertumbuhan panjang mutlak paling besar yaitu 5,73 cm, nilai dari rasio konversi pakan paling rendah yaitu 1,10 dan efisiensi pakan paling besar yaitu 74,3% dengan tingkat kelulushidupan mencapai 100% pada semua perlakuan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak temulawak dalam pakan komersial berpengaruh signifikan dibanding kontrol terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bawal bintang.
Substitusi Pakan Komersial dengan Tepung Biji Kelor (Moringa oleifera) untuk Pertumbuhan dan Kelulushidupan Benih Ikan Bandeng (Chanos chanos) Sil Paulus Sare; Agnette Tjendanawangi; Nicodemus Dahoklory
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 2 (2025): April 2026
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i2.7543

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh substitusi tepung biji kelor (Moringa oleifera) dalam pakan komersial terhadap pertumbuhan dan kelulushidupan benih ikan bandeng (Chanos chanos). Penelitian dilakukan selama dua bulan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan persentase substitusi tepung biji kelor, yaitu 25%, 20%, 15%, dan 10%, masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, tingkat kelangsungan hidup (SR), dan laju pertumbuhan spesifik (SGR). Hasil penelitian menunjukkan tingkat kelangsungan hidup mencapai 100% pada semua perlakuan. Pertumbuhan berat mutlak tertinggi diperoleh pada perlakuan 25% sebesar 15,23 g, diikuti perlakuan 20% sebesar 14,23 g, perlakuan 15% sebesar 13,71 g, dan perlakuan 10% sebesar 13,60 g. SGR tertinggi juga terdapat pada perlakuan 25% sebesar 1,36% per hari. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa substitusi pakan komersial dengan tepung biji kelor hingga 25% mampu meningkatkan pertumbuhan benih ikan bandeng tanpa menurunkan tingkat kelangsungan hidup.Kata kunci: Moringa oleifera, Chanos chanos, tepung biji kelor, pakan komersial, pertumbuhan, kelulushidupan
Pemanfaatan Tepung Daun Lamtoro Gung (Leucaena leucocephala) Fermentasi dan Tepung Bekicot (Achatina fulica) sebagai Bahan Baku Pakan Alternatif untuk Meningkatkan Pertumbuhan Ikan Nila (Oreochromis niloticus) Betrisia Geliana Angul; Ridwan Tobuku; Agnette Tjendanawangi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7448

Abstract

Kenaikan harga pakan komersial menjadi kendala utama dalam kegiatan budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menekan biaya produksi adalah pemanfaatan bahan baku lokal sebagai sumber pakan alternatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kombinasi tepung daun lamtoro (Leucaena leucocephala) terfermentasi dan tepung bekicot (Achatina fulica) dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu: A (40% tepung lamtoro terfermentasi + 10% tepung bekicot), B (30% tepung lamtoro terfermentasi + 20% tepung bekicot), C (20% tepung lamtoro terfermentasi + 30% tepung bekicot), dan D (100% pakan pelet komersial). Ikan nila berukuran 4–6 cm dipelihara selama 60 hari dengan feeding rate 3% bobot biomassa per hari. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik (SGR), rasio konversi pakan (FCR), dan tingkat kelangsungan hidup (SR). Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot dalam pakan berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap pertumbuhan berat mutlak, laju pertumbuhan spesifik, dan kelangsungan hidup ikan nila. Perlakuan C memberikan hasil terbaik dengan pertumbuhan berat mutlak sebesar 8,98 g, SGR 2,31%/hari, dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 80%. Dengan demikian, kombinasi tepung daun lamtoro terfermentasi dan tepung bekicot berpotensi digunakan sebagai pakan alternatif untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila.Kata kunci: daun lamtoro terfermentasi, tepung bekicot, pakan alternatif, pertumbuhan, ikan nila
Respons Pertumbuhan, Moulting, dan Kelulushidupan Kepiting Bakau (Scylla serrata) terhadap Dosis Vitamin C Berbeda pada Pakan Berbasis Pila ampullacea Veronika Yulistiani; Yulianus Linggi; Agnette Tjendanawangi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons pertumbuhan, frekuensi moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau (Scylla serrata) yang diberi pakan berbasis keong sawah (Pila ampullacea) dengan dosis vitamin C berbeda. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dosis vitamin C, yaitu 12 mg/100 g pakan (A), 24 mg/100 g pakan (B), dan 36 mg/100 g pakan (C), masing-masing dengan lima ulangan. Parameter yang diamati meliputi pertumbuhan berat mutlak, survival rate (SR), frekuensi moulting, serta kualitas air. Hasil analisis sidik ragam menunjukkan terdapat pengaruh nyata (P<0,05) dosis vitamin C terhadap pertumbuhan, moulting, dan kelulushidupan kepiting bakau. Perlakuan C menghasilkan pertumbuhan rata-rata tertinggi sebesar 48,2 g, frekuensi moulting terbanyak (3 ekor), serta tingkat kelulushidupan 100%. Peningkatan performa biologis pada perlakuan C menunjukkan bahwa suplementasi vitamin C mampu meningkatkan efisiensi metabolisme, mendukung pembentukan eksoskeleton, serta meningkatkan respons imun kepiting bakau. Parameter kualitas air selama pemeliharaan masih berada dalam kisaran optimal untuk budidaya kepiting bakau. Dengan demikian, suplementasi vitamin C sebesar 36 mg/100 g pakan berbasis Pila ampullacea direkomendasikan sebagai dosis optimal dalam meningkatkan performa budidaya kepiting bakau.Kata kunci: vitamin C, Scylla serrata, moulting, pertumbuhan, kelulushidupan
Potensi Dan Prospek Ekonomi Udang Berdasarkan Hasil Tangkap Di Perairan Pariti, Kabupaten Sulamu Reynald Meyners; Yudiana Jasmanindar; Agnette Tjendanawangi
JURNAL VOKASI ILMU-ILMU PERIKANAN (JVIP) Vol 6, No 1 (2025): November 2025
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35726/jvip.v6i1.7429

Abstract

Perairan Pariti merupakan salah satu perairan yang dijadikan sebagai tempat untuk menangkap udang oleh para nelayan dan masyarakat sekitar sebagai mata pencaharian. Keberadaan udang di wilayah Pariti di dukung oleh lingkungan perairan. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, ditemukan dua (2) spesies udang dengan famili yang sama yaitu Penaeidae, yakni udang jerbung (Penaeus merguiensis) dan udang windu (Penaeus monodon). Desa Pariti, Kabupaten Sulamu Kupang dikatakan bahwa kebanyakan penduduk disana memiliki mata pencaharian yaitu sebagai nelayan. Nelayan di desa Pariti menggunakan alat tangkap berupa pukat atau sorong. Hasil tangkap yang mereka dapatkan biasanya bisa sampai 18 kg bahkan bisa mencapai 20 kg/hari. Berdasarkan Harga jual udang di pasar internasional mencapai harga yang cukup tinggi yaitu berkisar antara Rp.134.355/Kg dengan rata-rata jumlah total ekspor udang yaitu 116 ton/tahun (Luneto, 2022). Berdasarkan hasil survey, pengepul langsung menjualnya dipasar dengan harga untuk udang putih atau udang jerbung yaitu Rp. 50.000 hingga Rp. 80.000/kg dan untuk udang windu atau yang biasa disebut udang loreng oleh masyarakat lokal dijual dengan harga Rp. 90.000/kg. bandingkan dengan (Furqan, 2018) mengemukakan bahwa harga udang putih di pasar berkisar Rp. 42.226/kg, sementara udang windu dihargai sekitar Rp. 75.696/kg. Harga udang putih dengan ukuran 70-30 berkisar antara Rp. 115.000 hingga Rp. 147.000, sedangkan untuk udang windu dengan ukuran 30-10, harga berkisar antara Rp. 185.000 hingga Rp. 225.000. Oleh karena itu, harga udang di pasar tergolong tinggi (Adji, 2023)
Pengaruh Penambahan Sargassum sp. pada Pakan Terhadap Kecerahan Warna Ikan Cupang (Betta sp.) Leony Aplonia Vianney Rubu; Agnette Tjendanawangi; Ridwan Tobuku
Jurnal Aquatik Vol 9 No 1 (2026): Edisi Maret 2026
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jaqu.v9i1.30003

Abstract

This study was conducted to evaluate the effect of incorporating Sargassum sp. flour into feed on the color enhancement, absolute growth, and survival rate of Betta sp.. The experiment lasted for 60 days and employed a Completely Randomized Design (CRD) consisting of four treatments: a control group (without Sargassum sp. supplementation), treatment A (10%), treatment B (20%), and treatment C (30%), with each treatment replicated three times. The observed parameters included color brightness, absolute growth, survival rate, and water quality. The findings revealed that the inclusion of Sargassum sp. flour significantly influenced (P < 0.05) both color brightness and absolute growth of Betta fish. The most effective treatment was recorded at the 20% supplementation level, producing the highest color brightness score of 4.50 ± 0.10, indicating a very high level of pigmentation. In addition, the survival rate across all treatments remained at 100%, demonstrating that the use of Sargassum sp. flour is safe at inclusion levels of up to 30%. Therefore, the incorporation of 20% Sargassum sp. flour in feed can be considered an effective strategy to enhance the color quality of Betta fish without negatively affecting their survival. Keywords: Absolute growth, betta fish (Betta sp.), color brightness, feed formulation, Sargassum sp., survival rate
PENGARUH KOMBINASI CACING DARAH (Chironomus sp.) DAN PAKAN KOMERSIAL TERHADAP PERTUMBUHAN SERTA KELANGSUNGAN HIDUP IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) Andreana Avelina; Priyo Santoso; Agnette Tjendanawangi
Jurnal Aquatik Vol 9 No 1 (2026): Edisi Maret 2026
Publisher : Nusa Cendana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jaqu.v9i1.30066

Abstract

Feed is a crucial factor in fish farming. Without appropriate feed, fish growth slows down, and survival rates can decline. High commercial feed costs often pose a challenge. Consequently, many fish farmers seek highly nutritious alternatives; bloodworms (Chironomus sp.) are a promising option due to their protein content, which supports fish growth. This study examined the effects of combining bloodworms with commercial feed on the growth and survival of Pangasius hypophthalmus (Siamese catfish). The experiment was conducted over 60 days at the Aquaculture Laboratory of Nusa Cendana University, Kupang, using a Completely Randomized Design (CRD). Four treatments were tested—control (100% pellets), Treatment A (85% pellets + 15% bloodworms), Treatment B (70% pellets + 30% bloodworms), and Treatment C (55% pellets + 45% bloodworms)—with three replicates for each. The results clearly indicated that the combination of commercial feed and bloodworms significantly influenced the growth of P. hypophthalmus (p<0.05). Treatment C (45% bloodworms) yielded the best growth performance, achieving an absolute weight gain of 2.73 g and a specific growth rate (SGR) of 1.27% per day. However, regarding survival, Treatment B performed best, achieving a rate of 86.66%. Water quality remained stable throughout the study, with temperatures ranging from 26–30°C and pH levels between 6.2–8.3—ranges ideal for P. hypophthalmus. The study concludes that incorporating bloodworms at a proportion of up to 45% alongside commercial feed can accelerate the growth of P. hypophthalmus without compromising survival rates. Keywords: Bloodworms, Catfish, Survival, Commercial Feed, Growth
Pengaruh Penggunaan Pakan Berbasis Makroalga Laut Ulva intenstinalis terhadap Pertumbuhan dan Kelulushidupan Ikan Bandeng (Chanos chanos) Aprilia Ni Anung; Nicodemus Dahoklory; Agnette Tjendanawangi
Student Research Journal Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus: Student Research Journal
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Yappi Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/srj-yappi.v4i4.2943

Abstract

Milkfish (Chanos chanos) is an economically important aquaculture commodity, while Ulva intestinalis is a nutrient-rich macroalga with potential as an alternative feed ingredient. This study examined the effects of U. intestinalis-based feed on milkfish growth, survival, and feed efficiency. A 60-day experiment was conducted in Mbay, Nagekeo Regency, East Nusa Tenggara, using a completely randomized design with three treatments and three replicates. The feeds contained 25% (A), 30% (B), or 45% (C) U. intestinalis. Absolute weight gain, specific growth rate, survival rate, feed conversion ratio, temperature, and pH were evaluated. Dietary U. intestinalis significantly affected absolute weight gain and feed conversion ratio (P < 0.05). Treatment A produced the highest weight gain of 14.37 g, followed by B at 14.01 g and C at 13.92 g. Survival was 100% in all treatments. The best feed conversion ratio occurred in C at 1.39, followed by B at 1.42 and A at 1.46. Water temperature ranged from 27–29°C and pH from 7–9. Thus, 25% U. intestinalis produced the best growth response.