Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pemberdayaan Orang Hidup dengan HIV melalui Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Kerajinan Tangan Kusman Ibrahim; Ermiati Ermiati; Urip Rahayu; Laili Rahayuwati; Maria Komariah
Media Karya Kesehatan Vol 3, No 2 (2020): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mkk.v3i2.28619

Abstract

Orang hidup dengan HIV (ODHIV) tidak jarang menghadapi stigma dan diskriminasi dari keluarga, masyarakat, bahkan tenaga kesehatan yang menyebabkan mereka terkendala mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan, pekerjaan, dan fasilitas sosial kemasyarakatan lainnya. Hal ini menyebabkan ODHIV tidak berdaya dan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya jadi sulit untuk diatasi. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah untuk memberdayakan ODHIV melalui peningkatan pengetahuan dan keterampilan hidup agar bisa menjalani hidup sehat, produktif, dan berkualitas.  Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan partisipatif dan pendampingan. Khalayak sasaran yaitu para ODHIV, pendamping, dan aktivis LSM di bawah pembinaan KPA Sumedang dan Puskesmas Situ sejumlah 17 orang. Hasil terdapat peningkatan persentase kategori pengetahuan tinggi (11,7% ke 88,3%) dan rerata pengetahuan (73,53 ke 82,94) secara bermakna (p < 0.05).  Peserta menunjukkan antusiasme dan mampu mendemonstrasikan pembuatan kerajinan tangan tas dari bahan bekas bungkus kipi. Peserta menunjukkan antusiasme dan mampu mendemonstrasikan pembuatan kerajinan tangan tas dari bahan bekas bungkus kipi. Kegiatan ini perlu ditindaklanjuti dengan mengintegrasikan gerakan berbasis masyarakat dan budaya yang sudah ada seperti “rampak polah”, dan dimasukan ke salah satu program pemberdayaan masyarakat dibawah koordinasi Komisi Penanggulangan AIDS dan Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang bekerjasama dengan Perguruan Tinggi setempat. Kata kunci : Keterampilan, ODHIV, pemberdayaan, pengetahuan.
Pemberian Asuhan Keperawatan secara Holistik pada Pasien Post Operasi Kanker Payudara Mawar Eka Putri; Urip Rahayu
Media Karya Kesehatan Vol 2, No 2 (2019): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (30.697 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v2i2.22761

Abstract

Kanker payudara merupakan salah satu penyakit yang ditakuti menyerang pada perempuan dan dapat mengakibatkan kematian yang paling besar bagi perempuan di usia 18 sampai 54 tahun, pada perempuan yang berusia 45 tahun memiliki resiko terjangkit kanker payudara 25 % lebih tinggi dibandingkan perempuan yang lebih tua. Kanker payudara dapat menyebabkan pengaruh pada beberapa dimensi yang mengalami oleh pasien yaitu dimensi fisik seperti gangguan tidur, nyeri, merasa tidak berdaya, kelelahan dan mobilitas yang terganggu. Pengobatan kanker payudara memerlukan beberapa terapi dalam pelaksanaannya, seperti lumpektomi, masektomi, radiasi, terapi hormon, dan kemoterapi. Pasien kanker payudara memerlukan asuhan keperawatan yang holitik (menyeluruh), sehingga kebutuhan pasien dapat terpenuhi. Tujuan pemberian asuhan keperawatan ini agar memahami etilogi, manisfestasi klinik, faktor resiko pasien kanker payudara, lebih memahami asuhan keperawatan pasien kanker payudara, dan mengidentifikasi evidence based terkait kondisi pasien kanker payudara. Metode pelaksanaan pemberian asuhan keperawatan dengan dilakukannya tahapan pertama proses pemeberian asuhan keperawatan yaitu pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, intervensi dan evaluasi pasien kanker payudara di Rumah Sakit Garut. Didapatkan 3 masalah keperawatan yang muncul yaitu nyeri akut, hambatan mobilitas fisik, dan kurangnya pengetahuan pasien terkait masalah kesehatan yang dialami pada pasien saat ini. Setelah dilakukan pemberian asuhan keperawatan permasalahan pasien teratasi. Tindakan asuhan keperawatan berdasarkan evidence based yaitu dengan pemberian terapi yoga dan aromaterapi mawar sebagai intervensi nyeri, dan kelelahan pada kanker juga aman, efektif dan bermanfaat dalam mengurangi intensitas nyeri, kelelahan, berkurang rasa sakitnya, mual dan kecemasan dan melaporkan peningkatan kualitas hidup. Kata kunci: Asuhan keperawatan, holistik, kanker payudara, post operasi
ingkat Kecemasan Pasien Post Operasi yang Mengalami Fraktur Ekstremitas Seviya Gani Maisyaroh; Urip Rahayu; Siti Yuyun Rahayu
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 3 No. 2 (2015): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (732.866 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v3i2.103

Abstract

Kecemasan merupakan salah satu masalah psikologis yang dialami oleh pasien fraktur ekstremitas setelah dilakukannya pembedahan. Kecemasan yang tidak teratasi akan berdampak pada lamanya proses penyembuhan, akan tetapi data kecemasan pasien post operasi masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kecemasan pasien post operasi fraktur ekstremitas berdasarkan karakteristik pasien. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan jumlah sampel 46 orang yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner STAI (State-Trait Anxiety Inventory). Tingkat kecemasan dikategorikan menjadi ringan, sedang, dan berat. didapatkan bahwa state anxiety paling banyak berada pada tingkat sedang 54,3% dan trait anxiety paling banyak berada pada tingkat ringan 60,9%. Terdapat 46,4% responden yang memiliki state anxiety sedang berasal dari trait anxiety ringan. Berdasarkan karakteristik baik pada state anxiety ataupun trait anxiety, kecemasan berat dialami oleh pasien usia dewasa awal, perempuan, berpendidikan terakhir SMP dan SMA, bekerja sebagai pegawai swasta, belum pernah menjalani operasi sebelumnya, lokasi fraktur pada bagian ekstremitas bawah, dan merasakan nyeri sedang. Kondisi post operasi fraktur ekstremitas menjadi faktor yang dapat memengaruhi kecemasan. Terlihat dari pasien yang memiliki state anxiety yang sedang, memiliki trait anxiety yang ringan. Maka disarankan bagi perawat untuk melakukan pengkajian dan penanganan kecemasan terhadap state anxiety dan trait anxiety.Kata kunci: Fraktur ekstremitas, post operasi, state anxiety, trait anxiety.Anxiety Levels of Patients with Extremity Fractures after SurgeryAbstractAnxiety is one of the psychological problems experienced by patients with extremity fractures after undergoing surgery. Anxiety that is not managed well will have an impact on the recovery process. However, anxiety in patients with extremity fractures is not well understood. The aim of this study was to determine the anxiety level of patients with extremity fractures after surgery based on the patients’ characteristics. This study used descriptive quantitative method. Fourty six patients were recruited in this study by consecutive sampling technique. The data was collected by STAI (State-Trait Anxiety Inventory) quetionnaires. Anxiety levels were categorized into mild, moderate, and severe. The results showed that 54.3% of patients experienced state anxiety at a moderate level, and 60.9% had trait anxiety at a mild level. There were 46.4% of the patients whose moderate state anxiety originated from mild trait anxiety. Based on the characteristics of both state and trait anxiety, severe anxiety was experienced by young adults, women, patients with secondary school-level educational background, private employees, patients who have never had surgery before, patients with lower extremity fractures and patients in moderate pain. The postoperative state of extremity fractures is a factor that affects anxiety. Patients who had moderate state anxiety were found to also have mild trait anxiety.  Thus, assessment and intervention of anxiety should be conducted on both state and trait anxiety.  Key words: Extremity fracture, post-operative, state anxiety, trait anxiety.
The Factors that are Related to Self-Care Agency in Patients with Hypertension Dendy Kharisna; Helwiyah Ropi; Urip Rahayu
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 1 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1503.279 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i1.301

Abstract

Uncontrolled hypertension leads to complex problems experienced by patient as the complication of the hypertension. The patient’s ability to do self-care (self-care agency) is essential and recommended to control hypertension. Age, sex, education, occupation, marital status, decision making, duration of hypertension, lifestyle, and insurance availability are contributed to the self-care agency. Nurses and patients should be able to know and understand these self-care agency related factors. The aim of this study was to identify self-care agency relating factors of hypertension patients in Pekanbaru. This study conducted using a quantitative approach with cross sectional design and involving 100 hypertension patients who recruited using purposive sampling techniques. Self-care agency was measure using exercise of self-care agency (ESCA) questionnare. Data were analyzed using Spearman test and Chi Square test to determine the relation of each factors on self-care agency and multivariate logistic regression test to determine the most related factors on self-care agency. The result showed that there were a significant different of age (p=0.048), education (p=0.002), gender (p= 0.025), health insurance (p=0.027), and life style (p=0.003) with self-care agency. Meanwhile, there were no signifcant different of occupation (p=1.000), decision making (p=0.800), marital status (p=1.000), and duration of hypertension (p=0.567) with self-care agency. Multivariate analysis revealed that the most influence factor for self-care agency is life style. This study suggest the nurses in improving self-care agency of hypertension patients must concern about patient lifestyle and help patient to modify their lifestyle.
Patients’ Needs on Nutritional Counseling and Risk Factor Management Among Myocardial Infarction Patients in Cardiac Rehabilitation Yusshy Kurnia Herliani; Urip Rahayu; Chandra Isabella Hostanida Purba; Hasniatisari Harun
Journal of Nursing Care Vol 2, No 2 (2019): Journal of Nursing Care
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (897.872 KB) | DOI: 10.24198/jnc.v2i2.22082

Abstract

The needs of nursing care for Myocardial Infarction (MI) patients who performing Cardiac Rehabilitation (CR) Program have been investigated previously. Despite, nutritional counseling and risk factors management were reported as the most needs of MI patients who performed CR Program, information related to the MI patients’ needs on nutritional counseling and risk factor management are very limited. Moreover, the relationship between patients’ needs on nutritional counseling and risk factor management are not clear yet. To investigate patients’ needs on nutritional counseling and risk factor management among MI patients and its relationships those factors. This was quantitative approach with descriptive correlational and convenience sampling was used for this study. The participants included 38 MI patients admitted to the Cardiac Rehabilitation Unit. Data collection employed from questionnaires that were filled in by the respondents using a retrospective technique at the end of cardiac rehabilitation program.  Data were analyzed using descriptive and correlational statistics. The study signified that MI patients required cardiac rehabilitation towards risk factors management and nutritional counseling from nurses (92.1%).The finding also indicated that there is a statistically positive relationship between nutritional counseling needs and risk factor management (r = 0.503, p <0.01). Patients’ needs on nutritional counseling and risk factor management among MI patients are correlated positively. Therefore, the information regarding nutrition and risk factor management for MI patients should be provided simultaneously to complement each other.
Communication Therapy in Stroke Patients with Aphasia: A Narrative Review Sally Syamima; Urip Rahayu; Nur Oktavia Hidayati
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (818.257 KB) | DOI: 10.33755/jkk.v8i2.282

Abstract

Aims: Stroke is the number one cause of death in Indonesia. The stroke had some effects. One of the common complications is aphasia. Aphasia is a disorder of speaking, understanding what others said, and even the ability to read and write too. This can lead to communication problems in a stroke patient. Communication therapy is one of the most effective ways to treat aphasia. Objective: The aim of this article is to find out the types of communication therapy for stroke patients who suffered with aphasia. Methods: We conducted a review and collected the articles by searching several databases such as PubMed, Science Direct, and CINAHL. We also used search engines such as Google Scholar. After the articles are obtained, the articles will be sorted by keywords. The keywords used were stroke patient OR post-stroke AND communication therapy OR language therapy OR speech therapy AND aphasia OR aphasic. Then, the articles are sorted by inclusion and exclusion criteria. After obtaining appropriate articles, the articles were analyzed by using thematic analysis. Results: The search resulted in 708 articles. After several selection steps, 23 articles were analyzed, and seven types of communication interventions were found that can be applied to stroke patients who suffered aphasia.  Conclusion: The results of a review of all articles show that there are various types of communication therapy that can be given to stroke patients who experience aphasia. The therapy is grouped into 7 types of therapy, which include Constraint Induced Aphasia Therapy, Electronic-based therapy, Melodic Intonation Therapy, Intensive Therapy, Augmentative and Alternative Communication, Cognitive Therapy, and AIUEO. Suggestion: Furthermore, researchers can conduct a systematic review related to which communication therapy is the most effective for treating aphasia, especially in stroke patients.  
THE PROCESS OF WOUND HEALING IN POST SECTIO CAESAREA PATIENTS USING NORMAL SALINE (0.9%) AND POVIDONE-IODINE (10%) IRRIGATIONS: A COMPARATIVE STUDY Dedi Kurnia; Restuning Widiasih; Urip Rahayu
Journal of Maternity Care and Reproductive Health Vol 5, No 2 (2022): Journal of Maternity Care and Reproductive Health
Publisher : Ikatan Perawat Maternitas Indonesia Provinsi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36780/jmcrh.v5i2.254

Abstract

Surgical Site Infection (SSI) is a complication after surgery, and one of the causes is the use of intra-operative irrigation fluids. The most common irrigation fluid was 0.9% Normal Saline and 10% Povidone-Iodine in several hospitals in Indonesia. However, the difference in composition has not been observed for its effect on wound healing. This study aimed to determine the difference in using 0.9% Normal Saline and 10% Povidone-Iodine for irrigation in the wound healing process for post-cesarean patients. The research design used is a descriptive comparative study with ex post facto approaches. Due to the COVID-19 pandemic, researchers changed the data collection method from direct observations to analyzing secondary data post-cesarean surgery data in 2019. The study was conducted in a referral hospital in West Java Province, Indonesia. The sampling used non-probability sampling with a purposive sampling technique. The sample was 440 patient medical records. These records consisted of 0.9% Normal Saline irrigation fluid, 140 respondents, and 10% Povidone-Iodine irrigation fluid, 300 respondents. The chi-square analysis showed significant differences in the two types of intra-operative wound irrigation (0.9% Normal Saline and 10% Povidone-Iodine) with a wound healing process (P-value = 0.021). The distribution frequency showed that the infection of 0.9% Normal Saline fluid was 5% of the 133 respondents, and 10% Povidone-Iodine was 12% out of 300 respondents. The study results showed that 0.9% Normal Saline and 10% Povidone-iodine could be used for intra-operative wound irrigation with different characteristics and compositions that impact the postoperative wound healing process. There is a need for further research to do a direct observation to test the effectiveness of two types of irrigation fluids from intra-operative to postoperative and assess other influencing factors.  
PERTOLONGAN CEPAT KE RUMAH SAKIT < 6 JAM PADA CONSTRAINT INDUCED MOVEMENT THERAPY MENINGKATKAN KEKUATAN OTOT Frana Andrianur; Cecep Eli Kosasih; Urip Rahayu
MNJ (Mahakam Nursing Journal) Vol 2 No 6 (2019): Nov 2019
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kalimantan Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.534 KB) | DOI: 10.35963/mnj.v2i6.155

Abstract

Admission time ke rumah sakit yang lambat saat serangan menyebabkan hemiparesis mengganggu aktivitas sehari-hari dan dapat menyebabkan gangguan kekuatan otot. Upaya pertolongan secepatnya ke rumah sakit saat serangan dilakukan untuk merangsang otak untuk membentuk neuron baru dan minimalisir kerusakan neuron dengan constraint induced movement therapy (CIMT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertolongan cepat (admission time) < 6 jam ke rumah sakit pada CIMT dengan kombinasi peralatan sehari-hari terhadap kekuatan otot pada pasien hemiparesis pasca stroke iskemik. Desain penelitian ini menggunakan metode quasi exspriment dengan rancangan pretest postest. Responden diambil secara consecutive sampling sebanyak 11 responden di ruang rawat inap RSUD Kota Cimahi. Data dikumpulkan dengan lembar instrumen dan Manual Muscle Test (MMT). Analisis data menggunakan Wilcoxon Signed Rank Test Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan skor kekuatan otot sebelum dan sesudah (p = 0,004). Instrumen yang digunakan untuk mengukur perbedaan dalam studi tentang baku, valid dan realible Admission time < 6 Jam ke rumah sakit terbukti meningkatkan kekuatan otot setelah dilatih CIMT dikombinasi peralatan sehari-hari. Latihan sering, intensif sesuai target kegiatan dapat diterapkan di intervensi keperawatan di rumah sakit pada pasien hemiparesis pasca stroke iskemik.
PENGARUH EYE MASK DAN EARPLUGS TERHADAP KUALITAS DAN KUANTITAS TIDUR PASIEN PRAOPERASI DI RUANG RAWAT INAP BEDAH RSUD DR. SOEKARDJO KOTA TASIKMALAYA Asep Robby; M De Is Rizal Chaidir; Urip Rahayu
Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada: Jurnal Ilmu-ilmu Keperawatan, Analis Kesehatan dan Farmasi Vol 16, No 1 (2016): Agustus 2016
Publisher : LPPM Universitas Bakti Tunas Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36465/jkbth.v16i1.162

Abstract

Pasien yang akan menjalani tindakan operasi perlu mendapatkan kebugaran sebelum menjalani operasi. Pemenuhan kebutuhan tidur dapat mempengaruhi kondisi fisik dan psikologis sebelum menjalani operasi. Salah satu faktor yang dapat menjadi sumber gangguan tidur pasien sedang menjalani perawatan yaitu faktor lingkungan terutama suara (noise) dan cehaya ruangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemakaian eye mask dan earplugs terhadap kualitas dan kuantitas tidur pasien praoperasi di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD dr Soekardjo Kota Tasikmalaya. Penelitian ini merupakan penelitian analitik komparatif dengan pendekatan pre-post test. Instrumen yang digunakan yaitu Actigraphy (Mi Band®). Pengambilan sampel menggunakan metode concecutive sampling sebanyak 45 orang yang terbagi kedalam kelompok eye mask, earplugs, dan kombinasi eye mask-earplugs dimana setiap kelompok terdiri dari 15 orang. Penelitian ini menemukan bahwa kualitas tidur kelompok eye mask meningkat 95±12 menit dari sebelumnya 74±13 menit (p value 0.000), kelompok ear plugs meningkat 100±11 menit dari sebelumnya 86±13 menit (p value 0,001), dan kelompok kombinasi eye mask-earplugs meningkat 92±10 menit dari sebelumnya 85±12 menit (p value 0,038). Kuantitas tidur kelompok eye mask meningkat 387±26 menit dari sebelumnya 355±29 (p value 0.001), kelompok earplugs meningkat 389±35 menit dari sebelumnya 361±52 menit (p value 0,010), sedangkan untuk kelompok kombinasi eye mask-earplugs meningkat 368±35 menit dari sebelumnya 360±39 menit (p value 0,34). Berdasarkan hasil tersebut disimpulkan bahwa terdapat pengaruh eye mask, earplugs, dan kombinasi eye mask-earplugs terhadap kualitas tidur pasien praoperasi, terdapat pula pengaruh eye mask, earplugs terhadap kuantitas tidur pasien praoperasi, namun tidak terdapat pengaruh kombinasi eye mask-earplugs terhadap kuantitas tidur pasien praoperasi. Berdasarkan hasil penelitian ini maka disarankan menggunakan eye mask dan earplugs sebagai untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas tidur pasien praoperasi di Ruang Rawat Inap Bedah RSUD dr.Soekardjo Kota Tasikmalaya baik secara terpisah atau kombinasi sesuai keinginan pasien.
STUDI LITERATUR : VALIDITAS PREDIKSI SKALA BRADEN PADA KEJADIAN DEKUBITUS DI INDONESIA David Firmansyah; Urip Rahayu; Kurniawan Yudianto
Medical-Surgical Journal of Nursing Research Vol. 1 No. 1 (2022): Medical-Surgical Journal of Nursing Research
Publisher : Medical-Surgical Journal of Nursing Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dekubitus merupakan masalah kesehatan yang sangat serius terutama bagi pasien yang harus dirawat lama atau memiliki keterbatasan aktifitas. Salah satu pencegahan dekubitus adalah dengan melakukan deteksi dini risiko dekubitus. Terdapat beberapa instrumen yang dapat digunakan seperti skala Braden. Validitas prediksi suatu alat pengkajian dapat dipengaruhi oleh karakteristik suatu populasi, oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui validitas prediksi skala Braden pada kejadian dekubitus di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah descriptive review dengan melakukan pencarian di beberapa mesin pencari seperti Google Scholar, Pubmed, dan Ebscohost. Dari hasil pencarian ditemukan sebanyak 421 artikel yang kemudian dilakukan pemeriksaan berdasarkan judul, abstrak, dan tahun terbit 15 tahun kebelakang sehingga didapat 6 artikel. Kemudian dilakukan penilaian dengan critical appraisal cheklis dari JBI sehingga didapat 5 artikel yang relevan. Hasil studi literatur menunjukan bahwa skala Braden terbukti valid digunakan dalam mengkaji risiko dini dekubitus pada populasi pasien di Indonesia, meski 2 artikel diantaranya menyebutkan skala lain lebih baik untuk digunakan pada ruang perawatan tertentu. Kesimpulan yang didapatkan, secara keseluruhan dari semua artikel didapatkan skala Braden terbukti dapat digunakan sebagai instrumen penilaian dini risiko dekubitus dan skala Braden lebih unggul dari skala lain terutama pada aspek sensifitas dan efisiensi waktu penggunaan, karena subskala Braden yang sedikit dan lebih terfokus.