Hendri Restuadhi
Pusat Penelitian Gender, Anak Dan Pelayanan Masyarakat Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Jendral Soedirman

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Diskriminasi Perempuan Penyandang Difabel Dalam Drama Korea Extraordinary Attorney Woo (2022) Fadhlil Adhim, Muhammad; Dadan, Sulyana; Restuadhi, Hendri; Wuryaningsih, Tri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui representasi diskriminasi pada perempuan penyandang difabel (autis) melalui beberapa potongan adegan dalam film drama Korea Extraordinary Attorney Woo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan analisis semiotika dari Roland Barthes. Kemudian teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi dan dokumentasi. Menggunakan teori Stigma milik Erving Goffman. Dari hasil penelitian, film ini merepresentasikan diskriminasi pada perempuan penyandang difabel dengan spektrum autis yang dimiliki oleh Pengacara Woo Young Woo. Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu makna denotasi yang muncul dalam 3 adegan film yang merepresentasikan diskriminasi pada perempuan penyandang difabel (autis) yaitu terdapat diskriminasi yang dialami oleh Woo Young Woo dalam pekerjaannya sebagai pengacara dan kehidupan bermasyarakatnya. Lalu makna konotasi dalam film ini adalah bagaimana film drama Korea ini menyampaikan pesan bahwa menjadi perempuan penyandang difabel dengan spektrum autis tidaklah mudah. Terdapat mitos yang muncul dalam film ini seperti stigma negatif perempuan difabel (autis) yang serba kekurangan, berpikiran lemah dan tak berdaya serta beban bagi pasangannya dan aib bagi orang lain. Selain itu, hasil dari analisa teori Stigma Erving Goofman memberikan kesimpulan bahwa stigma yang sudah diberikan kepada perempuan penyandang difabel (autis) termasuk kedalam stigma blemishes of individual character.
Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas dendam dalam film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" [2017]) Nur Azizah, Adinda Farah; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12785

Abstract

Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas kejahatan, balas dendam kekerasan bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif.
PEREMPUAN URBAN DAN SOCIAL SMOKERS: ROKOK SEBAGAI ALAT BERSOSIALISASI DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN PURWOKERTO Firstyandini, Divka; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Wuryaningsih, Tri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 10 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i10.2024.4317-4328

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perilaku merokok seorang social smokers atau perokok sosial perempuan di Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku merokok para social smokers dan juga melihat bagaimana mereka memaknai rokok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak enam orang social smokers perempuan yang didapatkan dengan teknik snowball. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwasannya perempuan perokok merupakan suatu fenomena yang sudah wajar sehingga mereka berani untuk merokok di ruang publik. Sebagian dari mereka merupakan seorang social smokers yang perilaku merokoknya didasari oleh motivasi sosial. Seorang social smokers memiliki perbedaan perilaku dengan perokok reguler. Jumlah rokok yang mereka konsumsi cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan perokok reguler. Mereka juga hanya merokok ketika bersama dengan perokok lainnya. Social smokers kerap ditemukan di ruang-ruang publik seperti coffee shop, rumah makan, dan kampus. Rokok yang merupakan segulung tembakau nyatanya memiliki makna yang berarti bagi seorang social smokers. Sebuah interaksi dapat tercipta karena adanya sebuah rokok yang dimaknai sebagai simbol kesamaan perilaku. Oleh karena itu, seorang social smokers menggunakan rokok untuk memperlancar sebuah interaksi yang ingin ia bangun dengan perokok lainnya.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Ramadhan, Fajrianan Lutfi; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.