Hendri Restuadhi
Pusat Penelitian Gender, Anak Dan Pelayanan Masyarakat Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Jendral Soedirman

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas dendam dalam film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" [2017]) Nur Azizah, Adinda Farah; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12785

Abstract

Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas kejahatan, balas dendam kekerasan bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif.
PEREMPUAN URBAN DAN SOCIAL SMOKERS: ROKOK SEBAGAI ALAT BERSOSIALISASI DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN PURWOKERTO Firstyandini, Divka; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Wuryaningsih, Tri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 10 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v11i10.2024.4317-4328

Abstract

Penelitian ini membahas tentang perilaku merokok seorang social smokers atau perokok sosial perempuan di Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku merokok para social smokers dan juga melihat bagaimana mereka memaknai rokok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak enam orang social smokers perempuan yang didapatkan dengan teknik snowball. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwasannya perempuan perokok merupakan suatu fenomena yang sudah wajar sehingga mereka berani untuk merokok di ruang publik. Sebagian dari mereka merupakan seorang social smokers yang perilaku merokoknya didasari oleh motivasi sosial. Seorang social smokers memiliki perbedaan perilaku dengan perokok reguler. Jumlah rokok yang mereka konsumsi cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan perokok reguler. Mereka juga hanya merokok ketika bersama dengan perokok lainnya. Social smokers kerap ditemukan di ruang-ruang publik seperti coffee shop, rumah makan, dan kampus. Rokok yang merupakan segulung tembakau nyatanya memiliki makna yang berarti bagi seorang social smokers. Sebuah interaksi dapat tercipta karena adanya sebuah rokok yang dimaknai sebagai simbol kesamaan perilaku. Oleh karena itu, seorang social smokers menggunakan rokok untuk memperlancar sebuah interaksi yang ingin ia bangun dengan perokok lainnya.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Ramadhan, Fajrianan Lutfi; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
Fenomena Crossdressing Cosplay Di Purwokerto: Pemaknaan Cosplayer Tentang Penampilan Diri Ibrahim, Steven Quincy; Restuadhi, Hendri; Mutahir, Arizal
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i2.2026.887-895

Abstract

Di Indonesia, praktik crossdressing cosplay masih dianggap tabu oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan crossdressing cosplay berlawanan dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Namun demikian, kehadiran orang yang melakukan crossdressing cosplay semakin banyak ditemui. Tidak hanya di kota besar, tetapi juga dapat ditemui di kota kabupaten seperti di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini berupaya mengkaji fenomena crossdresser di Purwokerto. Fenomena tersebut merupakan sebuah unjuk penampilan identitas. Cosplay merupakan media eksplorasi identitas diri dan ekspresi seni tanpa batasan gender, ras, agama, dan latar budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa fenomena crossdress muncul karena adanya motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal dan eksternal ini menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan crossdressing cosplay dalam proses self-indication. Penelitian ini berkontribusi dalam membuka wawasan tentang perkembangan subkultur budaya populer.
SITUS LEMAH WANGI: REPRESENTASI RELIGIUSITAS DAN WISATA RELIGI DI DUSUN KALIPAGU, DESA KETENGER, KECAMATAN BATURRADEN, KABUPATEN BANYUMAS Dewi, Ratna; Restuadhi, Hendri; Suyanto, Edy; Wardhianna, Sotyania
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i2.65577

Abstract

Historical sites often be forgotten and does not attract certain attention. As the truth, knowing historical sites will obtain so much knowledges and horizon which relates to certain way of life of the society. Nevertheless, historical sites also can be potential for tourism and can be developed as tourism destination,such as historical tourism, cultural tourism, and religious tourism. The purpose of the research is to identified the efforts of local people whom conduct preservation to open and develop the new religious tourism in Dusun Kalipagu Banyumas. The structural funcionalism perspective s used as an analytical tools to see the reality being studied as well as to discuss the research results. This study conducted with qualitative research method and uses etnographic approach. The research is conducted at Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. In such location, there are several historical sites that can be develop as religious tourism destination. The subject of the research is the local people of Kalipagu and the management of LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan – The people institution of woods village). The research subjects determined by purposive sampling. Data collected by indepth interview, observation, and documentation. Data analized with interactive analysis. The research result shows that the preservation effort to the historical sites conducted by digging up the sites, re-arrange and cleaning the sites, and make use of historical sites for cultural and religious activities. Re-arranging the artefact of the historical sites conducted in accordance with the nature and religious rituals. Nevertheless in the area surrounding the historical sites people develop public facilities as pathway, small bridges, and restroom. Those efforts are conducted to develop historical sites to be a religious tourism.       Keywords: Historical Sites, Preservation, Religious Tourism AbstrakSitus sebagai produk peninggalan sejarah seringkali kurang mendapat perhatian dan dipandang sebelah mata. Dengan mengenal situs, sesungguhnya kita akan mendapat banyak pengetahuan dan wawasan berkait dengan peradaban masyarakat. Selain itu situs juga merupakan salah satu potensi wisata yang  jika dikembangkan akan mampu menjadi destinasi yang menarik banyak wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat lokal terhadap beberapa situs sebagai langkah untuk membuka destinasi baru dan pengembangan potensi wisata religi di Dusun Kalipagu  Banyumas. Perspektif fungsionalisme struktural dipergunakan dalam penelitian ini sebagai pisau analisis untuk melihat realitas yang diteliti sekaligus untuk membahas hasil penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Penelitian ini dilaksanakan  di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Di lokasi tersebut terdapat beberapa situs bersejarah yang potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Sasaran penelitian adalah masyarakat lokal dan pengelola LMDH. Teknik penentuan sasaran menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian situs yang dilakukan oleh masyarakat antara lain dengan melakukan penggalian  situs, melakukan penataan ulang dan menjaga kebersihan situs, serta memanfaatkan situs untuk  melakukan kegiatan budaya dan keagamaan secara berkala. Penataan Kembali situs dilakukan sesuai karakteristik alam dan melalui ritual-ritual tertentu. Di samping itu, di sekitar situs dibangun pula fasilitas seperti jalan, jembatan, dan toilet umum. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengembangan situs sebagai potensi wisata religi. Kata Kunci: Situs, Pelestarian, Wisata Religi