Hendri Restuadhi
Pusat Penelitian Gender, Anak Dan Pelayanan Masyarakat Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), Universitas Jendral Soedirman

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Ramadhan, Fajrianan Lutfi; Mutahir, Arizal; Restuadhi, Hendri; Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
SITUS LEMAH WANGI: REPRESENTASI RELIGIUSITAS DAN WISATA RELIGI DI DUSUN KALIPAGU, DESA KETENGER, KECAMATAN BATURRADEN, KABUPATEN BANYUMAS Dewi, Ratna; Restuadhi, Hendri; Suyanto, Edy; Wardhianna, Sotyania
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 2 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i2.65577

Abstract

Historical sites often be forgotten and does not attract certain attention. As the truth, knowing historical sites will obtain so much knowledges and horizon which relates to certain way of life of the society. Nevertheless, historical sites also can be potential for tourism and can be developed as tourism destination,such as historical tourism, cultural tourism, and religious tourism. The purpose of the research is to identified the efforts of local people whom conduct preservation to open and develop the new religious tourism in Dusun Kalipagu Banyumas. The structural funcionalism perspective s used as an analytical tools to see the reality being studied as well as to discuss the research results. This study conducted with qualitative research method and uses etnographic approach. The research is conducted at Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. In such location, there are several historical sites that can be develop as religious tourism destination. The subject of the research is the local people of Kalipagu and the management of LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan – The people institution of woods village). The research subjects determined by purposive sampling. Data collected by indepth interview, observation, and documentation. Data analized with interactive analysis. The research result shows that the preservation effort to the historical sites conducted by digging up the sites, re-arrange and cleaning the sites, and make use of historical sites for cultural and religious activities. Re-arranging the artefact of the historical sites conducted in accordance with the nature and religious rituals. Nevertheless in the area surrounding the historical sites people develop public facilities as pathway, small bridges, and restroom. Those efforts are conducted to develop historical sites to be a religious tourism.       Keywords: Historical Sites, Preservation, Religious Tourism AbstrakSitus sebagai produk peninggalan sejarah seringkali kurang mendapat perhatian dan dipandang sebelah mata. Dengan mengenal situs, sesungguhnya kita akan mendapat banyak pengetahuan dan wawasan berkait dengan peradaban masyarakat. Selain itu situs juga merupakan salah satu potensi wisata yang  jika dikembangkan akan mampu menjadi destinasi yang menarik banyak wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi upaya pelestarian yang dilakukan oleh masyarakat lokal terhadap beberapa situs sebagai langkah untuk membuka destinasi baru dan pengembangan potensi wisata religi di Dusun Kalipagu  Banyumas. Perspektif fungsionalisme struktural dipergunakan dalam penelitian ini sebagai pisau analisis untuk melihat realitas yang diteliti sekaligus untuk membahas hasil penelitian. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan Etnografi. Penelitian ini dilaksanakan  di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Di lokasi tersebut terdapat beberapa situs bersejarah yang potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi. Sasaran penelitian adalah masyarakat lokal dan pengelola LMDH. Teknik penentuan sasaran menggunakan purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisa secara interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya pelestarian situs yang dilakukan oleh masyarakat antara lain dengan melakukan penggalian  situs, melakukan penataan ulang dan menjaga kebersihan situs, serta memanfaatkan situs untuk  melakukan kegiatan budaya dan keagamaan secara berkala. Penataan Kembali situs dilakukan sesuai karakteristik alam dan melalui ritual-ritual tertentu. Di samping itu, di sekitar situs dibangun pula fasilitas seperti jalan, jembatan, dan toilet umum. Hal ini dilakukan sebagai upaya pengembangan situs sebagai potensi wisata religi. Kata Kunci: Situs, Pelestarian, Wisata Religi
Sulastri: A biographical study of a woman in the struggle to survive poverty and patriarchal culture Hendri Tri Prasetyo; Hendri Restuadhi; Tri Wuryaningsih
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.17775

Abstract

Poverty is a social reality that is difficult to resolve, especially for women. Due to systemic issues and patriarchal social constructions, women are more vulnerable to experiencing poverty. This study explores the connection between poverty and patriarchal norms in deepening the oppression of women, focusing on phenomena such as the double burden, arranged marriages, and early marriages that limit women's well-being. The combination of poverty and patriarchal culture not only exacerbates women's suffering but also profoundly shapes their life experiences. This research adopts a qualitative approach through a biographical study of Sulastri, a woman who lives under the shadow of these issues. Through her biography, key challenges emerge, including: 1) arranged marriages and early marriages that have far-reaching impacts on Sulastri's life; and 2) the double burden of domestic work and economic responsibilities. Despite these conditions, Sulastri demonstrates resilience and determination in overcoming difficulties, significantly impacting her life changes. Sulastri’s story illustrates both individual and collective struggles of women facing interconnected issues. This biographical study provides concrete insights into women’s resilience and their strategies for managing existing limitations. Furthermore, this research emphasizes the need for gender equality initiatives through social programs and policy reforms to address the dual impact of poverty and patriarchal culture.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Shinta Julianti
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Fenomena Crossdressing Cosplay Di Purwokerto: Pemaknaan Cosplayer Tentang Penampilan Diri Steven Quincy Ibrahim; Hendri Restuadhi; Arizal Mutahir
Jurnal Ilmiah Muqoddimah: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hummaniora Vol 10, No 2 (2026): Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jim.v10i2.2026.887-895

Abstract

Di Indonesia, praktik crossdressing cosplay masih dianggap tabu oleh masyarakat. Hal ini dikarenakan crossdressing cosplay berlawanan dengan nilai-nilai agama dan budaya lokal. Namun demikian, kehadiran orang yang melakukan crossdressing cosplay semakin banyak ditemui. Tidak hanya di kota besar, tetapi juga dapat ditemui di kota kabupaten seperti di Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Penelitian ini berupaya mengkaji fenomena crossdresser di Purwokerto. Fenomena tersebut merupakan sebuah unjuk penampilan identitas. Cosplay merupakan media eksplorasi identitas diri dan ekspresi seni tanpa batasan gender, ras, agama, dan latar budaya. Menggunakan metode penelitian kualitatif, penelitian ini menemukan bahwa fenomena crossdress muncul karena adanya motivasi internal dan eksternal. Motivasi internal dan eksternal ini menjadi pertimbangan untuk mengambil keputusan crossdressing cosplay dalam proses self-indication. Penelitian ini berkontribusi dalam membuka wawasan tentang perkembangan subkultur budaya populer.