Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : alfabeta

Fungsi dan Pelestarian Sastra Lisan Ujub dalam Tradisi Metri di Desa Ringinpitu Lilis Anifiah Zulfa; Rahmawati Mulyaningtyas
ALFABETA: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 8 No. 1 (2025): Alfabeta: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Insan Budi Utomo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/alfabeta.v8i1.1296

Abstract

Selamatan atau di Ringinpitu lebih dikenal dengan nama metri merupakan sebuah tradisi ritual atau upacara adat Jawa yang dilakukan untuk menunjukkan rasa syukur, permohonan keselamatan, permohonan kesejahteraan, dll. Tradisi metri diwariskan lelulur melalui proses lisan oleh penutur kepada seseorang yang dipercaya. Namun, semakin sedikitnya modin metri dan hanya orang-orang tua saja yang memimpin metri di Desa Ringinpitu bisa menjadi penanda semakin berkurangnya minat generasi muda dalam melestarikan sastra lisan ini. Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian kualitatif deskriptif. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Data-data tersebut dianalisis dengan cara mereduksi data, menyajikan data, dan menyimpulkan data. Pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi sumber data penelitian. Hasil penelitian menunjukkan fungsi religius pada ujub metri adalah kesadaran tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Esa, wujud keimanan, serta berupa wujud syukur atas segala kemudahan yang didapatkan dengan mendoakan para lelulur dan Nabi Muhammad, bersyukur, menghormati orang lain, serta menghormati alam. Fungsi sosialnya, yaitu mengajarkan kerukunan, kebersamaan, dan gotong royong dengan berkumpul bersama menyiapkan segala kebutuhan metri, berdoa bersama, dan makan bersama. Fungsi budaya ujub metri, yaitu mengajarkan budaya gotong royong, budaya berterima kasih, dan menghormati warisan leluhur. Tradisi ini dilestarikan secara alamiah karena masyarakat Ringinpitu percaya ujub metri adalah bahasa sakral dan tidak bisa diucapkan sembarang orang dan waktu, bahkan tidak boleh dicatat. Namun, masyarakat percaya bahwa tradisi ini akan tetap lestari.