Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI KAWASAN MANGROVE BULAKSETRA, KABUPATEN PANGANDARAN Hakim, Muhammad Romdonul; Krisnafi, Yaser; Edi Prayitno, Muhammad Riyono
MARLIN Vol 2, No 1 (2021): (Februari, 2021)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V2.I1.2021.55-61

Abstract

Kawasan mangrove Bulaksetra diinisiasi oleh masyarakat Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran yang merehabilitasi kawasan pemukiman nelayan yang rusak oleh tsunami pada tahun 2006 dengan tumbuhan mangrove. Bibit mangrove yang ditanam untuk kegiatan rehabilitasi didominasi oleh Rhizophora apiculata. Metode pengamatan menggunakan transek kuadran. Hasil penelitian menunjukkan pada stasiun 1 Rhizophora apiculata menjadi jenis mangrove yang paling dominan untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan Indeks Nilai Penting (INP) berturut-turut: 185,82; 100,00; dan 200,00. Pada stasiun 2 didominasi oleh Sonneratia spp. untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan INP berturut-turut: 300,00; 66,67; dan 200,00. Terakhir, pada stasiun 3 hanya terdapat mangrove Rhizophora spp. pada stadia anakan dengan INP 200,00. Hasil ini menunjukkan bibit Rhizophora apiculata telah berhasil tumbuh dengan baik terbukti pada stasiun 2 dan 3 ditemukan Rhizophora apuiculata pada stadia anakan. Nilai indeks keanekaragaman < 2 menunjukkan kawasan mangrove Bulaksetra bersifat rentan apabila ada tekanan ekologis dari lingkungan sekitarnya.
PENGAPLIKASIAN KINCIR MINI PADA KOLAM BIOFLOK Hakim, Gusti Farhan; Hakim, Muhammad Romdonul; Baswantara, Arif; Sudonno, Dinno; Maarif, Ahmad Safii
MARLIN Vol 4, No 2 (2023): (AGUSTUS) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V4.I2.2023.111-115

Abstract

Penggunaan kolam bioflok untuk budidaya ikan semakin marak saat ini karena dapat diterapkan di lahan yang sempit. Ketersediaan oksigen terlarut menjadi faktor pembatas yang sangat penting pada budidaya ikan di kolam bioflok dikarenakan kepadatan biomassanya yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengaplikasikan kincir mini di kolam bioflok untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dan membantu dalam pembersihan sisa pakan dan feses. Pengukuran oksigen terlarut atau Dissolved Oxygen (DO) menggunakan metode elektro kimia menggunakan alat ukur DO meter sedangkan pengukuran kecepatan arus sirkulasi air menggunakan metode Langrangian. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa peningkatan kadar oksigen terlarut dari kincir mini masih lebih kecil dari pompa aerator dengan selisih rata-rata sebesar 0,11 ppm (1,44%). Kincir mini dapat meningkatkan kadar oksigen terlarut dengan rata-rata 7,64 ppm (20,11%), sedangkan pompa aerator dapat meningkatkan kadar oksigen terlarut dengan rata-rata 7,75 ppm (21,79%). Namun, hasil pengujian kincir mini mampu menghasilkan arus sirkulasi air yang dapat membantu membersihkan dasar kolam dari sisa pakan dan feses ikan yang tidak dapat dilakukan oleh pompa aerator. Dengan demikian, pengaplikasian kincir mini pada kolam bioflok dapat menjadi alternatif yang lebih efektif sebagai pengganti pompa aerator bukan hanya dalam menjamin ketersediaan oksigen terlarut, tetapi juga dalam pembersihan kolam bioflok sehingga produktivitas budidaya ikan di kolam bioflok dapat meningkat.The use of biofloc ponds for fish farming is currently increasing because it can be applied on narrow land. The availability of dissolved oxygen is a very important limiting factor in fish farming in biofloc ponds due to the high density of biomass. This study aims to apply a mini wheel in biofloc ponds to increase Dissolved Oxygen (DO) levels and assist in cleaning up leftover feed and feces. Dissolved oxygen measurements used the electro-chemical method using a DO meter while measuring the speed of circulating water using the Langrangian method. The measurement results show that the increase in dissolved oxygen levels from the mini wheel is still smaller than the aerator pump with an average difference of 0.11 ppm (1.44%). Mini mills can increase dissolved oxygen levels by an average of 7.64 ppm (20.11%), while aerator pumps can increase dissolved oxygen levels by an average of 7.75 ppm (21.79%). However, the results of the mini-wheel test were able to produce a circulating water current which could help clean the bottom of the pond from leftover feed and fish feces which an aerator pump could not do. Thus, the application of a mini wheel to biofloc ponds can be a more effective alternative to aerator pumps not only in ensuring the availability of dissolved oxygen, but also in cleaning biofloc ponds so that the productivity of fish farming in biofloc ponds can increase.
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI PULAU PEMAGARAN, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Hakim, Muhammad Romdonul; Kusdinar, Afriana; Kiswandi, Malika Felizia; Yusri, Safran
MARLIN Vol 3, No 2 (2022): (Agustus 2022)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V3.I2.2022.87-96

Abstract

Pengamatan mangrove di Pulau Pemagaran, Kepulauan Seribu mengambil lokasi stasiun pengamatan di bagian utara, timur, selatan, dan barat Pulau Pemagaran dengan substrat berupa pasir berlumpur. Ekosistem mangrove di Pulau Pemagaran memiliki Indeks Nilai Penting (INP) berkisar dari 32,02 – 300,00. Pada stasiun 1 Rhizophora mucronata menjadi jenis mangrove yang paling dominan untuk stadia pohon dan anakan dengan INP masing-masing 250,00 dan 165,74; sedangkan untuk stadia semai Rhizophora stylosa menjadi jenis mangrove yang paling dominan dengan INP sebesar 81,41. Pada stasiun 2 mangrove jenis Sonneratia alba adalah yang paling dominan untuk stadia pohon dengan INP sebesar 106,09; sedangkan untuk stadia anakan dan semai Rhizophora mucronata menjadi mangrove yang paling dominan dengan INP masing-masing sebesar 174,58 dan 82,89. Pada stasiun 3 hanya terdapat 1 individu mangrove yaitu dalam stadia pohon sehingga Rhizophora stylosa memiliki INP sebesar 300,00. Terakhir, pada stasiun 4 hanya terdapat satu jenis mangrove yaitu Rhizophora stylosa pada stadia anakan dan semai sehingga INPnya sebesar 300,00. Rhizophora stylosa merupakan jenis mangrove yang sebarannya terdapat di seluruh stasiun, sekaligus menandakan merupakan mangrove baru yang sengaja ditanam di Pulau Pemagaran. Pulau Pemagaran memiliki nilai indeks keanekaragaman berkisar antara 0 – 1,30. Hal ini menunjukkan keanekaragaman jenis mangrove yang tumbuh di Pulau Pemagaran tergolong rendah atau bersifat seragam.Observations of mangroves on Pemagaran Island, Seribu Islands took the location of observation stations in the north, east, south, and west of Pemagaran Island with the substrate in the form of muddy sand. The mangrove ecosystem on Pemagaran Island has an Important Value Index (INP) ranging from 32.02 – 300.00. At station 1 Rhizophora mucronata became the most dominant mangrove species for tree and tiller stages with INPs of 250.00 and 165.74, respectively; while for the seedling stage, Rhizophora stylosa became the most dominant mangrove species with an INP of 81.41. At station 2, the Sonneratia alba mangrove species was the most dominant for the tree stage with an INP of 106.09; while for the tiller and seedling stages, Rhizophora mucronata became the most dominant mangrove with INPs of 174.58 and 82.89, respectively. At station 3 there is only 1 individual mangrove, namely in the tree stage so that Rhizophora stylose has an INP of 300.00. Finally, at station 4 there is only one type of mangrove, namely Rhizophora stylosa at the tiller and seedling stages so that the INP is 300.00. Rhizophora stylose is a type of mangrove whose distribution is found in all stations, as well as indicating that it is a new mangrove deliberately planted on Pemagaran Island. Pemagaran Island has a diversity index value ranging from 0 to 1.30. This shows that the diversity of mangrove species growing on Pemagaran Island is low or uniform.
POTENSI EKOWISATA WILAYAH PESISIR DESA PARANGTRITIS, KABUPATEN BANTUL Hakim, Muhammad Romdonul; Sembiring, Kennedi; Aisyah, Auda Ratu
MARLIN Vol 5, No 2 (2024): (Agustus) 2024
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V5.I2.2024.115-124

Abstract

Wilayah pesisir Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki potensi ekowisata yang besar. Konsep ekowisata penting untuk untuk mempertahankan konservasi lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi ekowisata di wilayah pesisir Desa Parangtritis berdasarkan nilai Parameter Fisik (PF) dan nilai Parameter Kelembagaan, Sosial-Budaya, Ekonomi, dan Lingkungan (PKSEL). Penentuan lokasi titik pengamatan adalah dengan mengambil sepuluh objek wisata yang tersebar di sepanjang pesisir Desa Parangtritis memanfaatkan citra satelit dari Google Earth. Pada lokasi tersebut dilakukan pengumpulan data melalui observasi langsung secara in situ, wawancara, dan kuesioner. Data dianalisis dengan merata-ratakan PF dan PKSEL untuk mendapatkan nilai akhir potensi wisata. Berdasarkan hasil analisis, didapatkan hasil bahwa mayoritas 70% dari sepuluh objek wisata yang diamati menunjukkan memiliki potensi tinggi untuk terus dikembangkan. Hal ini dikarenakan tempat-tempat wisata tersebut sudah didukung oleh aspek-aspek dari PF dan PKSEL yang telah lengkap dan baik. Namun, sebanyak 30% masih dalam status potensi sedang dan tidak menutup kemungkinan akan meningkat potensinya jika aspek-aspek pada seluruh parameter terus ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya. Secara umum, Pemerintah Daerah Kabupaten Bantul dan masyarakat setempat, sudah cukup berhasil dalam mendukung pengembangan ekowisata khususnya di wilayah Desa Parangtritis.The coastal area of Parangtritis Village, Kretek District, Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, holds significant ecotourism potential. The ecotourism concept is crucial for environmental conservation and improving local community welfare. This study aims to analyze the ecotourism potential in Parangtritis Village's coastal area based on Physical Parameters (PF) and Institutional, Socio-Cultural, Economic, and Environmental Parameters (PKSEL). Observation points were determined by selecting ten tourist sites along the Parangtritis coast using Google Earth satellite imagery. Data collection involved in situ observations, interviews, and questionnaires. The data were analyzed by averaging the PF and PKSEL values to obtain the final tourism potential score. The analysis revealed that 70% of the ten observed tourist sites show high development potential, supported by comprehensive and well-maintained PF and PKSEL aspects. However, 30% have moderate potential, which could improve if all parameters' aspects are enhanced in quality and quantity. Overall, the Bantul Regency Government and local community have successfully supported ecotourism development, particularly in Parangtritis Village.
KOLABORASI BERSAMA MASYARAKAT DALAM UPAYA REVITALISASI KAWASAN MANGROVE BULAKSETRA, PANGANDARAN, JAWA BARAT Baswantara, Arif; Wibowo, Yuni Ari; Alfaris, Lulut; Kusdinar, Afriana; Firdaus, Anas Noor; Sembiring, Kennedi; Hakim, Muhammad Romdonul; Prayitno, Muhammad Riyono Edi
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 6 (2023): Volume 4 Nomor 6 Tahun 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v4i6.23568

Abstract

Kawasan mangrove bulaksetra yang berada di wilayah Desa Babakan, Kecamatan Pangandaran telah banyak mengalami alih fungsi lahan sejak tahun 2017. Alih fungsi ini mengakibatkan beberapa kerusakan, sehingga pengembalian ke kondisi semula (revitalisasi) perlu dilakukan khususnya pada pengembalian vegetasi mangrove dan vegetasi pesisir lainnya di kawasan ini. Selain melaksanakan aktivitas penanaman, kolaborasi bersama kelompok penggerak masyarakat juga dirasa penting agar proses revitalisasi ini dapat berlangsung secara berkelanjutan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat di Desa Babakan dilaksanakan secara terprogram selama enam bulan dengan enam tahapan kegiatan. Program ini dilaksanakan untuk membantu Kelompok Penggerak dan Pengelola Kawasan Pesisir Bulaksetra (KPPKP-Bulaksetra) yang telah ada di masyarakat, dalam proses revitalisasi kawasan mangrove. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilaksanakan disetiap tahapan kegiatan dan di akhir program, diperoleh kesimpulan bahwa masyarakat merasakan manfaat dari program pengabdian tersebut, dan program ini akan terus dilanjutkan hingga proses revitalisasi menunjukkan perkembangan.
MONITORING MANGROVE COVER DYNAMICS FOLLOWING SHRIMP POND EXPANSION USING NORMALIZED DIFFERENCE VEGETATION INDEX (NDVI) ANALYSIS IN BULAKSETRA, PANGANDARAN Hakim, Muhammad Romdonul; Firdaus, Anas Noor; Baswantara, Arif; Kelana, Perdana Putra
Aurelia Journal Vol 7, No 2 (2025): October
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Dumai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/aj.v7i2.17410

Abstract

The mangrove ecosystem along the coast of Bulaksetra, Pangandaran, West Java, plays a crucial role in mitigating potential tsunami disasters. However, over the last five years, the Bulaksetra mangrove ecosystem area has seen intensive operation of local shrimp ponds, which has negatively impacted the growth and health of the surrounding mangrove stands. This study aims to monitor the changes in mangrove cover from 2020 to 2024 within the Bulaksetra mangrove ecosystem using Sentinel-2 satellite imagery. The methodology employed to determine the extent and condition of mangrove cover involves the analysis of the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) processed using the Google Earth Engine (GEE) platform. The results indicate significant habitat degradation within the Bulaksetra mangrove ecosystem, evidenced by a 96.94% loss of the Dense canopy class by 2024. This shift in density class is characterized by a transition from the Dense class to the Sparse (54.37%) and Moderate (42.58%) classes, accompanied by a 5.18% decrease in the total mangrove area. Conversely, the area occupied by shrimp ponds has continuously expanded, with a growth rate reaching 1.31 hectares per year. The expansion of shrimp ponds demonstrates a negative correlation with mangrove cover in the Bulaksetra mangrove area during the 2020 – 2024 period.
Pemanfaatan Teknologi Monitoring Kualitas Air pada Sektor Budidaya di Desa Cintakarya, Kabupaten Pangandaran: Penelitian Wahyudi, Andri; Muhammad Romdonul Hakim; Yuni Ari Wibowo; Lulut Alfaris; Afriana Kusdinar; Anas Noor Firdaus; Arif Baswantara; Kennedi Sembiring; Suhernalis
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 2 (October 202
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i2.3916

Abstract

Desa Cintakarya telah menjadi mitra Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran sejak 2021. Penelitian pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas teknis pembudidaya dalam pemantauan kualitas air melalui penerapan teknologi monitoring serta mengevaluasi efektivitas pelatihan dan distribusi alat ukur. Metode pelaksanaan terdiri dari enam tahapan terstruktur meliputi perencanaan, survei lokasi, persiapan, penyampaian materi dan demonstrasi alat (pengukuran suhu dan TDS), monitoring lapangan, serta evaluasi akhir; pendekatan melibatkan pelatihan teknis, demonstrasi, kuisioner evaluatif, dan FGD. Hasil menunjukkan adanya peningkatan pemahaman praktis peserta terhadap penggunaan alat monitoring dan penerapan parameter kualitas air; penyerahan alat kepada Kelompok Pembudidaya Ikan Tirta Kahuripan memperkuat kapasitas operasional lapangan. Analisis kuisioner mengindikasikan 74% responden menilai kegiatan berhasil, 15% sangat berhasil, dan 11% netral. Observasi juga mengidentifikasi bahwa intervensi teknologi monitoring efektif untuk meningkatkan kapabilitas pembudidaya, namun keberlanjutan dampak memerlukan penguatan materi berbasis praktik dan peningkatan sarana pelatihan untuk mendukung adopsi teknologi secara luas.