Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Identifikasi Sifat-Sifat Fisik Mata Jaring Gillnet Terubuk (Tenualosa macrura) Mardiah, Ratu Sari; Krisnafi, Yaser; Hutapea, Roma Yuli F; Mathius Tiku; Sony Anwar
ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Vol 6 No 2 (2023): ACROPORA: Jurnal Ilmu Kelautan dan Perikanan Papua Volume 6 No. 2 Edisi Desember
Publisher : Cenderawasih University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31957/acr.v6i2.3435

Abstract

The aim of this research is to identify changes in net geometry and analyze the correlation between the physical properties of the net and the geometry of the net that has been used for 1 to 3 years. The research used an experimental method by directly measuring the geometry of the net, namely mesh size, net diameter and knot height. The research also analyzed data on breaking strength and net elongation which were correlated with net geometry. The condition of the net when tested was dry. There were 4 treatments used in the research, namely control nets, nets that had been used by fishermen for 1, 2 and 3 years. The results of the research stated that the highest average gillnet mesh size value was for the 2 year net treatment and the lowest was 3 years. The highest average value of net diameter was the 1 year net and the lowest was the 2 year net. Meanwhile, the highest average gillnet node height is 1 year and the lowest is 3 years. The correlation value of net geometry with breaking strength has varying values. Breaking strength is closely related to the height of the knots in the mesh with a positive value of 0.77, whereas for mesh elongation all the mesh geometry indicators have negative values, so each increase in the mesh geometry value will decrease the elongation value.
SISTEM PENDUKUNG KEPUTUSAN PENENTUAN PRIORITAS WILAYAH PENGAWASAN PERIKANAN (WPP-711) MENGGUNAKAN METODE AHP-TOPSIS Krisnafi, Yaser; Hozairi, Hozairi; Iskandar, Budhi Hascaryo; Wisudo, Sugeng Hari; Haluan, John
Seminar Nasional Ilmu Terapan Vol 1 No 1 (2017): Seminar Nasional Ilmu Terapan (SNITER) 2017
Publisher : Universitas Widya Kartika Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (453.671 KB)

Abstract

Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia atau sering disingkat dengan WPP NRI merupakan wilayah pengelolaan perikanan untuk penangkapan ikan, konservasi, penelitian, dan pengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman, perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan zona ekonomi ekslusif Indonesia (ZEEI). Setiap tahun Pemerintah Indonesia mengalami kerugian yang besar akibat pencurian ikan dibeberapa wilayah di WPP 711, salah satu permasalahan disebabkan oleh belum terpilihnya satuan kerja utama di WPP 711, memilih satuan kerja utama tidaklah mudah karena harus mempertimbangkan banyak kriteria sehingga Kementrian Kelautan dan Perikanan dalam mengambil keputusan harus melalui perhitungan dan pemikiran jangka panjang agar keputusan yang diambil tidak salah, maka diperlukan suatu sistem pendukung keputusan yang dapat memperhitungkan segala kriteria yang mendukung pengambilan keputusan dalam menentukan wilayah satuan kerja utama di WPP 711. Metode yang digunakan dalan mengambil keputusan adalah AHP (Analytical Hierarcy Process) dan TOPSIS (Technique For Order Preference by Similarity to Ideal Solution). Dengan menggunakan metode tersebut, maka diperoleh wilayah satuan kerja utama dari beberapa kriteria (Daerah perbatasan, potensi sumber daya ikan, alur laut international, fasilitas & sarana prasarana, jumlah armada, penegakan hokum) adalah Satker Pontianak (0.780), Satker Natuna (0.778) dan Satker Batam (0.769). Hasil perangkingan tersebut akan dijadikan acuan sebagai dasar penentuan strategi peningkatan pengawasan wilayah perikanan di WPP 711 sehingga mampu meminimalisasi kerugian Negara akibat pencurian SDA di wilayah WPP 711 Indonesia.
STRATEGY FOR DEVELOPMENT OF RASBORA GALAXY (DANIO MARGARIATUS) ORNAMENTAL FISH CULTIVATION BUSINESS AT MINA MAKMUR FARM BOJONGSARI DISTRICT, PURBALINGGA REGENCY OF CENTRAL JAVA PROVINCE Krisnafi, Yaser; Wartini, Sri; Nugraha, Jefri Putri; Agustina, Yuli
MSJ : Majority Science Journal Vol. 2 No. 1 (2024): MSJ-February
Publisher : PT. Hafasy Dwi Nawasena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61942/msj.v2i1.78

Abstract

Ornamental fish cultivation is a business in the fisheries sector that is quite promising to develop. Market potential and high demand for ornamental fish, especially freshwater ornamental fish, further expand opportunities for developing ornamental fish cultivation. One of the regions with the largest ornamental fish production is Purbalingga Regency.One of the ornamental fish cultivated in Purbalingga Regency is the Rasbora Galaxy fish (Danio Margariatus). As an effort to develop the business of cultivating rasbora galaxy ornamental fish, an approach is needed to formulate the right strategy. One way or approach that can be taken to formulate an appropriate and effective business development strategy is through a SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) analysis. The aim of this research is to determine the technical aspects of cultivating Rasbora Galaxy ornamental fish in Bojongsari District, Purbalingga Regency and identify factors, both internal and external that influence the development of the Rasbora Galaxy ornamental fish business, as well as determining priority business development strategies for the business using analysis. SWOT.The analysis method consists of analyzing internal factors with Internal Factor Evaluation (IFE), and analyzing external factors with External Factor Evaluation (EFE). The results of the IFE analysis obtained a value of0.53and EFE obtained a result of 0.89. The results of the SWOT analysis for this business are in quadrant 1, so the strategy applied is the SO (Strength-Opportunities) strategy. SO strategy is a strategy that utilizes internal strengths to capture existing opportunities
COMPOSITION, LENGTH-WEIGHT RELATIONSHIP, AND FISHING GROUND OF SHARKS LANDED AT PPS CILACAP, CENTRAL JAVA Krisnafi, Yaser; Dian Novianto; Syam Baharuddin Sahid; Ratih Purnama Sari
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 15 No. 2 (2024): Marine Fisheries: Journal of Marine Fisheries Technology and Management
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jmf.v15i2.47399

Abstract

This study was conducted to analyze the catches of sharks, such as composition, length-weight relationship, and to determine the distribution of shark fishing areas. Every fishing activity has by-catch issues. Fishers commonly catch sharks as by-catch. These fishing activities will harm the shark ecosystem in the waters. This research was conducted in March – May 2021 at PPS Cilacap. The results of this study showed that A. superciliosus (paitan shark) was a common catches and its total catch was 1,820 kg. The next common catch was Carcharhinus falciformis and the total catch was 723 kg. The lowest catch was the Carcharhinus sorrah shark (sorrah shark) and its total catch was 16 kg. The growth of Carcharhinus falciformis was negative allometric because b-value <3. Meanwhile, the growth of A. superciliosus is positive allometric because b-value was > 3. Length-weight relationship of Carcharhinus falciformis and A. superciliosus was isometric, which means that the growth between length and weight is balanced. Shark fishing areas are located at coordinates 8º - 15º South and 100º - 111º East. The area of shark fishing is at coordinates 8º - 10º South and 108º - 110º East. Keywords: Composition, Length-Weight Relationship
MANAJEMEN OPERASIONAL PENANGKAPAN IKAN DENGAN PURSE SEINE DI PPS NIZAM ZACHMAN (STUDI KASUS PADA KAPAL KM. MEKAR KENCANA 03) Sari, Ratih Purnama; Toratno; Krisnafi, Yaser; Istrianto, Kadi; Prasetyono, Untung
Jurnal Penelitian Perikanan Laut (Albacore) Vol 8 No 3 (2024): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.8.3.313-318

Abstract

Setiap operasi penangkapan ikan tidak terlepas dari proses manajemen yang dilakukan secara bertahap mulai dari perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating) dan pengendalian (controlling) agar ketercapaian penangkapan ikan dapat dipenuhi. Purse seine merupakan alat tangkap yang menghasilkan produksi perikanan yang paling tinggi di PPS Nizam Zachman Jakarta. Kajian mengenai proses manajemen operasi penangkapan masih terbatas sehingga perlu dilakukan kajian mengenai manajemen operasional penangkapan pada KM. Mekar Kencana 03 di PPS Nizam Zachman Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi kegiatan penangkapan ikan di KM. Mekar Kencana 03 dan wawancara. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif. Persiapan keberangkatan dilakukan 30 menit sebelum keberangkatan. Jumlah anak buah kapal saat melakukan penangkapan di laut minimal sebanyak 32 orang termasuk nakhoda. Perbekalan disiapkan sesuai dengan jumlah awak kapal. Kondisi kapal harus dipantau seperti mesin induk dan mesin gardan. Dokumen perizinan kapal harus disiapkan, pengecekan alat tangkap dan pengecekan alat navigasi kapal juga dilakukan. Pengawasan operasi penangkapan dilakukan langsung oleh pemilik kapal yang berperan sebagai nakhoda kapal. Kata kunci: manajemen, operasional, purse seine, PPS Nizam Zachman
INTERPRETASI HASIL TANGKAPAN DENGAN DUA TRIP PENANGKAPAN KAPAL PURSE SEINE DI TANJUNG BALAI PROVINSI SUMATERA UTARA Ikhsan, Suci Asrina; Krisnafi, Yaser; Fernanda, M. Alfikhry; Mardiah, Ratu Sari; Tiku, Mathius; Hutapea, Roma Yuli F.
SEMAH Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Perairan Vol 8, No 1 (2024): April
Publisher : Universitas Muara Bungo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36355/semahjpsp.v8i1.1371

Abstract

Kota Tanjung Balai merupakan salah satu kota potensial perikanan laut yang ada di Kabupaten Asahan, Provinsi Sumatera Utara. Berbagai perusahaan perikanan terdapat di kota Tanjung Balai, salah satunya adalah PT. Selamat Abadi. KM. Malindo Indah merupakan armada penangkapan yang dimiliki PT. Selamat Abadi. KM. Malindo Indah mengoperasikan alat tangkap purse seine di perairan 711, dengan potensi utamanya adalah ikan pelagis kecil. Tujuan dari penelitian ini adalah menginterpretasikan komposisi hasil tangkapan KM. Malindo Indah dan mengidentifikasi hasil tangkapan utama dan hasil tangkpan sampingan KM. Malindo Indah. Penelitian dilaksanakan dengan kapal purse seine KM. Malindo Indah yang dilaksanakan mulai tanggal 1 Januari sampai dengan 30 April 2023. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah observasi dan wawancara. Analisis data yang digunakan menggunakan analisis deskriptif. Purse seine merupakan alat tangkap yang bersifat multi species. Hasil tangkapan KM Malindo Indah didominasi oleh ikan pelagis kecil, dengan total hasil tangkapan trip pertama sebanyak 73.425 kg dan trip kedua sebanyak 44.421 kg. Persentase hasil tangkapan KM. Malindo Indah sebanyak 62% trip pertama, sedangkan trip kedua sebanyak 38%. Hasil tangkapan KM. Malindo Indah 99% adalah hasil tangkapan utama, sedangkan 1% nya adalah hasil tangkapan sampingan. Hasil tangkapan utama KM. Malindo Indah yaitu Layang (93%), Kembung (3%), Selar (2%), Tongkol (1%) dan Mata Besar (1%), sedangkan hasil tangkapan sampingan KM. Malindo Indah adalah Caru dan Bawal.
STRATEGI PENANGKAPAN TUNA (Thunnus spp.) DAN CAKALANG (Katsuwonus pelamis) PADA AREAL RUMPON UNTUK MENDAPATKAN UKURAN LAYAK TANGKAP MENGGUNAKAN PANCING ULUR Rumpa, Arham; Asia, Asia; Krisnafi, Yaser; Syamsuddin, Muhidin; Rasdam, Rasdam; Pontoh, Peggy; Kasim, Muh
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.22 - 35

Abstract

Pengetahuan tentang perilaku kelompok jenis tuna dan cakalang pada areal rumpon merupakan bagian yang tidak terpisahkan sebagai strategi penangkapan optimal untuk mendapatkan ukuran ikan layak tangkap. Pengumpulan data di mulai tahun 2020-2024 dengan mengacu pada Prosedur Protokol Sampling untuk Pancing Tuna Artisanal Indonesia yang dikembangkan oleh United States Agency for International Development – Indonesia Marine and Climate Support (USAID-IMACS) bekerjasama dengan enumerator dari Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI). Kriteria ukuran tuna layak tangkap dianalisis berdasarkan length at first maturity (Lm). Hasil penelitian mengungkapkan bahwa prosentase hasil tangkapan dan ukuran layak tangkap pada areal rumpon menggunakan pancing ulur didominasi oleh tuna madidihang (Thunnus albacares) 76,32% dengan ukuran yang layak tangkap sebesar 44,27%, tuna mata besar (Thunnus obesus) 10,05% dengan ukuran layak tangkap 55,60%, dan cakalang (Katsuwonus pelamis) 5,09%  dengan ukuran layak tangkap 48,40%.  Sedangkan hasil tangkapan pancing ulur tanpa menggunakan rumpon atau di luar area rumpon berbeda jauh prosentase proporsi ukuran layak tangkapnya, yaitu 87,7%  untuk tuna madidihang; 97,65 %  tuna mata besar; dan cakalang layak tangkap sebesar 90,00%. Untuk mengurangi prosentase tertangkapnya ikan ukuran tidak layak tangkap, selain dengan strategi tanpa menggunakan rumpon juga dapat menerapkan metode pengaturan kedalaman penurunan alat tangkap, pengaturan waktu penangkapan, dan pengaturan ukuran mata pancing. Informasi ini sangat dibutuhkan dalam pengelolaan spesies tuna dan cakalang secara berkelanjutan khusunya untuk penangkapan pada areal rumpon.
STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI KAWASAN MANGROVE BULAKSETRA, KABUPATEN PANGANDARAN Hakim, Muhammad Romdonul; Krisnafi, Yaser; Edi Prayitno, Muhammad Riyono
MARLIN Vol 2, No 1 (2021): (Februari, 2021)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Pangandaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/marlin.V2.I1.2021.55-61

Abstract

Kawasan mangrove Bulaksetra diinisiasi oleh masyarakat Desa Babakan, Kabupaten Pangandaran yang merehabilitasi kawasan pemukiman nelayan yang rusak oleh tsunami pada tahun 2006 dengan tumbuhan mangrove. Bibit mangrove yang ditanam untuk kegiatan rehabilitasi didominasi oleh Rhizophora apiculata. Metode pengamatan menggunakan transek kuadran. Hasil penelitian menunjukkan pada stasiun 1 Rhizophora apiculata menjadi jenis mangrove yang paling dominan untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan Indeks Nilai Penting (INP) berturut-turut: 185,82; 100,00; dan 200,00. Pada stasiun 2 didominasi oleh Sonneratia spp. untuk stadia pohon, anakan dan semai dengan INP berturut-turut: 300,00; 66,67; dan 200,00. Terakhir, pada stasiun 3 hanya terdapat mangrove Rhizophora spp. pada stadia anakan dengan INP 200,00. Hasil ini menunjukkan bibit Rhizophora apiculata telah berhasil tumbuh dengan baik terbukti pada stasiun 2 dan 3 ditemukan Rhizophora apuiculata pada stadia anakan. Nilai indeks keanekaragaman < 2 menunjukkan kawasan mangrove Bulaksetra bersifat rentan apabila ada tekanan ekologis dari lingkungan sekitarnya.
Aplikasi serbuk daun mangrove (Rhizopora sp.) sebagai pengawet alami tali rami pada alat tangkap jaring ikan: Application of mangrove leaves powder (Rhizopora sp.) as a natural preservative for hemp rope in fishing gear Krisnafi, Yaser; Sumartini, Sumartini; Mardiah, Ratu Sari
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 1 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(1)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i1.47046

Abstract

Tali rami adalah bahan yang digunakan untuk membuat jaring pada alat tangkap. Sifat tali rami yang mudah busuk dan masa pakai yang singkat membuat tali ini kurang diminati oleh nelayan. Bahan pengawet digunakan untuk menambah usia pakai tali rami, salah satunya adalah daun mangrove. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh aplikasi serbuk daun mangrove Rhizophora sp. sebagai pengawet tali rami berdasarkan parameter kemuluran benang dan kuat putus. Daun mangrove Rhizophora sp. yang digunakan jenis daun muda dengan warna hijau tidak pekat. Serbuk daun mangrove Rhizophora sp. dianalisis proksimat dan fitokimia. Pengawetan tali rami terdiri atas perlakuan tanpa perendaman serbuk daun Rhizophora sp. (kontrol) dan perendaman 0,3; 0,5; 0,7; dan 0,9 kg/L. Hasil penelitian menunjukkan bahwa serbuk daun mangrove Rhizophora sp. memiliki kadar air 6,31±0,06%; lemak 0,66±0,05%; abu 8,28±0,10%; protein 8,74±0,04%; serat kasar 15,25±0,05%; dan karbohidrat 65,76±0,05%. Serbuk daun mangrove Rhizophora sp. terdeteksi mengandung senyawa fenol, alkaloid, flavonoid, tanin, dan saponin. Perbedaan konsentrasi perendaman serbuk daun mengrove dapat memengaruhi (p<0,05) kuat putus basah , namun pada parameter lainnya (kadar air, kemuluran benang basah-kering), kuat putus kering dengan pemberian serbuk daun mangrove pada rentang konsentrasi 0,3-0,9 kg/L tidak berpengaruh signifikan.
KERAGAAN ALAT TANGKAP MINI PURSE SEINE DAN CANTRANG DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI (PPP) TASIK AGUNG KABUPATEN REMBANG Tiku, Mathius; Krisnafi, Yaser; Arkham, Muhammad Nur
Coastal and Ocean Journal (COJ) Vol 5 No 1 (2021): COJ (Coastal and Ocean Journal)
Publisher : Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1270.275 KB) | DOI: 10.29244/COJ.5.1.19-27

Abstract

Alat penangkap ikan yang banyak digunakan oleh Nelayan di Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) TasikAgung, Kabupaten Rembang adalah mini purse seine dan cantrang. Usaha penangkapan denganmenggunakan alat tangkap tersebut memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan nelayan lokal.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keragaan alat tangkap purse seine dan cantrang di PPPTasik Agung, Kabupaten Rembang berdasarkan spesifikasi, daerah penangkapan dan musim penangkapan.Pengumpulan data dilakukan melalui metode survei. Pemilihan nelayan sebagai contoh dilakukan secaraaksidensial (accidential sampling) kepada responden yang dipandang orang tersebut layak diterimasebagai sumber data/informasi. Pengolahan dan analisis datanya dikerjakan dengan menggunakan analisisdeskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan spesifikasi alat tangkap mini purse seine yang biasadigunakan oleh nelayan dengan armada penangkapan kapal motor dengan ukuran 11-20 GT umumnyamemiliki panjang dari ujung sayap kiri sampai ujung sayap kanan sekitar 250 m, sedangkan untuk kapaldengan ukuran 20-30 GT menggunakan alat tangkap mini purse seine dengan panjang 360 m. Jaringcantrang mempunyai bagian-bagian berbeda, dimana setiap bagian memiliki ukuran benang, ukuran mata,jumlah mata jaring, serta ukuran dan panjang tali. Operasi penangkapan ikan di Perairan Laut Jawa sampaiperairan Pulau Bawean (12 mil ke arah barat dan utara dari pantai Bawean dan Karimun Jawa) hinggaperairan Kalimantan. Puncak alat tangkap cantrang dan mini purse seine berbeda.Kata Kunci: Mini purse seine, Cantrang, Musim penangkapan, PPP Tasik Agung